Terkini

Ratusan Korban dari Demonstrasi di DPRD Kaltim, Perwira Ketahuan Menyamar Jadi Bulan-bulanan

person access_time 2 months ago remove_red_eyeDikunjungi 2200 Kali
Ratusan Korban dari Demonstrasi di DPRD Kaltim, Perwira Ketahuan Menyamar Jadi Bulan-bulanan

Pengunjuk rasa dibombardir water canon dan gas air mata. (Nalendro Priambodo/kaltimkece.id)

Aksi kedua penolakan UU KPK dan RUU KUHP di Samarinda semakin panas. Makin banyak korban jatuh. Makin banyak drama terjadi.

Ditulis Oleh: Arditya Abdul Azis
26 September 2019

kaltimkece.id Demonstrasi besar-besaran kembali terjadi di Samarinda, Kamis, 26 September 2019. Lautan manusia memenuhi sepanjang Jalan Teuku Umar hingga Jalan Tengkawang, Karang Paci. Massa kembali mengepung Kantor DPRD Kaltim dalam aksi lanjutan menolak Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK) yang telah direvisi serta RUU KUHP.

Massa kali ini lebih banyak dari sebelumnya. Diperkirakan 4 ribu pengunjuk rasa terlibat. Menamakan diri Aliansi Kaltim Bersatu. Selain mahasiswa, kelompok pelajar turut terlibat dalam unjuk rasa tersebut.

Aksi berlangsung selama sembilan jam. Diwarnai bentrok dengan aparat kepolisian. Banyaknya korban berjatuhan dari kubu demonstran.

Semula, massa bergandengan tangan dan berjalan kaki dari titik kumpul di Islamic Center, Jalan Slamet Riyadi. Pengunjuk rasa memenuhi Jalan Teuku Umar menuju DPRD Kaltim sekitar pukul 10.30 Wita. 

Menyambut demonstran yang lebih banyak dari tiga hari sebelumnya, jajaran Polresta Samarinda dibantu Polda Kaltim dan TNI. Mengerahkan sekitar 950 personel gabungan.

Untuk menghalau massa, aparat memasang pagar kawat berduri. Mengelilingi gedung parlemen di Karang Paci tersebut. Selain gulungan kawat, seluruh pagar diberi gemuk atau grease. Menghindari mahasiswa memanjat pagar.

Setibanya di depan gerbang utama DPRD Kaltim, massa langsung berorasi. Poster-poster berisi penolakan pengesahan UU KPK dan RUU lainnya kembali dibentangkan. Ada enam hal tertuang dalam tuntutan massa. Yakni, mendesak presiden mengeluarkan perppu terkait UU KPK secepatnya. Juga menolak segala UU yang melemahkan demokrasi.

Massa turut menolak TNI dan Polri menempati jabatan sipil. Tuntutan lainnya adalah membebaskan aktivis prodemokrasi serta menghentikan militerisme di tanah Papua. Termasuk menuntaskan pelanggaran HAM dan mengadili penjahat HAM.

"Kami tidak ingin mencari kerusuhan. Tetapi ketika tidak dicapai, kami akan tetap berada di sini dan menyuarakan tuntutan," kata Aldo, humas Aliansi Kaltim Bersatu.

"Target kami menduduki, tidak untuk menguasai. Menduduki untuk kemudian berdiri di sana menyuarakan tuntutan. Dan kembali berkomunikasi dengan dewan," sambungnya. Ia memastikan unjuk rasa selesai apabila tuntutan dikabulkan dan dituntaskan para wakil rakyat.

Dalam lautan mahasiswa tersebut, tampak kelompk pelajar turut meneriakkan penolakan terhadap UU KPK. Aliansi Kaltim Bersatu menegaskan tidak ada upaya mengerahkan pelajar. Menurutnya, kalangan pelajar kini lebih peka dengan kondisi dan isu yang berkembang.

Setelah satu jam berorasi, sekitar pukul 11.30 Wita, massa ditemui delapan anggota DPRD Kaltim. Di antaranya Rusman Yaqub dari PPP, Sarkowi V Zahri dari fraksi Golkar, Martinus, Ramadhony, serta Nanda Moeis dari PDIP. Selain itu ada Sri Puji Setyowati dari Demokrat dan Jahidin dari PKB.

Para legislator berdiri di depan pendemo. Memberi jawaban dari balik kawat duri. Rusman mengapresiasi aksi mahasiswa. Semua tuntutan dijanjikan bakal diakomodasi. "Kami sepakat membawa semua aspirasi adik-adik mahasiswa. Dan kita bersama memperjuangkan," tutur Rusman.

Meski demikian, Sarkowi mengingatkan pendemo untuk menyampaikan aspirasi dengan baik. Menjaga kondusivitas. Tapi, bujukan tersebut gagal untuk membawa massa mau berdiskusi. Justru perkataan para wakil rakyat dibalas makian. Massa masih meminta dibawa masuk ke DPRD Kaltim. Tak kunjung dipenuhi, demonstran bereaksi dengan membawa keranda mayat serta sekantong sampah. Tertera tulisan untuk DPRD Kaltim.

Karena situasi alot, anggota dewan kembali meninggalkan massa. Botol-botol minuman segera beterbangan. Seluruh anggota dewan diamankan. Pukul 13.00 Wita, kondisi makin tak terkendali. Para mahasiswa dan pelajar menggeruduk gerbang DPRD Kaltim. Terus bergerak maju. Kawat berduri pun dijebol. Demonstran terus meneriakkan tuntutan.

Gerbang setinggi empat meter juga terus berusaha dirobohkan. Aksi itu dibalas petugas. Water canon disemprotkan. Satu per satu pengunjuk rasa berjatuhan. Beberapa kali massa membalas dengan lemparan batu. Upaya merobohkan pagar kali ini tak semulus aksi sebelumnya.

Massa akhirnya bergeser ke gerbang sisi kanan gedung DPRD Kaltim. Sekitar pukul 15.00 Wita, pagar kedua sisi tersebut berhasil dijebol. Massa langsung dihalau dengan gas air mata. Pengunjuk rasa pun kocar-kacir. Terhitung 10 tembakan gas air mata dilepas ke udara.

Jalan Teuku Umar sampai dipenuhi kabut asap. Massa lagi-lagi berjatuhan. Seluruhnya langsung digotong ke rumah sakit dan klinik terdekat. Rata-rata mengalami sesak napas hingga jatuh pingsan. Tak sedikit mendapatkan luka di bagian kepala akibat lemparan batu dari kawasan DPRD Kaltim.

Setelah asap mereda, massa kembali berkumpul di dua sisi gerbang. Pengunjuk rasa yang kesal membalas dengan lemparan batu. Sebagian meluapkan dengan membakar sampah dan mencoret dinding halaman DPRD.

Pengunjuk rasa juga kembali menjebol pagar yang ditutup petugas. Tapi, lagi-lagi upaya menduduki gedung dewan digagalkan. Water canon dan gas air mata masih sulit dibendung.

Situasi makin panas sekitar pukul 16.00 Wita. Seorang perwira jadi bulan-bulanan. Adalah Ipda Hardiyansah yang bertugas sebagai Kanit Intel di Polsek KP3. Penyamarannya sebagai warga sipil diketahui pengunjuk rasa. Polisi berpangkat inspektur dua itupun mengalami luka di bagian kepala. Sempat diamankan wartawan yang melerai kejadian tersebut. Hardiyansyah langsung dilarikan ke rumah sakit.

Bentrokan antara massa dan aparat terus berlangsung hingga pukul 18.00 Wita. Terhitung puluhan kali tembakan gas air dielpas. Bebatuan juga beterbangan dari halaman DPRD. Hingga tenggat waktu pendemo habis, massa bertahan di luar areal DPRD. Pagar sempat kembali dijebol. Tapi upaya memasuki gedung terus digagalkan.

Dari pantauan media ini, massa yang berjatuhan semakin banyak. Ada yang pingsan akibat sesak napas. Ada pula luka-luka akibat lemparan batu dan gas air mata. "Aparat ketika menembakkan gas air mata, juga melemparkan batu ke arah kami," ucap Nadia, salah satu pengunjuk rasa.

Tim medis membawa lebih 150 korban bentrokan ke rumah sakit dan klinik menggunakan ambulans. Korban dilarikan ke rumah sakit RSCM, RS Dirgahayu, RSUD AW Sjahranie, dan Klinik Islamic Center.

Dari informasi yang dihimpun, sedikitnya 50 mahasiswa mendapatkan perawatan intensif. Mengalami sesak napas akut karena riwayat penyakit asma. Sekitar 100 orang lebih mendapatkan pertolongan di beberapa ruang kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kaltim di Jalan Tengkawang. Beberapa ruangan telah disulap menjadi tempat pertolongan pertama.

Di sini berjaga tim medis mahasiswa dilengkapi tabung oksigen mini. "Tadi saya mengantar sekitar 30 orang ke RS Dirgahayu," sebut Andika, salah seorang relawan medis.

Dari pihak kepolisian, lima anggota jadi korban. Seorang di antaranya perwira jajaran Polresta Samarinda yang diamuk massa. Mulanya, anggota kepolisian berpakaian sipil tersebut sibuk mendokumentasikan aksi. Tidak lama berselang, beberapa warga memergoki. Para mahasiswa yang berdemonstrasi langsung mengepung. Sang polisi pun jadi bulan-bulanan.

"Sudah dibawa ke rumah sakit. Mengalami luka memar di bagian tubuh dan kepala belakang bocor. Semoga keadaannya cepat membaik," sebut Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Vendra Riviyanto, dijumpai setelah aksi.

Korban lainnya adalah seorang anggota BKO Polres Bontang. Mengalami luka sobek di bagian lengan. Diduga terkena lemparan besi. Sementara tiga lainnya terluka akibat lemparan batu. Juga sesak napas akibat gas air mata.

Sebanyak 900 polisi diturunkan. Gabungan dari Polresta Samarinda, Polda Kaltim, Brimob Batalion B Pelopor Polda Kaltim, Polres Kutai Kartanegara, dan Polres Bontang. "Kapanpun itu, kalau ada aksi kembali kami pasti selalu siap," pungkasnya.

Terpantau sekitar pukul 19.00 Wita, massa masih berkeliaran di Jalan Teuku Umar. Aksi dilanjutkan dengan membakar ban. Tapi tak ada lagi perlawanan dari pengunjuk rasa. Beberapa saat setelahnya, massa membubarkan diri. Polisi terpantau tetap berjaga hingga pukul 21.00 Wita. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar