Humaniora

Kebaikan Hati dan Pengabdian Pensiunan Perawat yang Wafat Bersujud di Masjid Teluk Dalam, Kukar

person access_time 8 months ago remove_red_eyeDikunjungi 1943 Kali
Kebaikan Hati dan Pengabdian Pensiunan Perawat yang Wafat Bersujud di Masjid Teluk Dalam, Kukar

Almarhum Hasan saat wafat dalam posisi sujud di Masjid Al-Qamar, Teluk Dalam, Tenggarong Seberang (foto: aldi budiaris/kaltimkece.id)

Almarhum menjadi perawat selama 35 tahun di Muara Kaman. Dikenal amat baik oleh warga sekitar. Ia wafat dalam posisi sujud saat salat zuhur.

Ditulis Oleh: Aldi Budiaris
04 Februari 2021

kaltimkece.id Matahari sudah tepat di atas kepala. Tak lama lagi, salat zuhur tiba. Agus, 54 tahun, imam sekaligus pengurus Masjid Al-Qamar, sibuk menggelar sajadah. Ketika waktu zuhur tiba pukul 12.26 Wita, ia pun segera melantunkan azan.

Rabu, 3 Februari 2021, banyak jamaah yang sudah datang ke masjid di Desa Teluk Dalam, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara, tersebut. Kebanyakan jamaah adalah pengendara yang melintas di jalur Samarinda-Tenggarong. Masjid ini memang berdiri tepat di tepi jalan poros. Posisinya berseberangan dengan SD 007 Teluk Dalam. Pagar dan menara masjid bercat hijau. Berandanya luas dengan alas keramik krem.

Agus yang baru saja menyelesaikan azan bersiap memimpin salat berjamaah. Lelaki asal Kalimantan Selatan itu sempat menoleh sebentar ke belakang. Ia ingin memastikan barisan makmum sudah terisi.

“Di sebelah kiri belakang, saya melihat seorang bapak. Ia berbaju putih, bercelana cokelat, dan ada di barisan pertama,” tutur Agus kepada reporter kaltimkece.id, Kamis, 4 Februari 2021.

Salat zuhur pun selesai. Agus menoleh ke belakang lagi. Dia merasa ada yang janggal di barisan pertama makmum. Laki-laki yang sempat ia perhatikan sebelumnya masih saja sujud tahyat akhir. Tidak bangun-bangun hingga salat selesai. Bersama beberapa jamaah, Agus mendekati sosok yang bersujud itu. Mereka mencoba memanggil tetapi tidak menjawab. Ketika diperiksa lagi, laki-laki paruh baya itu sudah meninggal dunia.

Nama jamaah yang wafat itu adalah Hasan, sebagaimana identitas yang ditemukan di saku celananya. Usia Hasan 62 tahun. Mendiang berdomisili di Desa Benua Puhun, RT 03, Kecamatan Muara Kaman, Kukar. Pekerjaannya adalah pensiunan pegawai negeri sipil.

Kepada kaltimkece.id melalui sambungan telepon, Ardiansyah, 45 tahun, berbicara mewakili kerabat almarhum. Ardiansyah juga Kepala Desa Benua Puhun, tempat mendiang berdomisili. Menurutnya, almarhum Hasan bersama istrinya, Hajah Mili Agustina, bertolak dari kediaman pada Rabu siang, pukul 11.00 Wita. Keduanya hendak ke Samarinda untuk berbelanja kebutuhan pokok.

Berangkat dengan mobil, almarhum Hasan duduk di kursi kemudi. Di tengah perjalanan, roda empat yang mereka tumpangi mengalami gangguan mesin. Pasangan suami istri itu lantas singgah di sebuah bengkel di Teluk Dalam. Sembari menanti mobil diperbaiki, Hasan pergi ke masjid terdekat. Waktu zuhur memang hampir tiba. Setelah pamit kepada istrinya, almarhum menuju masjid yang berjarak kira-kira 200 meter dari bengkel.

Mili Agustina masih menanti suaminya di bengkel mobil ketika waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 Wita. Masih menurut keterangan Ardiansyah, Mili mulai gelisah. Suaminya belum kunjung kembali dari masjid. Tak sengaja, istri mendiang mendengar percakapan warga di sekitar bengkel. Ada yang meninggal di Masjid Al-Qamar. Mili Agustina pun datang ke masjid tersebut. Betapa terkejut dia karena suaminya telah tiada dalam posisi sujud.

“Istri almarhum sama sekali tak menyangka, pamitnya sang suami ke masjid untuk beribadah adalah percakapan terakhir mereka,” sambung Ardiansyah.

Perawat yang Mengabdi 35 Tahun

Almarhum Hasan adalah seorang pensiunan perawat. Ketika masih bekerja, ia bertugas di Puskesmas Pembantu Desa Benua Puhun. Mendiang mengabdi sebagai perawat selama 35 tahun. Sepanjang bertugas, terang Ardiansyah, almarhum dikenal sungguh-sungguh menjalani profesinya. Mendiang Hasan tidak kenal waktu ketika melayani. Pukul berapapun ada orang sakit ke puskesmas, ia selalu ada.  

“Beliau juga sering mendatangi kediaman warga untuk memberikan layanan kesehatan,” imbuh Ardiansyah lagi.

Setelah pensiun, almarhum sibuk mengurus kebun sawit miliknya. Ia meninggalkan tiga anak, dua perempuan dan seorang laki-laki. Seorang dari putrinya mengikuti jejak Hasan sebagai tenaga kesehatan di desa tersebut.

Baca juga: 

 

Kamis pagi, 4 Februari 2021, almarhum dikebumikan di dekat tempat tinggalnya, Desa Benua Puhun. “Semoga almarhum khusnul khotimah," kata Ardinansyah.

Orang baik tentulah diberikan tempat yang terbaik. (*)

Editor: Fel GM

 

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar