Terkini

Melihat Gerbang Tol Balsam Lebih Dekat, Sistem Pembayaran E-toll, Tak Terima Tunai

person access_time 2 weeks ago remove_red_eyeDikunjungi 5349 Kali
Melihat Gerbang Tol Balsam Lebih Dekat, Sistem Pembayaran E-toll, Tak Terima Tunai

Gerbang Tol Palaran, satu di antara empat pintu masuk di Tol Balsam. (wahyu musyifa/kaltimkece.id)

Progres jalan tol pertama di Kalimantan semakin nyata. Sejumlah segmen siap beroperasi sebelum pergantian tahun.

Ditulis Oleh: Nalendro Priambodo
04 November 2019

kaltimkece.id Bangunan persegi empat memanjang berdiri kokoh di tengah jalan Tol Balikpapan-Samarinda (Balsam). Enam pilar bercat abu-abu menopang struktur bangunan atas yang dihiasi ukiran khas Kalimantan. Berkelir kuning keemasan. Di bagian “mahkota” bangunan terpampang tulisan Gerbang Tol Palaran.

Menariknya, di delapan ruas pintu masuk dan keluar jalur, tertera rambu bertuliskan ‘Tempelkan e-Toll’. Pertanda biaya melewati jalur bebas hambatan pertama di Kalimantan ini tak menggunakan uang tunai.

Gerbang Tol Palaran menjadi satu di antara empat pintu masuk di Tol Balsam. Letaknya di Jalan Soekarno-Hatta kilometer 4, Palaran, Samarinda. Sebuah portal berdiri sekitar 300 meter dari gerbang yang belum beroperasi tersebut. Seorang petugas keamanan berbadan tegap memeriksa setiap kendaraan yang masuk dan keluar tol.

Atas izin PT Wijaya Karya—salah satu kontraktor seksi ini, kaltimkece.id diperkenankan mengunjungi fasilitas tersebut. Persisnya Sabtu, 2 November 2019. Karena pertimbangan keamanan, kunjungan sebatas di gerbang tol saja.

Terlihat pengerjaan konstruksi gerbang hampir rampung. Aspal mulus dengan marka jalan menghampar sepanjang pintu masuk gapura. Selepasnya, jalan tol hanya dilapis aspal beton. Rambu penanda dan lampu penerangan terpasang. Kendaraan roda empat pekerja konstruksi leluasa hilir mudik melewati gerbang.

Di gerbang tol tertera tinggi maksimal kendaraan roda empat ke atas yang boleh lewat. Antara 2,5 meter sampai 4,2 meter. Sementara beban maksimal yang diperbolehkan yakni 8 ton di tiap gandar roda.

Hanya saja, instalasi alat transaksi nontunai belum terpasang. Jika mengikuti rambu e-toll yang tersedia, setidaknya ada delapan lajur mesin transaksi nontunai otomatis yang disediakan di gerbang ini. Empat dari arah Samarinda. Empat lain dari arah sebaliknya.

“Alat transaksi tol dipasang November ini,” kata Direktur Jasamarga Balikpapan-Samarinda, STH Saragi pada kaltimkece.id, Minggu, 3 November 2019. Perusahaan yang ia pimpin ditugaskan sebagai pengelola jalan bebas hambatan pertama di Kalimantan sepanjang 99,3 kilometer itu.

Tol Balsam dipastikan menggunakan sistem nontunai. Pengguna tol tinggal menempelkan kartu e-toll ke mesin yang dipasang di empat gerbang tol. Tinggal memilih keluar lewat jalur mana.  Tiga gerbang lainnya di Jalan Soekarno-Hatta Kilometer 38, Samboja. Gerbang tol Manggar di Jalan Mulawarman, Balikpapan. Terakhir gerbang tol Karang Joang, Jalan Soekarno-Hatta Km 13, Balikpapan.

Ada beberapa pertimbangan menggunakan skema pembayaran nontunai. Pertama, sistem ini sudah dipakai di sejumlah tol di pulau Jawa. Kedua, efisiensi waktu dan kertas. Pengunjung tinggal menempel kartu tanpa perlu transaksi uang tunai. Terlebih serah terima struk dan uang kembalian. Proses transaksi hanya memakan waktu beberapa detik. "Kita tak mengenal pembayaran tunai," ucap Kepala BPJT, Danang Parikesit.

Saat ini, pengelola Tol Balsam, PT Jasamarga Balikpapan-Samarinda, sedang berkoordinasi dengan perbankan mendorong ekosistem transaksi nontunai. Persisnya penyediaan kartu e-toll di tiap gerbang.

Direktur Teknik PT Jasamarga Balikpapan-Samarinda, Edy Nugraha menguraikan jarak antar gerbang Tol. Estimasi dari Balikpapan ke Samarinda. Dari gerbang Manggar ke Karang Joang sekitar 11,5 kilometer.

Karang Joang ke Samboja sekitar 22 km dan Samboja ke Palaran sekitar 60 km

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Tutuk SH Cahyono membenarkan, saat ini terdapat lima bank yang siap bekerja sama. Empat bank plat merah dan satu perbankan swasta. Di antaranya Bank Mandiri, BNI, BRI, BTN, dan BCA.

Saat ini sedang dirancang skema sosialiasi dan penjualan kartu e-toll. Tiap-tiap bank diberi keleluasaan mendistribusikan kartu. Bisa langsung di kantor bank, mall, sampai gerai toko serba ada di sekitar permukiman.

Tutuk memisalkan kartu e-toll di pulau Jawa, saldo minimal pertama kali beli yakni Rp 10 ribu. Meski demikian, pemilik kartu diimbau segera mengisi ulang saldo agar tak kerepotan di jalan. Pengisian, lanjut dia, bisa melalui berbagai cara. Misalnya mobile banking, anjungan tunai mandiri, isi ulang manual di bank, gerai minimarket, atau top up di dekat pintu tol. 

Pada tahap awal, kemungkinan kartu yang disiapkan bebasis magnetik. Setiap menempel di pintu tol saldo berkurang otomatis. Karena tidak ada pin di tiap kartu, Tutuk menyarankan pemilik menjaga benar-benar kartu milikinya. Jangan sampai hilang dan digunakan orang tak bertanggungjawab. Karena itu, saldo maksimal kartu e-toll dibatasi Rp 2 juta.

"Lima bank telah siap untuk kartu-kartu transaksi nontunai. Pada saatnya akan siap dengan mesin-mesin EDC untuk top up pintu gerbang jalan tol dan toko-toko sekitar area gerbang tol," urainya.

Kejar Target Akhir Tahun

Gerbang Tol Balsam di Palaran disebut jadi pintu masuk dan keluar Samarinda dengan kota lainnya. Dari Kota Tepian, melintasi Muara Jawa, Samboja, dan Balikpapan. Jalur bebas hambatan itu juga terhubung ke jalan pendekat calon ibu kota negara. Di Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara.

Dari Samarinda, persisnya Kantor Gubernur Jalan Gajah Mada, ada dua jalur bisa ditempuh ke gerbang ini. Jalur pertama melewati  jembatan Mahakam dan Samarinda Seberang. Melewati Stadion Utama Palaran di Simpang Pasir. Rute ini sejauh 18 kilometer dengan durasi perjalanan sekira 31 menit jika tak macet.

Sementara, rute kedua melewati Jembatan Mahkota II, Jalan Kapten Soedjono. Perjalanan diteruskan melewati Jalan Simpang Pasir dan berbelok ke Jalan Bojonegoro. Rute ini sejauh 15 kilometer dengan perjalanan normal 35 menit.

Sebenarnya, rute itu bisa dipangkas. Persisnya jika jalur tol di seberang Jembatan Mahkota II sisi Palaran rampung. Sayang, ketika berkunjung 1 November 2019, jalan belum difungsikan. Masih tertutup portal. Pengerjaan terus berlangsung.

Direktur Teknik PT Jasamarga Balikapapan-Samarinda, Edy Nugroho menyebut akhir tahun ini, seksi, 4,3,2 siap beroperasi. Persisnya menyambut Natal dan tahun baru.

Seksi yang ia sebut merupakan porsi pengerjaan Badan Usaha Jalan Tol atau BUJT. Seksi 4 sepanjang 17,95 kilometer menghubungkan Samarinda dan Palaran. Seksi 3 menyambungkan Palaran dan Samboja sepanjang 17,50 kilometer. Sementara seksi 2, Samboja-Muara Jawa sepanjang 30,98 kilometer. Total tiga seksi diprediksi siap akhir tahun ini 66,43 kilometer.

Sementara Seksi 1 dan 5 menghubungkan Jembatan Sungai Manggar dan Sepinggan Balikpapan. Kedua seksi sepanjang 33 kilometer itu dibiayai APBN, APBD dan pinjaman Tiongkok.

Tak menutup kemungkinan, jika sampai akhir tahun ini seksi 1 dan 5 belum rampung, terbuka opsi membuka sebagian tol saja. "Yang kami ajukan untuk laik jalan seksi 2,3,4. Di luar itu (seksi 1 dan 5) masih ada kendala teknis. Yang siap operasi Natal dan tahun baru sementara seksi 2,3 dan 4," jelas Edy.

Per September 2019, progress pengerjaan jalan bebas hambatan pertama di Kalimantan sepanjang 99,3 kilometer itu mencapai 97 persen. Data resmi diperoleh Balai Pelaksana Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Kepala BPJT, Danang Parikesit, menyebutkan sebelum diresmikan, ada sejumlah prosedur harus dilalui. Pertama, uji laik fungsi. Berisi tim gabungan dari Kementerian PUPR, Perhubungan dan Korlantas Polri.

Setelah dipenuhi kelaikan akan diterbitkan sertifikat laik operasi dari Dirjen Bina Marga. Disusul penerbitan SK Menteri PUPR soal operasional. Angka awal yang diperkirakan muncul sebagai tarif yakni Rp 1.000 per kilometer. Meski begitu semua masih berproses menunggu SK tarif dari BPJT.

Menurut survei PT Jasamarga Balikpapan-Samarinda 2017 lalu, diproyeksikan ada 10 ribu kendaraan melalui jalur bebas hambatan per harinya. Meski demikian, angka pasti akan terlihat 3-6 bulan setelah beroperasi. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar