Terkini

Duduk Perkara Gagalnya Penculikan Dua Anak Perempuan di Samarinda Seberang

person access_time 6 months ago remove_red_eyeDikunjungi 3793 Kali
Duduk Perkara Gagalnya Penculikan Dua Anak Perempuan di Samarinda Seberang

Penculikan anak bikin heboh di Samarinda. (ilustrasi: m nauval/kaltimkece.id)

Tiga lelaki bertopeng disebut berupaya menculik dua anak. Gagal karena tidak berhasil mendapatkan nomor telepon orangtua korban.

Ditulis Oleh: Giarti Ibnu Lestari
13 Desember 2019

kaltimkece.id Mawar dan Melati, bukan nama sebenarnya, sudah menyiapkan tepung dan telur setiba dari pulang sekolah. Selepas bersalin seragam, kedua anak perempuan yang masih bersepupu itu lalu meninggalkan rumah. Mereka hendak memberikan kejutan untuk seorang teman yang sedang berulang tahun.

Selasa, 10 Desember 2019, pukul 12.00 Wita, kedua anak yang masih duduk di kelas IV dan kelas VI SD itu tiba di rumah teman mereka. Mawar mengenakan celana jeans biru dan t-shirt putih. Melati memakai busana muslim putih yang senada dengan hijabnya.

Di rumah sahabat mereka, kejutan tepung dan telur sukses disiramkan. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian kado. Rupanya, kado Melati tertinggal di rumahnya di Kecamatan Loa Janan Ilir, Samarinda.

“Kami lalu pulang untuk mengambil kado tersebut,” tutur Mawar kepada kaltimkece.id, Kamis, 12 Desember 2019.

Dalam perjalanan, kira-kira pukul 13.00 Wita, Mawar dan Melati berjalan kaki melewati sebuah simpang empat dekat jalan raya. Sebuah stan ojek berdiri dekat pelang gang rumah mereka. Saat itu sepi sekali. Tiba-tiba, sebuah mobil Toyota Avanza hitam berbelok di depan mereka. Mawar dan Melati menahan langkah sejenak. Mereka tidak jadi menyeberang karena sepertinya mobil itu hendak putar balik.

Sejurus kemudian, seseorang mendorong tubuh Mawar dan Melati ke pintu mobil yang sudah terbuka. Di dalam mobil, seorang lelaki menarik tangan keduanya. Sopir lalu tancap gas.

Dengan suara bergetar di hadapan reporter kaltimkece.id, Mawar kembali bercerita bahwa saat itu mulut dia dan sepupunya dibekap oleh tangan. Mata mereka masih bisa melihat. Namun, keduanya tak berdaya ketika mencoba melawan.

Mawar berusaha melihat keluar kendaraan. Dari Samarinda Seberang, mobil melintasi Jembatan Mahakam. Melati yang berusia lebih muda hanya bisa menangis. Seorang dari tiga laki-laki dewasa di dalam mobil membentaknya. Wajah para lelaki itu ditutupi kain seperti masker. Mereka mengenakan topi. Mawar hanya ingat, seorang lelaki berperawakan tinggi, besar, dan tegap. Sementara satu lagi lebih ceking dengan kulit gelap.

Mawar mengaku berusaha untuk tenang. Dua dari tiga lelaki masih membekap mulut ia dan Melati. Seorang lagi sibuk di balik kemudi. Mobil terus meluncur ke arah kantor gubernur. Di tengah perjalanan, Mawar ditanyai nomor telepon orangtuanya. Mawar mengatakan tidak tahu. Ia tak sedang berbohong karena memang tidak hapal nomor kontak ayah maupun ibunya. Berkali-kali ditanya, Mawar menjawab tidak tahu.

Ketika melintas di depan Taman Lampion Garden, Jalan Slamet Riyadi, Karang Asam Ilir, Sungai Kunjang, mobil berhenti. Mawar dan Melati didorong dari atas mobil lalu diturunkan.

Dilanda kebingungan dengan yang barusan terjadi, Mawar dan Melati memilih berjalan kaki. Mereka hendak kembali ke rumah di Samarinda Seberang. Namun, sore itu, hujan turun dengan derasnya ketika keduanya tiba di dekat Jembatan Kembar. Di situlah, seorang mahasiswa yang mengenali Melati kemudian menghampiri. Keduanya pun ikut sepeda motor mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi di Samarinda Seberang itu.

Mahasiswa tersebut, jelas Mawar, rupanya sedang diburu waktu. Ia harus mengikuti mata kuliah di kampus. Mawar dan Melati lantas dititipkan di ruang dosen. Kepada dosen di situ, Mawar dan Melati menceritakan yang mereka alami.

Kepala Kepolisan Resor Kota Samarinda, Komisaris Besar Polisi Arif Budiman, memastikan informasi yang menimpa Mawar dan Melati segera ditindaklanjuti. Kepolisian, kata dia, berkomitmen memberikan rasa tenang dan aman bagi masyarakat Samarinda.

“Ini adalah tugas kami. Kami pasti bekerja keras. Kami juga menganjurkan kepada orangtua untuk lebih berhati-hati mengawasi anak-anak,” pesan Kapolresta.

Ayah Mawar, AS, 40 tahun, adalah orang yang menjemput Mawar dan Melati di kampus.

Kepada kaltimkece.id, AS sangat bersyukur karena kedua anak tersebut selamat dan tidak terluka. AS memutuskan tidak melaporkan kejadian tersebut ke polisi. Namun, ia membenarkan telah didatangi beberapa opsir tak lama setelah Mawar dan Melati tiba di rumah. Polisi mencatat kejadian yang dialami kedua anak itu. AS juga menegaskan, foto-foto anak luka-luka yang beredar di Facebook, bukanlah Mawar dan Melati.

Kepala Kepolisian Sektor Kota Samarinda Seberang, Komisaris Polisi Suko Widodo, membenarkan bahwa usaha penculikan tidak dilaporkan. Namun, polisi telah meminta keterangan di rumah kedua anak.

Kasus Langka

Insiden penculikan anak di Samarinda terbilang jarang, bahkan tidak pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. kaltimkece.id meminta data kasus tersebut dalam lima tahun terakhir. Dalam catatan kepolisian Samarinda, kasus penculikan anak dalam rentang waktu tersebut adalah nihil. Petugas hanya mencatat kasus perdagangan manusia di bawah umur. Namun, kasus tersebut sebagian besar terjadi di provinsi lain. Samarinda dan sekitarnya hanya menjadi lokasi tujuan para korban yang dijual atau dieksploitasi. 

Adapun peristiwa yang bisa dikategorikan penculikan adalah hilangnya bayi di ayunan. Kejadian ini berlangsung di Penajam Paser Utara, 5 Oktober 2019. Pelakunya ternyata orang dekat. Paman bayi tersebut yang masih tinggal satu rumah yang diketahui membawa si bayi.

Tingkatkan Kewaspadaan

Maraknya kabar penculikan tersebar di media sosial. Menurut Ayunda Ramadhani, psikolog kenamaan di Kota Tepian, hal itu sangat lumrah. Meskipun jarang, penculikan memang ada dan pernah terjadi. Kasus penculikan selalu menjadi pusat perhatian. Hal ini tidak lepas dari dampak yang dialami korban. Jika selamat, korban bisa menderita trauma hebat. 

“Masyarakat pun waswas dan cemas jika mendengar kasus penculikan. Tanggapan beragam segera bermunculan,” jelas dosen dari Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda ini.

Secara psikologis, Ayunda menjelaskan bahwa berita-berita, baik yang benar maupun dusta, menimbulkan resah masyarakat. Kasus penculikan sangat lekat dengan persepsi bahwa korban akan meninggal atau terluka. Banyak kejadian traumatis yang berujung tragis menimbulkan kehebohan massal. Sayangnya, ada oknum-oknum yang tak bertanggung jawab justru menyebarkan warta dusta. Inilah yang justru menambah keresahan massal tadi.

“Sebaiknya, ketika mengetahui berita semacam itu, orangtua mengambil langkah-langkah protektif,” jelasnya. Untuk menenangkan fenomena keresahan massal, Ayunda menyarankan, pihak berwenang betul-betul menangani dengan serius. Pemerintah juga mesti turun tangan mengajak para orangtua lebih waspada. Harus diingat, bahaya yang mengintai anak-anak bukan penculikan belaka. Yang lebih sering terjadi adalah kasus asusila. Dalam banyak kasus, pelakunya justru orang dekat.

“Di samping itu, masyarakat mesti terlibat aktif. Tidak mudah percaya apalagi ikut menyebarkan kabar-kabar yang belum diverifikasi kebenarannya,” saran Ayunda. (*)

Editor: Fel GM

Catatan redaksi: Berita ini mengikuti Pedoman Pemberitaan Ramah Anak (PPRA) sebagaimana diatur Dewan Pers, sesuai Undang-Undang 11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar