Terkini

Betapa Menderita Warga Mahakam Ulu, Lalui Ratusan Kilometer Sungai Mahakam demi Kesembuhan

person access_time 2 weeks ago remove_red_eyeDikunjungi 1460 Kali
Betapa Menderita Warga Mahakam Ulu, Lalui Ratusan Kilometer Sungai Mahakam demi Kesembuhan

Sumadi (kanan), bersama ibunya, Haying Juk, mengantar sang ayah ke rumah sakit. (ari pangelis/kaltimkece.id)

Warga Mahakam Ulu yang dirujuk ke rumah sakit harus menempuh perjalanan sungai hingga ratusan kilometer. Terbatasnya infrastruktur menjadi kendala utama. 

Ditulis Oleh: Robithoh Johan Palupi
05 Agustus 2019

kaltimkece.id Kain jarik motif batik yang dihamparkan Haying Juk tak sanggup menghalau sinar mentari. Di atas speed boat yang sedang melayari Sungai Mahakam, perempuan 65 tahun itu terus-menerus menyelimuti tubuh suaminya, Japar Kadri, yang terbaring tak berdaya. Haying terus mengulangi pekerjaannya itu tiap kali kapal bermotor meliuk-liuk. Sinar matahari bisa masuk dari sisi kiri kapal, kemudian berganti dari kanan. 

Sabtu, 3 Agustus 2019, adalah siang yang terik di Kabupaten Mahakam Ulu. Haying baru saja tiba di Dermaga Long Bagun Ulu, Kecamatan Long Bagun. Ia bersama suami dan anak kelimanya, Sumadi, menempuh empat jam perjalanan dari kampung halamannya di hulu Sungai Mahakam yakni Kecamatan Long Pahangai. Tiba di Long Bagun berarti baru separuh perjalanan Haying untuk mencapai Barong Tongkok, Kutai Barat. Keluarga itu hendak ke Rumah Sakit Harapan Insan Sendawar di Kubar.  

“Ini bapak saya. Mau dirujuk ke Barong (Barong Tongkok),” ungkap Sumadi ketika ditemui reporter kaltimkece.id di Long Bagun. Ayahnya rupanya sedang menanggung lara. Tak lagi bisa duduk, hanya berbaring di lantai kapal yang biasa digunakan penumpang untuk menaruh barang. Sela kaki Japar yang sedang sakit itu ditekuk kala duduk.

Dengan selimut menutupi hampir seluruh tubuh, Japar yang berusia 71 tahun hanya beralaskan tikar plastik bergambar tokoh anime. “Kami berangkat tadi pagi, sekitar jam delapan dari Long Pahangai. Sampai Long Bagun jam dua belas,” lanjut Sumadi. 

Dari Dermaga Long Bagun Ulu, kira-kira perlu empat jam lagi untuk tiba di Kutai Barat. Keluarga ini harus melewati perjalanan dengan kapal yang berakhir di Kecamatan Tering, Kubar. Dari situ, Japar rencananya diangkut dengan ambulans menuju Barong Tongkok. Total perjalanan yang ditempuh keluarga ini dengan transportasi air untuk mencapai rumah sakit terdekat adalah delapan jam. Kira-kira memangsa jarak 300 kilometer. 

Japar hampir sepekan terbaring. Kakek yang sudah memiliki dua cicit itu hanya mampu mengucapkan beberapa kata. Ia bergumam ketika meminta sesuatu. Sumadi menuturkan, upaya membantu pengobatan orangtuanya sudah maksimal untuk ukuran Long Pahangai. Sarana kesehatan di ibu kota kecamatan, hanya tersedia puskesmas. Dokter jaga yang menangani Japar Kadri tidak banyak memberikan keterangan pasal penyakit yang diderita. 

“Dokter di kampung tidak bilang penyakit apa. Intinya, hanya memberi rujukan berobat ke Barong (Tongkok, Kutai Barat),” cerita Sumadi, yang sejak kakek-neneknya telah menetap di Long Pahangai.

Sebenarnya, ada sarana kesehatan di Long Lunuk, kampung yang posisinya di hulu Long Pahangai. Namun Sumadi juga yakin pelayanan kesehatan di sana tak jauh beda dengan kampungnya. Membawa berobat sang bapak ke Kutai Barat dianggap sebagai keputusan terbaik. Meski dengan konsekuensi besar, melewati perjalanan melelahkan. 

“Hanya ini yang kami bisa lakukan. Ada jalur darat dari (Long) Pahangai ke Kubar, tapi masih parah. Bisa jadi kita yang sehat, mengantarkan orang sakit, malah ikut-ikutan sakit,” katanya. Japar Kadri beruntung karena memegang kartu BPJS. Biaya pengobatan di Kubar bisa ditekan. Sementara untuk ongkos perjalanan mereka, minimal Rp 1,2 juta untuk tiga orang.

“Kakak saya di Kubar yang lagi urus ambulans,” jelas Sumadi.

Kendala Infrastruktur

Belum maksimalnya pelayanan kesehatan di Mahakam Ulu diakui Bupati Bonifasius Belawan Geh. Saat ini, baru ada dua rumah sakit pratama di Mahulu yakni di Long Lunuk dan Ujoh Bilang. Namun, kondisi fasilitas kesehatan tersebut dianggap belum ideal. Masyarakat Mahulu tersebar di kampung-kampung dengan pemisah jarak yang lebar. 

“Kampung-kampung yang ada semua di pinggir sungai. Dan jaraknya jauh-jauh,” ucap Bupati.

Keadaan itu diperparah dengan jalan penghubung yang belum semuanya tersambung. Yang ada sekarang, sebagian besar kondisinya masih jalan tanah dengan pengerasan. “Yang bisa kami upayakan adalah memperbanyak tenaga medis di tiap kampung. Walau ini juga jadi persoalan karena sarana kesehatan lain juga harus memadai,” lanjutnya.

Kabupaten Mahakam Ulu memang menghadapi masalah infrastruktur yang sangat besar. Pada masa ditetapkan sebagai daerah otonomi baru, 2013 silam, Mahulu sama sekali tidak memiliki jalan darat yang terhubung ke ibu kota provinsi. Keadaan itu membuat pergerakan manusia maupun barang mengandalkan moda transportasi sungai. Moda transportasi yang makan biaya dan makan waktu. 

Untuk berpindah di dalam satu kabupaten saja, dari kecamatan terjauh di hulu sungai yaitu Long Apari menuju Kecamatan Long Hubung di hilir, bisa melahap 14 jam menggunakan speedboat. Waktu akan lebih panjang jika naik long-boat, perahu panjang bermesin dua dengan kekuatan 400 paarden kracht atau tenaga kuda. Perjalanan menggunakan long-boat bisa mencapai 20 jam. Bandingkan dengan tiga kali menyusuri Samarinda-Balikpapan yang sama-sama 300 kilometer, cukup 6 jam berkendara. 

Keadaan itu juga membuat biaya kebutuhan pokok melambung. Kecamatan Long Apari yang berbatasan dengan Malaysia adalah contohnya. Tabung gas 3 kilogram di kecamatan itu bisa dijual Rp 200 ribu per buah. Pada saat kemarau, ketika Sungai Mahakam sukar dilewati, tabung melon bisa mencapai Rp 400 ribu seperti pada 2016 lalu. 

Kabupaten Mahulu juga menghadapi permasalahan yang lain. Instalasi listrik dan air bersih masih sangat terbatas di seluruh kecamatan. Dari 50 kampung di lima kecamatan Mahulu, sekitar 80 persen belum tersambung listrik. Warga mengandalkan mesin pembangkit listrik pribadi yang menyala dengan biaya bahan bakar sangat mahal. Dalam semalam, untuk satu rumah, bisa menghabiskan 5 liter solar atau sekitar Rp 30 ribu. Teramat mahal menikmati terang saat malam di kabupaten yang wilayahnya setara 20 kali luas Samarinda ini.

Terbatasnya infrastruktur yang menyebabkan minimnya pelayanan kesehatan juga diakui Kepala Dinas Kesehatan Mahulu, drg Teguh Santoso. Beberapa solusi “darurat” sudah disiapkan, seperti pelayanan Puskesmas Apung. Sarana kesehatan itu beroperasi dengan mendatangi kampung-kampung di tepi Sungai Mahakam. Namun, tenaga medis yang tersedia juga belum sepenuhnya mencukupi. 

“Mahulu memang daerah yang baru berkembang. Kami berharap, ke depan semakin banyak tenaga medis untuk melayani keperluan warga. Sejauh ini kami juga masih bergantung daerah lain untuk pasien yang harus dirujuk,” ungkapnya. (*)

 

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar