Terkini

Ke Istana Naik LRT hingga MRT di Bawah Tanah, Detail Konsep Transportasi Ibu Kota Negara

person access_time 2 months ago remove_red_eyeDikunjungi 674 Kali
Ke Istana Naik LRT hingga MRT di Bawah Tanah, Detail Konsep Transportasi Ibu Kota Negara

Salah satu gambaran transportasi di ibu kota Indonesia kelak. (Kemenhub)

Pelbagai jenis transportasi publik dihadirkan untuk kawasan ibu kota negara yang baru. Bahkan yang sebelumnya belum pernah hadir di Indonesia.

Ditulis Oleh: Bobby Lolowang
25 September 2019

kaltimkece.id Presiden RI Joko Widodo telah menetapkan letak ibu kota negara (IKN) berikutnya. Berada di sebagian Penajam Paser Utara (PPU) dan sebagian Kutai Kartanegara. Rangkaian persiapan dikemukakan sebelum eksekusi program mulai 2020. Salah satu yang tengah bergulir adalah konsep transportasi di IKN kelak.

Pengembangan transportasi IKN dirancang ramah lingkungan. Memprioritaskan angkutan umum. Menekan penggunaan kendaraan pribadi. Termasuk menggalakkan penggunaan kendaraan ramah lingkungan seperti sepeda.

Kriteria tersebut menjadi salah satu komponen penting dari delapan unsur green city yang visioning eco-city. Selain transportasi, water termasuk komponen paling krusial. Maka disertakan pembangunan reservoir berupa danau. Berperan sebagai penampung air hujan yang dikelola water management system.

Poin-poin tersebut dipaparkan Kementerian Perhubungan RI dalam suatu diskusi terarah di Balikpapan, 19 September 2019. Usulan konsep transportasi ibu kota negara, dirancang dengan tajuk "Smart City, Smart Mobility".

Tiga misi utama dalam rancangan tersebut adalah Smart, Integrated, & Sustainable City. Melahirkan kawasan yang liveable vibrant, smart technology efficient, safe real time, serta integrated transport system. Arus transportasi pun lebih bersahabat. Less mobility, move freely, dan less travel time.

Diperkirakan 80 persen maksimal orang berjalan kaki selama 10 menit menuju transportasi umum. Dan 80 persen perjalanan sejauh 20 kilometer dapat ditempuh maksimal 30 menit. Didukung kehadiran 75 persen angkutan umum berbasis listrik dan bahan bakar ramah lingkungan. Juga 75 persen penggunaan transportasi umum selama jam sibuk.

Adapun rencana konsep jaringan transportasi umum utama di IKN dirancang berpusat di Monumen Pancasila, Istana Negara, dan Monumen Soekarno-Hatta yang ketiganya berada satu kawasan di Ring I IKN. Terdapat empat ring dalam rancangan IKN yang tengah mengemuka. Penzonaan Ring I memiliki jarak 5 kilometer. Sedangkan Ring II 10 Km, Ring III 15 Km, dan Ring IV 20 Km. Ring I diperkirakan memiliki kepadatan 242.369 jiwa. Sedangkan Ring II 1.379.359 jiwa. Adapun Ring III memiliki densitas 3.139.637 jiwa. Dan Ring IV berisi 2.783.261 jiwa.

Untuk memecah kepadatan jutaan jiwa tersebut, rancangan transportasi disiapkan dalam berbagai jenis. Di jalur terluar, melingkar outer ring road yang di sekelilingnya terdapat delapan terminal bus. Masuk ke Ring III, melingkar jalur MRT dengan delapan stasiun pula di sekelilingnya. Di tengah kedelapan stasiun itu, terdapat lagi satu stasiun terintegrasi. Terkoneksi jalur intermoda dari dan menuju Samarinda atau Balikpapan.

Dari stasiun terintegrasi itu juga, lingkar jalur MRT bertemu dan masuk ke zona Ring II via Avenue 1: Ketuhanan. Tersedia delapan jalur lain untuk memasuki area Ring II. Tepat di transfer point sekeliling jalur autonomous rail rapid transit (ART)/rute e-bus. Yakni via LRT Lines dari kedelapan terminal bus maupun stasiun MRT. Dari delapan jalur tersebut, empat di antaranya berstatus avenue. Yakni Avenue 2: Kemanusiaan, Avenue 3: Persatuan, Avenue 4: Kerakyatan, dan Avenue 5: Keadilan. Dinamai sesuai lima dasar Pancasila.

Kemenhub membagi tahapan pengembangan konsep tersebut dalam empat babak. Tahap pertama berada di Ring I dan II di pusat pemerintahan. Yakni area pedestrian, e-bike, e-scooter, serta rute ART/e-bus. Jalur tersebut dibuat melingkar melintasi Monumen Soekarno-Hatta dan Monumen Pancasila. Mengelilingi area pedestrian yang di tengah-tengahnya terdapat Istana Negara.

Pada tahap dua, pengembangan memasuki pembangunan delapan jalur LRT/ART menuju pusat pemerintahan. Membentang di antara 16 transfer point. Sedangkan pada tahap tiga memasuki pembangunan MRT di Ring III. Dibangun dengan kombinasi underground dan at grade. Terakhir adalah tahap empat, berupa pembangunan rute e-bus di outer ring road alias Ring IV. Kemenhub merancang setiap bangunan bersifat compact dan terintegrasi. Berwawasan lingkungan, mudah dicapai dengan berjalan kaki maupun bersepeda. Ataupun menggunakan e-bus, ART, maupun MRT.

Dalam konsepnya, Kemenhub juga merencanakan bandara kelas VVIP di 15-20 Km dari pusat pemerintahan. VVIP Airport diperuntukkan pendaratan private jet, termasuk untuk tamu negara. Menjadi pendukung dari dua bandara besar yang telah ada. Yakni Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, yang berperan sebagai airport internasional maupun domestic hub. Juga Bandara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto Samarinda, melayani penerbangan private dan domestik.

Kemenhub kini menggodok kawasan terbaik untuk dibangun stasiun terintegrasi. Terdapat dua opsi yang mengemuka. Antara Kelurahan Mentawir di PPU atau Kecamatan Samboja, Kukar. Masing-masing punya kelebihan. Tapi keduanya juga punya kekurangan.

Baca juga:
 

Di Samboja, stasiun bisa lebih dekat dengan jalur Trans Kalimantan. Juga dekat Jalan Tol Samarinda-Balikpapan. Lebih dekat pula menuju bandara. Plus, dekat rencana jalur kereta api Samarinda-Balikpapan. Kekurangannya hanya kontur topografi yang tak bersahabat. Berpotensi besar jadi jadi penghambat. Mempersulit distribusi logistik selama proses pembangunan.

Berbeda dengan Mentawir yang memiliki topografi datar. Distribusi logistik selama pembangunan pun bakal lebih mudah. Keberadaannya juga masih dekat jalan Trans Kalimantan. Dekat pula rencana jalur kereta api Samarinda-Balikpapan. Tapi yang jadi kekurangan adalah jarak menuju bandara yang cenderung jauh. Termasuk menuju jalan tol Samarinda-Balikpapan. (*)

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar