Terkini

Fakta-Fakta di Balik Misteri Hilangnya Bocah Empat Tahun di Penitipan Anak

person access_time 8 months ago remove_red_eyeDikunjungi 33831 Kali
Fakta-Fakta di Balik Misteri Hilangnya Bocah Empat Tahun di Penitipan Anak

Orangtua Yusuf menunjukkan foto putra mereka yang hilang (foto: giarti ibnu lestari/kaltimkece.id).

Seorang anak bernama Ahmad Yusuf Ghozali hilang di tempat penitipan. Informasi keberadaan bocah empat tahun itu masih minim.

Ditulis Oleh: Giarti Ibnu Lestari
27 November 2019

kaltimkece.id Bambang Sulistyo amat kerepotan meladeni rengekan anaknya begitu tiba di depan pagar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Jannatul Athfaal. Putra ketiganya yang masih berusia 4 tahun, Ahmad Yusuf Ghozali, menangis karena enggan ditinggal. Padahal, Yusuf biasanya berjalan sendiri dari gerbang sekolah menuju kelas. Akhirnya dengan setengah memaksa, lelaki 37 tahun itu menyuruh anaknya masuk ke gedung sekolah.

Jumat pagi, 22 November 2019, adalah pekan kedua Bambang menjalani rutinitas barunya; mengantar Yusuf ke sekolah sekaligus penitipan anak. Bambang dan istrinya, Melisari, 30 tahun, sengaja menitipkan dan memasukkan Yusuf ke PAUD. Anak tersebut mengalami keterlambatan perkembangan. Hingga usianya yang keempat, Yusuf belum bisa berbicara.

Hari itu, Yusuf masuk sekolah mengenakan kaus merah hati bergambar Tugu Monas. Bagian lengan bajunya berwarna hitam. Ia mengenakan celana putih dengan sedikit motif biru.

Selepas mengantar Yusuf, Bambang memulai pekerjaannya sebagai sopir ojek online. Namun sepanjang bekerja seharian itu, pikirannya terganggu. Yusuf sudah berlelaku tidak biasa sejak sebelum berangkat sekolah. Ketika dimandikan oleh Bambang dan hendak dihanduki, bocah itu tiba-tiba mencium kedua pipi ayahnya. Bocah itu lalu tertawa.

“Wah, sudah makin pintar anak bapak,” kata Bambang ketika menghanduki anaknya, seperti ditirukan kepada reporter kaltimkece.id. 

Pikiran yang terus mengganggu itu membuat Bambang memutuskan menjemput putranya lebih cepat. Jika biasanya ia mengambil Yusuf di sekolah pukul lima sore, Jumat itu, ia datang sejam lebih cepat. Ia pun tiba di sekolah yang beralamat di Jalan Abdul Wahab Syahrani, Kelurahan Gunung Kelua, Kecamatan Samarinda Ulu. Namun, bukan putranya yang ia temui, melainkan petir di sore bolong. Yusuf dikabarkan hilang.

Jejak Yusuf di Sekolah

Yusuf masih menangis ketika hendak ditinggal ayahnya di sekolah. Rengekannya baru berhenti ketika Bunda Biah datang --bunda adalah sebutan bagi pengajar di PAUD ini. Setelah tenang, Yusuf akhirnya tertidur hingga siang.

“Bangun tidur, saya masih melihat Yusuf makan,” jelas Mardiana, kepala PAUD Jannatul Athfaal, ketika ditemui kaltimkece.id, Selasa, 26 November 2019.

Yusuf masih bermain sampai pukul tiga sore. Hari itu, ia diawasi dua pengajar bernama Bunda Lina dan Bunda Yanti. Ketika mendekati waktu memandikan anak-anak, Bunda Lina sempat pamit untuk buang air kecil. Ia menitipkan anak-anak kepada Bunda Yanti. Mardiana selaku kepala sekolah sempat menengok kondisi Yusuf dan murid-murid yang lain. Ruangan kepala sekolah memang dibuat berdekatan dengan tempat anak-anak bermain.

“Sampai sore itu, saya masih melihat Yusuf bermain,” jelas Mardiana dengan yakin.

Mardiana yang melihat hanya satu pengajar yang menjaga anak-anak kemudian bertanya. Bunda Yanti yang sedang bertugas menerangkan, Bunda Lina --partner piketnya-- sedang ke toilet. Tiba-tiba, suara bayi menangis terdengar dari ruangan sebelah. Mardiana bergegas ke sana untuk membantu membuat susu.

“Belum sempat saya buat, tiba-tiba ada yang bilang bahwa Yusuf hilang,” tutur Mardiana. Perempuan ini sudah tak mampu menahan air mata ketika menceritakan detik-detik hilangnya Yusuf kepada kaltimkece.id.

"Bunda, Yusuf mana? Tadi ‘kan ada?" Beberapa bunda melontarkan pertanyaan. Kebingungan segera mendera karena Yusuf seperti menghilang dalam hitungan detik. Semua orang di sekolah mencari Yusuf ke segala sudut. Seluruh ruangan diperiksa. Beberapa bunda juga mencari ke luar area PAUD sementara yang lain menjaga anak-anak.

“Hari itu baru saja hujan, jadi suami saya ikut membantu mencari di parit. Warga juga banyak membantu namun Yusuf tetap tak ditemukan,” lanjut Mardiana. Ia pun segera menghubungi Bambang, ayah Yusuf. Nomor Bambang tidak aktif. Mardiana lantas menghubungi ibu Yusuf yang segera histeris mendengar putranya menghilang.

“Saya minta foto terbaru Yusuf ke ibunya. Saya sebar ke teman-teman pengelola PAUD yang lain agar mereka bisa membantu mencari," ucap Mardiana sembari sesekali mengusap air matanya.

Sekolah terus berupaya mencari Yusuf. Mereka berkomunikasi dengan keluarga anak hingga kepolisian. Sekolah juga meminta bantuan Dinas Komunikasi dan Informatika untuk memeriksa kamera pengawas yang terpasang di jalan. Belum ada hasil.

Bantah Unsur Kelalaian

Jannatul Athfaal adalah PAUD yang berdiri sejak 2004. Sekolah ini punya 13 pengajar dan pengasuh anak ditambah seorang juru masak khusus. Seluruh pengajar atau bunda adalah orang berpengalaman yang dibekali pelatihan khusus mendidik anak usia dini.

PAUD tersebut tercatat memiliki 30 murid dan anak yang dititipkan. Anak-anak tersebut dibagi tiga kelompok. Pertama, kelompok yang hanya belajar di PAUD. Anak-anak ini langsung pulang selepas belajar-mengajar. Kelompok kedua adalah anak yang belajar sekaligus dititipkan. Mereka biasanya dijemput orangtua masing-masing setiap pukul tiga hingga pukul enam sore, seperti halnya Yusuf. Kebanyakan orangtua anak-anak ini adalah pekerja. Sementara kelompok ketiga adalah bayi yang dititipkan. 

Di kelompok kedua, kelas dibagi berdasarkan usia. Setiap kelas dijaga dua pengajar. Anak-anak termasuk Yusuf setiap pagi diabsen kemudian mengikuti kegiatan belajar-mengajar. Untuk kelompok anak yang dititipkan, setelah mengikuti pelajaran akan makan lalu dimandikan. Setelah itu, mereka salat zuhur dilanjutkan tidur siang. Mereka kemudian bermain setelah bangun tidur hingga orangtua datang menjemput.

"Kami tidak membolehkan sembarang orang menjemput. Harus ayah atau ibunya. Jika ada keluarga yang menjemput, harus konfirmasi dahulu ke PAUD,” tutur Mardiana sebagai pemimpin PAUD.

Jika penjemput tidak dikenal, PAUD segera menghubungi orangtua melalui panggilan video untuk benar-benar memastikan. “Orangtua yang mengantar dan menjemput pun cukup di teras, tidak masuk ke PAUD," urainya.

Mardiana berharap, masyarakat bisa menilai dengan seimbang dari peristiwa hilangnya Yusuf. Tidak seorang pun, kata dia, menginginkan hal tersebut terjadi. “Kami tidak melalaikan. Kami anggap dan asuh anak-anak seperti anak kami sendiri," ucap ibu tiga anak ini seraya menyatakan, PAUD yang ia pimpin belum dilengkapi kamera pengawas. 

Orangtua Yusuf Terus Mencari

kaltimkece.id menemui orangtua Yusuf, Bambang Sulistyo dan Melisari, di kediamannya. Keduanya mengakui bahwa Yusuf mengalami keterlambatan perkembangan dibanding anak seusianya. Menurut Melisari, hal itu kemungkinan karena Yusuf sudah diperkenalkan dengan smartphone sejak berusia satu tahun.

“Mungkin terpapar radiasi atau bagaimana, saya kurang paham. Yang jelas, ia tumbuh dengan lamban, menjadi anak yang cuek, dan antisosial,” terang Melisari yang menyebut bahwa Yusuf sangat dekat dengan ayahnya.

Bambang dan Melisari baru 20 hari ini pindah rumah dari Jalan Damanhuri ke Jalan Ratindo VII, Samarinda Ulu. Mereka ingin tinggal berdekatan dengan tempat penitipan Yusuf. Tujuan Yusuf dititipkan memang demi membantunya beradaptasi dengan lingkungan luar dan bersosialisasi.

"Yusuf dititipkan sejak 11 November 2019. Sudah ada kemajuan dan saya senang,” ujar ibu tiga anak itu.

Yusuf adalah anak ketiga Melisari. Anak pertama dan keduanya perempuan. Anak pertama, Anisa Kasih Putri, 10 tahun, saat ini duduk di kelas IV. Sedangkan putri kedua, Siti Noor Aliza Putri, kini berusia 6 tahun.

Melisari kembali mengingat-ingat hari-hari jelang Yusuf menghilang. Sepekan sebelumnya, Melisari tiba-tiba saja ingin mengambil gambar sang putra. Biasanya, ia kesulitan mengambil foto putra bungsungya. Hasilnya selalu jelek karena Yusuf tidak bisa diam.

“Tapi hari itu, saya foto Yusuf dan hasilnya bagus. Saya sempat bertanya dalam hati, enggak biasanya foto Yusuf hasilnya bagus begini," kenang sang ibu.

Empat hari Yusuf hilang, Melisari mengaku, kedua kakak Yusuf terus bertanya keberadaan si bungsu. Mereka kangen. Bambang dan Melisari hanya memberi alasan agar kedua putrinya tenang. Suami-istri ini juga tak lelah mencari. Setiap hari, bahkan hingga pukul dua dini hari, mereka berkeliling. Barangkali saja, Yusuf sedang di masjid atau tempat orang biasa beristirahat.

“Kami berharap Yusuf ada dan ditemukan," ucap Melisari yang tak bisa menyembunyikan kesedihan karena peristiwa ini. Ia justru menyayangkan, ada beberapa pihak yang mencoba menipu dengan memberi informasi yang tidak benar demi meraup keuntungan.

Kasus hilangnya Yusuf dari tempat penitipan anak telah ditangani Kepolisian Sektor Kota Samarinda Ulu. Inspektur Dua M Ridwan, kepala Unit Reserse Kriminal Polsekta Samarinda Ulu, mengatakan bahwa informasi yang diperoleh masih minim. Polisi sudah memeriksa enam saksi dari pihak keluarga maupun tempat penitipan.

"Kami terus mengupayakan pencarian hingga menanyakan jika ada masalah internal keluarga. Tapi, informasi masih minim hingga saat ini," tutupnya. (*)

Editor: Fel GM

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar