Terkini

Cerita Muhammad Maahir Abdulloh, Ekspedisi Jelajah Nusantara dengan Bersepeda

person access_time 6 months ago remove_red_eyeDikunjungi 1567 Kali
Cerita Muhammad Maahir Abdulloh, Ekspedisi Jelajah Nusantara dengan Bersepeda

Muhammad Maahir dan sepeda yang digunakannya melintasi 34 provinsi. (instagram/penjelajahan.nusantara)

Dari Jakarta ke Samarinda, Maahir menempuh perjalanan selama hampir dua tahun.

Ditulis Oleh: Bobby Lolowang
01 Februari 2020

kaltimkece.id Salah satu kegiatan ekspedisi yang belakangan cukup ramai dibicarakan, adalah perjalanan bertajuk Ekspedisi Penjelajahan Nusantara. Suatu perjalanan yang telah berlangsung sejak Maret 2018.

Ekspedisi ini memang tak biasa. Dilakukan dengan bersepeda. Melintasi 34 provinsi di Indonesia. Dilakukan seorang diri oleh pemuda bernama Muhammad Maahir Abdulloh.

Bersepeda dipilih lantaran kesehariannya yang memang gemar menggunakan sepeda. Di samping juga sebagai alat transportasi ramah lingkungan. Tak bising pula. Memungkinkannya menikmati perjalanan tanpa distraksi.

Pria 25 tahun tersebut kesehariannya sebelum memulai perjalanan ini, adalah anggota Korps Suka Rela Palang Merah Indonesia Jakarta Selatan. Ia juga aktif di organisasi Pramuka. Juga tergabung komunitas pencinta alam Pataga Indonesia.

Pada 31 Januari 2020, Maahir tiba di Samarinda. Setelah rangkaian perjalanan panjang yang dimulainya 11 Maret 2018. Start dari Jakarta. Semula ia menargetkan finis alias kembali tiba di Jakarta pada Maret 2020. Namun perkiraan tersebut meleset. Kalkulasinya saat ini, ia baru kembali ke ibu kota negara pada Agustus 2020. “Karena lama di Papua. Banyak bikin taman baca di Kabupaten Mimika,” sebut Maahir saat bertandang ke kantor kaltimkece.id, setelah beberapa jam sampai di Samarinda.

Di markas media ini, Maahir banyak berkisah ihwal perjalanan panjangnya tersebut. Selain agenda melintasi 34 provinsi, dalam ekspedisi ini pula ia menargetkan pendakian di tujuh gunung tertinggi Indonesia. “Pada akhir perjalanan, saya akan membuat buku. Bermaksud menjadi literasi karena selama ini belum ada panduan untuk ekspedisi seluruh provinsi di Indonesia,” sebutnya.

Ketiadaan itu memang sudah jadi pergumulan Maahri ketika memulai ekspedisi. Akhirnya ia banyak berburu referensi secara mandiri. Dari pemetaan hingga literasi di tiap-tiap daerah.

Misi lainnya dalam perjalanan itu juga, adalah mendirikan 10 taman baca di sejumlah wilayah Indonesia. Sejauh ini sudah empat taman baca yang terbangun. Termasuk di Papua. Buku-buku dikirim dari Jakarta, lewat bantuan rekannya. Baik dari hasil donasi atau bantuan dari berbagai pihak yang turut melibatkan diri. Dalam sekali pengiriman, meliputi 10 kilogram berat buku. Satu taman baca, ada yang mendapat lebih sekali pengiriman.

Mendirikan taman baca di Papua, adalah salah satu kenangan paling berkesan untuknya. Provinsi ini memang memberi banyak kenangan mendalam. Tak heran ia sampai menghabiskan sembilan bulan di sana. Paling lama dibanding provinsi lainnya. “Sejauh ini, alam Papua yang paling memberi kesan untuk saya. Sedangkan masyarakatnya, paling berkesan dari Flores,” sebutnya.

“Di Papua masih begitu natural. Meskipun ada lubang tambang emas. Tapi masih banyak hal unik. Seperti binatang-binatangnya. Ada kanguru, ada juga burung yang di Kalimantan disebut burung enggang,” lanjutnya.

Setelah Papua, Maahir melanjutkan perjalanan ke Sulawesi sebelum tiba di Kalimantan. Di Borneo, provinsi pertamanya adalah Kalimantan Utara. Maka, daerah Kaltim pertama dimasuki adalah Berau sebagai kawasan paling utara Bumi Etam. Di sini, ia berkesempatan mengunjungi Pulau Maratua, Derawan, dan Sangalaki.  

Dari Berau, Maahir kembali bersepeda selama lima hari ke Sangatta. Di sini ia beristirahat dua malam. Dimanfaatkan untuk mencuci baju dan aktivitas lainnya. Lalu melanjutkan perjalanan ke Bontang, dan menginap semalam. Sebelum tiba ke Samarinda, ia melewati perjalanan hingga dua malam. Biasa menginap di lapak pinggir jalan, atau ke rumah-rumah warga yang berkenan.

“Kalau tiba di kota, saya biasa menginap di markas PMI,” sebutnya.

Maahir beruntung selalu diberi kesehatan dalam perjalanannya. Meskipun ia sempat drop hingga diserang malaria. Untung ada saja dokter bersedia merawatnya.

Dari Samarinda, Maahir bertolak ke Balikpapan pada 2 Februari 2020. Dilanjutkan ke Penajam, lalu Kalimantan Selatan. Kemudian Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Rute berikutnya ke Pulau Sumatra dijajal dengan menyeberang via kapal. “Dari Sumatra, start di Aceh lalu turun ke Jawa. Maka sampai Jakarta kemungkinan Agustus 2020,” pungkasnya. (*)

 

 

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar