Peristiwa

Sejarah Sungai Kerbau di Samarinda, Kuburan Pengukir Majapahit, Masuk SK Belanda, sampai Disebut GP

person access_time 5 months ago remove_red_eyeDikunjungi 8064 Kali
Sejarah Sungai Kerbau di Samarinda, Kuburan Pengukir Majapahit, Masuk SK Belanda, sampai Disebut GP

Nisan yang disebut kuburan keramat di Sungai Kerbau, Samarinda (foto: muhammad sarip for kaltimkece.id)

Permukiman di Sungai Kerbau diperkirakan sudah berdiri sejak enam abad silam. Berkelindan dengan relasi Kerajaan Kutai dan Majapahit.

Ditulis Oleh: Muhammad Sarip
08 Mei 2021

kaltimkece.id Ratusan orang telah berkumpul di sebuah aula tepat di tepi Sungai Kerbau, Samarinda. Begitu seseorang selesai membacakan doa, mereka menyantap sajian berupa nasi dan daging. Tak jauh dari jamuan tersebut, sebuah tunggul menancap di tengah sungai. Bukan tambatan perahu, tiang lebih mirip nisan yang sudah dikalungi rangkaian bunga. Pusara itulah yang menjadi tujuan utama orang-orang yang datang.

Sejak dekade 1990-an, hajatan di dekat nisan seperti ini sudah sering berlangsung di Sungai Kerbau. Warga menganggap bahwa tiang yang tertancap di dasar sungai itu adalah kuburan keramat. Ritual penghormatan di kampung  bagian timur-tenggara Samarinda tersebut biasanya disponsori orang Tionghoa. Nisan siapakah itu sebenarnya?

Kisahnya bermula enam abad lampau. Syahdan, dua ahli ukir diutus Raja Jawa untuk menangani ornamen istana Raja Kutai Kertanegara. Pada masa pemerintahan raja ketiga Kutai, Maharaja Sultan, ibu kota kerajaan belum pindah ke Tenggarong. Pusat pemerintahan Kutai Kertanegara masih di Tepian Batu, setelah pindah dari Jaitan Layar, kini Desa Kutai Lama di hilir Samarinda.

Dalam legenda cerita rakyat Nusantara, dua seniman bersaudara tersebut sukses dengan karya mereka di tanah Kutai. Keduanya pun mendapat tempat istimewa di sisi raja. Hal itu ternyata mengundang dengki sebagian orang dalam istana. Konspirasi pun disusun untuk menyingkirkan kedua ahli ukir tersebut (Cerita Rakyat Kalimantan Timur, 2012, hlm 59–61).

Sejumlah petinggi istana Kutai disebut menyiapkan intrik. Sebuah laporan fiktif disampaikan kepada raja. Bahwasanya, ahli ukir telah berbuat asusila terhadap dayang-dayang istana. Raja rupanya percaya. Para penghasut menyarankan, kedua ahli ukir tersebut dihukum mati.

Prajurit istana diperintahkan menangkap keduanya. Dalam masa penahanan, seorang ahli ukir meloloskan diri. Seorang yang tersisa segera dieksekusi mati di tepi Sungai Mahakam. Jenazahnya dibuang ke sungai. Akan tetapi, hal yang janggal terjadi. Jenazah hanyut bukan ke hilir, melainkan melawan arus ke arah hulu Kutai Lama. Jenazah berhenti tepat di muara Sungai Kerbau, sebuah anak Sungai Mahakam di Samarinda (Cerita Rakyat Daerah Kalimantan Timur, 1981, hlm 54–55).

Tradisi lisan yang dicatat Moh. Noor dkk dalam penelitian pada 1981 mengisahkan, penduduk Sungai Kerbau menaikkan jenazah ahli ukir tersebut ke daratan. Jenazah dimakamkan di daratan, tak jauh dari tepi sungai. Sebuah nisan berbahan kayu ulin dengan ornamen klasik dipasang sebagai penanda pusara. Keajaiban terjadi. Posisi nisan menjauhi muara kemudian menancap di tengah sungai.

Fenomena tersebut menimbulkan kepercayaan bahwa makam mempunyai mistik. Sosok yang dikebumikan ditengarai orang sakti. Penduduk menamainya “Kuburan Keramat”. Diksi kuburan—serapan dari bahasa Arab: qubur—lebih dipilih dalam tutur lisan penduduk Samarinda ketimbang diksi makam.

Kuburan Keramat Sungai Kerbau mulai sering dikunjungi orang-orang Tionghoa pada pertengahan abad ke-20. Mereka menggelar ritual tertentu untuk meminta wangsit atau inspirasi angka-angka perjudian. Pada 1980-an, banyak masyarakat yang menggandrungi perjudian nasional yang dilegalkan. Dari Porkas hingga Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB). Judi kupon untuk menebak hasil pertandingan sepak bola dikelola Departemen Sosial dan dipromosikan TVRI.

Pada awal 1990-an, seorang keturunan Tionghoa disebut menang SDSB setelah mengunjungi Kuburan Keramat. Ia lantas membangun aula permanen untuk hajatan dan merenovasi jembatan menuju kawasan ini. Sementara nisan tetap dibiarkan apa adanya. Tidak dibuatkan kubah atau pondok kecil untuk menaunginya (Sejarah Sungai Mahakam di Samarinda, dari Mitologi ke Barbarisme sampai Kemasyhuran, 2016, hlm 61).

Klaim Keliru Makam Wali

Pada 2011, sekelompok orang mendirikan pagar di sekeliling nisan dan atap yang menaungi nisan Kuburan Keramat. Kain kuning diselubungkan ke kayu nisan. Kontroversi muncul setelah papan nama dipasang di bangunan tersebut. Pelang itu bertulis “Keramat Wali Ukir Syeh Abdul Gufron”.

Nama yang dimaksud identik dengan mubalig atau pemuka agama Islam. Padahal, para orang tua dan tokoh agamawan setempat tidak mengetahui nama tersebut. Kaum muslimin di Kampung Sungai Kerbau juga tidak pernah mengadakan ritual khusus seperti haul dan sejenisnya untuk seorang yang dianggap tokoh alim, sebagaimana klaim tersebut.

Riset sejarah memperkuat kekeliruan klaim tersebut. Raja ketiga Kutai Kertanegara, sebagaimana zamannya folklor ahli ukir yang dimaksud, adalah Maharaja Sultan. Cucu Aji Batara Agung Dewa Sakti ini bertakhta pada 1360 hingga 1420.

Nama “Sultan” memang bernuansa keislaman atau terpengaruh bahasa Arab. Akan tetapi, Kerajaan Kutai pada abad ke-14 hingga pertengahan abad ke-16 masih menganut Hindu corak lokal. Maharaja Sultan bukanlah seorang muslim. Islam baru menjadi agama Kerajaan Kutai pada 1575 ketika periode raja keenam, Raja Makota, yang diislamkan Tuan Tunggang Parangan (Dari Jaitan Layar sampai Tepian Pandan Sejarah Tujuh Abad Kerajaan Kutai Kertanegara, 2018, hlm 74).

Sementara itu, kerajaan di Pulau Jawa yang memiliki relasi dengan Kutai pada masa Maharaja Sultan adalah Majapahit. Kitab klasik beraksara Arab Melayu, Surat Salasilah Raja dalam Negeri Kutai Kertanegara, mewartakan kunjungan studi banding Maharaja Sultan ke istana Majapahit. Raja Kutai bertemu dengan Mahapatih Gajah Mada dan Raja Majapahit untuk belajar perkara ketatanegaraan, adat istiadat, dan kebudayaan.

Dari catatan klasik tersebut, ahli ukir Majapahit yang tiba di tanah Kutai kemungkinan besar bukan juru dakwah agama Islam. Keduanya bukan syekh, bukan pula habaib, apalagi waliullah. Lazimnya, jika bukan Hindu, mereka penganut Buddha, sesuai situasi religiositas seniman Majapahit zaman tersebut.

Pelang Wali Ukir Syeh akhirnya dicopot pada 2014. Sampai hari ini, tidak ada pelang lagi di area Kuburan Keramat. Akan tetapi, foto lawas Kuburan Keramat yang berpelang Wali Ukir Syeh terlanjur beredar di media sosial. Hal ini dapat menimbulkan disinformasi dan cenderung hoaks.

Budaya dan kepercayaan penduduk mulai bergeser ketika seorang haji membantu penyembelihan hewan yang dikurbankan orang Tionghoa nonmuslim di Kuburan Keramat. Beberapa orang muslim turut menghadiri dan membantu memasak sampai menikmati penyajiannya di aula dekat nisan. Pada akhirnya, kalangan yang meminta berkah di Kuburan Keramat tak lagi didominasi warga Tionghoa nonmuslim, tapi juga pemeluk Islam.

Sungai Kerbau Zaman Kolonial dan Masa Kini

Sungai Kerbau merupakan anak Sungai Mahakam sekaligus nama kampung di ibu kota Kaltim. Toponiminya berhubungan dengan masa silam. Sungai ini merupakan tempat menggembala kerbau (Sejarah Sungai Mahakam di Samarinda, dari Mitologi ke Barbarisme sampai Kemasyhuran, 2016, hlm 59).

Sungai Kerbau pada era kolonial menjadi bagian paling penting di timur Samarinda. Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 28 April 1903 menetapkan Sungai Kerbau sebagai batas wilayah Vierkante-paal Samarinda bagian timur. Perihal ini ditetapkan dalam Besluit atau Surat Keputusan Nomor 25 yang ditandatangani Sekretaris Umum C.B. Nederburg (Samarinda Tempo Doeloe Sejarah Lokal 1200–1999, 2017, hlm 74).

Vierkante-paal adalah kawasan satu pal persegi sebagai tempat kedudukan Asisten Residen Afdeeling Oost Borneo atau pusat pemerintahan Hindia Belanda di Kaltim. Teks Sungai Kerbau dalam dokumen Hindia Belanda itu adalah “Soengei Karbauw”. Sayangnya, perkembangan Samarinda sejak menjadi kotapraja pada 1960, kotamadya, hingga kota, luput menjadikan Sungai Kerbau sebagai nama wilayah administratif. Berbeda dengan kampung tetangganya, Sungai Kapih, yang sejak 1999 berubah status dari desa menjadi kelurahan.

Sungai yang menjadi lokasi Kuburan Keramat juga sudah tak tampak fisiknya sekarang. Hanya sedikit di muara yang terlihat. Padahal, Sungai Kerbau dulunya bisa dimasuki jukung atau kelotok sampai melewati Kuburan Keramat. Sekarang mustahil sudah. Permukiman di atas sungai menyebabkan tepi sungai diuruk. Limbah rumah tangga lancar jaya masuk ke kali. Sungai pun mendangkal dan ditumbuhi semak belukar.

Aliran Sungai Kerbau yang sebelumnya selebar 10–20 meter, kini tersisa 2–4 meter. Itu pun lebih mirip parit daripada sungai. Walhasil, banjir sering merendam rumah-rumah di kawasan ini ketika hujan deras berjam-jam.

Nama Sungai Kerbau juga hampir menjadi kata arkais alias kata yang punah. Orang-orang yang baru menetap di Samarinda pada akhir abad ke-20 lebih sering mengucap lokasi tersebut dengan nama “GP”. Toponimi GP berasal dari perusahaan Amerika Serikat yang mendirikan pabrik kayu lapis. Namanya Georgia Pacific, berdiri di Sungai Kerbau pada awal 1980-an. Penduduk setempat menyebutnya dengan singkatan GP, yang dibaca menurut ejaan Indonesia: gépé, bukan ejaan Inggris: jipi (Sejarah Sungai Mahakam di Samarinda, dari Mitologi ke Barbarisme sampai Kemasyhuran, 2016, hlm 63).

Baca juga:
 

Perusahaan GP kemudian digantikan PT Kalimanis Group milik pengusaha Bob Hasan. Akan tetapi, kebiasaan masyarakat menyebut GP tetap berlanjut hingga sekarang walaupun perusahaan sudah kolaps sejak akhir abad ke-20. Kepunahan toponomi Sungai Kerbau dari sejarah masih terselamatkan oleh pelang nama “Puskesmas Pembantu Sungai Kerbau.” Ada pula fasilitas kesehatan yang melestarikan sungai legendaris ini dalam papan nama “Klinik Sungai Kerbau”.

Kampung Sungai Kerbau di ibu kota Kaltim merupakan satu dari jejak masa kejayaan industri kayu lapis rezim Orde Baru. Kuburan Keramat menjadi ikon hikayatnya. Kehidupan di pinggiran dan di luar pusat kekuasaan pun layak ditulis dalam sejarah. (*)

Penulis adalah alumnus Sertifikasi Kompetensi Penulis Sejarah Kemdikbud, tinggal di Samarinda.

Editor: Fel GM

Senarai Kepustakaan

  • Desianti, Mery. 2012. Cerita Rakyat Kalimantan Timur. Tangerang Selatan: Karisma Publishing Group.
  • Noor, Moh., dkk. 1981. Cerita Rakyat Daerah Kalimantan Timur. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.
  • Sarip, Muhammad. 2016. Sejarah Sungai Mahakam di Samarinda, dari Mitologi ke Barbarisme sampai Kemasyhuran. Samarinda: Komunitas Samarinda Bahari.
  • Sarip, Muhammad. 2017. Samarinda Tempo Doeloe Sejarah Lokal 1200–1999. Samarinda: RV Pustaka Horizon.
  • Sarip, Muhammad. 2018. Dari Jaitan Layar sampai Tepian Pandan Sejarah Tujuh Abad Kerajaan Kutai Kertanegara. Samarinda: RV Pustaka Horizon.
  • Thahir, Khatib Muhammad. 1849. Surat Salasilah Raja dalam Negeri Kutai Kertanegara. (Aksara Arab Melayu).
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar