Terkini

Tongkang Penabrak Jembatan Melintas Tanpa Izin, Getaran Terasa Hingga Hotel 12 Lantai

person access_time 3 weeks ago remove_red_eyeDikunjungi 2149 Kali
Tongkang Penabrak Jembatan Melintas Tanpa Izin, Getaran Terasa Hingga Hotel 12 Lantai

Sepanjang 2019, Jembatan Mahakam telah empat kali ditabrak kapal tongkang. (wahyu musyifa/kaltimkece.id)

Insiden tertabraknya pilar Jembatan Mahakam kembali terjadi. Wagub Kaltim menuntut tanggung jawab perusahaan.

Ditulis Oleh: Arditya Abdul Azis
18 November 2019

kaltimkece.id Minggu malam, 17  November 2019, Arief Eko tengah melaju dengan kendaraan roda duanya. Sekitar 15 menit sebelumnya, ia ditelepon orangtuanya untuk segera pulang. Sudah seharian mampir ke rumah seorang teman di kawasan Sungai Keledang, Samarinda Seberang.

Di tengah jalan, emosi pria 22 tahun tersebut diuji. Sempat merasa kesal karena arus lalu lintas di Jalan Bung Tomo sedang padat. Hingga menapak ke Jembatan Mahakam, kendaraannya cuma bisa melaju 20 kilometer per jam. Kondisi jembatan sedang ramai kendaraan melintas.

Beberapa saat berselang, suasana mencekam terjadi. Eko masih di tengah jembatan. Terdengar suara keras besi beradu beton. Dari bawah jembatan, muncul kepulan debu. Motor Eko tiba-tiba tidak stabil. Ia sempat minggir ke sisi kiri jalan.

Getaran begitu terasa. Eko pun terhenti. Dengan waswas menoleh ke kiri dan kanan. Sejumlah pengendara lain seketika histeris. Berlomba memacu kendaraan tiba ke seberang secepat mungkin. Orang-orang telah menyadari Jembatan Mahakam kembali ditabrak.

"Sekitar 20.15 Wita kejadiannya. Ada orang teriak jembatan ditabrak tongkang. Saya ikut ngebut sampai ke seberang. Sempat takut juga kalau jembatan roboh," terang Eko saat ditemui kaltimkece.id, Senin siang, 18 November 2019

Tiba di seberang jembatan sisi Jalan Slamet Riyadi, Eko memarkir motornya. Lalu menengok ke arah jembatan yang sudah kosong kendaraan. Di sekitarnya terjadi kemacetan. Pengendara rupanya takut melintas.

"Setelah menabrak, tongkangnya terus saja jalan. Saya kesal betul. Tidak tahu-tahu habis menabrak. Kami di jembatan hampir hilang nyawa," tambah Eko.

Selang beberapa menit, kepolisian lalu lintas di bantu relawan tiba. Diawali dengan mengatur lalu lintas yang telah padat merayap.

Setelah jembatan dirasa aman, petugas melakukan arus buka tutup. Kendaraan bergantian melintas. Sekitar pukul 20.35 Wita, arus lalu lintas kembali normal.

Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi sedang berada di hotel 12 lantai di Jalan Untung Suropati, Sungai Kunjang, bersebelahan Jembatan Mahakam, saat insiden berlangsung. Ia turut merasakan getaran setelah bunyi benturan keras menggema.

"Saat itu saya sedang sambutan dan merasakan getaran sampai di tempat saya," ungkapnya saat di jumpai di Kantor Gubernur Kaltim, Senin siang, 18 November 2019.

Hadi menyayangkan Jembatan Mahakam terus jadi sasaran tongkang. Publik semakin resah. Wagub meminta Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Samarinda menerbitkan rambu-rambu jalur di kolong Jembatan Mahakam. Jangan lagi insiden serupa terulang.

"Jangan tahu memungut saja. Buatkan rambu yang baik. Sedangkan para pengusaha, ingatlah karena ini sudah sering," tegasnya.

Hadi mengimbau perusahaan terkait membina petugasnya di lapangan agar bisa mengantisipasi saat melintas di kolong jembatan. Pemprov Kaltim juga segera memanggil perusahaan. Apabila terbukti bersalah, tidak segan diberi sanksi.

Yang juga ia sesalkan, hingga diwawancara pada Senin siang itu, Hadi belum menerima laporan terkait insiden tersebut. "Laporan baru saya dapat dari media. Kalau begini terus gawat. Lama-lama bisa bubar negara ini.”

Jembatan Masih Aman

Dari video amatir yang beredar di dunia maya, saat kejadian tampak kapal tongkang menabrak pilar Jembatan Mahakam ketika mengarah ke hulu Sungai Mahakam. Saat melewati kolong empat jembatan, tongkang tampak larut ke kanan. Pilar P3 pun tertabrak. Perairan Sungai Mahakam saat kejadian dilaporkan cukup deras.

Tongkang penabrak diketahui bernama Lambung Bg Financia 37. Ditarik tugboat Entebe Emerald 59. Hendak menuju jetty perusahaan tambang batu bara di kawasan Kutai Kartanegara.

"Kami menemukan goresan seperti bekas tabrakan. Tapi tiang jembatan relatif masih aman dan utuh," ungkap Kapolsekta Kawasan Pelabuhan AKP Aldi Alfa Faroqi.

Aldi dan jajarannya sempat kesulitan. Kejadian saat malam hari menyulitkan petugas mendapatkan keterangan saksi. "Beberapa anak buah kapal sudah diamankan KSOP. Saat ini kami menunggu dan terus berkoordinasi dengan KSOP serta Pelindo," terangnya.

Kejadian Keempat Tahun Ini

Disebutkan Plh Kasi Keselamatan Berlayar KSOP Kelas II, Herdi, setelah informasi insiden diterima, pihaknya langsung melakukan pencarian tugboat penarik tongkang. "Kami lakukan pengejaran. Dan ditemukan di jetty batu bara Kukar. Olah TKP langsung kami lakukan," sebut Herdi.

Sebelum menabrak pilar jembatan, tongkang baru bongkar batu bara di perairan Muara Berau.

Detik-detik tabrakan terekam kamera CCTV Jembatan Mahakam. Terlihat tongkang tak mendapat pengawalan kapal pandu maupun petugas assist saat pengolongan tongkang.

Terkait pengolongan, Herdi  menjelaskan bahwa hal tersebut adalah kewenangan PT Pelindo IV. Namun, lanjutnya, malam hari memang tidak terdapat jadwal pengolongan. Aktivitas tersebut hanya dilakukan ketika tongkang memuat batu bara. "Kalau ada isi baru dipandu. Tapi, kalau nakhoda merasa tidak cakap, berhak memanggil pandu," ungkap Herdi.

Sejauh ini pihaknya telah memeriksa lima kru kapal dan seorang agen. Termasuk kelengkapan dokumen izin berlayar. "Dokumennya lengkap dan saat ini kami tarik sampai proses pemeriksaan selesai. Kami masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut."

Untuk diketahui, kejadian tertabraknya pilar Jembatan Mahakam bukan kali pertama terjadi. Sepanjang 2019, KSOP mengonfirmasi tabrakan antara tongkang dan pilar jembatan, sudah terjadi empat kali.

Tak Berizin

Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV memastikan penabrak pilar Jembatan Mahakam pada Minggu malam itu melintas tanpa izin. Hal tersebut disampaikan General Manager Pelindo IV Suhadi Hamid Aly.

"Teknisnya kami tidak mengetahui di lapangan seperti apa. Sepengetahuan kami tidak ada kegiatan perlintasan kapal pada jam tersebut," jelas Suhadi.

Dari hasil pertemuan dengan KSOP setelah kejadian, Suhadi memastikan ke depan ada instruksi wajib pandu bagi para pemilik kapal. Penggolongan secara mandiri ditiadakan. Kapal-kapal melintas harus dipandu 24 jam penuh. Terlebih ketika melewati Jembatan Mahakam.

"Kami monitoring mulai hari ini hingga seterusnya. Sembari menunggu prosedur tetap untuk tongkang-tongkang yang kosong. Yang jelas untuk accident kemarin, kami sudah menginformasikan tidak ada kegiatan pemanduan," tegasnya.

Adapun kegiatan pemanduan umumnya bergantung kondisi pasang surut air Sungai Mahakam. Pelindo IV efektif bekerja 12 jam sehari. Optimal delapan jam untuk memandu tugboat melewati perairan Sungai Mahakam.

"Dalam 12 jam tongkang yang antre itu kami optimalkan agar bisa melintas pada saat pasang tertinggi. Kami terkadang harus memandu kapal berikutnya walaupun badan tongkang belum melewati Jembatan Mahakam. Kami menyiapkan empat sampai lima pandu dalam sehari,” urainya.

Dalam sehari Pelindo IV bisa menerima 30 kapal untuk pengolongan. Yang berarti 15 kapal dalam empat jam.

Tunggu Tim Ahli

Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kaltim memastikan Jembatan Mahakam masih aman dilalui kendaraan. Diketahui berdasar pemeriksaan awal terhadap kondisi pilar tiga sisi hilir yang ditabrak.

"Secara visual, di posisi bawah terjadi kerusakan di beton. Namun harus diperiksa lebih lanjut," ucap Pejabat Pembuat Komitmen Dinas PUPR Kaltim, Marsudi.

Belum dipastikan tingkat kerusakan dari pilar jembatan. Pemeriksaan lebih mendalam akan dilakukan oleh tim ahli. "Yang jelas yang ditabrak ini bagian penopang Jembatan," ucapnya.

Saat ini terdapat dua titik fender sedang proses pembangunan. Progres sementara adalah 85 persen. Siap difungsikan akhir 2019. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar