Terkini

Perjuangan Panjang Cairkan JHT, Datang Pukul 05.00 Subuh, Nomor Antrean Sudah 10

person access_time 3 weeks ago remove_red_eyeDikunjungi 850 Kali
Perjuangan Panjang Cairkan JHT, Datang Pukul 05.00 Subuh, Nomor Antrean Sudah 10

Kepadatan antrean di Kantor BPJS Ketenagakerjaan Samarinda. (wahyu musyifa/kaltimkece.id)

Fitur pendaftaran online belum menjangkau seluruh peserta BPJS Ketenagakerjaan Cabang Samarinda. Tak semua peserta menetap atau bertugas di tempat yang ramah jaringan telekomunikasi.

Ditulis Oleh: Nalendro Priambodo
17 Oktober 2019

kaltimkece.id Waktu menunjukkan pukul 06.30 Wita. Belasan orang bergegas ketika petugas keamanan berseragam putih membuka pagar. Pengemudi kendaraan bermotor motor langsung tancap gas ke tempat parkir. Seturut dengan itu, empat orang tergesa-gesa setengah berlari. Sama-sama menuju bangku antrean pelayanan BPJS Ketenagakerjaan Cabang Samarinda.

Tempat antrean tepat di samping kantor yang terletak di Jalan Juanda, Samarinda, itu. Sekitar 30 kursi besi dan plastik tersusun berhadapan. Pengantre deret depan mendapatkan nomor antrean awal. Alias satu digit. Deret tengah dan akhir mendapat nomor dua digit.

Setelah lima menit, seorang petugas keamanan tiba membawa setumpuk kertas. Berisi formulir aplikasi pelayanan. Satu per satu peserta dipanggil maju. Bergantian mengisi dan mengambil nomor antre.

Jumat adalah hari pelayanan terakhir tiap minggunya. Pelayanan dibuka kembali Senin.

"Antrean hari ini hanya 20 orang," kata petugas keamanan merangkap pelayanan formulir, 11 Oktober 2019. Pelayanan Jumat memang terbatas. Sedangkan pada Senin sampai Rabu, disiapkan 40 antrean dan Kamis 30.

BPJS Ketenagakerjaan Samarinda membuat dua sistem antrean pelayanan. Yakni antrean konvensional bagi peserta yang mendaftar di tempat. Juga antrean online untuk pendaftar di website antrian.bpjsketenagakerjaan.go.id.

Di kursi antrean, para pekerja sebelumnya tak saling kenal satu sama lain. Kursi yang berhadapan membuat mereka saling bicara. Beberapa terkekeh bercerita pengalaman antre dan pekerjaan. Para buruh disatukan senasib sepenanggungan. Berjuang mencairkan dana jaminan hari tua. Fulus yang ditabung tiap bulan dari potongan gaji.

"Kami spontan saja. Yang kami anggap datang duluan, kami persilakan duduk paling depan," kata salah seorang pengantre konvensional BPJS Ketenagakerjaan, Arda.

Pria asal Kutai Barat sudah lima hari mengurus pencairan jaminan hari tua (JHT). Kendalanya beragam. Selama di Kota Tepian, ia menginap di indekos adiknya di Jalan Pramuka.

Hari pertama, ia tak kebagian nomor antrean. Datang kesiangan. Sekitar pukul 08.00 Wita. Hari kedua, pengajuannya ditolak. Syarat tak lengkap. Nomor BPJS Ketenagakerjaan dan Kartu Keluarga asli tak dibawa. Terpaksa kembali ke Kutai Barat. Baru pada hari kelima semua syaratnya lengkap.

Datang dari pukul 05.00 Wita, ia mendapat nomor antrean ke-10. Itupun sudah cukup beruntung. Belasan peserta lain terpaksa pulang dengan tangan kosong. Wajah kening mengkerut. Tak dapat nomor antrean.

Sebagai pengantre konvensional, Arda salah satu yang tak tahu pendaftaran secara online. Lokasi kerjanya di lautan lepas jadi penyebab. Tak banyak akses untuk informasi. Termasuk kondisi medan dan tata cara pencairan JHT. Enam tahun ia bekerja sebagai anak buah kapal. Waktunya banyak di perairan. Tanpa jaringan internet.

Telepon seluler di genggamannya keluaran 2012. Sudah tampak kusam. Sinyal 3G pun hanya untuk telepon dan berkirim pesan. Sesekali mendengar musik. "HP (handphone) sudah tua. Internet lambat. Jadi jarang pakai," katanya di pelataran kantor BPJS Ketenagakerjaan menunggu kantor buka pukul 08.00 Wita.

Sedianya, uang JHT akan ia pakai menyambung hidup. Menunggu panggilan kerja baru. Melamar di perusahaan pelayaran skala internasional. Ini berharap gaji di perusahaan baru bisa lebih baik.

Kerja di laut tak membuatnya kapok. Meskipun pernah ditawan gerombolan teroris Abu Sayyaf di perairan Jolo Tawi-tawi, Filipina Selatan, pada 2016 silam.

Setali tiga uang dengan Arda. Beberapa peserta BPJS Ketenagakerjaan yang kaltimkece.id amati di lokasi, bernasib sama. Beberapa dari yang memiliki telepon pintar, tak mengetahui fasilitas antrean online. Contohnya Rusmanto (36). Mekanik alat berat perusahaan sawit di Kutai Barat. Ia tak tahu-menahu antrean online BPJS Ketenagakerjaan. Kerja dan bermukim di tengah perkebunan sawit menyulitkan akses sinyal internet.

Dalam bayangannya, mengurus pencairan cukup membawa semua dokumen pribadi. Berikut kartu peserta BPJS Ketenagakerjaan dan surat keluar dari perusahaan. Karenanya, ia berani berangkat berkendara sepeda motor. Bertolak dari kampungnya yang berjarak 160 kilometer pergi-pulang. Nyatanya tidak, ia harus bersaing dengan peserta lain dari berbagai kota untuk mendapatkan nomor antre.

"Di kampung saya cuma ada satu titik yang ada sinyal. Mana tahu kalau begini urusannya," keluhnya.

Untungnya, ada petugas keamanan membantu mendaftarkan antrean online. Ia dan keponakannya yang juga mengurus JHT, dijadwalkan mendapat pelayanan pada 17 Oktober 2019.

"Sedikit kecewa karena jauh. Kalau dekat enggak masalah. Enggak apa lama antre, yang penting dapat kepastian," katanya bersiap pulang kampung.

Keunggulan Daftar Online

Waktu menunjukkan pukul 08.00 Wita. Ruang pelayanan sudah penuh sesak. Puluhan peserta BPJS Ketenagakerjaan kesulitan berbagi ruang. Baik yang antre online maupun konvensional. Dari empat loket pelayanan, hanya tiga terisi petugas. Rata-rata waktu pelayanan per peserta 6 menit.

Sahutra (21) adalah peserta yang menggunakan antrean online. Ia merasa terbantu dengan fitur tersebut. pendaftar dapat memilih lokasi cabang untuk pencairan. Juga memilih waktu dan tanggal penyerahan berkas fisik ke kantor BPJS Ketenagakerjaan tujuan.

Setelah semua data berbentuk foto diunggah, peserta tinggal membawa bukti pendaftaran online dan berkas untuk dilayani. Namun, pendaftar online rupanya tak sedikit. Sahutra tetap menunggu empat hari sejak tanggal pendaftaran. "Kita bisa tentukan jam dan waktunya sendiri. Kalau lewat jam, hangus. Ulang dari awal," kata mantan pekerja di sebuah perusahaan roti ternama di Samarinda.

Padatnya antrean di BPJS Ketenagakerjaan Cabang Samarinda, sempat dikeluhkan warga di salah grup publik warga kota di Facebook. Kabar itupun sampai ke telinga Supriyanto, kepala kantor cabang BPJS Ketenagakerjaan Samarinda.

Namun, pria yang sudah puluhan tahun mengabdi di perusahaan asuransi pelat merah itu, memilih tak ambil pusing. Baginya, jajarannya sudah menjalankan pelayanan terbaik. Sesuai undang-undang dan prosedur operasi standar. Ia mempersilakan warga atau awak media melihat pelayan berlangsung.

Dalam sehari, kantor tersebut melayani minimal 100 peserta. Maksimal 200. Dari angka itu, sekitar 70 persen pendaftar online. Dia menegaskan tidak ada upaya menghambat. Sebab, apabila tertunda, BPJS Ketenagakerjaan juga yang bertambah pekerjaan keesokan hari.

Anggapan kinerja yang lambat juga tak dibenarkan. Supriyanto memang menghindarkan jajarannya bekerja terburu-buru. Menghindari pelayanan yang serampangan. "Kami berusaha cepat, tepat, dan akurat," kata Supriyanto, dikonfirmasi, Senin, 14 Oktober 2019 di kantornya.

Supriyanto justru balik menyayangkan peserta yang belum memaksimalkan pendaftaran online. Apalagi ketika zaman telah memasuki era digital. "Anak kecil saja pegang smartphone semua sekarang ini," sebutnya yang bulan depan memasuki masa pensiun.

BPJS Ketenagakerjaan Samarinda memiliki wilayah kerja luas. Meliputi Samarinda, Kukar, Mahulu, dan sebagian Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur. Meski demikian, total kepesertaan tergolong kecil. Hanya sekitar 220 ribu orang.

Untuk memangkas hambatan birokrasi, kantor cabang perintis juga dibentuk di wilayah kerja. Membantu administrasi dan mempermudah pencairan di bank terdekat.

Ihwal pendaftaran online juga telah lama disosialisasikan. Demikian pula tata cara pengurusan pembayaran klaim BPJS Ketenagakerjaan ke tiap perusahaan.

Supriyanto mencontohkan perusahaan besar yang akan merumahkan karyawan, bisa diurus kolektif oleh perusahaan. Alias tak perlu satu per satu datang. "Kami juga datang langsung ke perusahaan kalau perlu," katanya.

Dengan banyak opsi pelayanan yang berlaku, Supriyanto memilih menganggapi dingin komentar

Warganet di media sosial. "Keluhan enggak semua kami tanggapi. Kadang mereka mementingkan diri sendiri ketimbang orang lain," imbuhnya. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar