Terkini

Membuka Kemungkinan Ganti Logo Magnificent Samarinda

person access_time 2 weeks ago remove_red_eyeDikunjungi 382 Kali
Membuka Kemungkinan Ganti Logo Magnificent Samarinda

Foto: Ika Prida Rahmi (kaltimkece.id)

Sayembara logo tandingan Magnificent Samarinda melebihi ekspektasi. Pemkot membuka peluang merevisi.

Ditulis Oleh: Ika Prida Rahmi
06 Februari 2019

kaltimkece.id Sayembara logo branding Samarinda inisiasi Yogi Setiawan telah berakhir. Bertajuk Sumbang Logo ke Pemkot Samarinda, cara baru mengkritik kebijakan itu menuai respons positif.

Pengumuman pemenang dilakukan pria 30 tahun tersebut dalam konferensi pers di salah satu kedai, Jalan Ahmad Yani, Sungai Pinang, Rabu siang 6 Febuari 2019. Hadir juga Kepala Dinas Kominfo Samarinda Aji Hidayatullah dan Sekertaris Kota Samarinda Sugeng Charuddin.

Sayembara dimulai 1 Febuari 2019. Inisiatif itu memancing pergerakan masif muda-mudi Samarinda. Tak sedikit pegiat kreatif asal Kota Tepian turut serta.

Logo-logo yang terkumpul melewati proses penilaian voting dari warganet, via media sosial Instagram, di akun @setiawanyogy. Hasilnya, karya Hasbi terpilih sebagai yang terbaik.

Baca juga:
 

Logo branding karya Hasbi menggunakan judul yang sama dengankeluaran Citiasia Inc, Magnificent Samarinda. Namun, buatan creator lokal tampil elegan dengan ukiran cantik dan berbudaya. Bentuk heksagonal berupa tameng khas Dayak dipadukan tiga warna; merah, kuning, dan hijau.

Hasbi merupakan salah satu warga Samarinda yang ikut serta mengeritik branding awal Samarinda. Menurutnya, kota kelahirannya pantas mendapatkan hasil yang lebih bagus. Dari kritik di media sosial, ia tergerak membuat logo tandingan.

"Saya yang mengerjakan sendirian. Saya harus berkontribusi juga. Saya merasa bisa memberikan Samarinda lebih dari itu. Dan jadilah logo ini," sebut Hasbi. Pemuda 21 tahun tersebut membuktikan ucapannya. Logo buatannya terpilih menjadi yang terbaik versi warganet dari puluhan yang ikut serta.

"Dari sini (logo branding) dibagikan beberapa tentang brandship, brand color, dan brand philosophy dari Magnificent Samarinda."

Menurut Hasbi, ukiran tameng Dayak menjadi poin mencolok. Terinspirasi batik kaltim, melambangkan tanaman dengan filosofi anugerah Tuhan berupa alam Samarinda yang harus dijaga keindahannya. Makna ukiran terbentuk dari garis kuas, torehan otentik tangan orang asli Samarinda.

Bentuk dasar tameng dayak heksagonal mengandung filosofi kekuatan dan kebanggaan daerah. Pertahanan akan budaya dan alam, juga kualitas manusia yang rukun, aman, dan siap dengan segala tantangan.

Bentuk heksagonal atau segi enam,menggambarkan enam kampung awal terbentuknya Samarinda. Masyarakatnya multietnik; Banjar, Kutai, Dayak, Jawa, Bugis, dan Tionghoa, para penduduk yang umum ditemui pada masa-masa awal Samarinda.

Logo karya Hasbi dengan unsur tiga warna mengandung makna masing-masing. Hijau diartikan damai, nyaman, subur, dan harapan. Sedangkan merah bermakna langkah maju, berani, ulet, gigih, semangat, dan romantis. Adapun kuning menandakan kejayaan, kemajuan, dan dinamis.

"Saya tambahkan harapan karena saya penggemar superhero. Saya percaya Samarinda memiliki harapan kita semua. Romantis karena ini kota yang dicintai. Ketika senja di tepi Mahakam memiliki suasana yang tidak ada di kota lain. Ceria bagi pengunjung yang membuat dia akan kembali ke kota ini."

Sedangkan batik bewarna hijau berbentuk S, merupakan inisial Samarinda. Ini juga melambangkan Sungai Mahakam yang melintang di Kota Tepian. Struktur bentuk S juga terinspirasi dari heksagonal sejarah icon Samarinda, Jembatan Mahakam.

Sementara ukiran batik berwarna kuning dan merah dengan bentuk menyerupai segitiga, merupakan tiga aspek smartcity. Ukiran kuning melambangkan Samarinda sebagai kota bisnis, pariwisata, dan wajah kota. Adapun ukiran merah melambangkan Samarinda yang terdepan, kota tepian, dan berbudaya.

Tulisan Magnificent dibuat dengan baskervil old face, font tipe serif yang memberikan kesan berkelas.

Lebihi Ekspektasi

Yogi sebagai penggagas sayembara Sumbang Logo ke Pemkot Samarinda, tak menyangka mendapat antusias pegiat kreatif kota ini. Sayembara melalui akun Instagram pribadinya, merupakan bentuk kritik kepada Pemkot dan Citiasia, atas polemik logo Magnificent Samarinda yang serupa logo AA Bridge karya George Bokhua, desainer grafis asal Amerika Serikat.

"Gerakan ini ternyata viral. Banyak pro dan kontra dari netizen maha budiman saat berlangsungnya sayembara. Tujuan sayembara ini sebenarnya pernyataan sikap saya kepada logo branding Samarinda," terang Yogi.

Awalnya ia menyiapkan hadiah Rp 500 ribu dari dana pribadi. Namun, seiring berjalannya sayembara, total hadiah terus bertambah. Sumbangan berdatangan dan terkumpul hingga Rp 8 juta. "Plus ada yang nyumbang tiket pesawat dan lain-lain. Saya enggak nyangka sampai segitunya."

Atas inisiatif tersebut, sayembara mengumpulkan total 62 logo hanya dalam waktu 12 jam. Meski demikian, dari logo-logo yang mengemuka, tak dimaksudkan sebagai referensi pengganti logo yang ada. Namun, disebutnya sebagai bentuk kritik.

Tuntut Pembuktian Otentik

Polemik logo yang jadi perbincangan warga kota memang membuat Pemkot bereaksi. Citiasia sebagai pembuat logo Magnificent Samarinda, diminta membuktikan keabsahan logo kepada Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual atau DJKI. Langkah ini sebagai pembuktian tidak ada unsur plagiarisme dari pihak Citiasia.

Sikap itu ditegaskan Sekkot Samarinda Sugeng Chairudin saat memenuhi undangan gabungan muda-mudi kreator Kota Tepian, sekaligus menerima penyerahan logo yang disayembarakan. "Bagus, kreasi anak Samarinda bagus. Cara mengkritiknya juga kreatif dan membangun. Terlebih bermanfaat," puji Sugeng.

Pemkot, kata dia, telah menginstruksikan kepada Bappeda Samarinda, melayangkan surat untuk pihak konsultan. Citiasia diminta segera melakukan follow up terkait polemik logo tersebut. Sugeng menegaskan tak segan menuntut apabila DJKI menemukan unsur plagiasi.

"Pihak konsultan harus membuktikan secara aturan. Artinya harus segera dilaporkan untuk menjamin orisinalitasnya."

Baca juga:
 

Sugeng sendiri tak menutup kemungkinan mengubah logo dengan karya pemenang sayembara gagasan Yogi. Apalagi jika terbukti Citiasia melakukan plagiasi. "Tapi tetap, akan kami bicarakan terlebih dahulu. Tidak bisa langsung pakai. Ada aturan-aturan yang harus ditaati," terangnya.

Sebagai apresiasi, Sugeng turut menambah hadiah untuk karya yang diserahkan kepada Pemkot Samarinda. Uang tunai tambahan sebesar Rp 1 juta diterima Hasbi sebagai pemenang sayembara. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar