Cerpen

Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-22): Pertemuan di Rumah Ratih

person access_time 1 year ago remove_red_eyeDikunjungi 788 Kali
Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-22): Pertemuan di Rumah Ratih

Ilustrasi: Nurmaya Liwang (kaltimkece.id)

Jatuh cinta berjuta rasanya. Apapun bisa dilakukan dengan sukarela.
(Ingin membaca cerita bersambung ini dari awal? Ketuk di sini). 

Ditulis Oleh: Es Pernyata
23 Oktober 2019

YUSUF Kertanegara termasuk manusia langka. Keras hati. Jika yakin yang dilakukan benar, dia tidak akan pernah surut ke belakang. Jika pilihan sudah dijatuhkan, pantang berpaling hati sebelum jalan memang-memang benar buntu. Sementara jalan untuk mencapai tujuan tidak pernah tunggal.

Satu saja yang bisa menghalangi ia melangkah yaitu bila jalan itu salah. Menurut Yusuf, binatang saja tak pernah sesat. Lalu, mengapa manusia yang memiliki kekuatan pikiran dan ketajaman perasaan harus menyerah?

Tak berani melangkah adalah orang-orang yang kalah sebelum bertanding. Orang-orang yang berbalik arah karena takut tersesat adalah orang-orang pengecut. Pengecut adalah milik para pecundang. Pecundang adalah milik orang-orang yang tak percaya diri. Orang-orang yang tidak percaya bahwa kesungguhan itu adalah pembuka jalan adalah orang-orang yang tidak bersyukur.

Otak; akal pikiran, adalah modal dari segala modal. Bukankah otak adalah pembeda antara manusia dengan binatang? Binatang saja selalu bisa mencari makan, lalu, mengapa manusia bisa kelaparan kalau bukan karena kemalasan?

Kemalasan adalah sumber dari segala sumber kemiskinan. Malaslah yang membuat orang bodoh. Malaslah yang menjadi perintang orang untuk sukses. Malaslah yang membuat orang sulit mengangkat kepalanya dari bantal dan karena itu rezeki yang dihamparkan Allah ke muka bumi dipatuk ayam. Rezeki di laut dimakan ikan, paus, hiu juga plankton-plankton yang halus, kurus, nyaris tak gampang terlihat mata.

Mungkin gaya hidup yang sudah mendarah daging seperti itu yang membuat Yusuf mampu melewati halang rintang, tembok, duri yang selalu ada di setiap perjalanan untuk mewujudkan segala harapan. Termasuk urusan cinta. Meski belum pernah berpengalaman, Yusuf menggunakan segenap kekuatan pikiran dan perasaannya. Ia tak menyerah untuk dapat menemui Ratih meskipun gadis itu tak punya telepon untuk bisa dihubungi.

Cukup berbekal tempat kuliahnya, Yusuf sudah tahu yang harus dilakukannya. Ia mengintai Ratih di kampusnya. Ia mengawasi setiap wanita yang menggunakan sepeda motor yang keluar dari tempat parkir. Gampang saja. Ia melihat Ratih mulai dari berjalan menuju sepeda motor, memasukkan kunci, memundurkan sepeda motornya, dan meninggalkan tempat parkir menuju jalan lingkungan kampus hingga berbelok ke kanan, ke jalan raya.

Ratih tak tahu bahwa ia dibuntuti. Ia tetap saja mengendarai sepeda motornya dengan tenang melewati Jembatan Mahakam, Jalan Slamet Riyadi, Antasari, dan kemudian berhenti sejenak di kedai yang menjajakan kue-kue tradisional, tak jauh dari simpang tiga Air Putih Muara.

Sejak dulu, kawasan yang disebut sebagai simpang tiga Air Putih Muara dikenal sebagai pusat kue tradisional. Sebagian pedagang adalah orang-orang Banjar yang sudah bermukim di sini turun-temurun, mungkin sudah ratusan tahun. Di sini tersedia kue tradisional seperti dadar gulung, laksa, buras, amparan tatak pisang, putu mayang kundur nasi, bingka, dan yang paling terkenal jengkol.

Jengkol Muara Air Putih terkenal di mana-mana. Banyak pelancong dari Balikpapan, Tenggarong, dan Bontang yang singgah untuk membeli kue itu. Lebih-lebih bila bulan Ramadan. Pedagangnya bertambah banyak. Kue pun lebih beragam.

Ratih membeli bingka kentang kesenangan ibunya dan laksa kesenangan ayahnya. Sejak menerima imbalan sebagai konsultan pengembang usaha pariwisata Pantai Bahagia Muara Badak dari Haji Acok, kesulitan finansial sudah mulai teratasi. Apalagi perubahan demi perubahan terus dilakukan. Haji Acok dan keluarganya semakin semangat mengembangkan kawasan itu. Gapura pintu masuk menuju dermaga Pantai Bahagia telah menjadi buah bibir di mana-mana.

Dunia maya, terutama di media sosial Facebook dan Instagram, bertaburan foto-foto keelokan gapura dari sudut pandang berbeda. Gaya hidup orang-orang yang suka bepergian ke tempat wisata lalu berswafoto telah membantu tingkat kunjungan ke Pantai Bahagia.

Untuk mencapai Pantai Bahagia, bermalam atau hanya seharian, mesti melalui Gapura Pinisi ini. Di sinilah tempat parkir yang aman dan nyaman. Di sinilah wadah transit yang paling oke karena tersedia cafetaria, toilet, kamar mandi, dan musala.

Bahkan, area sekitar cafetaria telah mencengangkan banyak orang. Cafetaria di sekira 30 meter dari pantai itu lebih terlihat sebagai bangunan terbuka yang luas dikelilingi taman yang indah dan bercita rasa tinggi di sebelah daratnya. Sementara di sebelah laut, cafetaria dikitari beranda luas seperti dermaga dengan kursi-meja dan payung warna-warni yang terasa sebagai simbol keindahan khas pantai.

Ratih semakin sering ke Muara Badak. Ide-ide kreatif, unik, dan selalu berbeda membuat Muara Badak menjadi pilihan tamasya warga Samarinda, Bontang, Tenggarong, dan Balikpapan. Bahkan, mulai banyak pendatang dari luar ke Samarinda dan Balikpapan yang menyempatkan datang ke Muara Badak sebelum pulang.

Pertumbuhan signifikan semakin terasa ketika bandara APT Pranoto beroperasi. Bandara itu tak jauh dari Muara Badak. Tak lebih setengah jam dari bandara ini, Muara Badak sudah bisa dicapai.

Pengelola tempat wisata yang duluan sudah eksis pun berbenah. Bagai berlomba, mereka membangun fasilitas pendukung. Di Muara Badak telah dikenal kawasan yang diberi nama Pantai Jingga, Pantai Mutiara, Pantai Harapan, dan Pantai Panrita Lopi. Sebagai pendatang baru, Pantai Bahagia telah menginspirasi pengelola pantai-pantai yang semula tak bertuan.

Ratih telah mendapatkan masukan berarti dari kawan-kawannya di program studi desain produk Politeknik Samarinda. Masukan berupa perahu motor yang digunakan sebagai sarana transportasi bagi pengunjung ke Pantai Bahagia pulang pergi. Perahu motor itu sangat berbeda. Perahu motor yang diberi nama Sandek Baru adalah dua perahu yang digandeng dengan penghubung berupa papan. Perahu motor bermesin speedboat 2 x 40 PK ini sangat aman karena tak longgar. Yang mencengangkan, perahu motor ini berlantai dua. Di bagian atas menyerupai balkon bisa menampung 10 orang. Karena bermesin speedboat, pergerakan perahu sangat fleksibel. Laju bisa, pelan bisa, mundur pun bisa.

Haji Acok terkagum-kagum atas ide-ide kreatif dan mencengangkan ini. Ia memanjakan Ratih dengan menaikkan imbalan setiap bulan menjadi Rp 5 juta. Padahal, Ratih tidak meminta.

Bagi Haji Acok, imbalan itu pantas dinaikkan. Pendapatan dari pengunjung yang semakin banyak terus meningkat. Tidak saja hari libur, pada hari kerja pun usahanya banyak dikunjungi rombongan. Mulai rombongan pemerintah maupun swasta. Umumnya mereka mempunyai kegiatan seperti gathering, out bond, sosialisasi, diklat, bimbingan teknis. Sebagian pula memang liburan.

Ratih melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Yusuf yang berhenti sekira 10 meter di depan Ratih melihat melalui kaca spion. Ratih pun mengikuti dari arah belakang. Sore berlalu, ambang petang menjelang saat Ratih tiba di rumahnya. Yusuf Kertanegara sengaja memarkir mobilnya agar jauh dari rumah Ratih. Saat dilihatnya Ratih sudah menaiki tangga beranda depan rumah panggung itu, ia bergegas menyusul.

Baru saja Ratih masuk ke rumah, ia mendengar pintu depan diketuk. Ia membuka pintu. Jantungnya berdegup keras karena di depannya berdiri pemuda gagah. Pemuda yang bajunya pernah ternoda oleh kelalaian Ratih saat bekerja di warung makan Haji Nanang Kaya.

Ratih berdiri mematung. Ia bingung. Dari mana Yusuf, eh Bang Yusuf, yang bertemunya di pusat perbelanjaan alat rumah tangga dan bangunan itu tahu rumahnya? Bukankah ia tak pernah memberi alamat? Tidak pula memberi nomor telepon karena memang tak punya --selain merasa belum memerlukannya?

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Ratih masih gelagapan. Yusuf pun belum meneruskan kalimatnya. Mulutnya bagai terkunci. Lidahnya kelu. Ia telah mendengar dari Purwati --istri Haji Nanang Kaya-- akan kesederhanaan kehidupan Ratih. Cerita itu nyata adanya. Hampir ia meneteskan air mata melihat rumah yang amat sederhana. Bangunan kayu yang sudah tua namun terpelihara.

Kekaguman Yusuf itu bercampur aduk dengan rasa iba. Ia tidak bisa membayangkan jika adiknya yang tinggal di Jakarta itu harus kuliah sambil bekerja dan tinggal di rumah yang sesederhana ini. Mengapa Yusuf selalu makan siang di warung sederhana milik Haji Nanang Kaya itu kalau bukan karena pandangan pertamanya kepada Ratih yang melayani dengan menawarkan menu.

Saat itu, ia dalam perjalanan dari Balikpapan. Ia kelaparan karena sejak berangkat dari rumah, ke bandara, dan tiba di Balikpapan. Ia belum makan sama sekali. Yusuf mampir di warung itu dengan sopirnya. Selain soto ayam Banjar itu sangat cocok di lidahnya juga karena melihat gadis cantik cekatan, ramah, yang melayaninya.

Sejak itu, Yusuf selalu makan siang di situ. Bukan karena soto ayam Banjar semata yang ia senangi, ia ingin mengenal lebih jauh yang telah menarik perhatiannya. Yusuf selalu mencari peluang untuk bisa bercakap-cakap dengan Ratih. Sayangnya, Ratih selalu sibuk dengan pelanggan. Yusuf belum juga pernah punya kesempatan untuk bercakap-cakap lebih dalam dengan gadis yang telah mengusik hari-harinya di Kota Tepian hampir dua tahun ini. Kecuali saat insiden air minum tumpah yang mengenai bajunya dan perjumpaan di pusat perbelanjaan alat rumah tangga dan bangunan.

Bagai memburu peluang usaha yang dinilai prospektif, Yusuf mencari tahu siapa Ratih lebih jauh. Berbekal informasi tempat kuliahnya itulah yang membawa Yusuf sekarang berdiri di depan pintu rumah Ratih dengan lidah kelu. Kemampuannya bernegosiasi dalam menjalankan usaha tak berarti di depan gadis yang telah mencuri perasaannya. Padahal, perasaan tercuri itu sudah ada di depan mata. Ia bingung karena gadis di depannya tak juga menyuruhnya masuk. Yusuf berdiri mematung. Ratih pun tiada bedanya. (bersambung)

Serial selanjutnya, ketuk 

Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-23): Berhati-hatilah

Tentang penulis 
Syafruddin Pernyata atau Es Pernyata, lahir Loa Tebu (Tenggarong), 28 Agustus 1958. Alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Mulawarman serta Program Studi Linguistik (Magister) Universitas Padjadjaran Bandung. Pernah bekerja sebagai guru,  dosen,  wartawan, dan birokrat. Tugas sebagai birokrat ialah Karo Humas, Kepala Dinas Pendidikan, Kaban Perpustakaan, Kepala Diklat, dan Kepala Dinas Pariwisata Kaltim. 
Karya yang diterbitkan: Harga Diri (kumpulan cerpen),  Aku Mencintaimu Shanyuan (novel),  Nanang Tangguh dan Galuh Intan (novel), Belajar dari Universitas Kehidupan (kisah motivasi), Ujar Mentor Jilid 1 dan 2 (buku motivasi), Zulaiha (novel), Aku Bulan Kamu Senja (novel), Awan (novel).
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar