Cerpen

Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-21): Dibuntuti

person access_time 3 weeks ago remove_red_eyeDikunjungi 140 Kali
Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-21): Dibuntuti

Ilustrasi: Nurmaya Liwang (kaltimkece.id)

Ketika menyatakan perasaan tak semudah yang dibayangkan. 
(Ingin membaca cerita bersambung ini dari awal? Ketuk di sini). 
 

Ditulis Oleh: Es Pernyata
22 Oktober 2019

HIDUP adalah rentetan kejadian. Kejadian itu ada yang dapat diduga, ada pula yang tiba-tiba di luar perkiraan dan harapan. Dugaan, apalagi yang sifatnya pribadi, subjektif, bisa saja meleset.

Hipotesis yang disusun dengan mempertimbangkan fenomena, teori, dan berbagai kecenderungan, setelah diteliti bisa saja tidak terbukti. Apalagi dugaan yang didasarkan perasaan sendiri.

Mata dan telinga terbatas. Mata tidak bisa membaca apa yang tersirat di setiap batin manusia. Maka, kesimpulan yang didasarkan pada yang tampak, kerap tidak sesuai kenyataan. Itulah makanya ada ungkapan, 'janganlah menilai buku dari sampulnya.'

Telinga pun terbatas. Apalagi telinga manusia. Telinga manusia tidak bisa mendengar bisikan lirih, desahan gelisah, dan kegalauan hati. Gelisah yang bertengger di setiap batin orang-orang yang menderita, sengsara, takut, sakit akut, dan demam asmara.

Siapapun dia. Entah ia pejabat, juga penjahat. Entah dia politisi, maupun akademisi. Sesungguhnya, hidupnya pasti melampaui suatu masa yaitu demam asmara. Bedanya hanya pada ekspresi. Ekspresi beda-beda. Ada yang terbuka, ada yang tertutup. Ada yang tersurat, ada yang tersirat. Ada yang terang-terangan, ada yang sembunyi-sembunyi. Ada yang menyatakan, banyak pula yang memendam.

Yang memendam itu umumnya adalah wanita. Menjadi persoalan di kehidupan sosial kalau ada wanita yang menyatakan cintanya terang-terangan. Bagi wanita, menyatakan cintanya kepada pria adalah pelanggaran etik. Ibarat manajemen, itu pelanggaran standar operasional prosedur.

Karena sifatnya menunggu, menjadi konsekuensi bila nasib wanita terletak kepada kesabaran dalam penantian dan terus berdoa. Apakah ini ketidakadilan? Kalau itu adalah ketidakadilan, mengapa pula tidak ada wanita --baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama, memprotes atas ketidakadilan dan memulai gerakan menyatakan cinta kepada pria yang ditaksirnya?

Barangkali itu sudah insaniahnya wanita. Manusiawi. Kodrat. Akan berbeda kalau menunggu menjadi gaya hidup pria. Bisa-bisa tidak berjodoh sampai akhir hayatnya.

Apakah kemudian setiap pria selalu berani menyatakan cintanya? Tidak! Buktinya Burhan Magenta. Meski dianggap cerdas  dan pemberani sebagaimana telah ditunjukkannya saat membela Anita yang hampir menjadi korban pencopetan di Pasar Pagi, nyatanya lelaki ini tidak berani menyatakan cintanya pada Ratih.

Apakah setiap wanita selalu tertutup dan menunggu? Tidak juga. Kalau begitu, Anita terbuka? Dia berani menyatakan cintanya kepada Burhan Magenta? Ya, Anita berani menyatakannya. Sayangnya tidak langsung. Ia menyatakannya kepada Murni Murai dan Ratih. Ia mengungkapkan perasaannya kepada kedua sahabatnya itu dan berharap mereka bisa menyampaikan kepada Burhan Magenta.

"Tapi jangan to the point. Bilang saja bahwa menurut pengamatan kalian, aku itu punya perhatian khusus kepadanya. Setelah itu, lihatlah reaksinya. Bila ada tanda-tanda positif, suruh dia menyatakan cintanya kepadaku. Segera saat itu juga kunyatakan kuterima. Jelas, kan?" Anita berkata kepada kedua sahabatnya.

"Gampang itu. Yang penting, ini tidak gratis," sahut Murni Murai. Murni mendapat gelar Murai karena suka berkicau. Suka bercerita. Bercerita apa saja. Mulai dari urusan makanan, kesukaan, kucing peliharaan, setrika baju, sabun colek, bawang bombay, bawang dayak, es krim kesukaannya, eye shadow, bedak, parfum, pedicure menicure, rebonding, wedges, high heels, sulam alis, sulam bibir, spa kuping, spa puser, pasta gigi, dan uang panai.

"Kamu harus juga sampaikan perasaanku kepada RP. Aku naksir dia. Aku senang suaranya. Merdu. Dia juga baik," kata Murni Murai kepada Anita.

"Wah, itu gampang. Segera kusampaikan perasaanmu kepada RP."

"Tapi diplomatis, ya! Jangan sebut aku yang naksir. Bilang saja, menurut pengamatanmu. Kalau isyaratnya oke, suruh dia menyatakannya kepadaku terus terang."

Anita tertawa. Murni Murai tertawa. Ratih tersenyum. Tersenyum kecut.

"Ratih, kamu juga bantu aku, dong," kata Anita membujuk Ratih.

"Kukira, cukuplah Murni yang menyampaikan. Ini kan persoalan yang amat pribadi. Tidak boleh banyak orang yang tahu. Kalau aku ikut juga menyampaikannya, itu justru tidak baik bagi dirimu, Anita. Seperti pedagang baju lagi buat program sale," kata Ratih serius.

Anita terdiam. Tampak ia terkejut. Ia tak sampai memikirkan dampak bagi dirinya. Benar juga. Ini adalah persoalan rahasia yang tidak mesti diumbar kepada banyak orang.

"Di situlah aku beruntung punya sahabat bernama Ratih. Pertimbangannya selalu matang. Dewasa. Kamu benar, aku nanti tampak seperti murahan. Jadi, cukup kamu Murni," kata Anita kepada Murni Murai lagi.

Murni Murai tertawa. Anita juga. Ratih, seperti biasa, tersenyum saja.

Beralasan ada buku yang akan dicarinya ke perpustakaan, Ratih pun pamit kepada kedua sahabatnya. Ia pergi bergegas bagai penumpang yang takut ketinggalan kereta.

Ia mengambil ruang baca di pojok. Di situlah dia menyesali dirinya. Tapi dia tidak tahu harus menyalahkan siapa. Tidak pula tahu harus bagaimana. Ratih menganggap dirinya seperti sedang bertemu di simpang jalan yang sepi. Jalan yang tidak ia kenal. Harus menyimpang ke kanan ataukah memilih simpang ke kiri.

Bagaimana mungkin ini terjadi? Bagaimana mungkin ia harus berterus terang kepada Anita bahwa dia menaksir orang yang sama? Burhan Magenta. Mengapa Burhan Magenta hanya ada seorang? Mengapa Burhan Magenta kuliah di sini sehingga Ratih mengenalnya dan diam-diam juga menaksirnya?

***

Sementara itu, di tempat lain, di kantin, Iyan Banjar, Ulis Harat, juga tengah ngobrol dengan Burhan Magenta. Iyan Banjar dan Ulis Harat tahu bahwa sahabatnya yang cerdas ini sebenarnya jatuh cinta kepada Ratih namun tak berani mengatakannya.

"Kalau kau suruh aku manjat pohon kelapa, biarlah itu kulakukan. Kalau kau suruh aku push up 100 kali, biarlah kucicil lima kali. Asal jangan kau suruh aku berterus terang pada Ratih. Itu berat. Berat, kawan."

Iyan Banjar tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat Burhan. Ulis apanya lagi. Ia terpingkal-pingkal. Tawa keduanya mengagetkan pengunjung kantin. Semua mata menoleh ke mereka. Iyan tak peduli. Ia terbahak-bahak lagi sampai bola matanya nyaris keluar dari kelopaknya.

"Laki-laki yang kukenal dan paling pengecut yang aku tahu, ialah dirimu, Burhan. Ganti saja jeans-mu dengan rok."

"Ya, aku pun tahu, Burhan ini pria atau banci? Mungkin dia pria tapi bukan laki-laki," timpal Ulis Harat.

Ulis memang dikenal sok berani. Apalagi untuk menyatakan cintanya, tiada tandingan. Sebelas kali sudah ia menyatakan cinta kepada gadis pujaannya, sejak SMA hingga kuliah. Sayang, tak seorang pun yang mau menerima.

Nasib serupa melanda Iyan Banjar. Ia pernah menyatakan cintanya kepada adik tingkat. Adik tingkat itu mahasiswa baru. Karena Iyan naksir berat, tanpa banyak pertimbangan, ia temui pujaan hatinya itu. Ia nyatakan cinta tulusnya dengan wajah sangat-sangat sungguh sehingga terkesan lebay; dibuat-buat.

"Tujuh hari tujuh malam sudah kupertimbangkan. Sudah pula aku meminta nasihat kawan-kawanku. Bahkan seorang kawanku memberiku mantra untuk menyatakan perasaanku kepadamu. Aku naksir kamu," cerita Iyan Banjar tentang pengalamannya.

"Terus bagaimana respons gadis itu?" Burhan Magenta bertanya tak sabar. Siapa tahu kalimat itu bisa ia copas --copy paste-- salin ulang.

"Aku ini orang Bugis. Tidak ada adat kami seperti itu. Kalau kau naksir aku, pergilah menghadap orangtuaku, keluargaku. Siapkan uang panai. Kalau tidak punya seratus juta, jangan coba-coba, nanti kamu malu, keluargamu malu. Mau? Begitulah jawab gadis itu. Pelan-pelan aku mundur. Kutinggalkan dia. Aku pergi ke seberang jalan. Di situ kan ada penjual es buah. Aku pesan es teh," kata Iyan Banjar. Ia tertawa-tawa lagi. Keras sekali suaranya.

"Gila. Kamu gila," kata Ulis dengan suara tak kalah nyaringnya. Perutnya yang agak buncit bergoyang-goyang. Ia terpingkal-pingkal dahsyat. Ia batuk-batuk. Minuman di atas meja habis. Dia segera ke ibu kantin minta air mineral kemasan botol.

"Catat ya, Bu, besok kubayar."

"Yang kemarin juga belum dibayar, lho," jawab Bu kantin.

Burhan Magenta berdiri. Ia membayar semua minuman. Termasuk utang Ulis Harat kemarin. Burhan Magenta tak punya banyak uang. Tapi untuk membayar minuman sahabatnya itu, masih bisa ia sisihkan dari pendapatannya sebagai sopir angkot di luar jam kuliah.

"Hei, mau ke mana?" Iyan Banjar bertanya saat melihat Burhan keluar kantin. Yang ditanya hanya menunjuk. Entah ke mana. Iyan dan Ulis menyusul Burhan.

"Begini saja. Bagaimana kalau aku yang akan menyampaikan cintamu kepada Ratih?"

"Lalu kau ucapkan kalimat yang sudah kau hafal itu? Kau baca mantra tak manjur itu? Buktikan dulu oleh kalian. Kalau kalian sudah punya pacar, tunjukkan padaku. Nanti aku akan perlihatkan juga pacarku, Rita Marshanda Jelita."

"Ha? Siapa itu?" Tanya Ulis?

"Itu gadis dari negeri Alenka, putri raja yang jatuh cinta pada anak Indonesia, Burhan Magenta," jawab Burhan sambil berlari-lari kecil ke toilet.

***

Perkuliahan berakhir. Hari sudah di ambang senja. Ratih menuju parkir. Sesaat kemudian, ia sudah menyusuri jalan kampus dan akan membelok ke kanan, ke arah jembatan Mahakam. Sangat tidak disadarinya, sejak sepeda motornya keluar dari tempat parkir hingga jalan lingkungan kampus dan berbelok ke kanan di simpang jalan lingkungan dan jalan raya, seorang lelaki mengawasi dan membuntutinya dari belakang. (bersambung)
 
Serial selanjutnya, ketuk
Tentang penulis 
Syafruddin Pernyata atau Es Pernyata, lahir Loa Tebu (Tenggarong), 28 Agustus 1958. Alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Mulawarman serta Program Studi Linguistik (Magister) Universitas Padjadjaran Bandung. Pernah bekerja sebagai guru,  dosen,  wartawan, dan birokrat. Tugas sebagai birokrat ialah Karo Humas, Kepala Dinas Pendidikan, Kaban Perpustakaan, Kepala Diklat, dan Kepala Dinas Pariwisata Kaltim. 
Karya yang diterbitkan: Harga Diri (kumpulan cerpen),  Aku Mencintaimu Shanyuan (novel),  Nanang Tangguh dan Galuh Intan (novel), Belajar dari Universitas Kehidupan (kisah motivasi), Ujar Mentor Jilid 1 dan 2 (buku motivasi), Zulaiha (novel), Aku Bulan Kamu Senja (novel), Awan (novel).
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar