Wawancara

Kisah Lengkap Wahib, Pasien Positif Covid-19 di Balikpapan yang Berjuang untuk Sembuh

person access_time 2 months ago remove_red_eyeDikunjungi 48050 Kali
Kisah Lengkap Wahib, Pasien Positif Covid-19 di Balikpapan yang Berjuang untuk Sembuh

Muhammad Wahib Herlambang, pasien Covid-19 yang dirawat di RSUD Kanudjoso Djatiwibowo, Balikpapan (foto: koleksi pribadi)

Berawal dari sebuah seminar di Bogor, ia terinfeksi SARS-Cov-2. Berikut penuturan lengkapnya berjuang melawan Covid-19.

Ditulis Oleh: Arditya Abdul Azis
31 Maret 2020

kaltimkece.id Dari dalam ruangan dengan luas kira-kira 15 meter persegi, Muhammad Wahib Herlambang menerima panggilan kaltimkece.id. Laki-laki ini punya kulit sawo matang, sedikit beruban, memelihara janggutnya, dan mengenakan kacamata. Ketika menerima wawancara online, ia sedang mengenakan pakaian seperti jubah. Warnanya kelabu, selaras dengan pecinya. Wajahnya juga terlihat segar. 

Selasa, 31 Maret 2020, adalah hari ke-13 Wahib dirawat di ruang isolasi Rumah Sakit Umum Daerah Kanudjoso Djatiwibowo, Balikpapan. Kondisinya makin membaik setelah dikonfirmasi positif Covid-19. Wahib adalah satu dari 15 pasien yang diisolasi di rumah sakit tersebut. 

Setelah bertanya kabar sejenak, Wahib mulai menceritakan pengalamannya kepada kaltimkece.id. Kami menuliskan pemaparannya melalui sudut pandang orang pertama. Kisah di bawah ini seluruhnya sesuai dengan penuturan Wahib. Hanya di beberapa bagian tulisan, kami melakukan penyesuaian semata-mata demi kenyamanan pembaca mengikuti cerita. Berikut ini penuturan Wahib selengkapnya. 

Nama saya Muhammad Wahib Herlambang. Seorang laki-laki berusia 44 tahun yang amat menyukai seni bela diri. Saya punya bisnis roti yang perkembangannya cukup menggembirakan. Saya memang ber-KTP Kutai Kartanegara walaupun sebenarnya tinggal di Balikpapan. Di kota inilah, bisnis saya itu berjalan. 

Suatu hari pada Februari 2020, sebuah agenda telah menanti. Saya ingat, hari itu cukup cerah ketika tiba di Bandara Sultan AM Sulaiman Sepinggan tepatnya pada 23 Februari 2020. Ada tiga rekan saya yang lebih dahulu sampai di bandara. Dua orang dari Balikpapan, seorang lagi dari Samarinda. Sesuai janji, kami berempat akan satu pesawat menuju Bogor, Jawa Barat. Sebuah acara telah menanti kami semua. 

Setiba di Bogor, saya mengikuti seminar ekonomi syariah. Seminar itu berakhir pada 28 Februari 2020. Acara yang bagus karena saya mendapat sejumlah ilmu untuk menunjang bisnis kuliner saya. Saya pun pulang ke Balikpapan keesokan harinya, 29 Februari 2020. Sebuah perjalanan yang menyenangkan. Semua baik-baik saja dan saya tidak mendapat firasat apapun.

Saya pun tiba di Balikpapan. Semua biasa-biasa saja kecuali media yang makin ramai membahas perkembangan virus corona. Waktu itu, pada akhir Februari, belum seorang pun warga Indonesia dinyatakan terjangkit virus tersebut. Pemberitaan masih seputar pemulangan anak buah kapal Diamond Princess yang sempat dikarantina di Jepang. 

Baru dua hari kemudian, seingat saya, Presiden Joko Widodo mengumumkan dua kasus pertama Covid-19. Kasus ini berada di Depok yang masih satu provinsi dengan Bogor yang saya kunjungi itu. Sedikit waswas terbersit di benak saya. Apalagi, badan saya saat itu tiba-tiba tidak enak. Saya terserang meriang. Hidung saya tidak bisa mencium bau apapun.

Saya memilih beristirahat di rumah saja sambil minum vitamin. Hari berganti hari tetapi kesehatan saya belum juga pulih. Pada saat itulah, sebuah kabar mengejutkan saya terima di grup WhatsApp. Seorang peserta seminar yang saya ikuti, terkonfirmasi positif Covid-19. Peserta itu berasal dari Solo, Jawa Tengah. 

Meskipun kaget, saya berusaha tetap tenang. Kepanikan hanya memperburuk keadaan. Saya pun segera menghubungi call centre Covid-19. Petugas lantas meminta saya menjalankan isolasi mandiri. 

Isolasi ini saya lakukan seketat mungkin. Saya betul-betul menjaga jarak dengan istri dan anak. Saya cukup memahami protokol penanganan Covid-19 berkat informasi dari televisi maupun di dunia maya. Sepanjang isolasi mandiri ini, komunikasi dengan tim Dinas Kesehatan Balikpapan terus berjalan. Seingat saya, petugas medis beberapa kali datang untuk memeriksa kesehatan. 

Senin, 16 Maret 2020, saya mengambil inisiatif datang ke RSUD Kanudjoso Djatiwibowo. Saya datang sendiri, mengendarai mobil sendiri. Setelah diperiksa, saya diminta pulang dan kembali melanjutkan isolasi mandiri. Nantinya, kata tim medis kepada saya, ada informasi selanjutnya.

Hari itu, Rabu, 18 Maret 2020, ketika saya menerima panggilan lagi. Saya diminta lekas-lekas datang ke RSUD. Saya juga disuruh membawa pakaian salin. Dalam hati kecil, saya sudah tahu yang sebenarnya terjadi. Saya segera menyiapkan perlengkapan pribadi. Saya masukkan semua ke mobil lalu saya menyetir ke rumah sakit. Sendirian. Sepanjang perjalanan itu, pikiran saya sudah ke mana-mana.

Tempat parkir rumah sakit tidak begitu ramai tetapi juga tidak sepi. Di pintu depan, beberapa petugas berpakaian lengkap dengan alat pelindung diri sudah menyambut. Saya tak perlu banyak bertanya untuk mengetahui kemalangan yang menimpa saya ini. Saya langsung dibawa ke ruang isolasi. Malam harinya, masih pada Rabu, 18 Maret, saya menerima kabar lagi. Pemprov Kaltim mengumumkan bahwa teman saya yang di Samarinda, yang bersama-sama mengikuti seminar, juga positif Covid-19.

Makanya, ketika keesokan pagi saya dikabari positif Covid-19, saya tidak terlampau terkejut. Yang harus saya lakukan, pikir saya waktu itu, adalah menyesuaikan diri di ruang isolasi. Bagaimanapun, ruangan ini tentu tidak lebih nyaman dibanding ketika di rumah.

Ruangan ini sama seperti ruang perawatan di rumah sakit kebanyakan. Ada sebuah pintu, kamar mandi, dan tentu saja tempat tidur. Di sebelah ranjang, ada sebuah meja dan kursi plastik hijau. Sebuah pesawat televisi adalah teman setia saya. Ruangan ini tidak memiliki jendela sehingga tak seberkas pun sinar matahari yang masuk. Seandainya tidak ada jam di ponsel, saya tidak pernah tahu hari sudah pagi atau masih malam. 

Di ruangan inilah saya melewati kehidupan selama 13 hari terakhir. Makanan tentu saja terjamin, tiga kali sehari. Plus, ada snack-nya. Petugas medis datang dua kali sehari. Mereka sudah dilengkapi APD. Saya harus memuji para petugas medis ini yang bekerja dengan profesional. Jujur saya katakan, saya diperlakukan dengan sangat baik di sini. 

Para petugas ini mengecek tanda-tanda vital saya seperti denyut, tekanan darah, dan lain-lain. Ada beberapa kali juga, mereka mengambil spesimen untuk diuji di laboratorium. Ada satu kejadian yang tidak saya lupakan selama di rumah sakit. Suatu hari, saya harus berpindah ruang isolasi. Prosedurnya sangat ketat. Saya dipindahkan pada tengah malam. Semua memakai pelindung yang lengkap. 

Setelah 13 hari di ruang isolasi, tentu saya bohong jika berkata tidak merasa bosan. Saya hanya seorang diri. Tidak ada yang bisa saya ajak bicara kecuali lewat ponsel. Dan saya terus-menerus di dalam ruangan yang sama. Namun begitu, bagi saya, kebosanan itu terbayar. Kondisi tubuh saya terus membaik. 

Satu-satunya obat membunuh sepi itu adalah panggilan video istri dan anak-anak. Kami membuat panggilan video bersamaan karena anak saya ada yang kuliah di Pulau Jawa dan di Mesir. Meskipun berjauhan, ketika panggilan video itu, kami terasa sangat dekat. 

Cara lain untuk mengatasi kebosanan adalah membuat video. Saya rekam aktivitas di rumah sakit lalu saya bagikan kepada teman-teman. Saya sering berolahraga di dalam ruangan termasuk berlatih pencak silat. Saya takut, kalau tidak olahraga, nanti kegemukan begitu keluar dari rumah sakit. Soalnya, saya sehari-hari hanya makan dan tidur. 

Saat ini saya sudah merasa sehat. Sudah tidak ada gejala sama sekali dan tinggal menunggu hasil laboratorium. Keluarga di rumah juga diisolasi secara mandiri. Mereka dipantau tim dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Balikpapan.

Demikianlah perjalanan saya yang terinfeksi Covid-19. Saya berharap, kisah ini tidak ditanggapi berlebihan oleh masyarakat. Saya sengaja menceritakan hal ini agar menjadi inspirasi bagi kita semua melawan penyebaran virus tersebut. Saya berharap, kita tidak menyebarkan berita bohong yang menimbulkan ketakutan. Saya sendiri pernah mengalaminya. Saya dikabarkan dalam kondisi kritis saat dibawa ke rumah sakit. Padahal tidak. Saya menyetir sendiri. Mobil saya masih di tempat parkir rumah sakit. 

Akhir kata, saya adalah saksi hidup orang yang melawan virus ini. Saya sangat berharap kita semua dapat mengikuti imbauan pemerintah. Kita bisa menjaga jarak dengan orang lain, menjaga kesehatan, dan tetap disiplin mencuci tangan. Uang memang bisa dicari, tapi tidak dengan nyawa. (*)

Editor: Fel GM

Baca juga ulasan mendalam kami yang lain:
 
Ikuti berita dan ulasan berkualitas kaltimkece.id dengan menyukai halaman Facebook kami berikut ini:

 

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar