Terkini

Listrik 2 Gigawatt Mengaliri Kaltim, Disuplai Pembangkit Rp 32 Triliun dari Perusahaan Jepang

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 2745 Kali
Listrik 2 Gigawatt Mengaliri Kaltim, Disuplai Pembangkit Rp 32 Triliun dari Perusahaan Jepang

Gubernur Kaltim Isran Noor dan Tesuo Onaru. (humas pemprov kaltim)

Keberadaan IKN di tanah Bumi Etam menjadi magnet bagi para investor. Perusahaan multinasional pun tertarik berinvestasi dengan skala besar.

Ditulis Oleh: Nalendro Priambodo
21 Januari 2020

kaltimkece.id Air minum dalam kemasan menemani pertemuan Gubernur Kaltim Isran Noor dan rombongan Direktur Kansai Electric Power Cabang Jakarta, Tesuo Onaru. Perusahaan multinasional penyedia listrik asal Jepang itu berniat membangun jalur transmisi listrik antar dua negara kepulauan. Setrum berdaya 2 gigawatt ini berasal dari pembangkit listrik berbasis tenaga air atau hydropower di Serawak, Malaysia. Mengalir membelah tiga provinsi di Kalimantan hingga Jawa.

Belasan orang tersebut mengikuti pertemuan tertutup di ruang kerja Isran. Persisnya Senin, 20 Januari 2020. Semua tampak serius. Perwakilan memaparkan presentasinya. Pertemuan itu pun berlangsung 1,5 jam pertemuan.

Dari dokumen perencanaan program berjudul Malaysia-Java Interconnector Project yang kaltimkece.id peroleh, tergambar rencana proyek raksasa tersebut. Listrik berdaya 2 gigawatt (2 ribu megawatt) berasal dari pembangkit air di Serawak bagian barat. Berbatasan dengan negara bagian Kuching.

Di darat, setrum berdaya 600 megawatt dialirkan melewati provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Panjangnya 900 kilometer. Menggunakan rangkaian over head transmission line atau OHTL.

Dari Kalimantan Selatan sebagai stasiun converter, sisa daya sebesar 1.4 gigawatt dialirkan lewat kabel bawah laut jawa. Bermuara di Jawa Timur. Total panjang jaringan transmisi listrik ini mencapai 1.350 kilometer.

Perusahaan penyedia listrik yang memiliki pengalaman di Benua Australia, Asia, Amerika, dan Eropa tersebut meyakini proyek tersebut banyak keunggulan. Terutama dibanding pembangkit konvensional berbahan bakar fosil.

Proyek tersebut diperkirakan memakan investasi USD 2.4 miliar atau setara Rp 32,79 triliun. Diklaim mengurangi emisi CO² pemicu efek gas rumah kaca 110 miliar ton per tahun. Lebih hemat biaya operasional USD 277 juta per tahun.  Tesuo Onaru dari pihak perusahaan dan pejabat lainnya saat ditemui setelah pertemuan, belum bersedia diwawancarai.

Mengutip pemberitaan Humas Pemprov Kaltim, ia mengklaim listrik dari pembangkit ramah lingkungan tersebut lebih murah ketimbang dari pembangkit tenaga fosil. Sayangnya belum ada penjelasan utuh berapa perkiraan harga jual listrik per KWh.

"Mereka (Kansai Electric Power) klaim listrik mereka termasuk paling rendah di dunia," ucap Isran diwawancarai di kantornya, Senin, 20 Januari 2020 petang.

Masih mengutip dokumen yang dipaparkan perusahaan listrik yang berdiri sejak 1951 tersebut, ada keunggulan teknologi transmisi listrik yang mereka pakai. Pertama, menggunakan jalur transmisi arus listrik searah (DC). Lebih tepatnya transmisi tegangan tinggi arus searah (HDVC) ketimbang transmisi tegangan tinggi arus bolak balik (HVAC).

Transmisi HVAC diklaim hanya membutuhkan USD 0.64 juta per kilometer. Dibandingkan HVDC, membutuhkan USD 0.9 juta. Dengan tinggi lebih rendah 20 persen dari tiang HDAC, transmisi HVDC diklaim hanya kehilangan arus 148.4 kw per kilometer. Atau lebih hemat 35.1 kw per kilometer. Artinya, dengan panjang saluran di darat mencapai 900 kilometer, jaringan tersebut mampu menghemat 31.59 megawatt dibanding HVAC.

Dua Titik Hydropower Raksasa Kalimantan

Dalam catatan Kansai Electric Power, terdapat dua titik potensial sumber pembangkit listrik tenaga air di Kalimantan. Potensi besar di wilayah Serawak. Sedangkan skala menengah di Kalimantan Utara.

Bersesuaian studi Energi Terbaharukan Koridor Serawak (SCORE), potensi listrik dari pembangkit tenaga air di Serawak mencapai 20 gigawatt. Pemetaan pembangkit listrik tenaga air di Negeri Jiran itu dimulai pertama kali sejak 1962 oleh insinyur asal Australia lewat program kerja Colombo.

Sementara progres pertama dibangun 1975 dengan daya 108 megawatt yang dibiayai Bank Pembangunan Asia.

Data yang dikumpulkan Serawak Energi, BUMN kelistrikan Malaysia, ada 15 titik potensial di Serawak dan sebagian sudah terbangun. Tiga titik sudah beroperasi dengan total daya 3452 megawatt atau 3.4 gigawatt. Dua titik dalam konstruksi berdaya 1.3 gigawatt dan 10 titik potensial dengan total daya 2.2 gigawatt. Daya listrik pembangkit air di Serawak dimungkinkan karena banyaknya aliran sungai besar di sekujur tubuh Negeri Jiran.

Adapun titik kedua potensial berada di Sungai Kayan. Melewati Kabupaten Malinau dan Bulungan, Kalimantan Utara. Berhulu di Gunung Ukeng, bermuara di Laut Sulawesi. Memiliki panjang 576 kilometer.

Dua investor Powerchina dan Central Asia Capital Ltd, sepakat berkongsi membangun pembangkit listrik berdaya air berkapasitas 9 gigawatt. Mengutip indonesia.go.id, megaproyek tersebut diperkirakan butuh investasi Rp 289-320 triliun. Dibangun tahun ini, fasilitas diperkirakan rampung 2024.

Pemerintah Indonesia mengklaim infrastruktur berjenama PLTA Hydropower 1-5 Sungai Kayan itu bakal menjadi pembangkit listrik tenaga air terbesar di Asia Tenggara. Mengalahkan Dam Pembangkit Son La di Sungai Da, sebelah barat Hanoi, Vietnam dengan daya terpasang 2.4 gigawatt.

Tak hanya satu, di provinsi termuda di Indonesia itu juga dibangun pembangkit listrik sejenis bernama PLTA Mentarang. Juga di Sungai Kayan. Nantinya, BUMN Indonesia diwakili PT Inalum (Persero) dan Serawak Energi berkolaborasi membangun pembangkit berkapasitas 1,350 megawatt (1.3 gigawatt). Investasi ditaksir Rp 28 triliun. Diperkirakan rampung paling lambat 2025.

Rencananya, PLTA tersebut dimanfaatkan melistriki Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional Tanah Kuning, Kabupaten Bulungan. Sekaligus menambah ketahanan energi nasional.

Hingga Mei 2019, persentase pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang beroperasi mencapai 7,61 persen. Sisanya pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTM) 9 persen, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 6 persen, pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) 5 persen, pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) 5 persen, dan pembangkit listrik tenaga arus laut (PLTAL) 0,04 persen.

Proposal Sabuk Hijau HVDC di Kalimantan

Potensi besar hydropower di Kalimantan membuat investor kepincut. Kansai Electric Power pun punya konsep mengintegrasikan listrik mereka dalam sabuk hijau HDVC Kalimantan. Daerah yang jadi cakupannya meliputi Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, hingga Kalimantan Utara.

Kaltim dinilai pasar potensial. Sebagian daerahnya dipilih lokasi calon ibu kota negara (IKN). Itu pula yang jadi pertimbangan perusahaan menjadi penyuplai listrik IKN.

Perusahaan beraset ¥ 6.853 miliar tersebut mengusulkan draft skema kerja sama pengelolaan listrik dengan pemerintah pusat dan daerah. Untuk kepemilikan, diusulkan kerja sama dengan PLN sebagai BUMN.

Sementara untuk modal pendanaan ditaksir USD 2.4 miliar. Bisa lewat pembiayaan perbankan.

Karena masih ada aturan yang tidak memperbolehkan listrik dijual swasta, perusahaan penyuplai 14 persen listrik di Jepang tersebut menawarkan kontrak penjualan ke PLN atau Serawak Energi Bhd.

Soal regulasi ketenagalistrikan, Isran Noor berpesan Kansai Electric Power membuat surat resmi bisnis ke Pemprov Kaltim dan pusat. Sebab, di IKN nanti bakal diawasi Kepala Badan Otoritaria yang dibentuk tahun ini. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar