Terkini

Yang Sebenarnya Terjadi dari Tembakan Mematikan saat Kejar-kejaran Petugas dan Terduga Bandar Sabu

person access_time 1 year ago remove_red_eyeDikunjungi 15240 Kali
Yang Sebenarnya Terjadi dari Tembakan Mematikan saat Kejar-kejaran Petugas dan Terduga Bandar Sabu

Ike Siringge histeris melihat Irwan sudah berbalut kain kafan. (Arditya Abdul Azis/kaltimkece.id)

Terduga bandar sabu ini memberi perlawanan hingga akhir kepada petugas yang berusaha meringkusnya. Pelarian berakhir setelah peluru bersarang di kepalanya.

Ditulis Oleh: Arditya Abdul Azis
21 September 2019

kaltimkece.id Setelah adu kecepatan dari Jalan Juanda, Bripka Efendy dengan sepeda motornya berhasil menyalip terduga bandar sabu yang melaju dengan kendaraan citycar di Jalan KH Wahid Hasyim. Irwan yang mengendarai mobil, membawa tiga orang di kursi penumpang.

Bripka Efendy langsung menutup jalan. Seturut dengan itu, diarahkannya senjata api ke udara. Tembakan peringatan dilepaskan agar Irwan menghentikan mobilnya. Tapi peringatan tersebut tak diindahkan. Irwan tetap melaju. Bripka Efendy ditabrak hingga terseret sekira empat meter.

Mobil sempat terhenti setelah tabrakan itu. Bripka Efendy masih bisa bangkit. Ia lalu berlari ke sisi kanan kendaraan Irwan. Tembakan kembali dilepaskan ke udara.

Irwan berusaha melarikan diri. Bripka Efendy menodongkan senjata dari jendela mobil, kembali meminta pelarian dihentikan. Tapi saat itu juga, terduga bandar sabu tersebut langsung tancap gas. Bripka Efendy yang bertugas di Badan Narkotika Nasional (BNNP) Kaltim tak menyerah. Ia nekat bergelantungan di pintu mobil meski kaki terseret aspal.

Baca juga:
 

Di sini bagian paling menegangkan. Kontak fisik terjadi antara Bripka Efendy dan Irwan. Si terduga bandar sabu berusaha terus melawan. Bahkan ada upaya merebut senjata Bripka Efendy. “Lalu terdengar suara tembakan. Petugasnya jatuh terguling. Mobilnya nyungsep ke parit," terang saksi mata, Dinur Hasan, pekerja bangunan dekat lokasi kejadian, ketika diwawancara kaltimkece.id, Sabtu, 21 September 2019.

Dari dalam parit di simpang empat Sempaja tersebut, pintu mobil segera terbuka dan seorang lelaki kabur ke arah Jalan AW Sjahranie. Bripka Efendy berusaha bangkit tapi tak mampu mengejar. Dengan kekuatan tersisa, ia mendatangi mobil tersebut dan meminta seluruh penumpang keluar. Hanya seorang perempuan muncul, merangkak dari dalam parit.

Saat diperiksa, seorang perempuan lainnya di dalam mobil sudah dalam keadaan lemas. Diduga akibat benturan. Sedangkan Irwan si pengemudi, mengalami pendarahan di bagian atas kanan kepalanya. "Saat diangkat, saya lihat ada lubang di bagian kepalanya. Darahnya berceceran di mobil," tutup Dinur.

Sempat Keliling Kota

Perempuan yang ditemukan dalam keadaan syok tersebut adalah Ike Siringge. Sedangkan perempuan lainnya Mike Riski Amelia. Ike merupakan istri dari Irwan. Sementara Mike berpasangan dengan lelaki berinisial W yang berhasil kabur dalam pengejaran tersebut. Keempatnya berasal dari Sangatta, Kutai Timur.

Jumat pagi, 20 September 2019, keempatnya bertolak dari Sangatta. Sekitar pukul 08.00 Wita, Irwan mengajak Ike bepergian ke Samarinda. “Katanya mau ambil paket di JNE. Saya enggak tahu paket apa. Saya tadinya menolak. Cuma dia bilang, sekali-kali jalan ke Samarinda. Saya terpaksa ikut," terang Ike kepada kaltimkece.id di RSUD AW Sjahranie, Sabtu, 21 September 2019.

Untuk pergi ke Samarinda, Irwan menyewa mobil dari rental W. Irwan juga mengajak W dan pacarnya, Mike. Sekitar 13.00 Wita, keempatnya tiba di Samarinda. Sempat berkeliling kota, rombongan beristirahat sambil makan siang di Jalan Gatot Subroto. Di rumah makan Irwan menerima telepon dari seseorang. Perjalanan pun dilanjutkan.

Kali ini tujuannya Jalan Juanda. Paket yang diambil berada di samping gedung Universitas 17 Agustus 1945. "Saya enggak tahu itu paket apa. Saya juga tidak melihat paketnya," terang Ike.

Tuntas mengambil paket di tempat tujuan, rombongan berencana langsung kembali ke Sangatta. Sampai di simpang empat Air Hitam, ketika rambu lalu lintas berwarna merah, tampak seorang petugas berpakaian sipil mendekat dengan motornya. Irwan diminta menurunkan kaca mobil. Terlihat pistol ditodongkan dari tangan petugas tersebut.

Irwan menolak dan langsung tancap gas begitu lampu lalu lintas berganti hijau. Mobil diarahkannya ke Jalan Letjend Suprapto. Saat itu juga paket yang baru diambilnya dibuang ke pinggir jalan. "Sejak saat itu saya enggak tahu apa lagi yang terjadi. Saya syok. Kepala saya tundukkan di celah kursi mobil," sebut Ike.

Sepanjang kejar-kejaran, Ike dan Mike di kursi belakang hanya menjerit ketakutan. "Saya dengar suara tembakan. Cuma saya enggak lihat. Sepanjang jalan saya tutup wajah karena ketakutan," tambahnya.

"Saya enggak tahu apa-apa lagi setelah itu. Tahunya mobil kami jatuh ke parit. W melarikan diri. Saya lihat suami saya tidak sadarkan diri. Ada lubang di kepalanya," terangnya.

Ike dan Mike diamankan ke kantor BNNP Kaltim. Sedangkan Irwan dilarikan ke RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Sejak saat itu Ike tak lagi bertemu suaminya. Hingga pada Sabtu siang, Ike menyusul ke rumah sakit pelat merah tersebut.

Perasaan perempuan 23 tahun tersebut langsung tak enak ketika petugas tak membawanya ke ruang perawatan. Malah ruang jenazah yang dituju. Detak jantungnya mulai berdetak kencang. Air matanya satu per satu menetes. Petugas lalu menyampaikan bahwa suami yang menikahinya secara siri tahun lalu, meninggal dunia akibat peluru bersarang di kepalanya.

Ike menangis sejadi-jadinya. Bahkan jatuh pingsan di depan ruang jenazah. Petugas mencoba menahan dan menyadarkan Ike yang terkulai lemah. Sekitar lima menit ia tak sadarkan diri. Begitu sadar, Ike kembali menangis. Jenazah Irwan sudah dilihatnya berbalut kain kafan. Ketika diberi kesempatan melihat wajah Irwan, Ike kembali menjerit. Diciumnya wajah sang suami yang telah terbujur kaku. "Ayang, ayang," sebutnya dengan rintih.

Sesuai Prosedur

Humas BNNP Kaltim, Haryoto, mengakui Irwan meninggal akibat luka tembak di kepala. Terjadi karena perlawanan yang dilakukan kepada petugas. Bripka Efendy juga harus dirawat lantaran mengalami luka di bagian bibir, tangan, dan kaki.

Petugas semula mencegah terduga bandar sabu tersebut kabur dengan menodongkan senjata ke paha. Tapi pria 35 tahun itu mencoba merebut senjata. Hingga akhirnya terjadi tembakan. "Tindakan itu diambil petugas sesuai standar operasional karena pelaku melakukan perlawanan," tegas Haryoto. 

Terduga sabu itu meregang nyawa sekitar 01.25 Wita, Sabtu dini hari, 21 September 2019. Nyawanya tak tertolong setelah tujuh jam perawatan intensif oleh tim dokter. "Jenazah langsung dibawa ke Sangatta untuk dimakamkan. Perwakilan keluarga dari Kutim bernama Saharruddin, bersedia menjemput dan membawa jenazah Irwan ke Kutai Timur," pungkasnya.

BNNP Kaltim masih mendalami kasus tersebut dengan memintai keterangan Ike dan Mike. Pengejaran juga tetap dilakukan terhadap W. Dari aksi kejar-kejaran tersebut, petugas mengamankan sabu seberat 1009,43 gram yang terisi dalam 11 kantong plastik. Juga dua kantong ekstasi sebanyak 200 butir dengan berat 83,18 gram. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar