Terkini

Tongkang yang Nyaris Karam dan Ancaman Sumber Air Bersih Warga

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 2411 Kali
Tongkang yang Nyaris Karam dan Ancaman Sumber Air Bersih Warga

Foto: Ika Prida Rahmi (kaltimkece.id)

Kapal tongkang bermuatan batu bara nyaris karam di Sungai Mahakam. Warga sekitar khawatir sumber air bersih tercemar zat asam.

Ditulis Oleh: Ika Prida Rahmi
18 Maret 2019

kaltimkece.id Kapal tongkang bermuatan batu bara kandas di perairan Sungai Mahakam. Tepatnya di sisi Kelurahan Harapan Baru, Loa Janan Ilir, Samarinda. Kandasnya tongkang bermuatan batu bara itu sudah sejak Minggu sore, 17 Maret 2019.

Semula, kapal tongkang ditarik kapal tunda atau tagboat bernama Kaltim Dholpin 1007. Berlayar dari hulu menuju hilir Sungai Mahakam. Namun di perjalanan, tongkang bermuatan puluhan ton batu bara mengalami kemiringan.

Menghindari karam dan batu bara tertumpah ke Sungai Mahakam, tongkang ditambatkan ke tepi Sungai Mahakam. Sekitar 100 meter dari IPA PDAM Gunung Lipan.

Terpantau hingga Senin sore, 18 Maret 2019, tongkang masih mengalami kemiringan. Nyaris tenggelam. Sekira seperempat muatan batu bara tumpah. Dari ketinggian, batu bara sudah tercampur air sungai. Menimbulkan warna kehitaman.

Disebutkan AKP Aldi Alfa Faroqi, kapolsekta Kawasan Pelabuhan Samarinda, kapal tongkang nyaris tenggelam baru diketahui Senin siang. Itupun karena beredar di media sosial. Kapolsek kemudian menginstruksikan penyelidikan.

Jumlah muatan kapal belum diketahui. Dari hasil peninjauan, dugaan sementara akibat kebocoran di kiri belakang tongkang. Kemiringan tongkang pada Senin sore diperkirakan 20 hingga 60 derajat. Melihat kondisi medan, kemiringan berpotensi bertambah. Air sungai saat itu sedang surut. Bila pasang, diperkirakan setengah badan kapal karam.

Baca juga:
 

Tahapan penyidikan masih berlangsung. Belum diketahui kebocoran disebabkan muatan berlebih atau benturan. Kepolisian akan berkoordinasi dengan pihak Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan atau KSOP Samarinda.

"Kami belum bisa menjawab penyebab. Masih perlu koordinasi dengan Syahbandar (KSOP)," terang Aldi.

Kapal tongkang diketahui berasal dari Kutai Kartanegara. Sedangkan asal perusahaan jetty belum diketahui rinci. "Untuk arahnya mau ke Balikpapan.”

Dari penyelidikan awal, kebocoran tongkang terasa pada pertengahan jalan. Ketika belum lama meninggalkan jetty. Muatan batu bara dalam keadaan penuh. Bocor terjadi begitu cepat. Kemiringan terjadi pelan tapi pasti. Tongkang tak bisa melanjutkan perjalanan dan kandas di kawasan tersebut.

"Tidak sempat tambat. Perjalanan dari Kukar sudah terasa kebocoran karena daripada ada risiko lebih berat, diarahkan ke TKP tersebut," terang Kapolsek.

Kepolisian masih menyelidiki penyebab pasti. Namun, tidak menutup kemungkinan batu bara yang jatuh ke sungai hingga menyebabkan pencemaran, akan ditindaklanjuti.

Khawatir Tercemar

Menurut Rusdiansyah, salah satu warga di kawasan tersebut, kapal tongkang bermuatan batu bara itu melintas sekitar pukul 15.00 Wita pada Minggu Sore. Saat itu, tagboat Kaltim Dholpin 1007 yang menarik tongkang berhenti. Sebagian awak kapal beberapa kali mengecek kemiringan kapal.

Sekitar pukul 15.45 wita, tiga tagboat membantu mendorong tongkang ke tepi sungai. Namun, karena Sungai Mahakam surut, tongkang tak bisa benar-benar menepi. Kapal makin miring keesokannya.

Insiden ini menimbulkan kekhawatiran warga. Kemungkinan pencemaran mengemuka. Sungai Mahakam merupakan sumber baku air bersih yang diolah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Kencana Samarinda.

"Itu dekat pipa air PDAM. Batu bara terendam di sungai. Kalau lama-lama di situ bisa-bisa didemo warga. Pencemaran soalnya. Bagaimana nanti air PDAM? Batu bara mengandung zat asam. Takutnya kami kena dampak," terang Rusdiansyah.

Humas PDAM Tirta Kencana Kota Samarinda HM Lukman meredakan kehawatiran itu. Meski berdekatan intake saluran IPA PDAM Gunung Lipan, ditegaskan jika tumpahan batu bara tidak mengganggu distribusi air ke setiap pelanggan.

Produksi IPA Gunung Lipan tetap lancar. Air baku, sebelum didistribusikan ke masyarakat, melalui proses pengolahan dan tahapan panjang. Sedikit kemungkinan tercemar zat asam dari batu bara.

"Alhamdulillah aman saja. Sudah dikonfirmasi ke kepala Seksi IPA Gunung Lipan, Bapak Muhammad Sofyan. Tak ada gangguan dan hambatan,” terang Lukman.

Sebelum dialirkan, air selalu melalui uji kelayakan di laboratorium setiap lab mini IPA PDAM. Air baku dari intake yang diambil dari Sungai Mahakam, melalui proses penyaringan dan pengendapan. Seperti koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, desinfeksi, dan penampungan bak reservoir. Setelah rangkaian tahapan itu, air hasil olahan dialirkan ke setiap rumah warga. (*)

 

 

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar