Mereka

Faktanya, Jokowi adalah Presiden yang Paling Rajin ke Kaltim

person access_time 4 months ago remove_red_eyeDikunjungi 1318 Kali
Faktanya, Jokowi adalah Presiden yang Paling Rajin ke Kaltim

Foto: Arditya Abdul Azis (kaltimkece.id)

Bukan sering seorang presiden melawat ke Kaltim. Namun, di antara yang jarang itu, Jokowi adalah yang paling sering.

Ditulis Oleh: Fel GM
25 Oktober 2018

kaltimkece.id Sorak-sorak bergempita memenuhi langit Samarinda Utara yang sedang teduh. Ribuan orang berteriak gembira begitu rombongan Presiden Joko Widodo mendekat. Setelah dinanti-nanti, orang nomor satu di Indonesia itu akhirnya melintas. Masyarakat menyambutnya di sepanjang jalan sedari Bandara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto di Sungai Siring hingga Lempake pada Kamis siang, 25 Oktober 2018. 

“Mana Pak Jokowi? Mana Pak Jokowi?” 

Demikian pekik satu di antara ratusan remaja berseragam batik sekolah di Jalan DI Panjaitan. Kibaran bendera merah-putih yang mereka bawa memenuhi jalur Samarinda-Bontang itu. 

“Itu Pak Jokowi! Hore, ada Pak Jokowi!” 

Dari dalam Mercedes-Benz S-600 Guard, kendaraan kepresidenan yang tahan peluru, Jokowi menurunkan kaca kiri belakang mobil. Dia melambaikan tangannya. Tercatat, sepanjang sekitar 20 kilometer perjalanan dari bandara di Sungai Siring menuju Stadion Madya Sempaja, Jokowi enam kali turun dari mobil. Sang presiden pun jadi “santapan” foto bersama oleh masyarakat.

Jokowi datang ke Samarinda untuk tiga hal. Pertama, meresmikan Bandara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto di Sungai Siring. Dari tempat yang sama, Presiden juga meresmikan Bandara Maratua di Berau. Setelah itu, Jokowi membuka Muktamar XXX Ikatan Dokter Indonesia di Convention Hall, Samarinda. Muktamar ini diikuti sedikitnya 1.500 dokter se-Indonesia. 

Agenda ketiga Jokowi di Kota Tepian adalah membagikan sertifikat tanah di kompleks Stadion Madya Sempaja, hanya selemparan batu dari Convention Hall. Selepas itu, pada sore hari, Jokowi langsung meninggalkan Samarinda.

Paling Rajin ke Kaltim

Selama empat tahun menjabat sebagai presiden, Jokowi telah empat kali datang ke Kaltim. Dengan demikian, dia menjadi satu-satunya presiden yang setiap tahun mengunjungi Bumi Etam. Bisa disebut lebih karena Jokowi juga telah mengunjungi pos perbatasan di Nunukan, yang kini menjadi bagian Kalimantan Utara. 

Kedatangan pertama Jokowi selaku presiden ke Kaltim pada 19 November 2015 atau setahun setelah dilantik. Jokowi tiba di Kawasan Industri Buluminung, Penajam Paser Utara. Dari sana, Presiden meresmikan pengoperasian Pabrik V PT Pupuk Kaltim di Bontang. Jokowi juga meletakkan batu pertama atau groundbreaking proyek Kereta Api Borneo, Kawasan Industri Buluminung dengan 10 techno-park, Pelabuhan Buluminung, jalan tol Balikpapan-Samarinda, dan Jembatan Pulau Balang.

Kedua kali lawatan Jokowi di Bumi Mulawarman dalam urusan sosialisasi tax amnesty di Balikpapan pada 5 Desember 2016. Kesempatan itu juga dipakai Presiden untuk blusukan melihat pembangunan embung di Desa Tani Bakti, Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara. Adapun kedatangan ketiganya pada 13 Juli 2017. Sesuai janji saat di Kawasan Industri Buluminung, Jokowi datang untuk mengecek progres pembangunan jalan tol Balikpapan-Samarinda. Berselang 14 bulan kemudian atau hari ini, 25 Oktober 2018, Jokowi kembali tiba di Samarinda. Intensitas kedatangan Jokowi yakni sekali setiap tahun menjadikannya sebagai presiden yang paling rajin ke Kaltim. 

Sebagai perbandingan, Soekarno, misalnya, hanya dua kali datang ke Kaltim selama menjabat 21 tahun sebagai presiden. Kedatangan pertama Sang Proklamator di Kaltim ketika ia berpidato di Lapangan Pemuda, Samarinda, pada 17 September 1950. Sementara itu, lawatan kedua Bung Karno adalah pada 1957, beberapa bulan setelah Kaltim berbentuk provinsi sebagaimana tercatat dalam buku berjudul Bung Karno: Menggali Pancasila, Kumpulan Pidato (2001). 

Presiden Soeharto sama saja. Dengan masa pemerintahan yang lebih panjang, 32 tahun, Soeharto hanya beberapa kali mengunjungi provinsi ini. Kehadiran pertamanya pada 20 Oktober 1968. Sama seperti Soekarno, Soeharto juga berpidato di Lapangan Pemuda. Namun, pidato Soeharto dalam kepentingan pemulihan kondisi politik dan keamanan setelah Gerakan 30 September 1965 (Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1958-23 Maret 1973, 1991)

Baca juga:
 

Selanjutnya, Soeharto datang untuk program transmigrasi di Datah Bilang, kini kampung di Kabupaten Mahakam Ulu (1976), peresmian Jembatan Mahakam (1986), dan peresmian rehabilitasi Bandara Sepinggan (1997). Ada beberapa kali lagi kunjungan Soeharto ke Kaltim, namun, intensitasnya bukanlah sekali setiap tahun. 

Tiga presiden setelah Soeharto, yakni Baharuddin Jusuf Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati, menjabat dalam waktu yang singkat. Gus Dur dan Megawati pernah sekali datang ke Kaltim. 

Selanjutnya adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Selama 10 tahun memimpin, SBY telah lima kali ke Kaltim. Kedatangan pertama Presiden keenam RI itu pada 16 Oktober 2006 dalam agenda safari Ramadan. SBY salat tarawih di Masjid Raya Darussalam Samarinda dan meninjau Bendungan Manggar di Balikpapan. 

Kedatangan berikutnya adalah pada pembukaan PON XVII Kaltim dan peresmian pembangkit listrik di Embalut (2008), peringatan Hari Koperasi ke-62 di Samarinda (2009), peletakan batu pertama sejumlah proyek masterplan percepatan pembangunan ekonomi Indonesia di Balikpapan (2012) dan (2014). Dengan catatan itu, SBY menjadi presiden kedua yang paling sering mengunjungi Kaltim setelah Jokowi. 

Setelah 68 Tahun

Pada 1950, tidak ada landasan pacu di Samarinda bagi Presiden Soekarno. Dia harus mendarat di Sungai Mahakam, tepatnya di Pelabuhan Samarinda. Adalah pesawat amfibi Catalina, pesawat pengintai dan pengebom pada Perang Dunia II, yang dipakai Soekarno. Pada masanya, pesawat tersebut banyak dimanfaatkan oleh perusahaan minyak di Kaltim, seperti dicatat Oemar Dachlan dalam Tokoh Pers Kaltim: Sejarah Karya dan Pengabdian (2003).

Samarinda baru benar-benar memiliki bandar udara pada 24 Juli 1974. Bandara Temindung saat itu didirikan di pinggir kota. Seiring kemajuan zaman, bandara dengan landasan pacu 1.160 meter tersebut terkungkung permukiman penduduk. Pemerintah kemudian mewacanakan pemindahannya sejak 30 tahun silam ke Sungai Siring. 

Dibangun dengan nama Bandara Samarinda Baru, kini Bandara APT Pranoto --nama barunya-- telah berfungsi. Presiden Jokowi bersama pesawat kepresidenan 737-800 Boeing Business Jet 2 dengan kapasitas ratusan penumpang, mendarat di Samarinda pada 25 Oktober 2018. Sebuah kemajuan dibanding 68 tahun lalu, manakala Presiden Soekarno lepas landas dari Sungai Mahakam dengan pesawat amfibi bermuatan hanya 10 orang. (*)

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar