Peristiwa

Mengenang Kejayaan PT ITCI, Perusahaan Mati Suri yang Lokasinya Menjadi Ibu Kota Negara

person access_time 1 year ago remove_red_eyeDikunjungi 12354 Kali
Mengenang Kejayaan PT ITCI, Perusahaan Mati Suri yang Lokasinya Menjadi Ibu Kota Negara

Potret anak-anak karyawan PT ITCI di sekolah yang disediakan perusahaan pada 1980-an (foto: Grup Facebook Alumni ITCI PT ITCI -https://www.facebook.com/groups/alumniITCI/)

Zona inti dan pengembangan ibu kota negara diperkirakan di lahan PT ITCI Kartika Utama. Perusahaan kayu yang pernah melewati masa keemasan. Lalu mati suri.

Ditulis Oleh: Giarti Ibnu Lestari
27 Agustus 2019

kaltimkece.id Dasukiono dan Armaniah adalah pasangan suami istri. Sang suami berasal dari Jogjakarta, sang istri dari Banjarmasin. Keduanya sama-sama bekerja untuk PT International Timber Corporation Indonesia (ITCI) Kartika Utama sejak 1973. Mereka tinggal di perumahan yang dibangun perusahaan. Lokasinya kini masuk wilayah administrasi Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara.

Sepanjang bekerja di PT ITCI Kartika Utama, Armaniah melahirkan empat anak. Yang sulung bernama Piery Efrianto. Piery lahir di Balikpapan, 6 November 1978. Saat ini, Piery yang berusia 41 tahun telah memiliki tiga putri. Ia bekerja di sebuah perusahaan swasta di Balikpapan. Ia menghabiskan masa kecil dan remaja di lingkungan PT ITCI Kartika Utama. Kepada reporter kaltimkece.id, Selasa, 27 Agustus 2019, Piery menceritakan kondisi perusahaan pada masa itu.

"Saya tumbuh besar di kompleks perusahaan. Dari TK hingga SMP, saya menuntut ilmu di (sekolah) ITCI," ucap Piery, memulai cerita.

Sebagai perusahaan kayu ternama, PT ITCI mempekerjakan karyawan dari sepenjuru Indonesia. Kehidupan harmonis di perumahan perusahaan pun terjalin erat. Para tetangga dengan ragam suku dan agama hidup rukun. Mereka seperti keluarga besar mengingat Sepaku waktu itu masih hutan lebat. Kehadiran PT ITCI di Sepaku memang seperti kota di tengah rimba raya. Jumlah karyawan berikut keluarga mencapai ribuan orang.

Untuk sampai ke lingkungan perusahaan, waktu itu harus melewati jalan berbatu. Jalur ini juga dipakai angkutan kayu (logging). Hanya jalan di area perumahan karyawan yang diaspal. Tidak ada batasan akses keluar-masuk perumahan ITCI. Karyawan dan warga desa sekitar seringkali saling berkunjung. Hanya akses ke perumahan para staf perusahaan yang dibatasi pada malam hari. Orang luar tidak sembarangan keluar-masuk. Ada portal yang selalu dijaga petugas keamanan.

Kejayaan PT ITCI tidak diragukan. Pada masa itu, tidak ada orang Kaltim yang tidak pernah mendengar nama PT ITCI. Kemajuan perusahaan tergambar jelas dari kompleks perumahan karyawan. Fasilitas perumahan ini gratis, seperti halnya air bersih dan listrik. Semua diberikan cuma-cuma. Perusahaan juga menyediakan sekolah dari taman kanak-kanak hingga SMA, rumah ibadah, juga rumah sakit.

"Catat, ya. Rumah sakit, bukan klinik,” tegas Piery melanjutkan ceritanya.

Sarana olahraga pun komplet disiapkan perusahaan. Sementara besar gaji dan porsi cuti karyawan PT ITCI tergolong sangat baik waktu itu. Piery tak lupa fasilitas lain yang diberikan perusahaan. Setiap beberapa kali dalam setahun, perusahaan menyediakan panggung hiburan. Banyak artis ibu kota yang diundang. Kelak, di tempat inilah ibu kota negara berada.

Dalam paparan kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro, lokasi ibu kota di sebagian PPU dan sebagian Kutai Kartanegara berada di tanah negara. "Sebagian besar lahan dipegang pemerintah. Ada pihak ketiga yang sedang membangun tetapi pemerintah punya hak menarik sesuai kebutuhan," jelas dia.

Keperluan lahan untuk pengembangan ibu kota negara diperkirakan mencapai 180 ribu hektare. Jika menelusuri kawasan Sepaku dan Samboja, dua kecamatan yang disebut sebagai lokasi ibu kota, hanya PT ITCI Kartika Utama yang memegang izin usaha dengan angka yang mirip kebutuhan negara.

Baca juga:
 

Kembali ke kisah Piery tentang kejayaan PT ITCI, karyawan diberi fasilitas perahu panjang atau longboat oleh perusahaan untuk perjalanan ke Balikpapan. Jadwalnya ditentukan. Dari lokasi ITCI, kapal berangkat pukul 07.00 dan 09.00. Dari Balikpapan, ada dua jadwal yaitu pukul 09.00 dan 16.00. Meskipun pada 1970-an sudah tersedia jalur darat melalui Kilometer 38 Samboja, maupun lewat Petung ke Penajam, karyawan dan keluarga lebih menyukai naik kapal.

Perusahaan juga memiliki sejumlah bus untuk angkutan kerja. Adapun fasilitas yang lain, adalah pesawat terbang. Karyawan yang cuti dapat menggunakan pesawat ini. Biasanya, perusahaan memberikan fasilitas liburan ke Pulau Jawa. “Plus uang saku," ingat Piery yang melanjutkan pendidikan SMA-nya di Balikpapan.

Pesawat ini kemudian dijual perusahaan. Diganti tiket pesawat dari Balikpapan ke Jakarta. Piery ingat, waktu itu terjadi perubahan kepemilikan perusahaan. Jika sebelumnya dipegang orang Amerika Serikat, PT ITCI kemudian dinasionalisasi. “Fasilitas kepada karyawan tetap baik, tapi mulai dikurangi sedikit,” lanjutnya.

Mati Suri

Sisa-sisa fasilitas perusahaan masih berdiri di jalur Samboja-Sepaku. Beberapa bangunan yang nampaknya digunakan sebagai kantor, berdiri membisu di tepi jalan. Rumah-rumah kayu mulai lapuk dimakan usia dan cuaca. Beberapa gapura juga masih berdiri. Dari jalan utama, kawasan PT ITCI tampak gundul di sisi luar.

Sabtu, 24 Agustus 2019, ketika reporter kaltimkece.id datang ke Sepaku, beberapa truk raksasa pengangkut kayu lalu-lalang melewati hamparan pohon karet. Menurut warga, kebun karet itu milik penduduk sekitar.

Baca juga:
 

Kejayaan PT ITCI Kartika Utama mulai runtuh seturut jatuhnya kekuasaan Orde Baru. Menurut Piery, orangtuanya ditawari pensiun dini. “Bapak saya mengambil pensiun dini pada 2001," jelasnya. Alasan perusahaan waktu itu, kondisi keuangan sudah tidak lagi baik. "Setelah itu, saya kurang mengikuti perkembangan karena otomatis tidak pernah ke sana lagi. Orangtua pindah ke Balikpapan,” sambung Piery.

Perusahaan disebut berhenti beroperasi beberapa tahun kemudian. Sebagian karyawan statusnya digantung. Tuntutan pesangon mencuat, yang akhirnya dibayarkan beberapa tahun kemudian. Dalam kondisi mati suri inilah, kepemilikan perusahaan beralih kepada Hasyim Djojohadikusumo.

Keseluruhan lahan PT ITCI adalah 173.395 hektare --hampir sama dengan keperluan pengembangan di luar zona inti ibu kota. Tanah yang dikelola perusahaan membentang dari Kelurahan Riko di Kecamatan Penajam hingga Kecamatan Sepaku di PPU. PT ITCI sampai hari ini memegang izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu (IUPPHK). Selaku komisaris utama perusahaan, adalah Hasyim Djojohadikusumo, yang tak lain tak bukan, adik kandung Prabowo Subianto. (*)

Dilengkapi oleh: Bobby Lolowang dan Fachrizal Muliawan

Editor: Fel GM

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar