Terkini

Kisah Istri Dua Tapol Papua yang Susul Suami ke Balikpapan, Janji Setia Mendampingi

person access_time 2 weeks ago remove_red_eyeDikunjungi 2179 Kali
Kisah Istri Dua Tapol Papua yang Susul Suami ke Balikpapan, Janji Setia Mendampingi

Debora Awom dan Anike Mohi di Kantor FH POKJA 30. (istimewa)

Hampir tujuh bulan sudah dua perempuan ini bermukim di Balikpapan. Mengaku selalu mendapat perlakuan baik.

Ditulis Oleh: Giarti Ibnu Lestari
23 Juni 2020

kaltimkece.id Cinta dan kesetiaan yang begitu kuat membuat seorang insan teguh memegang janji suci pernikahan. Menerima dalam keadaan sehat dan sakit. Maupun dalam keadaan susah dan senang. Itulah yang dipegang teguh Debora Awom, 27 tahun dan Anike Mohi, 23 tahun.

Debora Awom adalah istri Buchtar Tabuni, 40 tahun. Sedangkan Anike Mohi, istri Agus Kossay, 34 tahun. Buchtar Tabuni dan Agus Kossay merupakan dua dari tujuh orang yang terjerat kasus makar saat demo di Jayapura, Papua.

Lima lainnya adalah Alexsander Gobai (25), Fery Kombo (25), Hengki Hilapok (23), Irwanus Uropmabin (23), Stevanus Etlay (31). Ketujuhnya dianggap sebagai aktor intelektual kerusuhan di Papua pada Agustus hingga September 2019. Ditangkap di Jayapura dan Sentani.

Oktober 2019 Kejaksaan Tinggi Papua melimpahkan kasus tersebut ke Kejaksaan Negeri Balikpapan untuk disidangkan. Dengan alasan keamanan.

Saat ini tujuh tersangka dugaan makar Papua tersebut dititipkan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas II B Balikpapan. Ditahan dalam satu ruangan khusus.

Pada 16 Desember 2019, Debora Awom dan Anike Mohi yang sebelumnya tak saling kenal, menyusul ke Balikpapan. Menumpang pesawat, keduanya sampai di Kota Beriman pukul 19.00 Wita. Diantar salah satu kuasa hukum suami mereka dari Papua.

Hampir tujuh bulan Debora dan Anike menjadi pendatang di Balikpapan. Keduanya tinggal di Kantor Jaringan Advokat Lingkungan Hidup. Beralamat di Perumahan Rengganis, Blok 2 A No. 8, Kelurahan Gunung Bahagian, Kecamatan Balikpapan Selatan.

Ditemui Senin, 22 Juni 2020 di Kantor FH POKJA 30 Jalan Gitar, No 30 A, Komplek Prevab, Kelurahan Dadi Mulya, Kecamatan Samarinda Ulu, kedua wanita itu terlihat tegar. Sangat ramah dan ceria. "Kami akan selalu ada disini dan terus mendampingi. Keberadaan kami disini adalah salah satu kekuatan mereka  Kami akan pulang sama-sama (ke Papua)," ucap Debora Awom.

Kedua perempuan tersebut setiap hari memasak ubi, singkong, sedikit nasi, dan lauk-pauk untuk dibawa ke Rutan Klas II B Balikpapan. Untuk hidangan istimewa, salah satu yang wajib ada adalah daging babi. Lauk tersebut dihidangkan pada saat tertentu. Contoh saat setelah menjalani sidang, sebagai rasa syukur.

Debora dan Anike di Balikpapan hidup seadanya. Mengandalkan kiriman keluarga di kampung halaman. Di Papua mereka bekerja sebagai petani. Juga berkebun, dan beternak. Kedua perempuan yang tak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah itu fasih bercerita dengan Bahasa Indonesia. Sesekali dengan tutur khas Bumi Cendrawasih.

Nyaris tujuh bulan di Balikpapan, Debora dan Anike telah jalan-jalan ke beberapa pasar tradisional dan pusat perbelanjaan modern. Untuk lebih mengenal Kota Beriman sambil menghirup udara segar. Di tempat tinggal sementara, mereka juga akrab dengan tetangga. Untuk beribadah pun mereka pergi ke gereja. Terkadang melakukan ibadah bersama suami mereka saat sedang menjenguk pada hari Minggu.

Anike bersyukur para tetangga sangat ramah kepada mereka. Sesekali bertegur sapa dan bercakap-cakap. " Mereka juga banyak membantu kami selama disini (Balikpapan)," ucap Anike.

Pada massa pandemi Covid-19 saat ini, keduanya lebih banyak beraktivitas dalam rumah. Tak seperti hari biasa, makanan untuk suami yang biasanya diserahkan langsung, saat ini hanya bisa dititipkan. Tak boleh bertatap muka secara langsung.

"Di dalam (Rutan) selama pandemi Covid-19 disediakan wartel untuk menghubungi keluarga. Jika kangen nanti suami video call," kisah Anike sambil terkekeh, menutupi wajahnya yang tersipu malu.

Debora dan Anike berharap suami dan teman-teman mereka yang lainnya segera dibebaskan agar bisa segera pulang ke Papua. Pemerintah diharap dapat membuka ruang demokrasi bagi mereka yang ingin menyampaikan aspirasi. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

Ikuti berita-berita berkualitas dari kaltimkece.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar