Terkini

Kompleksnya Masalah Banjir Samarinda, dari Sedimentasi hingga Eceng Gondok

person access_time 5 months ago remove_red_eyeDikunjungi 2443 Kali
Kompleksnya Masalah Banjir Samarinda, dari Sedimentasi hingga Eceng Gondok

Fotol: Ika Prida Rahmi (kaltimkece.id)

Tumpukan masalah banjir di Samarinda tak bisa diselesaikan setengah-setengah. Menuntut kolaborasi dari berbagai level pemerintah hingga masyarakat.

Ditulis Oleh: Ika Prida Rahmi
14 Juni 2019

kaltimkece.id Sepekan sudah banjir besar melanda Samarinda. Korban terdampak banjir mulai terjangkit penyakit. Dari ispa hingga penyakit kulit. Kesusahan masih begitu deras meski banjir sudah mulai surut.

Pemkot Samarinda menerjunkan petugas dari Dinas Kesehatan mulai Jumat pagi, 14 Juni 2019. Korban terdampak banjir bergantian mendatangi posko tanggap darurat. Vaksin vitamin A diberikan kepada anak-anak. Mencegah penyebaran penyakit meluas.

Selain itu, petugas dari Palang Merah Indonesia (PMI) Samarinda, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Samarinda dan beberapa relawan lain turut dikerahkan. Setidaknya ada 13 posko kesehatan menangani korban terdampak banjir.

Diungkapkan Sekretaris Kota Samarinda Sugeng Chairuddin, posko tanggap darurat yang dilengkapi dokter teridiri dari dua shift. Bertugas pagi sampai siang. Aktif hingga tujuh hari ke depan. “Posko tanggap darurat tersedia di seluruh titik banjir," kata Sugeng.

Banjir Samarinda hingga Jumat sore berangsur surut. Sejumlah ruas jalan sudah bisa dilalui kendaraan. Warga yang rumahnya tak lagi tergenang mulai membersihkan sisa-sisa lumpur dan sampah yang terbawa banjir.

Meski demikian, posko tanggap darurat terus melayani warga. Bersiaga terhadap kemungkinan penduduk terserang penyakit. "Kebutuhan medis dan obat-obatan pastinya masih diperlukan masyarakat korban terdampak banjir. Karena setelah banjir, pasti masih ada warga membutuhkan perawatan medis," sebut Sugeng.

Karena belum 100 persen surut, Pemkot memutuskan memperpanjang status darurat. Berlaku tujuh hari ke depan sejak mulai ditetapkan 8 Juni 2019. "Ketika dampaknya sudah minimalis, maka kami hentikan. Posko tanggap darurat tetap dipusatkan di gedung UKM Provinsi Kalimantan Timur," tuturnya.

Selama masa tanggap darurat, Pemkot menyiapkan dana Rp 5 miliar. Membengkak dari dana Rp 3 miliar yang sebelumnya dialokasikan. Tambahan Rp 2 miliar diperuntukan kepada lebih 56 ribu jiwa korban terdampak banjir.

Perlu Rp 80 M Keruk Benanga

Setelah kebanjiran sepekan, instansi gabungan dari Pemkot Samarinda mulai menganalisa sebab dan pola penanganan pascabanjir. Menggunakan perahu karet, tim melangsungkan penyisiran Sungai Karang Mumus. "Kami menyisiri sungai untuk mencari tahu penyebab sungai tidak dapat menampung air lebih banyak lagi. Padahal tahun-tahun sebelumnya banjir Samarinda tidak separah ini," ungkap Sugeng.

Baca juga:
 

Penyisiran dimulai dari anak sungai di Sempaja hingga ke Jalan Gelatik. Tumbuhan eceng gondok didapati memenuhi aliran sungai. Celakanya, bukan tumbuhan saja yang tumbuh liar. Tak sedikit bangunan liar yang masih berfungsi hingga tak lagi berpenghuni, memakan luas sungai.

Sugeng memastikan Pemkot menindaklanjuti kondisi tersebut. Rapat koordinasi dikemukakan. Melibatkan beberapa pihak, termasuk unsur Pemprov Kaltim. Fungsi sungai mesti dikembalikan sebagaimana mestinya. Meskipun secara bertahap. “Kami rapatkan Senin (17 Juni 2019) nanti bersama Pemprov Kaltim,” kata Sugeng

Master plan pengendalian banjir sejatinya telah dibuat Pemkot Samarinda dan Pemprov Kaltim pada 2013. Terdapat sekitar 20 program pengendalian banjir. Termasuk untuk sungai-sungai yang diusulkan BWS III Kalimantan.

Direktur Jenderal Sumberdaya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Hari Suprayogi, memastikan slot anggaran normalisasi Bendungan Benanga di Samarinda tersedia. Proyek ini sudah begitu mendesak. Kapasitas maksimal bendungan yang 1,4 juta meter kubik, hanya tersisa sepertiganya. Sekitar 500 ribu meter kubik.

Dari studi Balai Wilayah Sungai (BWS) III Kalimantan pada 2016, biaya pengerukan seluruh sedimentasi di sana diperkirakan Rp 80 miliar. Sedimentasi diduga berasal dari bukaan lahan di sekitar tubuh bendungan. Termasuk yang dibawa dari aliran Sungai Karang Mumus atau SKM. Meski demikian, Hari belum bisa memastikan besaran anggaran dari APBN untuk program ini.

Nilai bantuan mesti menyesuaikan desain bendungan dan kondisi terbaru. Informasi yang diperoleh dari Kepala Seksi Operasional dan Pemeliharaan, BWS III Kalimantan, Arman Effendi, slot tersedia kisaran Rp 25-26 miliar. “Yang jelas pada 2020, kami pastikan ada cantolannya. Artinya ada alokasi di sana,” kata Hari.

Fokus saat ini adalah penanganan banjir bersama pemerintah daerah. Lewat program struktural dan nonstruktural. Program struktural meliputi pembangunan kolam retensi, pengendalian banjir, juga revitalisasi daerah rawa hingga hulu sungai. Sementara nonstruktural adalah masalah sosial selama pengerjaan program.

Penanganan banjir di Samarinda tak bisa sepotong-potong. Harus ada kolaborasi. Juga sinkronisasi kebijakan. Dari pemerintah pusat, provinsi, kota, masyarakat, dan swasta. “Setelah rapat Senin, Selasa (25 Juni 2019) depan kami undang rapat ke Jakarta rapat,” sebutnya.

Hari meyakinkan, setelah rapat di pusat, harus sudah ada keputusan mengerucut soal program penanganan banjir di Samarinda. Pemkot pun optimis. Apalagi ada komitmen pendanaan dan sinkronisasi peran dengan pemda.

Dari kacamata Pemkot, penyempitan aliran SKM karena permukiman liar, adalah salah satu biang banjir di Kota Tepian. Hasil pantauan udara menunjukan aliran SKM di sekitar Jembatan Perniagaan sampai Gang Nibung, menyempit diapit banyak rumah.

Pemkot berencana mengeruk sedimentasi sepanjang satu kilometer dari Tugu Hansip di belakang Pasar Segiri hingga Gang Nibung. Namun, ada sekitar 5 ribu kepala keluarga mendiami kawasan yang masuk radar pengerukan.

Waspada Hujan 15 Juni

Pendataan BPBD Samarinda per 14 Juni 2019, tersisa tiga kecamatan terdampak banjir di Samarinda. Ketiganya adalah Samarinda Utara, Samarinda Ulu, dan Sungai Pinang. Total warga di 13 kelurahan menjadi korban banjir adalah 56.123 orang. Tergabung dalam 17.485 kepala keluarga (KK).

Diungkapkan Kepala Bidang Kedaruratan Bidang Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda, Ifran, surutnya banjir dipicu kondisi tiga hari terakhir yang tidak lagi mengalami hujan deras. SKM mulai mengalir lancar meski volume air tetap tinggi. “Saat ini tidak terjadi pasang sehingga dorongan air cepat mengalir ke laut," jelas Ifran.

Meski begitu, semua pihak diingatkan tetap siaga. Potensi hujan susulan masih begitu besar. "Perkiraan puncak hujan terjadi 15 Juni ini. Tapi ini kan prediksi atau perkiraan. Baru dikira saja. Terjadi atau tidaknya, Allahualam," imbuhnya. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar