Terkini

Kronologis Drama Putus Cinta Berujung Terjun dari Jembatan Mahkota II

person access_time 3 months ago remove_red_eyeDikunjungi 1474 Kali
Kronologis Drama Putus Cinta Berujung Terjun dari Jembatan Mahkota II

Petugas menyisir hingga 5 kilometer dari lokasi terjunnya korban di Jembatan Mahkota II. (mohammad heldy juwono/kaltimkece.id)

Jatuh cinta sejuta rasanya. Lebih-lebih ketika putus cinta.

Ditulis Oleh: Arditya Abdul Azis
05 Agustus 2019

kaltimkece.id Minggu pagi, 4 Agustus 2019, matahari baru menanjak tinggi. Murhum kedatangan tujuh rekannya. Bertandang ke indekos di Jalan Dwikora, Kelurahan Simpang Pasir, Palaran, Samarinda.

Ketujuh tamu tersebut adalah Rosul, Fajar, Dimas, Irwansyah, Wawan, Ambon, dan Kemang. Murhum diajak menikmati hari libur bekerja dengan menegak minuman keras. Momen canda tawa pun berujung mabuk-mabukkan. Sampai-sampai empat botol anggur merah dirasa kurang. Kedelapan sekawan tersebut sepakat membeli beberapa botol lagi.

Murhum dan Dimas segera tancap gas menuju penyedia miras langganan. Namun saat perjalanan kembali ke indekos, ponsel Murhum tiba-tiba berdering. Dari sambungan telepon terdengar suara kekasih Murhum bernama Riya. Dimas tak mengetahui pasti pembicaraan keduanya. Tapi tiba-tiba Murhum panik. Dimas diminta memutar balik. Keduanya langsung bertolak ke rumah sang perempuan tersebut di Mangkupalas, Samarinda Seberang.

Sesampainya di tempat tujuan, Dimas diminta menunggu. Agak jauh dari rumah kekasih Murhum. "Lama saya menunggu. Katanya ada yang harus dibicarakan. Saya enggak paham apa," ucap Dimas kepada kaltimkece.id.

Dari kejauhan, Dimas melihat Murhum dan Riya sedang cekcok. Murhum tampak memegang kedua tangan Riya seperti sedang memohon sesuatu. Setelah satu jam, urusan Murhum dan kekasihnya tak kunjung kelar. Namun dari kejauhan, Murhum terlihat menampar Riya. Setelah itu ia beranjak pergi.

Dalam langkah kakinya, Murhum meringis sambil meneteskan air mata. Dimas segera menghidupkan motor. "Katanya putusan. Alasannya Murhum dianggap pembohong. Entah sering bohong apa. Pacarnya juga bilang mau fokus sekolah. Dimarahi orangtuanya pacaran," terang Dimas.

Dimas dan Murhum kembali di indekos setelah dua jam. Waktu menunjukkan pukul 14.00 Wita. Teman-temannya yang lama menunggu, makin bertanya-tanya lantaran Murhum berlinang air mata. Ia seketika terduduk dan menangis keras.

Mengetahui Murhum sedang putus cinta, ketujuh temannya coba menghibur. Tapi tak satupun yang digubris. Murhum memilih menyendiri. "Dia cuma bilang, cewek itu misterius. Hanya dia yang dicintainya, katanya. Setelah itu dia pergi. Kami enggak bisa ganggu kalau memang mau menyendiri," ucap Irwansyah.

Beberapa saat kemudian Murhum beranjak mendatangi kawannya bernama Arman yang juga pemilik indekos. Kepada Arman, ia menceritakan kegalauan setelah diputuskan Riya. Murhum menyebut tak mendapatkan restu dari orangtua perempuan yang dipacarinya sejak 2017.

"Katanya orangtua si cewek enggak suka sama Murhum. Selain masih sekolah, alasannya juga macam-macam," sebut Arman kepada media ini.

Setelah mencurahkan isi hati, Murhum kembali mendatangi ketujuh temannya. Tapi Murhum semakin emosi. Ia berencana mengembalikan baju pemberian sang kekasih. Pukul 15.15 Wita, setelah menghabiskan miras, Murhum mengambil baju biru bercorak kembang dari lemarinya. Wawan diminta mengantarkan.

Tak ingin terjadi hal tidak diinginkan, keempat teman yang lain ikut mendampingi. Kondisi Murhum sedang mabuk berat.

Dua sepeda bermotor beriringan menuju rumah Riya. Murhum dibonceng Wawan. Sedangkan Dimas, Rosul, dan Kemang berbonceng tiga. Fajar, Ambon, dan Irwansyah bertahan di indekos. Belakangan, Irwansyah dan Fajar ikut menyusul.

Irwansyah tiba ketika suasana sudah ramai. Murhum lalu meminta keenam rekannya menunggu di depan gang. Setelah menuntaskan urusannya, Murhum kembali dengan tangisan. Keenam rekannya sepakat mengantarnya pulang.

Di sepanjang jalan Murhum hanya menutup wajah. Isak tangisan masih terdengar. Ketika melintasi persimpangan Jembatan Mahkota II, Murhum meminta Fajar yang memboncengnya ke tengah jembatan. "Katanya mau menghirup udara segar," kata Irwansyah.

Setelah permintaannya dituruti, gelagat Murhum semakin aneh. Ia minta diturunkan saat motor sedang melaju sedang. Fajar menolak. Tapi pria 25 tahun tersebut tetap ngotot. Kakinya diseretkan ke aspal sambil mengancam melompat dari kendaraan.

Tak ingin keadaan memburuk, Fajar menghentikan motornya. Saat itu juga Murhum turun dan berlari ke pembatas jembatan. Tanpa sepatah kata, ia melepaskan topi hitam yang dikenakan. Seketika langsung terjun ke Sungai Mahakam. Keenam temannya tak sempat menahan. Hanya bisa berteriak mencegah Murhum.  "Yang saya lihat, badannya jatuh dalam keadaan terlentang," sesal Irwansyah.

Setelah melompat dari ketinggian 30 meter, tubuh Murhum tak lagi timbul ke permukaan. Keenam rekannya segera turun mencari. Tapi Murhum tak juga ditemukan. Kejadian itu segera dilaporkan ke kepolisian.

Tertutup Soal Kehidupan Pribadi

Murhum alias Rizki, atau akrab dipanggil Bala, diketahui perantauan asal kabupaten Bau-Bau, Sulawesi Tenggara. Sejak 2011 merantau ke Kota Tepian. Sempat tinggal dengan pamannya di Jalan Gotong Royong, Kelurahan Simpang Pasir.  

Sejak bekerja, Murhum kerap berpindah tempat tinggal. Ia dikenal bekerja serabutan di Pelabuhan Peti Kemas Palaran. Dikenal juga dengan sifatnya yang ringan tangan. Ulet pula dalam bekerja.

Paman korban, Jhonny, tak menyangka keponakannya berbuat senekat itu. Apalagi karena putus cinta. Selama ini Jhonny tak tahu Murhum memiliki kekasih. Pria bertato tersebut cukup tertutup soal kehidupan pribadi. "Padahal saya sekitar pukul 3 sore saya lewat di jembatan itu,” sebut Jhonny.

Sang paman berharap jasad Murhum segera ditemukan. Sejak Minggu sore, ia bersama keluarga besar terus menunggu pencarian jasad Murhum oleh petugas.

Libatkan Kapal Melintas

Perwira Unit Polsek Kawasan Pelabuhan, Ipda Wahid, mengatakan bahwa saat ini polisi masih melakukan pencarian bersama Badan Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Samarinda di perairan kawasan Jembatan Mahakam Kota II. "Keterangan dari saksi dan keluarga sudah dihimpun. Dugaan sementara bunuh diri," ucapnya.

Koordinator Unit Badan Pencarian dan Pertolongan (SAR) Samarinda, Dede Haryana, mengerahkan tiga armada bersama tim relawan. Pencarian dilakukan hingga radius 5 kilometer dari hilir ke hulu. "Doakan saja kami bisa menemukan korban," sebutnya, Senin sore, 5 Agustus 2019.

Kabar pencarian Murhum juga disiarkan kepada kapal-kapal yang melintas. Ciri-ciri terakhir korban mengenakan baju biru dengan celana hitam. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar