Terkini

Pengupasan Lahan Membuat Lingkungan di Balikpapan Banjir Lumpur, Warga Sepekan Terjebak

person access_time 1 week ago remove_red_eyeDikunjungi 222 Kali
Pengupasan Lahan Membuat Lingkungan di Balikpapan Banjir Lumpur, Warga Sepekan Terjebak

Kondisi Gang Sama'i, RT 39 Kelurahan Gunung Sari Ulu, Balikpapan Tengah, setelah kebanjiran lumpur. (surya aditya/kaltimkece.id)

Pengupasan lahan yang asal-asalan membuat petaka bagi warga Balikpapan. Terjadi banjir pasir bercampur lumpur tiap hujan.

Ditulis Oleh: Surya Aditya
08 April 2021

kaltimkece.id Rusdi Chandra sedang memperbaiki barang elektronik di teras rumah ketika awan hitam menggumpal tebal di langit. Pria 47 tahun segera memprediksi hujan deras akan turun. Pekerjaannya itu langsung dihentikan. Onderdil peralatan elektronik dan sepeda motor dimasukkan ke rumah.

Senin, 8 Maret 2021, persis saat ibadah Magrib berlangsung di masjid, hujan lebat mengguyur rumah Rusdi di Gang Sama’i RT 39, Jalan Gunung Guntur, Kelurahan Gunung Sari Ulu, Balikpapan Tengah. Tepat di belakang rumahnya terdapat bukit yang belum lama digali. Di bagian depan atau di seberang jalan rumahnya ada parit dengan kedalaman sekitar 2 meter dan lebar 3 meter.

Hanya hitungan menit setelah hujan turun, air cokelat bercampur pasir dan lumpur mengalir deras dari belakang rumahnya. Semula, parit masih bisa menampung air tersebut. Namun lebatnya hujan membuat lambung parit teramat sesak. Air meluber deras di permukaan jalan, bahkan sampai masuk ke rumah-rumah warga.

“Pukul 18.53 Wita itu air sudah masuk lewat pintu belakang rumah kami,” kata Rusdi, didampingi istrinya, Indrayani Heldaniah, 41 tahun, kepada kaltimkece.id, Kamis, 8 April 2021.

Hingga Selasa, 9 Maret, pukul 15.15 Wita, hujan belum mereda. Selama itu juga air cokelat terus membanjiri Gang Sama’i. Tak banyak yang bisa dilakukan keluarga kecil Rusdi. Rumahnya yang hanya berlantai satu membuat evakuasi barang-barang berjalan tak maksimal.

Sebagian barang berharga mereka diletakkan di tempat yang lebih tinggi, seperti meja dan lemari. Selebihnya, seperti buku-buku pelajaran, beberapa barang elektrik, kendaraan roda empat, hingga onderdil elektronik dan sepeda motor, dibiarkannya terendam banjir.

“Sepanjang malam itu kami semua enggak ada yang tidur. Kami berjaga-jaga, kalau-kalau rumah ini longsor,” celetuk Indrayani dengan mata menerawang ke langit.

Hujan baru berhenti pada Selasa malam. Rusdi kaget bukan main saat membuka pintu rumahnya, ia melihat pasir bercampur lumpur sudah menutupi seluruh permukaan jalan di Gang Sama’I, termasuk menutupi parit di sana. Dihitung dari lantai teras rumahnya, ketebalan material tanah tersebut mencapai 20 sentimeter.

Hujan kala itu betul-betul menjadi mimpi buruk bagi keluarga Rusdi. Akibat adanya pasir bercampur lumpur, Rusdi dan Indrayani bersama ketiga anaknya terjebak di dalam rumah selama sepekan. Mereka tak bisa bepergian jauh menggunakan kendaraan.

Di rumah, mereka hanya membersihkan barang-barang yang terendam banjir. Selain itu bersama warga lain juga memasukan pasir ke dalam karung menggunakan alat seadanya. “Kami ke luar hanya untuk membeli makan di warung terdekat. Itupun harus berjalan kaki,” sambung Indrayani.

Jalan baru terbuka setelah pengelola lahan di belakang rumah Rusdi mendatangkan sebuah unit ke Gang Sama’i pada Selasa, 16 Maret lalu. Alat berat tersebut memasukan pasir di jalan dan parit ke bak truk. Lalu dipindahkan ke tempat lain. Jalan pun terbuka. Air di parit mengalir kembali.

Meski limbah tersebut telah dipindahkan, hingga media ini menemui Rusdi dan istrinya, dampak negatif setelah hujan deras belum selesai. Pasir bercampur lumpur masih mengotori jalan di Gang Sama’i. Barang-barang keluarga Rusdi juga masih rusak, bahkan ada yang tidak bisa dipakai lagi. Bencana menyisakan trauma bagi keluarga Rusdi.

“Pernah saya belanja di Pasar Pandan Sari. Terus saya lihat langit sudah mendung. Belum selesai belanja, saya langsung pulang karena takut banjir lagi,” tutur Indrayani.

Rusdi bersama istrinya menuding pengembang tanah di belakang rumahnya adalah biang kerok atas semua kekacauan tersebut. Pengembang disebut mengupas lahan secara asal-asalan. Oleh karena itu mereka menuntut agar pengembang mengganti-rugi terhadap barang-barangnya yang rusak.

Mereka juga meminta pengembang membentengi permukiman warga dengan bozem atau bendungan bermaterial batu dan seminasasi. Agar bencana serupa tak terulang lagi. Beberapa waktu lalu pihak pengembang sudah menemui keluarga Rusdi. Meminta keluarga tersebut menghitung kerugiannya.

“Kami sudah hitung dan ajukan Rp 12 juta. Pihak pengembang minta waktu dua bulan untuk menggantinya. Jadi, ya, tunggu saja,” tutup Rusdi.

Diganti Setelah Lebaran

Warga lainnya sekaligus mantan Ketua RT 39 di Gang Sama’i, Winarto, menerangkan bahwa pengembang telah mengupas lahan di belakang rumah Rusdi sejak awal 2020. Pengupasan makin masif setelah memasuki awal tahun ini. “Dulu belum ada banjir separah ini. Kemarin itu yang paling parah,” katanya.

Sementara itu, Martua Nainggolan, yang kini menjabat sebagai Ketua RT 39, mengklaim bawa sudah tidak ada lagi warganya, selain keluarga Rusdi, yang menuntut kerugian atas banjir tersebut. “Tinggal Bapak Rusdi itu yang belum diganti. Yang lainnya sudah selesai lewat mediasi,” katanya.

Ditemui di kantor Kelurahan Gunung Sari Ulu, Dahlia, 37 tahun, selaku penanggung jawab pengupasan lahan di belakang rumah Rusdi, memberikan klarifikasi atas permasalahan ini. Dia mengakui bahwa bencana yang menimpa warga RT 39 akhir Maret lalu berasal dari pengupasan lahannya. Dia pun menyatakan akan bertanggung jawab atas semua permasalahan ini.

“Kami akan ganti rugi sesuai permintaan. Insya Allah, selesai lebaran nanti selesai semua. Kami juga akan membangun bozem agar tidak berimbas lagi ke warga,” kuncinya. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar