Terkini

Drama Dugaan Penganiayaan Ah dan Ayah Tirinya yang Mendadak Hilang

person access_time 3 months ago remove_red_eyeDikunjungi 3044 Kali
Drama Dugaan Penganiayaan Ah dan Ayah Tirinya yang Mendadak Hilang

Ah dan Asri Wulandari tiba di Unit PPA Polresta Samarinda, Kamis petang, 4 Juli 2019. (Ika Prida Rahmi/kaltimkece.id)

Problematika keluarga ini menjadi urusan banyak orang karena dugaan perlakuan yang tak manusiawi.

Ditulis Oleh: Ika Prida Rahmi
05 Juli 2019

kaltimkece.id Drama dugaan penganiayaan ayah tiri di Samarinda menyedot perhatian publik Kota Tepian. Korban dan ibu kandungnya sempat menghilang. Sedangkan terduga pelaku penganiayaan masih misterius keberadaannya.

Bocah 8 tahun berinisial Ah di Samarinda viral sejak awal pekan ini. Hal tersebut bermula dari unggahan paman Ah di media sosial. Ada dugaan penganiayaan terhadap Ah dilakukan ayah tirinya, Riswan Narendra. Setelah ramai jadi perbincangan, baik Ah, Riswan, dan Asri Wulandari, ibu kandung Ah, sempat tak diketahui.

Gusfian Nur adalah paman korban yang pertama kali mengabarkan kisah tersebut ke Facebook. Saat dihubungi kaltimkece.id, ia telah melaporkan dugaan penganiayaan itu ke Polresta Samarinda. Kasus langsung ditangani Jajaran Satreskrim Unit Pelayanan Perempuan dan Anak atau PPA. "Selain Kepolisian, kami juga meminta pendampingan KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) dan P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak)," sebut Gusfi—sapaannya.

Pihak keluarga hingga Kamis sore, 4 Juli 2019, belum mengetahui keberadaan anak delapan tahun tersebut. Kabar pencarian orang hilang turut diunggah ke Facebook. Hasilnya, seorang warganet mengadakan sayembara pencarian Ah. Upahnya Rp 10 juta bagi yang menemukan. Namun Gusfi memastikan pemilik akun bukan dari keluarga.

"Kami sudah kontak akun itu. Belum dibalas. Kalau saya lihat akun ini sepertinya baru dibikin. Takutnya hoax. Kami benar-benar menyerahkan ke pihak kepolisian," terang Gusfian.

Diungkapkan Gusfi, dugaan Ah diperlakukan tak manusiawi diketahuinya dari beberapa rekan di sekitar gerai usaha Riswan di Mal Lembuswana. Gusfi menerima kiriman foto menampilkan Ah yang rambutnya dipotong sembarangan. Tampak pula luka-luka di bagian bibir, tangan, kaki, hingga bokong. "Mertua saya juga melihat langsung ada luka. Tapi belum bisa dimintai keterangan karena masih fokus mencari Ahtar," jelas dia.

Baca juga:
 

Keterangan Gusfi diperkuat pengakuan sumber kaltimkece.id di sekitar tempat usaha Riswan. Ia mendapati Ah mengalami luka dan lebam di wajah dan tangan pada Minggu, 30 Juni 2019. "Kondisinya seperti di foto yang viral. Bibir Ah jontor. Kalau rambutnya saya tidak melihat karena dia pakai topi. Tapi kalau di badannya ada bekas potongan rambut, itu benar," terang perempuan yang juga menjalankan gerai handphone di Mal Lembuswana tersebut.

Kabar penganiayaan Ah memang sempat didengarnya ketika didatangi sesama pemilik gerai handphone sekitar. Dari informasi itulah ia penasaran dan mendatangi Ah yang kebetulan duduk sendiri, tak jauh dari gerai ayah tirinya.

"Terus saya dekatin, tanya sudah salat atau belum. Saya mau ajak salat. Lalu saya lihat ada luka. Bibirnya jontor. Tangannya lebam seperti bekas cubitan. Kalau di kaki dan sekitarnya saya tidak lihat," ungkap sumber yang identitasnya dirahasiakan tersebut.

"Saya tanya, ini kenapa. Dia diam. Sepertinya ketakutan. Terus lari dari saya. Saat saya noleh ke belakang, ibunya melihat ke saya. Sejak itu kami tidak ketemu lagi."

Pada Senin, 1 Juli 2019, gerai Riswan hanya dijaga karyawan. Baik Ah, Riswan, dan Asri seharian tak tampak batang hidungnya. Ketika dugaan penganiayaan viral di media sosial keesokannya, tempat servis dan penjualan aksesori handphone tersebut tak lagi beroperasi.

"Tutup sejak Selasa, sampai sekarang belum buka. Banyak juga pelanggannya dia tanya ke kami. Saya enggak bisa jawab. Setahu saya sejak kabar viral itu, counter ini tutup," ungkap Salsa, salah seorang penjaga gerai sekitar.

Ramah dan Sosial

Dari penelusuran kaltimkece.id, Riswan sekeluarga tinggal di Jalan Kedondong Dalam 5, Kelurahan Gunung Kelua, Kecamatan Samarinda Ulu. Rumah berlantai tiga perpaduan warna abu-abu dan biru tua itu tampak tak ada aktivitas dari luar. Dari pengakuan salah seorang tetangga, rumah tersebut ditinggal penghuninya sejak Selasa, 2 Juli 2019.

"Kalau rumahnya enggak ada mobil, berarti enggak ada orangnya," ucap ibu rumah tangga 45 tahun yang enggan menyebutkan namanya.

Sepengetahuan tetangga, sejak Riswan menikah dengan Asri, rumah itu hanya ditinggali tiga orang. Yakni Riswan, Asri, dan Ah. "Dulu istrinya Ibu Rini. Kalau istri yang sekarang jarang saya melihat," katanya.

Tetangga tak pernah mendengar suara tangisan ataupun nada tinggi memarahi anak tiri. Ah juga sangat jarang bermain di luar rumah. Tetangga hanya sesekali bertemu. Namun tak pernah didapati luka bekas pukulan.

Ibu 45 tahun tersebut terkejut dengan kabar dugaan Riswan menyiksa anak tiri. Riswan dikenal ramah. Gemar menyapa tetangga. Meski hidup berkecukupan, ia dikenal tak sombong dan mudah bersosialisasi. "Cuma memang jarang di rumah. Terakhir ketemu Minggu (30 Juli 2019) sehabis kerja bakti di sini. Ada dia ikut."

Menghilang ke Banjarmasin?

Aji Suwignyo, komisioner KPAID Samarinda, memastikan keluarga korban telah melapor ke Polresta Samarinda. Pelapor atas nama Afif, kakek Ahtar, sekaligus ayah Asri. Dalam kasus tersebut, KPAI turut mendampingi mendalami perkara. Termasuk menelaah kelayakan ibu kandung Ah mengasuh anaknya. "Kalau tidak layak, kami mengajukan ke pengadilan agar anak ini dirawat kakeknya."

Ah selama ini hanya dibesarkan Asri. Semenjak ditinggal mantan suami, Asri menikah dengan Riswan pada Agustus 2018. "Ah masih dalam kandungan umur tujuh bulan, ditinggal ayah kandungnya. Hingga sekarang tidak ada kabar apapun. Jadi selama ini dirawat ibunya. Sekitar Agustus 2018, Ibu Ah menikah dengan Riswan," urai Aji.

Pihak keluarga sempat menduga Riswan pergi ke Banjarmasin melalui jalur darat. Dugaan itu mencuat seiring kabar keberadaan Riswan di Penajam. Riswan juga diketahui berasal dari Banjarmasin.

Ah dan Asri Ditemukan

Segala spekulasi keberadaan Ah berakhir setelah ditemukan bersama ibunya oleh jajaran Satreskrim Polresta Samarinda pada Kamis petang. Bersama Asri Wulandari, Ah berada di sekitar Kelurahan Bukit Pinang, Kecamatan Samarinda Ulu.

Asri dan Ah tiba di Unit PPA Satreskrim Polresta Samarinda dan langsung dimintai keterangan untuk penyidikan dugaan penganiayaan. Proses tersebut berlangsung mulai pukul 18.00 hingga Jumat dini hari, 5 Juli 2019, pukul 00.15 Wita. Ah telah dibawa Unit PPA ke rumah sakit untuk visum.

"Kondisi Ah sehat dan kami lakukan visum. Sementara Riswan masih dicari keberadaannya. Kasus ini masih penyelidikan," ungkap Kasat Reskrim Polresta Samarinda Kompol Sudarsono. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar