Terkini

Perceraian Suami-Istri Melejit pada 2019, 2.208 Perkara Tahun Ini Didominasi Faktor Ekonomi

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 944 Kali
Perceraian Suami-Istri Melejit pada 2019, 2.208 Perkara Tahun Ini Didominasi Faktor Ekonomi

Panitera Muda Pengadilan Agama Kelas I A Samarinda, Muhammad Rizal. (arditya abdul azis/kaltimkece.id)

Kisruh rumah tangga semakin sering dijumpai. Pengadilan Agama Samarinda menerima 10-15 pemohon cerai dalam sehari.

Ditulis Oleh: Arditya Abdul Azis
12 Desember 2019

kaltimkece.id Pernikahan merupakan ikatan sakral. Namun, badai acapkali tak terhindarkan. Mahligai rumah tangga pun harus terempas. Sebagai Ibu Kota Kaltim, Samarinda mengalami tren perceraian. Tiga tahun terakhir terus meningkat.

Pada 2016, perceraian mencapai 1.609 perkara. Selanjutnya pada 2017 mencapai 1.665 perkara. Pada 2018, angka perceraian naik signifikan menjadi 1.841 perkara. Kasus perceraian didominasi pertengkaran kedua belah pihak. Diikuti masalah ekonomi.

Berdasarkan data yang diterima kaltimkece.id dari Pengadilan Agama Kelas 1-A Samarinda, Kamis, 12 Desember 2019, 2.208 perkara perceraian masuk di Pengadilan Agama sejauh ini. Sebanyak 1.767 pasangan telah resmi bercerai sepanjang Januari hingga November 2019.

Dari jumlah itu, inisiatif perceraian paling banyak dari pihak perempuan. Yaitu 1697 perempuan. Sedangkan pihak laki-laki sebanyak 511 orang. Ada 13 faktor perceraian. Tapi tiga faktor yang paling dominan.

Peringkat adalah perselisihan dan pertengkaran terus-menerus, dengan jumlah 868 perceraian. Peringkat kedua disebabkan faktor ekonomi sebanyak 362 perceraian. Terakhir, disebabkan meninggalkan salah satu pihak sebanyak 348 perceraian (selengkapnya lihat infografis).

Adapun jumlah di atas merupakan perceraian atas dasar pernikahan pasangan muslim. Belum termasuk pasangan nonmuslim yang melakukan perceraian di pengadilan umum.

Panitera Muda Pengadilan Agama Kelas I A Samarinda, Muhammad Rizal, mengatakan bahwa sepanjang 2019, jumlah perkara masuk mengalami peningkatan dibandingkan 2018.

Kendati demikian, dari seluruh perkara perceraian, tidak semuanya dikabulkan atau masuk menjadi putusan. Perkara ada yang ditolak, dicabut, dan mediasi. Bagi yang ditolak, berarti tidak bisa membuktikan perkara di dalam persidangan.

"Jadi harus sama-sama membuktikan bahwa benar-benar sudah tidak rukun lagi. Misalnya akibat pertengkaran. Mereka harus membuktikan pertengkaran itu. Dan harus ada saksi 2 orang," jelasnya.

Rizal menjelaskan, ada 13 kategori faktor penyebab perceraian. Namun setiap tahunnya perkara perceraian sebenarnya diakibatkan faktor ekonomi. Lantaran, seperti perkara urusan ranjang hingga orang ketiga dalam rumah tangga, menjadi satu dalam kategori perselisihan dan pertengkaran terus-menerus.

"Jadi sebenarnya, setiap tahun mayoritas perceraian sebenarnya faktor ekonomi," ucapnya.

Dari perkara yang ditangani dan ia ikuti proses persidangannya, Rizal melihat rata-rata perceraian tahun ini didominasi usia 30 hingga 40 tahun.

"Untuk perceraian pasangan usia dini tidak banyak, tapi ada. Kami tidak mencantumkan usia dalam data laporan. Alasannya karena memang tidak ada format laporan yang dibuat khusus usia. Hanya pada berapa jumlah yang perkara masuk dan yang menjadi putusan, serta faktor penyebab perceraian," ucapnya.

Tren perceraian dapat dilihat dari jumlah perkara yang masuk. Rata-rata pengadilan agama sedikitnya menerima 10 hingga 15 orang pemohon pengajuan perkara perceraian per hari. Dari total 2.367 perkara yang masuk, 70 hingga 80 persennya perkara perceraian.

Pengadilan agama setidaknya per hari mengeluarkan 20 akta perceraian. Dari jumlah Itu dapat diketahui berapa pasangan yang resmi bercerai setiap harinya.

"Setiap harinya rata-rata persidangan, terkait harta bersama, harta waris, hak asuh anak hingga putusan. Rata-rata yang kami terima seluruhnya, sekitar 20 hingga 30 perkara perceraian. Jadi Lebih banyak sidang putusan daripada diterima," tutupnya.

Dari seluruh perkara, faktor penyebab perceraian ditengarai kawin paksa berada di urutan terakhir. Yakni enam perceraian sepanjang 2019. Sementara untuk jumlah suami yang mengajukan izin poligami dan direstui pengadilan agama, hanya lima orang. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar