Terkini

Jawaban Pertamina soal Antrean Solar di SPBU Balikpapan, Kepadatan Lalu Lintas Disebut Pemicu

person access_time 2 months ago remove_red_eyeDikunjungi 1840 Kali
Jawaban Pertamina soal Antrean Solar di SPBU Balikpapan, Kepadatan Lalu Lintas Disebut Pemicu

Antrean kendaraan besar pengisi solar di salah satu SPBU Balikpapan. (surya aditya/kaltimkece.id)

Truk asal Balikpapan disebut dilarang mengisi solar di sejumlah SPBU di Banjarmasin. Pertamina mengkalim tak pernah membuat aturan seperti itu.

Ditulis Oleh: Surya Aditya
22 Juli 2021

 

kaltimkece.id PT Pertamina (Persero) akhirnya buka suara terkait permasalahan di sejumlah SPBU Balikpapan. Padatnya arus lalu lintas di jalan dituding penyebab keterlambatan distributor bahan bakar minyak ke SPBU sehingga menyebabkan antrean. Pertamina pun membuka peluang menghadirkan SPBU khusus kendaraan angkutan penumpang dan barang.

Unit Manager Communication and CSR Pertamina MOR Kalimantan, Susanto August Satria, mengklaim tidak ada permasalahan kuota solar di SPBU. Pertamina dipastikan selalu mendistribusikan solar ke SPBU di Balikpapan sesuai permintaan.

Adapun kuota solar bersubsidi di SPBU Kebun Sayur yang kerap terjadi antrean, selama satu tahun, sebut dia, adalah 4.991 kiloliter. Itu artinya, setiap bulan, Pertamina menyuplai solar ke SPBU Kebun Sayur sekira 415 kiloliter dan 13,8 kiloliter setiap harinya. Adapun kuota solar untuk SPBU Kilometer 9 selama satu tahun adalah 10.077 kiloliter, per bulan 839,7 kiloliter, dan per hari 27,9 kiloliter. Sementara SPBU Kilometer 15, kuota solarnya selama setahun sebanyak 10.198 kiloliter, per bulan 849,83 kiloliter, dan per hari 28,32 kiloliter.

“Kuota tersebut ditetapkan oleh BPH Migas (Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi),” sebut Susanto kepada kaltimkece melalui keterangan tertulisnya, Rabu, 21 Juli 2021.

Meski demikian, Susanto tak menampik terjadi keterlambatan distribusi solar sehingga menyebabkan antrean truk di beberapa SPBU. Dia menduga, hal tersebut terjadi karena distributor mengalami kendalan di jalan yang padat saat akan mengantar solar ke SPBU. “Adapun deviasi yang ada, kemungkinan, disebabkan karena traffic di jalan,” jelasnya.

Mengenai usulan memberikan SPBU khusus bagi kendaraan angkutan baik penumpang maupun barang, kata Susanto, bisa saja dikabulkan. Akan tetapi, hal tersebut mesti dirundingkan terlebih dahulu kepada para pihak berwenang, seperti Organisasi Angkutan Darat, Himpunan Wiraswasta Minyak dan Gas, serta pihak pemerintah setempat.

“Untuk pengaturan pengisian, bisa saja dilakukan. Namun, tentunya harus ada diskusi dan kesepakatan terlebih dahulu dengan pihak-pihak terkait,” ucapnya.

Terkait adanya kabar truk asal Balikpapan tak boleh mengisi solar di Banjarmasin, Susanto meminta agar hal tersebut dilaporkan kepada pihak Pertamina. Sebab, dia memastikan, seluruh jenis kendaraan boleh mengisi BBM di SPBU mana saja yang ada di Indonesia. Yang penting, sambung dia, kendaraan mengisi BBM dalam volume yang wajar dan mengikuti prosedur input nomor polisi pengisian.

“Apabila ada SPBU yang melakukan pembatasan terkait asal kendaraan, bisa disampaikan lokasi dan nama SPBU tersebut. Karena pada prinsipnya, Pertamina melayani energi untuk semua,” pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (DPC Aptrindo) Balikpapan, Risman Sirait, menyampaikan bahwa antrean solar di SPBU adalah cerita klasik. Hasil penyelidikan Aptrindo mendapati, antrean tersebut terjadi karena distributor solar dari PT Pertamina (Persero) kerap datang tidak tepat waktu ke SPBU.

“Sehingga, para sopir terpaksa harus menunggu,” kata Risman kepada kaltimkece.id, Kamis, 15 Juli 2021.

Aptrindo pernah mengusulkan agar Pertamina menyediakan SPBU khusus bagi kendaraan angkutan baik penumpang maupun barang. Bus dan travel yang mengangkut penumpang wajib mengisi bahan bakar di SPBU Km 4 atau Km 9 di Balikpapan. Sementara itu, SPBU di Km 15 menjadi tempat pengisian truk-truk. Usulan ini bertujuan mengantisipasi kecemburuan sosial. Risman bilang, angkutan penumpang dengan truk di satu SPBU rawan menimbulkan konflik. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar