Terkini

Wajah Muram Kota Tenggarong-6: Asa Baru Kukar dari Industri Kreatif

person access_time 3 weeks ago remove_red_eyeDikunjungi 286 Kali
Wajah Muram Kota Tenggarong-6: Asa Baru Kukar dari Industri Kreatif

Pertunjukan seni menjadi salah satu keunggulan Kukar. (Dinas Pariwisata Kukar)

Wajah kukar bisa terselamatkan dengan potensi yang satu ini. Sebagai salah satu sumber daya unggul di Indonesia.

Ditulis Oleh: Fachrizal Muliawan
28 Juli 2019

kaltimkece.id Kutai Kartanegara (Kukar) dikenal sebagai kabupaten kaya sumber daya alam seperti batu bara dan migas. Namun, bila terus-menerus bergantung dengan industri ekstraksi dan terlena dengannya, daerah dengan luas 27.263 kilometer persegi itu akan terpuruk kala sumber daya alam habis. Produksi batu bara di Kukar pada 2016 mencapai 55,5 juta metrik ton dan naik pada 2017 dengan 63,7 juta metrik ton (data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kaltim).

Di tengah ketergantungan dengan bisnis ekstraktif, Kukar perlu memikirkan sektor baru yang bisa menopang perekonomian kabupaten yang baru mulai dimekarkan pada 1999 itu. Sektor potensial di Kukar yang belum tergali optimal adalah pariwisata dan ekonomi kreatif. Pada saat yang bersamaan, Kukar terpilih menjadi salah satu dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menjadi salah satu kabupaten/kota kreatif. Dikutip dari bekraf.go.id, Kukar dinilai memiliki ekosistem ekonomi kreatif terbaik di luar Jawa, terlebih untuk subsektor seni pertunjukan.

Masil menukil data dari bekraf.go.id, terpilihnya seni pertunjukan merupakan hasil uji petik di tiga subsektor ekonomi kreatif meliputi aktor, musik, seni pertunjukan dan film, video, animasi. Sektor seni pertunjukan dipilih atas pertimbangan, Kukar dengan 18 kabupaten memiliki kesenian pertunjukan sebagai potensi kreatifnya, dan adanya komunitas-komunitas pegiat seni pertunjukan.

Selain itu, Kukar juga memiliki banyak ruang publik yang dapat mendukung pagelaran seni pertunjukan. Keberagaman budaya dan tradisi di Kukar harus dilestarikan dan diperkenalkan, kemudian adanya festival musik berskala internasional yang mendatangkan banyak massa. Lalu, apakah hal tersebut menjadi gerbang Kukar lepas dari ketergantungan dengan industri ekstraktif?

Ekonomi kreatif di Kukar ditangani oleh Dinas Pariwisata Kukar. Kepala Dinas Pariwisata Kukar Sri Wahyuni membenarkan saat ini Kukar sedang melakukan pengembangan sub sektor ekonomi kreatif. “Untuk sementara yang baru tumbuh adalah seni pertunjukan,” ujarnya. Disebut tumbuh, kala penggiatnya sudah aktif membangn ekosistem mulai produksi hingga seni pertunjukan ditampilkan. Dan untuk seni pertunjukan, Kukar dianggap terbaik di luar Jawa.

Menangani hal tersebut Pemkab Kukar sudah memasukan program pengembangan ekonomi kreatif ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJMD) Kukar. “Makanya mulai 2019 ditangani oleh Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kukar,” ujarnya. Bidang tersebut akan menangani 16 subsektor. Namun kini masih fokus terhadap sektor yang tumbuh terlebih dahulu. Pasalnya, harapan selanjutnya adalah pengembangan industri kreatif, tak menutup kemungkinan nanti subsektor ekonomi kreatif lainnya akan menggeliat. 

Sri mencontohkan beberapa ekosistem ekonomi kreatif yang sudah berkarya dan menghasilkan. “Ada Ladaya dengan Lanjong-nya, juga ada Yayasan Gubang,” ujarnya. Bahkan lanjut Sri, Gubang saat ini sedang berkontrak dengan Kementerian Luar Negeri.

Bukan Sektor Instan

Untuk menjadi penopang ekonomi baru daerah, yang tak boleh dilupakan adalah seberapa besar yang bisa dihasilkan oleh ekonomi kreatif. Sri menuturkan, hal tersebut memang mesti dipikirkan. Namun, lantaran kini masih dalam pertumbuhan pihaknya masih dalam proses memicu ekonomi kreatif tumbuh.

Tak seperti industri ekstraksi seperti tambang batu bara yang bisa menghasilkan dengan proses gali, angkut, dan jual. “Karena ada proses kreatif, semua ada proses,” tuturnya.

Namun yang dia yakin, adalah efek domino yang didapat kala ekonomi kreatif berkembang. Misal, ketika sebuah pertunjukan dilaksanakan, akan dimulai dengan sistem ticketing. “Sebelum itu, ada proses produksi yang membutuhkan subsektor lain. Seperti musik dan serta kostum pemain,” jelasnya. Selain itu, videomaker akan diajak bergabung untuk membuat video sebagai bentuk promosi. Itu baru dari teknis pertunjukan. Belum termasuk sektor kuliner, kriya, dan lainnya.

“Jadi memang belum bisa bicara berapa yang bisa dihasilkan, namun yang mesti dibicarakan sekarang adalah sebesar apa efeknya,” kuncinya.

Pada 2018 ekonomi kreatif berhasil menyumbang Rp1.200  triliun produk domestik bruto (PDB) Indonesia. PDB itu meningkat dari Rp 1.009 triliun pada 2017. Bahkan pada 2016, ekonomi kreatif Indonesia menyumbang Rp922,59 triliun PDB sehingga kontribusi ekonomi terhadap perekonomian nasional sebesar 7,44 persen. Selain itu, nilai ekspor ekonomi kreatif Indonesia pada 2016 mencapai US$20 miliar atau sebesar 13,77% dari total ekspor Indonesia pada 2016.

Adapun terdapat tiga sub sektor yang menjadi penyumbang pendapatan besar pada sektor ekonomi kreatif Indonesia yakni craft atau kriya sebesar Rp142 triliun, fesyen Rp166 triliun dan kuliner senilai Rp382 triliun (sumber: bekraf.go.id). Tren 2019 ada empat subsektor juga yang berpotensi pada ekonomi dunia yakni film, musik, game, dan animasi.

Perembangan ekonomi kreatif menjadi salah satu fokus komisi X DPR RI. Salah satunya dengan terus membahas Rancangan Undang-Undang (RUU) Ekonomi Kreatif agar segera disahkan menjadi UU. RUU ini diharapkan selesai periode DPR RI 2014-2019 yang bakal berakhir September mendatang.

“Kami di DPR melihat potensi yang bisa digali sangat besar, terlebih untuk menggantikan ketergantungan terhadap industri ekstraktif,” ujarnya. Menukil data dari Bekraf soal sumbangsih ekonomi kreatif dalam perekonomian nasional, bisa diterapkan di daerah. “Makanya lewat undang-undang ekonomi kreatif yang masih menjadi rancangan, kami masih perlu mendengar masukan dari para pelaku ekonominya,” ujarnya. “Jangan sampai para pelaku ekonomi merasa tak dilibatkan, dan menyebankan kesalahpahaman,” tuturnya.

Setiap daerah memiliki potensinya masing-masing, dan bisa terus berkembang. Untuk di Kukar misalnya, sekarang memang masih satu subsektor yang menggeliat. “Saya melihat ada potensi industri film di Kukar juga akan tumbuh, seiring tumbuhnya sineas muda di sana,” ujarnya. Salah satu yang mencuri perhatiannya adalah film Ranam yang mengambil latar Danau Melintang. Film yang disutradarai oleh David Richard itu bisa menjadi bibit pertumbuhan subsektor film bila didampingi dengan baik. (*)

 

Editor: Fel GM

 
Baca juga serial liputan khusus ini:
 
 
 
 
 
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar