Humaniora

Kisah Rangga dan Aqila, Kakak-Beradik Berusia Delapan Tahun yang Berjualan Tahu Gunting di Tenggarong

person access_time 2 months ago remove_red_eyeDikunjungi 1178 Kali
Kisah Rangga dan Aqila, Kakak-Beradik Berusia Delapan Tahun yang Berjualan Tahu Gunting di Tenggarong

Aqila Nurasiva menjual tahu goreng di Jalan Imam Bonjol, Tenggarong, Kukar (foto: aldibudiaris/kaltimkece.id)

Keduanya masih duduk di kelas empat dan tiga SD. Berjualan demi membantu ibu mereka yang menjadi orangtua tunggal.

Ditulis Oleh: Aldi Budiaris
24 Agustus 2021

kaltimkece.id Pagi masih buta tetapi Rangga Aditya, 9 tahun, dan Aqila Nurasiva, 8 tahun, sudah sibuk di depan penggorengan. Kakak-beradik tersebut mulai membantu ibu mereka menggoreng tahu dan keripik. Ketika matahari sudah merangkak naik, Rangga dan Acila bergegas mendorong gerobak dagangan tahu gunting dari kediaman mereka di Jalan Danau Lipan, Tenggarong, Kutai Kartanegara. Tak lupa mereka berdoa agar jualan hari itu laku semua.

Selasa, 24 Agustus 2021, Rangga dan Aqila telah tiba di Jalan Imam Bonjol, ruas protokol di Tenggarong. Mereka mulai menyiapkan lapak dagangan. Payung di atas gerobak dipasang baik-baik. Tahu dan keripik Rangga taruh di etalase kaca mungil di gerobak tersebut. Ketika hari beranjak siang, keduanya sudah melayani beberapa pembeli. Rangga dengan cekatan menggunting tahu, cabai hijau, dan menuangkan bumbu. Sementara adiknya, Aqila, bertugas mengemas tahu gunting di dalam bungkus plastik.

“Kami sudah setahun berjualan di sini setiap hari,” tutur Rangga ketika ditemui kaltimkece.id. Kisah keduanya sempat menjadi buah bibir di jagat media sosial di Kutai Kartanegara.

Tahu gunting yang dijual kedua anak harganya Rp 10.000 per bungkus. Ada pula keripik pisang dengan harga Rp 3.000 per bungkus. Rangga mengaku, mereka bisa meraup Rp 200 ribu dalam sehari.

"Tapi kadang-kadang juga lebih kecil. Enggak tentu," sambung Rangga.

Rangga melanjutkan, mereka berjualan tahu gunting untuk membantu keuangan keluarga. Lagi pula, mereka selama ini masih sekolah daring. Rangga duduk di kelas empat sedangkan Aqila di kelas tiga. Keduanya bersekolah di sebuah madrasah di Tenggarong. Untuk menyiasati waktu belajar daring, keduanya sering membagi tugas berjualan berdasarkan waktu. Dari pukul 08.00 Wita hingga pukul 12.00 Wita, Aqila yang berjualan. Lewat tengah hari, giliran Rangga.

Rangga dan Aqila adalah dua dari enam bersaudara. Rangga anak kelima, Aqila anak bungsu. Ibu mereka, Ana, adalah orangtua tunggal karena sang ayah telah lama wafat. Usaha tahu gunting ini sebelumnya dijalankan ibu Rangga dan Aqila. Akan tetapi, sang ibu mendapat pekerjaan yang lain. Menurut Rangga, ibunya menjadi tukang kebun sekolah dan harus bekerja setiap pagi. Sementara pada siang hari, ibunya bekerja sebagai asisten rumah tangga. Akhirnya, usaha tahu gunting tersebut dilanjutkan Rangga dan Aqila. Ibu mereka yang setiap pagi menyiapkan dagangan, mulai mengolah tahu, bumbu, hingga menggoreng keripik.

“Kakak-kakak kami ada yang telah berkeluarga. Ada yang merantau di daerah lain, ada pula yang berjualan ikan di Pasar Tenggarong,” jelas Rangga.

Baik Rangga maupun Aqila mengaku senang berjualan. Mereka bahagia karena bisa membantu keluarga. Rangga menuturkan, seluruh pendapatan dari dagangan tersebut diserahkan kepada ibunya. Tidak sepeser pun diambil karena Rangga tahu, uang tersebut juga untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Baca juga:
 

Kisah Rangga dan Aqila ini terjadi di kabupaten yang baru saja mendapat predikat mentereng. Pada 29 Juli 2021, Kukar kembali menerima penghargaan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) tingkat madya 2021. Penghargaan diberikan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) I Gusti Ayu Bintang Darmawati secara virtual. (*)

Editor: Fel GM

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar