Terkini

Korban Ledakan yang Hilang Ditemukan Hari Kedua

person access_time 2 weeks ago remove_red_eyeDikunjungi 1149 Kali
Korban Ledakan yang Hilang Ditemukan Hari Kedua

Foto: Fachrizal Muliawan (kaltimkece.id)

Ledakan KM Amelia menewaskan tiga awak kapal. Dua yang terakhir ditemukan setelah dua hari.

Ditulis Oleh: Fachrizal Muliawan
07 Februari 2019

kaltimkece.id Dua korban hilang dalam musibah meledaknya KM Amelia pada Selasa malam, 5 Februari 2019, ditemukan dua hari kemudian. Tim gabungan SAR menyelesaikan tugasnya pada Kamis, 7 Februari 2019.

Korban terakhir ditemukan, diidentifikasi bernama Jamaluddin. Jasad laki-laki 50 tahun itu dievakuasi pukul 13.10 Wita. Ditemukan sekitar 700 meter arah hilir dari dermaga PT SI Mahakam.

Baca juga:
 

Musdianur, personel Tagana Kaltim, mengungkapkan bahwa jasad tersebut ditemukan setelah ia melihat sebuah objek timbul tenggelam. Lokasinya tak jauh dari pinggir sungai. “Ditemukan sekitar 20 meter dari bibir sungai,” ucapnya.

Sebelum Jamaluddin, pada pagi hari sekitar pukul 07.10 Wita, jasad Arman lebih dulu ditemukan. Tak sejauh Jamal, jasad laki-laki 25 tahun itu berada sekitar 20 meter dari lokasi karamnya KM Amelia, setelah hancur berkeping-keping akibat ledakan.

Kepala Unit Siaga SAR Samarinda Dede Hariana menerangkan, dengan ditemukannya kedua korban, Tim SAR Gabungan yang dibentuk selama tiga hari, dibubarkan. “Semua unsur dikembalikan ke satuan masing-masing,” jelasnya.

Total korban jiwa ledakan KM Amelia berjumlah tiga orang. Ketiganya adalah Ramadan alias Madan yang meninggal Selasa malam, 5 Februari 2019, beberapa jam sesudah ledakan. Almarhum mengalami luka bakar tingkat tiga di 70 persen tubuhnya. Sedangkan dua korban lainnya tewas tenggelam.

Selain korban tewas, ada korban luka dirawat di rumah sakit. Keduanya adalah Yordan alias Ningsih dan Muchtar.

Yang Terjadi Saat Tubuh Tenggelam

Timbulnya korban tenggelam akibat meledaknya KM Amelia sudah diprediksi. Sebelumnya, Dede menyebut bahwa proses pencarian dilakukan selama tujuh hari. Waktu tujuh hari ditetapkan berdasar prediksi waktu timbulnya korban tenggelam. Dede menyebut, korban tenggelam naik ke permukan pada hari ketiga dan tujuh. Setelah jasad timbul ke permukaan setelah sepekan, tubuh korban tenggelam ke dasar sungai.

Penyebab kematian tengelam tak semata-mata akibat masuknya cairan ke paru-paru. Melainkan juga terjadi akibat penyumbatan saluran napas, menyebabkan anoksia atau kehabisan oksigen, serta kurangnya suplai oksigen dalam tubuh.

Saat seseorang tenggelam berusaha mencari udara, air mulai masuk dan memicu reaksi laryngospasm. Reaksi ini membuat pita suara mengencang, menutup saluran udara demi melindungi paru-paru. Namun, sekaligus juga membuat semakin sulit berteriak minta tolong (Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15, Berhman Kliegman Arvin, hlm 336).

Pada dasarnya, korban tenggelam mengalami tiga kali tahapan. Tenggelam pertama terjadi pada kali pertama korban masuk ke air. Juga korban tenggelam akibat gravitasi (Pedoman Diagnosa dan Tindakan: Pemeriksaan Kasus Forensik, Eriko Prawestiningtyas, 2013, hlm 32).

Karena berat jenis tubuh lebih kecil dari berat jenis air, korban akan timbul, dan berusaha bernapas mengambil udara. Biasanya korban tenggelam mengalami panik. Air akan tertelan dan terinhalasi, sehingga berat korban menjadi lebih besar dari berat jenis air. Dengan demikian, korban tenggelam untuk kedua kali.

Setelah tewas, korban tenggelam di dasar sungai, laut, atau danau. Proses pembusukan akan berlangsung dan membentuk gas pembusukan. Biasanya gas pembusukan tadi mulai terbentuk sekitar 36 jam. Gas tersebut menyebabkan korban mengapung. Saat mengapung, gas keluar perlahan-lahan, sebelum korban kembali mengambang di antara permukaan air dan dasar sungai.

Baru pada hari ketujuh, pembentukan gas pembusukan kembali mengapungkan jasad. Pada waktu tubuh mengapung karena terbentuknya gas pembusukan, tubuh dapat pecah terkena benda-benda di sekitarnya. Termasuk digigit binatang atau karena proses pembusukan itu sendiri. Dengan demikian, gas pembusukan akan keluar dan tubuh korban terbenam untuk ketiga kalinya. Untuk yang terakhir. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar