Peristiwa

Pembangunan Istana Sultan Kutai, Hadiah dari Belanda, Mahakarya Arsitek Ternama

person access_time 3 years ago remove_red_eyeDikunjungi 6330 Kali
Pembangunan Istana Sultan Kutai, Hadiah dari Belanda, Mahakarya Arsitek Ternama

Ilustrasi istana Kesultanan Kutai yang kini menjadi Museum Mulawarman (sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI)

Sebuah hadiah
Istana nan megah
Berarsitektur mewah

Ditulis Oleh: .
Rabu, 24 Juli 2019

Ditulis oleh: Chai Siswandi
(penulis adalah warga Kota Bangun, Kutai Kartanegara, penggemar naskah-naskah sejarah Kutai)
 

kaltimkece.id Jalinan kerja sama antara Kesultanan Kutai dengan Belanda sudah berjalan hampir setengah abad ketika istana yang megah hendak dibangun di Tenggarong. Kesultanan dan Belanda memang telah berhubungan baik sejak 1888. Sebermula Sultan Kutai Aji Muhammad Sulaiman yang menerbitkan konsesi pertambangan minyak bumi kepada Jacobus Hubertus Menten, wakil dari Pemerintah Hindia Belanda. 

Dalam perjalanan, pertambangan minyak bumi di tanah Kutai seperti di Balikpapan dan Sangasanga begitu majunya. Pihak Belanda pun bahagia. Wujud kegembiraan atas kerja sama yang saling menguntungkan itu, Wilhelmina selaku ratu Belanda memberikan hadiah kepada Sultan. Sebuah istana megah di ibu kota kerajaan. Keraton pun mulai dibangun pada 1932. 

Hadiah ini tidak tanggung-tanggung mewahnya. Pemerintah Hindia Belanda bahkan melibatkan seorang arsitek kenamaan. Nama lengkapnya Henri Louis Joseph Marie Estourgie. Lelaki kelahiran Amsterdam, 17 Desember 1885. Anak ketiga dari pasangan Jean Henri Estourgie dan Henrietta Cecilia Clara Fisher. 

Sebelum merancang istana Kesultanan Kutai, Henri Estourgie telah mendesain pelbagai bangunan kolonial di Surabaya. Jejak karyanya masih tertinggal di Balaikota Surabaya, kantor PT Perkebunan Nusantara XI, gedung biara Suster Ruslin, berbagai pabrik, serta apartemen dan rumah. Desain gedung-gedung di sekitar kawasan Darmo, Surabaya, juga lahir dari buah pikirannya. Termasuk beberapa bangunan di Jakarta, Semarang, Madiun, dan Bondowoso.

Henri memulai karier di sebuah perusahaan konsultan arsitektur Cuypers di Amsterdam, Belanda, sejak 1906 sampai 1926. Profesi arsitek ia pilih karena mengikuti jejak sang kakak, Charles. Pada masa ini, Javasche Bank di Semarang meminta perusahaan tempat Henri bekerja mendesain ulang gedung mereka. Perusahaan yang bekerja sama dengan kontraktor utama proyek itu, Marius Jan Hulswit di Batavia, mengirim Henri dan Rijksen menangani desain tersebut. Mereka juga menyiapkan rancang bangun toko De Vries dan NHM di Bandung, serta tiga gedung lain di Surabaya. Tiga tahun di Hindia Belanda (nama Nusantara sebelum kemerdekaan), Henri Estourgie kembali ke Belanda. 

Henri memutuskan keluar dari perusahaan dan mendirikan firma bernama Rijksen & Estourgie pada 1926 sampai 1934. Ketika Perang Dunia I berakhir, Henri kembali ke Hindia Belanda. Tak hanya banyak gambar proyek arsitektur, ia membawa serta Johanna Hendrika Gesina Rossing, perempuan yang baru dinikahinya.

Pembangunan Istana

Henri telah menetap di Hindia Belanda ketika pembangunan istana Kutai telah empat tahun berjalan. Dalam buku berjudul An Indisch Career in Five Stages: A Brief Account of the Indisch Life and Works of Henri and Jean Estourgie, Dr Pauline KM van Roosmalen menyebutkan, Henri telah menjadi arsitek dengan pengalaman selama 30 tahun. Ketika itu, Henri telah memutuskan mendirikan biro miliknya sendiri bernama Arschitectenbereau Henri Estourgie pada 1935. 

Kebiasaan di Hindia Belanda, seorang arsitek lumrah bekerja sama dengan perusahaan lain meskipun memiliki biro sendiri. Demikianlah Henri Estourgie. Ia seringkali berkolaborasi dengan perusahaan konstruksi besar seperti Nederlandsche Aannemingsmaatschappij (Nedam) dan Hollandsche Beton Maatschappij (HBM). Kolaborasi bersama HBM inilah yang membawa Henri merancang istana di Tenggarong. HBM adalah kontraktor pembangunan istana.

Dalam tulisannya, Roosmalen menjelaskan, “Desain istana adalah hasil dari persaingan antara dua kontraktor dan arsitek mereka. Sultan Adji Moehamad Parikesit dari Koetai, yang menjadi juri kompetisi itu, lebih menyukai desain Henri daripada desain CP Wolff Schoemaker, arsitek yang diajukan oleh Algemeen Ingenieurs-en Architectenbureau (AIA), kontraktor kedua.” 

Dalam penilaiannya, Sultan Parikesit menganggap desain Wolff Schoemaker lebih bernuansa gaya oriental. Adapun rancangan dan konstruksi Henri, menurut Sultan, sangat ultra-Eropa dan modern. Jadilah karya Henri yang dipilih. 

Istana rancangan Henri Estourgie ini diakui memiliki banyak hal luar biasa pada zamannya. Sekaligus menunjukkan kemampuan Henri sebagai seorang arsitek. Hal ini kemungkinan tidak lepas dari faktor anggaran pembangunan istana yang disebut lebih baik, dibanding membangun bangunan keagamaan pada masa yang sama.

Henri merancang istana Sultan Kutai seluas 2.720 meter persegi dengan polesan gaya Eropa modern. Volume bangunan memakai banyak garis horisontal memanjang. Dinding-dindingnya berplester putih. Dilengkapi dengan kolom, kaca, dan atap datar. Ruang singgasana dinaikkan 2 meter dari atas tanah. Di bawah ruang takhta adalah fasilitas parkir untuk delapan mobil dan kotak keamanan. 

Gambaran terperinci istana pernah dimuat dalam Pandji Poestaka. Majalah berbahasa Melayu terbitan Balai Pustaka itu sempat melukiskan rancangan tersebut sebagai suatu gedung besar dan modern. Istana terbagi dua bagian besar, yaitu di depan bagian opisil dan di belakang bagian tempat diam. 

“Susunan bagian opsinil ialah sesudah naik di tangga batu, orang masuk ke serambi besar tempat Baginda Sultan menerima tamu (kemungkinan ini yang disebut orang dalam kitab-kitab: Balairung). Bersambung dengan itu, ada balai singgasana (troonzaal), tempat Baginda duduk di atas takhta kerajaan. Balai singgasana itu diapit kamar gamelan, kamar jazz band, kantor tempat Sultan bekerja, kamar bola sodok, dan di sisinya taman pustaka. Gedung itu berserambi di sekitarnya.

Serambi besar berdiri di bagian belakang. Serambi ini dikelilingi kamar peraduan Baginda Sultan maupun permaisuri. Ada pula kamar tempat bersantap. Serambi besar itu beratapkan kaca. Makanya, meski tertutup kamar-kamar di sekitarnya, cukup pencahayaannya. Di belakang itu semua, terdapat kamar-kamar lain yang dihuni tiap-tiap rumah tangga.

Istana baru itu menghadap Sungai Mahakam. Di antara istana dan sungai, dibuat taman bunga. Sebab itu, dari istana memandang keluar atau dari luar memandang istana, pemandangan selalu permai.”(Pandji Poestaka Vol 1, 1936, hlm 771).

Baca juga:
 

Henri Estourgie tak hanya merancang gedung. Ia memberikan sentuhan detail seperti memindahkan gambar para sultan terdahulu yakni Sultan AM Alimuddin dan AM Sulaiman --ayah dan kakek Sultan AM Parikesit. Gambar para sultan dipindah ke tegel bakar yang menghiasi balai singgasana istana. 

Ditawar Rp 65 Juta

Geolog sekaligus ahli soal Kalimantan, Bernard Sellato, pernah mencatat pembangunan istana Kesultanan Kutai. Dalam tulisannya berjudul Sultans' Palace and Museums in Indonesian Borneo: National Policies, Political Decentralization, Cultural Depatrimonization, Identity Relocalization, 1950-2010, Sellato menyebutkan pembangunan istana dimulai sejak 1932. Henri selaku arsitek kemudian menangani pembangunannya pada 1936. 

“Di Kalimantan Timur, istana lama milik sultan di Tenggarong yang terbuat dari kayu, dipindahkan sekitar awal abad 20 ke istana baru juga terbuat dari kayu dan masih disebut Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura,” demikian tulis Sellato. 

“Istana terakhir ini rusak oleh kebakaran, kemudian dibongkar dan dipindahkan di 1932, dengan membangun bangunan baru dari beton bergaya art Deco. Oleh arsitek Belanda Estourgie yang menanganinya lebih dalam pada 1936 untuk Sultan Kutai Aji Muhammad Parikesit. Setelah era kesultanan berakhir pada 1960, istana itu diambil alih seiring Konfrontasi Malaysia, di mana Sultan Kalimantan Timur itu diduga berpihak kepada Federasi Malaysia,” tulis Sellato lagi. 

Istana kemudian dijadikan museum pada 1971 oleh komandan militer Kalimantan. Terakhir, dialihkan pemerintah provinsi kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 1976. Istana tersebut dijadikan museum negara, Museum Negeri Mulawarman pada 1979. Saat ini, gedung museum telah diregistrasi sebagai cagar budaya kategori bangunan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui SK Menteri No 012/M/1999.

Ada sepotong kisah yang tercatat dalam berita koran Sinar Harapan bertanggal Samarinda, 8 April 1971, bertajuk Istana Eks Sultan Kutai Ditawarkan Rp 125 Juta. Warta menyampaikan bahwa Bupati Kutai Achmad Dahlan selaku pemerintah menyediakan uang sebesar Rp 65 juta untuk membayar ganti rugi bekas istana Sultan Kutai Kartanegara. Tapi, Sultan AM Parikesit dan keluarga meminta harga sebesar Rp 125 juta. Pemerintah tak menyanggupinya. 

Akhir Kisah Sang Arsitek

Pembangunan istana Kesultanan Kutai turut diceritakan dalam Salasilah Kutai (1981) karangan Adham --nama pena Bupati Kutai Achmad Dahlan. Sebagai pertanda dimulainya pembangunan istana, ditanamlah piagam (oorkonde) di dinding tangga sebelah kanan. Piagam ditandatangani Sultan Kutai AM Parikesit dan Residen Belanda untuk Kalimantan bernama WG Morggeustrom. Beberapa kerabat kesultanan yakni Aji Pangeran Sosronegoro, Aji Pangeran Ario Tjokro, dan Aji Pangeran Adi Kesoema, juga membubuhkan tanda tangan.

Piagam dimasukkan ke tabung yang terbuat dari seng. Tabung itu berdiameter 6,5 sentimeter dengan panjang 67 sentimeter. Di samping piagam, ditanam sebuah simpi (periuk tanah) yang diisi satu mata uang 20 US Dollar mas tahun 1887, satu mata uang 10 US Dollar mas tahun 1903, dan satu mata uang 5 US Dollar mas tahun 1885. Ditambah lagi satu mata uang ringgit perak Nederlands Indie tahun 1931, satu mata uang rupiah perak Nederlands Indie tahun 1929, satu mata uang setengah rupiah perak Nederlands Indie tahun 1921, dan satu mata uang picis logam kuningan berlubang segi empat di tengah. 

Ada pula periuk yang berisi satu biji berlian atau intan kecil warna kuning. Kemudian sebuah permata hijau (zamrud), sebuah permata merah, satu batu karang, dua biji kemiri, dua buah pala, satu potong malau, dan tiga potong sarang kelulut. Terakhir adalah satu batu biasa besar, satu batu biasa kecil, sehelai benang beranyam, dan sepotong kayu manis.

Hanya dalam setahun Henri terlibat, pembangunan istana Kesultanan Kutai kelar pada 1937. Istana ini baru ditempati Sultan Parikesit setahun kemudian atau pada 1938. Selama pembangunan, Sultan Parikesit tinggal di istana lain milik kakeknya, Sultan AM Sulaiman.

Baca juga:
 

Selepas masa kemerdekaan, suasana geopolitik Indonesia kurang bersahabat bagi orang-orang Belanda. Begitupun bagi Henri, sang arsitektur istana. Setelah memastikan tagihan pekerjaan selesai, termasuk pembayaran karyawan, Henri berpamitan kepada para kolega. 

Pada Maret 1958, Henri Estourgie dan keluarga kembali ke Belanda dengan membawa sedikit koper. Mereka tak kembali lagi ke Indonesia selamanya. Henri Estourgie kemudian wafat pada 1964. Ia dikebumikan di Nijmegen, Belanda. (*)

Editor: Fel GM

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar