Humaniora

Sekelumit Haru dari Rumah Lansia FJDK di Samarinda, Pengorbanan bagi Mereka yang Ditelantarkan

person access_time 7 months ago remove_red_eyeDikunjungi 1471 Kali
Sekelumit Haru dari Rumah Lansia FJDK di Samarinda, Pengorbanan bagi Mereka yang Ditelantarkan

Seorang lansia yang dirawat di Rumah Lansia FJDK di Samarinda (foto-foto: samuel gading/kaltimkece.id)

Rumah lansia dan yatim piatu ini berdiri di Air Hitam, Samarinda. Sebagian penghuninya adalah orangtua yang ditelantarkan anak mereka.

Ditulis Oleh: Fel GM
17 Februari 2021

kaltimkece.id Air mata Randy Sri Astutu nyaris tumpah ketika mendengar cerita petugas Satuan Polisi Pamong Praja yang mengantar seorang nenek. Kepada pengurus Rumah Lansia dan Yatim Piatu Forum Jalinan Persaudaraan Kalimantan (FJDK) itu, petugas mengatakan bahwa perempuan tua yang mereka bawa telah ditelantarkan anaknya. Nenek 67 tahun bernama Aminah itu sudah dua hari menginap di kantor Satpol PP Samarinda.

Juni 2020 silam, Sri segera mengurus nenek Aminah yang masih kelihatan linglung. Menurut keterangan petugas, nenek itu ditemukan di dekat Pasar Pagi setelah berkeliaran selama berhari-hari pada Januari 2020. Dari penelusuran Satpol PP, nenek Aminah tinggal di Samarinda Seberang bersama putrinya. Petugas pun mengantarkan Aminah ke sana. Putri Aminah yang berusia 30 tahun ternyata tak mau merawat ibunya.

“Rumah kami sempit,” jawab putri Aminah kepada petugas Satpol PP, seperti ditirukan Sri.

Mendengar perkataan itu, jiwa Aminah terguncang hebat. Ia depresi hingga kewarasannya hilang. Perempuan malang itu lantas dirawat di RSJD Atma Husada Mahakam. Ia berkeliaran lagi di jalan-jalan Kota Tepian enam bulan kemudian. Ketika ditemukan Satpol PP untuk kedua kalinya, Aminah dibawa ke Rumah Lansia dan Yatim Piatu FJDK.

Di panti wreda tersebut, Sri yang penasaran dengan keluarga Aminah mengunggah video di media sosial. Video yang viral pada September 2020 tersebut membuat keluarga Aminah menghubungi Sri.

"Mereka pernah berkunjung ke sini tetapi tidak tampak ada penyesalan," kata Sri kepada reporter kaltimkece.id, Selasa, 16 Februari 2021. "Saya bilang kepada keluarganya, ajak saja dulu nenek itu jalan-jalan beberapa hari. Mereka menolak," sambungnya.

Nenek Aminah kini menjadi penghuni Rumah Lansia dan Yatim Piatu FJDK bersama 19 jompo yang lain. Ia sedang duduk di atas kasur busa yang dilapisi seprai ungu ketika kaltimkece.id tiba. Rambutnya putih. Badannya bungkuk. Pandangannya kosong menatap pintu rumah seperti sedang menunggu seseorang. Sesekali, perempuan renta itu meminum teh hangat di sebelah tempat tidurnya. Sesekali yang lain, ia menangis sendirian.

Mengurus Lansia dan Anak Yatim

Rumah Lansia dan Yatim Piatu FJDK diampu Sri dan suaminya, Mochammad Fadly. Panti sosial itu berdiri di Jalan AW Sjahranie, Perumahan Griya Ratindo Blok E No 10, Air Hitam, Samarinda Ulu. Bangunannya terdiri dari dua lantai berukuran 6 meter x 7,5 meter.

Lantai pertama terdiri dari ruang tamu dan kamar berisi empat tempat tidur untuk anak-anak. Kamar itu dilengkapi ayunan dan tempat bermain. Kamar yang lain, masih di lantai satu, dilengkapi lima kasur. Para lansia laki-laki tidur di sini. Sementara seluruh kamar di lantai dua dipakai para lansia perempuan.

Di panti tersebut, Sri dan suaminya mengurus 20 lansia, seorang remaja disabilitas, dua remaja terlantar, dan satu bayi. Para lansia paling banyak berusia 50-60 tahun, yang tertua berusia 92 tahun. Empat lansia terserang stroke, seorang mengidap amnesia, dua lansia menderita keterbelakangan mental, dan seorang lagi kakinya diamputasi.

"Untuk anak-anak, ada yang dititipkan keluarga karena tidak punya kemampuan finansial. Paling kecil baru berusia tujuh bulan," urai Sri. Hampir semua penghuni panti ini punya kisah seragam. Mereka kebanyakan telantar karena ditinggalkan sanak famili. "Rata-rata berawal dari laporan di group Facebook Bubuhan Samarinda," terang Sri.

Mengurus lansia juga bukan hal mudah. Sri menuturkan, perlu ketekunan dan kesabaran ekstra menghadapi orang berumur. Perilaku mereka kadang-kadang seperti anak-anak. Lagi pula, para lansia juga harus mengenakan popok dewasa.

"Wah, itu (mengganti popok lansia) harus kerja keras. Jangan sampai mereka bisa melepas celana sendiri. Nanti keteteran kalau mereka lagi buang air," kata Sri. Mengenai kerewelan, perempuan ini melanjutkan, “Saya pernah diterakin gara-gara terlambat mengantarkan teh. Coba bayangkan," katanya lalu tertawa.

Jatuh Bangun Mengurus Panti

Sebermula pada 2016, Sri dan Fadly aktif dalam kegiatan sosial ketika FJDK berdiri. Mereka pernah membantu perawatan seorang kakek bernama Sulaiman, 78 tahun. Ketika sudah pulih, Sulaiman ternyata tidak punya tempat tinggal. Sri dan suaminya pun membawa kakek itu. Setelah itu, mereka mulai menerima lansia-lansia berikutnya. Setelah berjumlah 10 lansia, Sri dan Fadly memutuskan membangun panti pada 2018. Pada awalnya, rumah lansia berlokasi di Jalan Ulin, kemudian pindah ke Jalan M Said, dan sekarang di Air Hitam.

“Seluruh biaya untuk pendirian panti adalah dari dana pribadi dan donasi,” jelas Sri yang sempat membuka usaha angkringan. Adapun suaminya, pekerja borongan bangunan.

Mochammad Fadly selaku ketua Rumah Lansia dan Yatim Piatu FJDK bercerita, panti pernah kehabisan uang. Ia mengatakan, biaya operasional panti tidak sedikit. Untuk makan saja, kata Fadly, kurang lebih Rp 23 juta sebulan. Ongkos tersebut belum termasuk kontrak rumah Rp 33 juta per tahun. Pengurus mengaku, beberapa kali keteteran terutama pada masa pandemi.

"Sebenarnya tak ingin melebih-lebihkan, tapi saya pernah menjual laptop buat bayar tagihan air,” tutur Fadly.

Kendati demikian, panti tidak pernah sampai tutup. Rumah lansia ini dinaungi LSM Forum Jalinan Persaudaraan Kalimantan (FJDK). Jika kepepet, 12 pengurus rumah lansia beserta enam pengurus FJDK patungan. Tidak lupa, mereka selalu berdoa agar makin banyak uluran tangan para dermawan.

Selalu ada jalan bagi mereka yang berniat baik. Hari-hari ini, donasi datang silih berganti. Operasional panti masih terus terjaga. Rezeki pun turut menghampiri Fadly dan Sri. Suami-istri itu kebetulan harus membayar sewa rumah mereka (bukan sewa panti) pada awal Februari ini. Fadly mengaku, belum memegang uang. Ia bahkan sempat berpikir agar tinggal di panti saja bersama para lansia dan anak-anak.

"Ketika kami mencari kontrakan, pemilik rumah tahu bahwa saya dan Sri adalah pengurus panti. Pemilik kontrakan bilang, yang penting dirawat rumahnya, ya," kata Fadly. Ia pun tidak perlu membayar sewa rumah. 

Baca juga:

 

Rumah Lansia dan Yatim Piatu FJDK kini juga sudah terdaftar di Dinas Sosial Kota Samarinda. Mulai Maret ini, panti diharapkan bisa mendapat bantuan Rp 16 juta per triwulan. Ditambah bantuan dari orang-orang berhati baik di Samarinda, Fadly dan Sri optimistis, keberlangsungan panti terus terjaga.

"Begitulah kenyataannya. Sepanjang kita baik kepada orang lain, balasan yang baik pasti kita terima," ucap Fadly diiringi anggukan Sri. Siapa yang menanam kebaikan, dialah yang akan menuainya. (*)

Editor: Fel GM

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar