Cerpen

Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-23): Berhati-hatilah

person access_time 1 year ago remove_red_eyeDikunjungi 1032 Kali
Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-23): Berhati-hatilah

Ilustrasi: Nurmaya Liwang (kaltimkece.id)

Silaturahmi yang sedikit tidak biasa. Ketenangan yang mencairkan suasana. 
(Ingin membaca cerita bersambung ini dari awal? Ketuk di sini). 

Ditulis Oleh: Es Pernyata
24 Oktober 2019

"MASUKLAH, Bang." Ratih akhirnya memberanikan diri mengajak Yusuf Kertanegara masuk ke rumahnya. Ini tak lazim. Tak pernah ada sahabat yang masuk ke rumahnya. Pernah dulu. Waktu SMA. Itu pun sebatas duduk di beranda. Mengerjakan tugas kelompok.

Apa yang harus dilakukan Ratih jika dihadapkan dalam situasi seperti ini? Membiarkan pemuda itu berdiri di tangga rumahnya atau mengusirnya? Mengusirnya? Apa alasannya?

Mustahil seperti itu memperlakukan tamu. Tamu harus dihormati. Pun terhadap tamu yang belum dikenal. Yusuf bukan pemuda tak dikenal meskipun tidak akrab. Ia bukan perampok, pencuri, yang tiba-tiba menodongkan senjata tajam kepadanya.

Tapi dia telah membuntutiku? Itu pasti punya tujuan. Oke, tapi tujuannya apa?

"Terima kasih."

Untuk tidak menimbulkan prasangka, apalagi seorang pemuda, Ratih bergegas menemui ibunya di dapur dan menjelaskan siapa yang ada di ruang tamu sederhana itu.

"Temani aku, Bu."

Ratih menggandeng ibunya ke ruang tamu. Yusuf segera berdiri dan mengucapkan salam.

"Ini ibuku. Ayah belum pulang," kata Ratih kepada Yusuf.

"Saya Yusuf, Bu. Mohon maaf bertamu. Sudah lama saya ingin silaturahmi tetapi tidak tahu alamat Ratih," kata Yusuf seraya meraih tangan ibu Ratih. Bukan bersalaman tapi menciumnya.

Ratih memilih diam saat ibunya bertanya-tanya tempat tinggal Yusuf, keluarganya, bahkan pekerjaannya.

"Maaf ya, Nak. Kalau ibu banyak bertanya. Namanya juga belum kenal."

Tak ada kecanggungan dari Yusuf. Ia biasa saja. Sambil tersenyum dia bercerita bagaimana ia mengenal Ratih pertama kali karena kelaparan dari Balikpapan dan singgah di warung Haji Nanang Kaya.

"Tadinya karena sangat lapar, Bu. Jadi saya mampir di warung itu. Eh, soto ayamnya enak banget. Saya suka. Saya terbiasa makan soto tapi soto Betawi. Saya tidak tahu, kok rasanya soto Ayam Banjar lebih cocok di lidah saya. Itulah kemudian yang menyebabkan saya suka makan di situ."

"Oh, ya? Ibu juga senang masak soto ayam. Soto Banjar itu sama saja dengan soto ayam orang Kutai."

"Saya suka soto yang tak banyak bumbu. Bening. Meskipun saya biasa makan soto Betawi tapi soto Betawi tidak seperti soto ayam Banjar. Soto Banjar tak bersantan."

"Suatu hari, saya makan lagi di situ. Tapi saya tidak menemukan Ratih. Jadi, saya iseng bertanya pada Bu Purwati, istri Pak Haji Nanang Kaya. Beliau bilang, Ratih sudah tidak bekerja di warung itu lagi. Ya, saya penasaran. Saya tanya alasannya."

"Saya diberhentikan," jawab Ratih spontan.

"Bukannya karena banyak tugas kuliah?" Tanya Yusuf.

"Kata Ratih, dia diberhentikan karena membuat kesalahan. Dia telah membuat baju seorang pelanggan basah karena gelas minuman tamu itu jatuh gara-gara menghindari anak kecil," jelas ibu Ratih.

"Oh, itu?" sela Yusuf terkejut. Seingat dia, tidak pernah alasan Ratih berhenti bekerja karena persoalan itu. Tapi, segera ia menguasai diri dan tertawa kecil. "Itu persoalan biasa. Tak sengaja. Mengapa itu dijadikan alasan pemberhentian."

"Bang Yusuf inilah tamu itu, Bu," kata Ratih menjelaskan kepada ibunya.

"Oalah, Begitu, kah? Maafkan Ratih, Nak."

"Saya tidak menduga itu menjadi penyebab Ratih berhenti, eh, diberhentikan bekerja. Saya kira karena ingin fokus kuliah saja. Saya diberitahu oleh Bu Purwati kalau Ratih adalah satu-satunya pekerja yang sambil kuliah."

"Ya, kami keluarga tak mampu, Nak. Ratih bekerja untuk meringankan beban kami."

"Jujur, Bu. Itulah yang membuat saya penasaran. Kebetulan saya juga bekerja. Siapa tahu bisa membantu. Tapi saya tidak tahu, bagaimana caranya bertemu Ratih. Sampai suatu kali kami bertemu, saat saya ada keperluan di sebuah pusat penjualan peralatan rumah tangga dan bangunan. Saya jadi tahu kalau Ratih kuliah di Polnes. Saya cari dia di sana. Dan maaf, saya ikuti dari kampus tadi, sampai ke sini."

Ratih heran, begitu lancarnya pemuda ini bercakap-cakap dengan ibunya. Percakapan itu semakin lancar ketika pemuda ini bercerita asal-usulnya.

"Saya sudah hampir dua tahun di sini, Bu. Ya karena tugas. Ayah dan ibu saya di Jakarta. Saya punya adik. Perempuan. Mungkin usianya tidak berbeda jauh dengan Ratih."

Yusuf meminta izin meminum teh yang dihidangkan Ratih.

"Awalnya, saya tidak betah di sini. Maklum, belum punya kenalan. Sekira tiga bulan kemudian, saya sudah terbiasa. Terutama soto Banjar itu. Hahaha..."

"Nak Yusuf sudah berkeluarga?"

"Belum, Bu."

Wajah Yusuf Kertanegara berubah. Ia tidak menduga pertanyaan itu. Ia tidak ingin kedatangannya dimaknai untuk mengejar Ratih dan menjadikannya sebagai tunangan.

"Karena masih sendiri, saya memanfaatkan untuk cari teman biar betah dan juga ke tempat-tempat wisata. Ternyata banyak tempat menarik di sini, ya, Bu."

"Ibu kurang tahu, Nak. Ibu di rumah saja."

"Sudah kemana saja, Bang?" Ratih tiba-tiba tertarik untuk nimbrung. Ya, dia mahasiswa program studi manajemen pengembangan destinasi pariwisata. Peka telinganya bila mendengar tempat wisata.

"Ya, alhamdulillah, sudah lihat Tenggarong. Ke Pulau Kumala. Ke Museum. Ladaya. Ladaya itu menarik karena bangunannya unik. Sudah juga ke desa budaya Kedang Ipil dan air terjun Putang."

"Di mana itu?"

"Di Kukar juga. Sekitar satu jam setengah dari Tenggarong. Bagus air terjunnya. Saya suka air terjun. Di Jakarta tidak ada."

"Di Kutai Barat banyak, Bang."

"Ya, beberapa waktu lalu, saat libur tiga hari, saya sempat ke sana. Ada Jantur Gemuruh, Mapem, Dora dan yang tinggi namanya Jantur Inaar. Semua dekat."

"Aduh, jadi malu. Ratih sendiri belum pernah ke sana, Bang," kata Ratih jujur sambil menyembunyikan wajahnya dengan telapak tangannya.

Yusuf tertawa.

"Ke Berau pernah, Bang?"

"Sebelum ke Kutai Barat, saya lebih dulu ke Berau. Sangat terkenal, sih. Kawan-kawan di Jakarta yang hobi traveling saja sering meledekku. Mereka bilang, jangan ngaku pernah ke Kaltim kalau belum ke Derawan. Masya Allah, luar biasa indahnya."

"Sedih dengarnya," kata Ratih.

"Kok?"

"Ya Ratih belum pernah ke sana. Lahir di Kaltim. Besar di Kaltim. Kuliah di prodi pariwisata. Jalan-jalannya baru ke Balikpapan, Tenggarong, dan Muara Badak."

"Apa? Muara Badak? Memang ada Badak di situ?"

"Bukan, Bang. Itu nama kecamatan. Muara Badak masuk wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara tapi kawasan pantai."

"Oh, ya? Ada apa di situ?"

"Ya Pantai. Mangrove. Laut."

"Ada spot snorkeling?"

"Ada, bang. Akan lebih bagus lagi kalau diving?"

"Seperti Derawan, Maratua, juga, dong?"

"Ratih tidak bisa membandingkannya, Bang. Ratih kan belum pernah ke Derawan. Hanya dengar namanya, seperti juga Maratua, Sangalaki, Kakaban."

"Oh, ya, ya. Ratih pernah snorkeling di Muara Badak?"

"Pernah, Bang. Malah pernah belajar diving. Kalau menurut Pak Muchlis Effendi, dia dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Mulawarman, ada 12 spot diving di sana. Saya, sih, baru belajar. Saya dilatih diving oleh beliau di Batu Enjer dan Batu Lampe namanya."

"Wah, menarik, nih. Kalau ada waktu aku akan ke Muara Badak. Ya, Muara Badak ‘kan namanya?"

"Harus, Bang. Kan lebih dekat daripada ke Berau. Bisa pulang pergi, kok."

"Oh, ya? Mantap itu. Enngg... Kalau punya program trip ke sana lagi, aku boleh ikut?"

"Boleh saja, Bang. Kebetulan saya rutin ke sana. Saya cari rezeki di situ, Bang. Sepertinya rezeki di warung sudah tidak ada lagi," kata Ratih sambil tertawa. Ia tak sadar begitu lancarnya dia bercakap-cakap dengan pemuda itu. Ia juga tidak sadar karena lebih banyak dirinya yang berbicara daripada ibunya.

Tidak terasa, sore berangsur-angsur pergi dan cahaya di luar tidak seterang saat Yusuf tiba di kediaman keluarga Ratih ini. Yusuf berterima kasih telah diberi kesempatan bertamu. Dia merasa beruntung karena mendapat keluarga baru di Samarinda. Ia pamit kepada Ibu Ratih sambil menyatakan terima kasih dan permohonan maafnya karena bertamu tanpa memberi tahu terlebih dulu.

Ratih mengantarkan Yusuf Kertanegara hingga ke pagar pekarangan. Ia memandangi Yusuf hingga pemuda itu tak tampak lagi di tikungan.

***

Belum lima menit Yusuf pulang. Ayah Ratih tiba di rumah dan langsung mendapat laporan istrinya tentang kedatangan tamu seorang pemuda bernama Yusuf Kertanegara. Perwira tidak terlalu antusias mendengar cerita istrinya. Ia malah memanggil Ratih dan menasihati anak gadis yang sangat dicintainya. Begini kata-katanya.

"Nak, kamu telah dewasa. Kamu bisa menilai yang mana yang baik dan yang mana pula harus kamu hindari. Termasuk dalam berteman. Jangan mudah percaya kepada orang yang belum kita kenal. Maklumlah, zaman sekarang ini kejahatan bisa dilakukan siapa saja. Termasuk orang yang kita kenal dan bahkan mungkin dekat dengan kita."

Ratih terkejut atas nasihat itu. Tapi ia memaklumi ayahnya. Nasihat itu tentu juga adalah perwujudan dari tanggung jawab orang tua untuk melindungi anaknya tercinta.

Akan tetapi, Yusuf Kertanegara tidak sedikit pun mengisyaratkan sebagai orang yang harus diwaspadai. "Rasa-rasanya Yusuf tidak seperti itu," kata Ratih dalam hati.

"Apalagi dia anak rantau. Dari Jakarta pula. Mencari seseorang di Jakarta itu seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Hati-hatilah, Nak," nasihat Perwira.

"Lalu, bagaimana dengan kesiapanku menemani Bang Yusuf ke Muara Badak? Kalau kuberitahu ayah, pasti dia tidak mengizinkannya," bisik batin Ratih lagi.

Ratih, bagai perahu tak berkemudi, dihantam pusaran air. Oleng. Berputar-putar dan terancam. (bersambung)

Serial selanjutnya, ketuk
 
Tentang penulis 
Syafruddin Pernyata atau Es Pernyata, lahir Loa Tebu (Tenggarong), 28 Agustus 1958. Alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Mulawarman serta Program Studi Linguistik (Magister) Universitas Padjadjaran Bandung. Pernah bekerja sebagai guru,  dosen,  wartawan, dan birokrat. Tugas sebagai birokrat ialah Karo Humas, Kepala Dinas Pendidikan, Kaban Perpustakaan, Kepala Diklat, dan Kepala Dinas Pariwisata Kaltim.
Karya yang diterbitkan: Harga Diri (kumpulan cerpen),  Aku Mencintaimu Shanyuan (novel),  Nanang Tangguh dan Galuh Intan (novel), Belajar dari Universitas Kehidupan (kisah motivasi), Ujar Mentor Jilid 1 dan 2 (buku motivasi), Zulaiha (novel), Aku Bulan Kamu Senja (novel), Awan (novel).
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar