Terkini

Duduk Perkara Opini Rektor ITK di Balikpapan yang Dianggap Rasis sampai Dikecam Luas di Twitter

person access_time 2 weeks ago remove_red_eyeDikunjungi 982 Kali
Duduk Perkara Opini Rektor ITK di Balikpapan yang Dianggap Rasis sampai Dikecam Luas di Twitter

Rektor Institut Teknologi Kalimantan, Prof Budi Santosa Purwokartiko.

Ada tiga frasa dengan pilihan diksi yang dianggap tak etis. Ketiganya yaitu kata-kata langit, manusia gurun, dan hobi demo.

Ditulis Oleh: Surya Aditya
30 April 2022

kaltimkece.id Semesta maya mendadak riuh. Unggahan Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Balikpapan, Prof Budi Santosa Purwokartiko, menjadi pangkal perkaranya. Opini Prof Budi yang ditulis di akun Facebook-nya pada Rabu, 27 April 2022, dianggap mengandung muatan rasis. Tangkapan layar dari opini tersebut dilempar ke Twitter sehingga mengundang ribuan cuitan. 

Dalam unggahan tersebut, Prof Budi menulis sebuah uraian panjang. Kutipan lengkapnya sebagai berikut. 

Saya berkesempatan mewawancarai beberapa mahasiswa yang ikut mobilitas mahasiswa ke luar negeri. Program Dikti yang dibiayai LPDP ini banyak mendapat perhatian dari para mahasiswa. Mereka adalah anak-anak pinter yang punya kemampuan luar biasa. Jika diplot dalam distribusi normal, mereka mungkin termasuk 2,5% sisi kanan populasi mahasiswa. 

Tidak satu pun saya mendapatkan mereka ini hobi demo. Yang ada adalah mahasiswa dengan IP yang luar biasa tinggi di atas 3,5 bahkan beberapa 3,8 dan 3,9. Bahasa Inggris mereka cas cis cus dengan nilai IELTS 8, 8,5 bahkan 9. Duolingo bisa mencapai 140, 145 bahkan ada yang 150 (padahal syarat minimum 100). Luar biasa. Mereka juga aktif di organisasi kemahasiswaan (profesional), sosial kemasyarakatan, dan asisten lab atau asisten dosen. 

Mereka berbicara tentang hal-hal yang membumi: apa cita-citanya, minatnya, usaha-usaha untuk mendukung cita-citanya, apa kontribusi untuk masyarakat dan bangsanya, nasionalisme, dsb . Tidak bicara soal langit atau sebelum mati. Pilihan kata-katanya juga jauh dari kata-kata langit: insaallah, barakallah, syiar, qadarullah, dsb.

Generasi ini merupakan bonus demografi yang akan mengisi posisi-posisi di BUMN, lembaga pemerintah, dunia pendidikan, sektor swasta beberapa tahun mendatang. Dan kebetulan dari 16 yang saya harus wawancara, hanya ada dua cowok dan sisanya cewek.

Dari 14, ada dua tidak hadir. Jadi 12 mahasiswi yang saya wawancarai, tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun. Otaknya benar-benar open mind. Mereka menemukan Tuhan ke negara-negara maju seperti Korea, Eropa Barat, dan AS, bukan negara yang orang-orangnya pandai bercerita tanpa karya teknologi. 

Saya hanya berharap mereka nanti tidak masuk dalam lingkungan yang: membuat hal yang mudah jadi sulit, bekerja dari satu rapat ke rapat berikutnya tanpa keputusan, mementingkan kulit daripada isi, menyembah Tuhan tapi lupa pada manusia, menerima gaji dari negara tapi merusak negaranya, ingin cepat masuk surga tapi sakit tetap cari dokter dan minum obat, menggunakan KPI langit urusannya masih hidup di dunia. 

Semoga tidak tercemar.

_____________________________________________________PARIWARA

Sabtu, 30 April 2022, kaltimkece.id menghubungi Prof Budi Santosa melalui sambungan telepon. Ia membenarkan, opini tersebut memang ditulisnya. “Saya bertemu 14 mahasiswa tersebut secara virtual pekan lalu,” katanya. 

Dari sejumlah kecaman di media sosial, frasa yang paling banyak dikritik adalah “tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun.” Prof Budi menjelaskan, opini tersebut sama sekali tidak menyinggung SARA atau mendiskreditkan suatu golongan. Ia menulis opini tersebut hanya untuk memuji mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi. 

“Tidak pernah saya membeda-bedakan golongan. Dosen-dosen ITK juga ada yang berhijab, tidak pernah saya larang,” jelasnya.

Prof Budi mengaku, tidak pernah membayangkan opininya menuai kecaman. Meski demikian, ia siap apabila opininya dipermasalahkan. “Tentu, saya siap bertanggung jawab atas apa yang saya buat,” tegasnya.

Menyadur situs resmi ITK, Prof Budi Santosa adalah guru besar teknik industri dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Ia lahir di Klaten, 12 Mei 1969 dengan bidang keahlian data mining, optimasi dan metaheuristik, operations research, serta manajemen proyek. Prof Budi adalah lulusan S-1 Institut Teknologi Bandung, Program Studi Teknik Industri. Ia melanjutkan pendidikan magister dan doktor teknik industri di University of Oklahoma, Norman, Amerika Serikat. Prof Budi dilantik sebagai Rektor ITK pada 19 Desember 2018 dengan masa bakti hingga 2022. 

Kritikan dari Kaltim 

Pendapat Prof Budi Santosa dianggap memuat frasa yang tidak etis. Demikian penilaian sejumlah pihak di Kaltim seperti dua advokat dari Balikpapan, Agus Amri dan Muhammad Oki Alfiansyah; serta akademikus Fakultas Hukum, Universitas Mulawarman, Samarinda, Herdiansyah Hamzah. 

Kepada kaltimkece.id, Agus Amri dan Herdiansyah Hamzah menggarisbawahi beberapa frasa. Satu di antaranya, yaitu, "Tidak satu pun saya mendapatkan mereka ini hobi demo." Kalimat itu dianggap menunjukkan bahwa Prof Budi tidak menginginkan demonstrasi. Padahal, unjuk rasa adalah hak menyatakan pendapat di muka umum yang dilindungi konstitusi yaitu Undang-Undang Dasar 1945.

“Ini pernyataan yang terkesan ‘mengerdilkan’ mahasiswa yang suka berdemonstrasi sebagai manusia rendahan dalam derajat akademik,” kata Castro, sapaan Herdiansyah Hamzah. 

Dua frasa berikutnya yang dianggap tidak etis, ialah, “Pilihan kata-katanya juga jauh dari kata-kata langit: insaallah, barakallah, syiar, qadarullah, dsb,” serta “Tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun.” Agus, Castro, dan Oki menilai bahwa diksi dalam kalimat tersebut sarat dengan rasis. Prof Budi seperti membeda-bedakan sehingga bisa melanggar hukum.

“Dasar hukum yang dilanggar adalah UU 40/2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis serta UU 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik,” sebut Agus. Prof Budi diminta segera mengklarifikasi pernyataannya dan meminta maaf kepada publik. Jika tidak, perkara ini bisa dibawa ke ranah hukum. 

Pernyataan ini juga disebut patut disesalkan karena dibuat seorang akademikus. “Seseorang yang seharusnya menjadi pelita generasi bangsa,” kata Agus.

_____________________________________________________INFOGRAFIK

Pandangan lain turut disampaikan Dekan III Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, Zamroni. Menurutnya, tidak ada yang bermasalah dalam opini Prof Budi. Ia menilai, opini tersebut hanyalah kritik kepada mahasiswa yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Akan tetapi, Zamroni tidak menampik bahwa ada diksi yang tidak etis dalam opini tersebut. 

“Sepatutnya, kritikan disampaikan dengan cara-cara yang baik,” ujarnya. 

Di lain tempat, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat, Kepolisian Daerah Kaltim, Komisaris Besar Polisi Yusuf Sutejo, belum bisa memberikan tanggapan. Menurutnya, opini Prof Budi yang dinilai rasis dan berpotensi melanggar hukum harus dikaji dan diteliti. (*)

Editor: Fel GM

shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar