Terkini

Derita Panti Asuhan di Balikpapan: Mukjizat Ramadan dan Doa Anak Yatim-Piatu (Bagian 2)

person access_time 6 days ago remove_red_eyeDikunjungi 179 Kali
Derita Panti Asuhan di Balikpapan: Mukjizat Ramadan dan Doa Anak Yatim-Piatu (Bagian 2)

Panti Asuhan Al-Firdaus di Balikpapan. (surya aditya/kaltimkece.id)

Tak sedikit rintangan harus ditempuh remaja perempuan ini untuk melepas belenggu keterbatasan tempat tinggal panti asuhannya.

Ditulis Oleh: Surya Aditya
04 Mei 2021

kaltimkece.id Bermukim di rumah seluas 6x6 meter betul-betul membuat para penghuni Panti Asuhan Al-Firdaus gerah. Saban hari mereka lalui dengan hidup saling bersesakan. Mereka juga kerap diganggu dari dinginnya angin malam dan air hujan yang masuk melalui celah-celah kecil di atap rumah.

Ummi, selaku pemimpin panti asuhan tersebut, sama sekali tidak menutup matanya atas masalah tersebut. Sedari awal tinggal di rumah tersebut pada akhir 2018, keterbatasan rumah sudah menjadi pilu yang menyesakkan dada perempuan 26 tahun tersebut.

Sebenarnya, tawaran hibah rumah yang lebih layak bukan tidak ada. Tapi Ummi, perempuan 26 tahun, selaku pemimpin panti asuhan tersebut, punya pandangan sendiri. Baginya, menerima rumah secara cuma-cuma dari orang lain bukanlah langkah bijak mengatasi persoalan. Ia khawatir jika di masa yang akan datang rumah pemberian disoal oleh keluarga pemberi rumah.

Karena bagaimanapun, kata Ummi, rumah pemberian tetap lah bukan milik Panti Asuhan Al-Firdaus. “Misalnya, saya duluan meninggal, terus tiba-tiba anak-anak digugat masalah tempat, siapa yang bantu mereka? Sedangkan mereka enggak tahu apa-apa,” terang perempuan berkerudung itu kepada kaltimkece.id, Senin, 3 Mei 2021.

Sebagai solusi mengatasi persoalan tempat tinggal, Ummi berinisiatif membeli sebidang tanah untuk kemudian dibangun rumah. Roni Sualang, pendiri Yayasan Anak Al-Kabir Indonesia yang memayungi Panti Asuhan Al-Firdaus, sangat setuju dengan gagasan tersebut. Dananya bersumber dari pribadi Ummi bersama suaminya, Adit Andriyansyah, dan Roni.

Awal 2019, mereka mendapat calon tanah yang hendak dibeli. Luasnya 5 kaveling. Lokasinya di Kilometer 9, Balikpapan Utara, atau sekitar 500 meter dari rumah yang saat ini digunakan Panti Asuhan Al-Firdaus. Untuk bisa mendapatkan tanah tersebut, oleh pemilik tanah, Ummi, Adit dan Roni diharuskan membayar uang muka senilai Rp 100 juta. Ketiganya setuju dengan syarat tersebut. “Kami hanya minta waktu untuk bisa melunasi DP (down payment) tersebut,” kata Ummi.

Ummi yang saat itu tengah mengandung anak ketiga lantas pelan-pelan mulai mengumpulkan duit hasil jerih payah sebagai guru honorer. Begitupun dengan suaminya, penghasilan Adit sebagai petani sawit juga ditabung.

Suatu hari, Ummi masuk rumah sakit untuk lahiran anaknya. Uang tabungannya untuk membeli tanah sebagian digunakan membayar persalinan. Di saat bersamaan, Roni juga masuk rumah sakit karena terserang penyakit. Dari sini, petaka kemudian datang. Dua hari setelah Ummi pulang dari rumah sakit, Roni meninggal dunia.

Kepergian Roni selamanya membuat kesedihan yang amat mendalam bagi Ummi. Ia tak tahu lagi bagaimana caranya membayar uang muka tanah yang telah dijanjikan tanpa lelaki tersebut. Bagaimana pula ia mengelola panti asuhan tanpa sosok yang menjadi teladannya itu. Seketika itu ia merasa pundaknya di tumpuk besi 10 kilogram.

“Waktu itu saya berada di titik paling terendah. Saya benar-benar down. Saya benar-benar enggak bisa berpikir jernih. Beban berat yang harus saya pikul benar-benar besar,” kenangnya.

Kesedihan semakin menjadi setelah beberapa hari jenazah Roni dikebumikan, pemilik tanah datang menagih janji uang muka. Tabung Ummi yang tersisa Rp 10 juta lantas hendak diberikan. Dengan catatan, sisa DP dibayar dicicil. Tetapi, uang tersebut ditolak pemilik tanah. Ia tetap meminta Rp 100 juta.

Kadung berjanji, Ummi meminta sebulan lagi melunasi uang muka tersebut. Meskipun, saat meminta tambahan waktu, ia belum punya rencana bagaimana mendapatkan uang dalam jumlah besar. “Saya cuma yakin saja waktu itu. Apapun risikonya nanti, saya terima.”

Selepas pertemuan tersebut, Ummi meningkatkan salatnya. Meminta pertolongan Sang Pencipta untuk mengatasi semua masalah tersebut. Setiap malam datang, sambil bersedekap di atas kasur, Ummi selalu menangis di kamarnya manakala ia memikirkan nasib anak-anak panti dan uang DP tanah.

Ibadahnya semakin diintensifkan ketika memasuki Ramadan 1440 Hijriah/2019. Saat bulan puasa, Ummi membuka donasi membayar uang muka tanah tersebut. Ia juga menyerukan kepada anak-anak Panti Asuhan Al-Firdaus untuk meningkatkan ibadahnya. Secercah harapan pun muncul. Uang dari para donator segera mengalir deras ke kas panti.

Tak pernah terbayang sama sekali di benak Ummi, sepekan sebelum Idulfitri 1440 Hijriah, ia bisa melunasi DP tersebut. Baginya, pelunasan DP tersebut adalah mukjizatnya Bulan Suci. “Ini adalah keajaiban buat kami di Ramadan.”

Setelah DP lunas, uang sumbangan para donator tak henti-hentinya mengalir ke kas panti asuhan tersebut. Duit itu dikumpulkan Ummi untuk melunasi sisa pembayaran tanah. Namun ia enggan menyebutkan total sisa pembayaran tanah. Karena menurutnya tidak semua urusan panti harus dipublikasikan.

Suatu pagi setelah Idulfitri 1440 Hijriah belum lama berlalu, cerita Ummi, empat orang sahabat mendatangi panti asuhannya. Keempatnya melakukan survei lokasi panti. Namun tidak dijelaskan tujuan survei. Setelah data yang dicari diperoleh, mereka pergi.

Beberapa hari kemudian, keempat sahabat itu datang lagi. Mereka langsung menodongkan segepok uang yang disimpan di tas plastik hitam ke muka Ummi. Kepada wanita muda tersebut, keempatnya bilang, uang itu untuk melunasi sisa pembayaran tanah. Timbal baliknya, mereka hanya minta agar anak-anak Panti Asuhan Al-Firdaus mendoakan mereka.

Ummi menangis mendengarnya. Tubuhnya bergetar memegang tumpukan uang. Sejurus itu pikirannya menerawang bahwa masa-masa sulit di rumah sempit ini akan berakhir. Dan, masa depan Panti Asuhan Al-Firdaus segera cerah. “Mungkin, inilah kekuatan doanya anak-anak yatim dan piatu,” sebutnya. (Bersambung/*)

 

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar