Terkini

Peresmian Masjid Nurul Mu’Minin, Simbol Keberagaman dan Pemersatu Umat di Samarinda

person access_time 1 year ago remove_red_eyeDikunjungi 1313 Kali
Peresmian Masjid Nurul Mu’Minin, Simbol Keberagaman dan Pemersatu Umat di Samarinda

Masjid Nurul Mu'minin diresmikan pada 1 Muharram 1442 Hijriah. (nalendro priambodo/kaltimkece.id)

Masjid ini berdiri di sekitar lingkungan umat Katolik dan Kristiani. Tampil megah dengan desain khas Timur Tengah.

Ditulis Oleh: Nalendro Priambodo
20 Agustus 2020

kaltimkece.id Tepuk tangan bersahutan ketika Hadi Mulyadi mengguratkan tinta emas di batu marmer hitam. Usai menggunting pita, Wakil Gubernur Kaltim ini langsung melangkah masuk melintasi lantai marmer di dalam Masjid Nurul Mu’minin. Hal pertama yang ia periksa adalah deretan stiker penanda jaga jarak bagi jemaah yang lazim ditemui selama pandemi Covid-19.

Di depan mimbar ceramah berbahan kayu jati ukir berkelir emas setinggi lebih dari satu lantai bangunan, ia memberi sejumlah arahan. Seputar protokol kesehatan dan persiapan pelaksanaan shalat Jumat perdana esok harinya yang bakal ia pimpin.

Peresmian masjid milik Pemprov Kaltim yang dibangun di eks Lapangan Kinibalu, Samarinda ini sempat tertunda dua kali. Yakni, pada 20 Maret dan 24 Juli 2020. Penyebab utamanya, karena pandemi Covid-19 yang baru melanda Kaltim. Pemilihan waktu peresmian masjid pada Kamis, 20 Agustus 2020 ini bukan tanpa alasan. Hari itu bertepatan dengan tahun baru Islam 1 Muharram 1442 Hijriah.

Hadi menilai pembangunan masjid yang didanai APBD Kaltim ini syarat dengan pesan positif. Pertama, simbol kemajuan Kaltim dan kedua penguat makna keberagaman di Samarinda. Mengingat, lokasi pendirian masjid ini berdekatan dengan fasilitas dan rumah ibadah pemeluk agama lain. Beberapa meter dari masjid yang berlokasi di Jalan Semeru, Samarinda itu, berdiri bangunan Sekretariat Musyawarah Pelayanan Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (MUPEL-GPIB 2 Kaltim) dan TK Immanuel Samarinda. Sementara, kurang lebih 500 meter dari bangunan masjid itu berdiri megah Gereja Katedral Santa Maria Penolong Abadi. Sepintas serupa dengan Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal di Jakarta yang sudah rukun bertetangga selama 40 tahun terakhir.

“Masjid Nurul Mu’minin ini menjadi simbol keberagaman sekaligus pemersatu umat beragama,” kata Hadi Mulyadi di sela peresmian.

Pemprov Kaltim telah mengalokasikan subsidi operasional di antaranya, air dan listrik. Meski demikian, Wagub berpesan agar pengelola masjid merawat dan memperbanyak pohon perindang. Pemeliharaan konstruksi masih jadi tanggung jawab kontraktor pelaksana hingga akhir Desember 2020.

Perencanaan pembangunan masjid di lingkungan Gubernuran Kaltim ini dimulai tahun 2017. Setahun setelahnya, pembangunan awal dikerjakan hingga rampung awal tahun 2020. Dua kontraktor terlibat dalam proses pembangunan masjid senilai Rp 83,3 miliar ini. PT Bangun Cipta Kontraktor mengerjakan tahap awal dan PT Jaya Kedaton di bagian akhir. Bangunan 3 lantai seluas 5 ribu meter persegi ini berdiri di lahan seluas 16.281 meter persegi. Mampu menampung maksimal 3.500 jemaah. Dilengkapi fasilitas parkir yang mampu membuat 150 kendaraan roda empat dan 400 unit kendaraan roda dua.

Secara umum, desain masjid terinspirasi dari rumah ibadah muslim di timur tengah. Ini tampak dari desain kubah besar dengan bagian tengah bangunan seperti lazim ditemui di Dubai, ibu kota Uni Emirat Arab. Di bagian dalam kubah dipenuhi ukiran bercat emas. Kubah berpenutup almunium ini diapit empat menara di tiap sisinya.

 “Ini hasil masukan dari beberapa tokoh Kaltim. Desain itu yang kita tetapkan,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat Kaltim, M Taufik Fauzi.

Sumbangan 2 Ribu Buku dan Kain Kiswah dari Arab Saudi

Dalam kesempatan itu, Wakil Gubernur Kaltim, Hadi Mulyadi menitipkan terima kasih pada kemantan Gubernur Kaltim, Awang Faroek Ishak. Sebab pada era kepemimpinan Faroek rencana pembangunan masjid ini digagas dan mulai dikerjakan. Walaupun tak dapat hadir karena masih bertugas di Jakarta, anggota Komisi VII DPR RI tersebut dikabarkan menyumbang 2 ribu eksemplar buku bacaan kepada perpustakaan Masjid Nurul Mu’minin.

Bantuan lain juga berdatangan. Di antaranya, 10 kotak amal dan dua jam kayu seukuran pria dewasa dari Hadi Mulyadi. Tak ketinggalan sumbangan potongan kain kiswah yang biasa digunakan menutupi Ka’bah di Makkah. Kain hitam bermotif tulisan arab berwarna emas ini biasa diganti setiap tahun pada tanggal 9 Dzulhijjah bertepatan ketika perjalanan ke Bukit Arrafah pada musim haji.

Setiap tahun, kiswah lama diangkat dan dipotong-potong menjadi beberapa bagian kecil dan dihadiahkan kepada beberapa orang, termasuk pejabat atau organisasi muslim asing. Rencananya, kain itu, bakal diperlihatkan esok hari saat shalat Jumat perdana. Sayang, awak media belum berkesempatan melihat langsung barang langka yang terlipat rapi dalam kotak kayu ini.

 “Ini pemberian dari salah satu tokoh di Kaltim. Untuk keaslian, informasinya diberikan dari Arab Saudi langsung. Katanya sudah 20 tahun disimpan,” kata Ketua Takmir Masjid Nurul Mu’minin, Fathul Halim.

Wagub dan pengurus masjid membuka opsi mempergunakan masjid sebagai lokasi akad nikah ataupun titik poto pra-nikah. Ini, berkaca dari pengalaman penggunaan Masjid Baitul Mutaqqien Islamic Centre Samarinda. Bahkan, dari dua kegiatan itu, bisa mengisi kas operasional masjid selain sumbangan jemaah. Meski demikian, karena Covid-19, warga yang ingin menggunakan fasilitas ini wajib seizin pengurus dan patuh pada protokol Covid-19. Sejauh ini, pengelola masjid juga menyiapkan pembayaran sumbangan jemaah masjid lewat uang digital. Persisnya menggunakan Q-RIS Bank Kaltimtara Syariah. “Akad nikah boleh. Tapi belum ke arah sana (komersial), ucap Fathul. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

Ikuti berita-berita berkualitas dari kaltimkece.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar