Terkini

Ketika Awang Faroek yang Menggagas Tol hanya Kebagian Foto Bersama saat Peresmian

person access_time 7 months ago remove_red_eyeDikunjungi 6158 Kali
Ketika Awang Faroek yang Menggagas Tol hanya Kebagian Foto Bersama saat Peresmian

Awang Faroek Ishak diundang ke panggung oleh Presiden Jokowi saat peresmian Jalan Tol Balsam. (nalendro priambodo/kaltimkece.id)

Awang Faroek yang menggagas jalan tol hanya  menyaksikan tanpa menekan tombol peresmian. Presiden Jokowi secara khusus menghampiri Faroek di tengah kerumunan undangan.

Ditulis Oleh: Nalendro Priambodo
19 Desember 2019

kaltimkece.id Rinai hujan menyambut iringan rombongan kepresidenan di pintu tol Samboja, Kutai Kartanegara. Pasukan Pengamanan Presiden berbadan tegap segera mengamankan jalur Presiden Joko Widodo. Orang nomor satu republik itu berjalan kaki tanpa payung menuju podium berkarpet merah. Ratusan pejabat tinggi mengelilinginya.

Selasa, 12 Januari 2019, Jokowi tiba-tiba menghentikan langkah saat mendekati podium. Sambil tersenyum, presiden menghampiri seorang lelaki di atas kursi roda. Pria berambut putih itu adalah mantan Gubernur Kaltim periode 2008-2018, Awang Faroek Ishak. Faroek adalah pencetus jalan tol Balikpapan-Samarinda yang siang itu hendak diresmikan. Setelah menyalami Faroek, Jokowi melanjutkan langkah ke podium.

Hari itu, Faroek bersebelahan dengan Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Adji Muhammad Arifin. Keduanya berada di barisan undangan yang berisi pejabat-pejabat tinggi. Mereka semua berdiri —kecuali Faroek yang duduk di kursi roda— menyaksikan momen bersejarah. Jalan bebas hambatan pertama di Pulau Kalimatan diresmikan presiden.

Di podium, Jokowi didampingi Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadi Muljono, Anggota DPR RI asal Kaltim Irwan, Menteri BUMN Erick Tohir, Gubernur Kaltim Isran Noor, dan Dirut PT Jasa Marga Dessy Arryani. Sederet nama itu ikut menekan tombol sirine bersama Presiden Jokowi. Pertanda tol telah diresmikan.

Sepanjang 13 menit peresmian, pandangan Faroek nyaris tak lepas dari podium. Adegan Menteri Basuki mengeluarkan sapu tangan dari saku untuk mengelap prasasti peresmian yang ditandatangani Jokowi juga tak ia lewatkan. Faroek juga menyimak dalam-dalam pidato presiden. Selepas pidato dan melihat gerbang tol di belakang podium, Jokowi mempersilakan Awang Faroek naik ke mimbar untuk berfoto bersama.

Ketika Faroek tiba di mimbar, presiden yang hari itu mengenakan kemeja putih, celana hitam, dan sepatu sneakers, setengah membungkuk mengulurkan tangan. Sejurus itu, semua pejabat di podium bergantian menyalami pria 71 tahun ini. Termasuk Gubernur Kaltim Isran Noor yang kali itu selalu semobil dengan presiden selama kunjungan dua hari di Kaltim. Peresmian rampung, rombongan melanjutkan perjalanan meninjau lokasi ibu kota negara di Sepaku, Penajam Paser Utara.

Kepada wartawan, Faroek mengaku tak mempermasalahkan dirinya tidak naik podium saat peresmian. Faroek yang kini anggota DPR RI memilih menjelaskan perjuangannya membangun tol. Menurutnya, seluruh pembangunan ketika ia menjadi gubernur direncanakan untuk jangka panjang.

“Banyak orang yang tak bisa menangkap kenapa saya bangun rel kereta api, jalan tol, jembatan, pelabuhan, dan lainnya,” ucap Faroek dengan suara serak.

Perjuangan membangun infrastruktur ini disebut sangat berat. Faroek mengaku, kerap mendengar suara sumbang yang mengkritik rencana jalan tol. Termasuk dari DPRD Kaltim kala itu. Sebagian masyarakat dan pegiat lingkungan juga menilai jalan bebas hambatan tak layak secara ekonomi dan finansial. Lagi pula, saat itu Kaltim didera defisit keuangan. Perizinan jalan tol juga ruwet karena melewati Hutan Lindung Sungai Manggar dan Taman Hutan Raya Bukit Soeharto.

“Saya hampir putus asa,” kata Faroek menceritakan awal pembangunan yang mendapat banyak penolakan 9 tahun lalu.

Mengenai kehadiran Faroek yang hanya melihat peresmian dari jarak 20-an meter, mendapat tanggapan. Putri Awang Faroek, Dayang Donna Faroek, mengatakan bahwa ayahnya sudah keluar pagi-pagi sekali hari itu.

Namun, karena jam peresmian berubah-ubah, Faroek menunggu di sebuah warung kopi. Kebetulan, ada seorang kepala dinas pemprov yang melihat Faroek di pinggir jalan. Faroek lantas diajak menuju lokasi peresmian bersama rombongan menteri lingkungan hidup.

“Kami dari keluarga justru salut dan berterima kasih kepada Presiden Jokowi. Meskipun bapak (Awang Faroek) hadir di kerumunan rakyat biasa, Pak Jokowi rela menghampiri seorang yang sepuh. Presiden begitu menghargai orang yang telah menggagas pembangunan jalan tol,” kata Donna.

Donna menambahkan, mengetahui benar proses keprotokolan presiden. Nama-nama yang mendampingi presiden sebenarnya adalah usulan dari panitia dan protokol. Tidak mesti di atas panggung, kata dia, setidaknya ayahnya sebagai penggagas jalan tol serta Sultan Kutai diberikan tempat yang layak.

“Bapak hanya berkata kepada saya, ‘Ya, Allah, Don. Papa tidak apa-apa. Papa ini orang biasa. Biarkan orang ndik (tidak) menghargai etam (kita). Ya, sudah. Ndik apa-apa. Yang penting, kita tetap berbuat yang terbaik untuk orang lain.’ Saya hampir menangis mendengar bapak ngomong begitu,” cerita Donna kepada kaltimkece.id.

Usulan Nama Jalan Tol

Masih di lokasi peresmian, Awang Faroek mengaku amat bangga. Program pembangunan selama ia menjabat dua periode berbuah manis. Sejumlah infrastruktur, termasuk jalan tol, menjadi nilai plus di mata pemerintah pusat dalam menentukan lokasi IKN. Pria berdarah Kutai ini mengaku, sudah punya firasat IKN dipindah ke Kalimantan. Kalaupun, Kaltim tak terpilih, setidaknya, Kaltim memiliki fasilitas yang jauh lebih lengkap dibandingkan provinsi lain.

Disinggung mengenai usulan namanya sebagai nama jalan bebas hambatan, Faroek hanya tersenyum. Ia mempersilakan masyarakat dan pemerintah memutuskan.

“Bukan kapasitas saya menjawab itu,” ucap Faroek.

Pembangunan Tol Balikpapan-Samarinda memang bukan lahir tiba-tiba. Segera setelah dilantik menjadi Gubernur Kaltim pada 2008, Faroek meluncurkan visi-misi. Pada periode pertama, 2008-2013, adalah Kaltim Bangkit 2013. Memuat visi mewujudkan Kaltim sebagai pusat agroindustri dan energi terkemuka menuju masyarakat adil dan sejahtera.

Awang Faroek melihat permasalahan dan potensi utama Kaltim. Provinsi ini kaya dengan berbagai sumber daya alam. Sayangnya, kondisi infrastruktur Kaltim belum menggembirakan. Pada 2010 saja, dari 1.493 kilometer jalan nasional, 366 kilometer rusak berat dan 219 kilometer rusak. Begitu pula jalan provinsi sepanjang 1.628 kilometer, sepanjang 249 kilometer rusak dan 65 kilometer rusak berat (Derap Langkah Pembangunan Kaltim 2008-2013 halaman 76). 

Di sisi lain, industrialisasi adalah program utama pembangunan Kaltim. Fokusnya, pengembangan industri berbasis pengolahan industri pertanian sebagai pengganti sumber daya alam yang segera habis. Faroek bertekad membangun delapan kawasan industri yang diharapkan menjadi kawasan ekonomi khusus (KEK). Kelak, industri di kawasan inilah yang menggantikan batu bara dan migas sebagai fondasi ekonomi Kaltim.

Untuk itulah, Kaltim memerlukan infrastruktur yang memadai. Jalan tol hanya salah satunya. Sepanjang menjabat, Faroek juga menggagas pembangunan Jembatan Mahakam IV, Jembatan Pulau Balang, Bandara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto di Samarinda, bandara di Maratua, dan bandara perintis di perbatasan. Ada pula pelabuhan ekspor Kariangau di Balikpapan dan terminal peti kemas Palaran Samarinda. Kemudian rel kereta api trans Kalimantan, hingga KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan.

“Seperti saya katakan tadi, semua itu direncanakan untuk long term (jangka panjang). Sekarang, satu per satu mulai terbukti. Biarlah waktu yang menjawabnya,” tutup Faroek. (*)

 

Editor: Fel GM

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar