Cerpen

Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-24): Mak Comblang

person access_time 1 year ago remove_red_eyeDikunjungi 658 Kali
Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-24): Mak Comblang

Ilustrasi: Nurmaya Liwang (kaltimkece.id)

Orang-orang perantara. Membawa pesan yang sukar disampaikan.
(Ingin membaca cerita bersambung ini dari awal? Ketuk di sini). 

Ditulis Oleh: Es Pernyata
25 Oktober 2019

"BURHAN, aku perlu bantuanmu. Sebentar saja," kata Murni Murai yang sejak pagi mengadang Burhan Magenta di tempat parkir. Burhan yang disapa itu biasa saja menganggapinya. Ia menyimpan helmnya di bawah jok. Menyisir rambutnya dan tersenyum tipis kepada Murni Murai, sahabatnya.

"Ada apa, kumendanku?"

"Jangan di sini. Kita duduk di situ saja. Aku tak ingin persoalanku diketahui banyak orang," kata Murni seraya mengajak Burhan duduk di bangku besi yang teduh karena dilindungi pepohonan. Tempat ini adalah taman kampus. Jika lambat dibersihkan, dedaunan yang rontok karena sudah tua bertebaran di permukaan lahan taman.

Pepohonan ini sudah rimbun semua karena ditanam tak lama setelah kampus ini berdiri. Karena banyak pepohonan, matahari tak bisa bebas menerobos taman ini. Saat kampus dibangun, telah direncanakan menanami lahan sekitar kampus dengan pepohonan pelindung. Pohon pelindung ditanam agar dapat menyerap karbondioksida dan menghasilkan oksigen. Kampus sangat menyadari kebutuhan tanaman pelindung di lahan semak yang sebagian gundul karena proyek pembangunan kampus.

Waktu itu, sudah dipertimbangkan bahwa pohon yang ditanam tingginya bisa mencapai lebih dari 3 meter, namun tidak lebih dari 12 meter. Selain itu, pohonnya harus berdaun rimbun dan rapat. Untuk menutupi sinar matahari, pohon harus bertajuk luas, perawatannya mudah dan pertumbuhan cepat, daunnya tidak mudah rontok, rantingnya tidak mudah patah bila tertiup angin kencang.

Dipertimbangkan pula ranting atau cabangnya tidak berukuran terlalu besar. Berbahaya bila tumbang bisa menimpa orang di bawahnya atau genteng rumah. Pohon itu juga harus berakar kuat menghujam ke tanah sehingga tidak mudah tumbang bila tertiup angin kencang. Akar tidak timbul ke permukaan yang dapat merusak lantai dan tembok kampus serta serbuk sarinya tidak bersifat alergi bagi penderita asma dan disukai burung-burung.

Pertimbangan itulah yang menyebabkan banyak pohon tanjung di sini. Meskipun batangnya tidak terlalu besar dan terlalu tinggi, pohon ini sangat rindang dengan tajuk luas dan tumbuh secara simetris. Daunnya tidak mudah rontok. Rantingnya juga tidak terlalu besar dan tidak mudah patah. Pohon ini bisa mencapai tinggi 15 meter meskipun sangat jarang ditemui.

Ada juga beberapa pohon ketapang kencana (terminalia mantaly). Pohon asal Madagaskar ini berwujud ramping namun memiliki ranting membentang dan bertingkat. Tepat dijadikan sebagai peneduh halaman.

Ada satu pohon beringin di kampus ini. Letaknya di dekat lapangan olahraga. Konon beringin ditanam karena kampus dibangun ketika Partai Golkar masih menjadi penguasa. Akan tetapi, cerita ini dibantah para petinggi kampus. Saat kampus dibangun adalah dosen-dosen muda. Menurut mereka, pohon beringin ditanam karena nilai filosofi beringin yang dianggap kokoh, kuat, dan mengayomi. Kampus sebagai tempat generasi muda menimba ilmu dan mengasah skillnya haruslah kokoh dan mengayomi.

Ada beberapa pohon lain, seperti glodokan, angsana, dan mangga. Tanaman buah lima tahun terakhir ini malah bertambah. Selain mangga, ada rambutan, kelengkeng, dadap, dan terembesi. Yang agak aneh, pohon terembesi yang sudah rindang padahal baru berusia tiga tahun. Ditebang karena akarnya dianggap berbahaya. Juga dadap. Padahal tajuknya bagus.

Di sudut tertentu, ada lahan yang agak terbuka. Di sana dibangun taman-taman cantik. Tapi bila matahari naik, duduk di taman tidak nyaman. Panas. Bangku-bangku di bawah pohon inilah yang biasanya tempat istirahat, ngobrol, bahkan biasa ditemui mahasiswa tertidur berselonjor di sini. Mungkin malamnya begadang mengerjakan tugas atau mabuk game online.

Setiba mereka di bangku taman, di bawah pohon pinisium, Murni melanjutkan kata-katanya.

"Persoalan ini sangat membebaniku. Jadi, kuharap Burhan bisa membantu," kata Murni sungguh-sungguh. Burhan mengernyitkan keningnya.

"Bah, jangan bawa persoalan kepadaku. Bawalah roti gembong dan teh panas. Pagi-pagi kok sarapannya persoalan," kata Burhan bercanda.

"Burhan, dengar. Aku lagi tidak bercanda. Ini soal masa depanku. Soal pendamping hidupku."

"Lah, apa hubungannya denganku, Murni?"

"Dengar dulu. Ini erat sekali dengan dirimu. Begini. Kamu jangan tertawakan, ya. Aku sebenarnya. Aduh, gimana, sih."

"Tarik napas panjang-panjang. Tenang, tenang. Oke, lanjutkan."

"Ini tentang Rudi. Rudi Perdana."

"Ya, ada apa dengan dia? Sakit? Kecelakaan? Di mana dia sekarang?" Berondong Burhan pada Murni.

"Cobalah dengar kata-kataku dulu. Jangan main potong begitu. Bingung aku."

"Oke, oke."

"Menurutmu, Rudi itu baik enggak, sih?"

"Baik. Sangat baik. Oalah, bilang dari tadi. Kamu naksir Rudi, ya? Nanti kuurus."

Murni tak menjawab. Ia memandangi mata Burhan untuk mencari tahu apakah jawaban Burhan tulus.

"Baik apanya?"

"Baik semuanya. Badannya sehat. Jiwanya sehat. Humoris. Penyuka seni. Cara bergaulnya bagus. Kuliahnya bagus. Apalagi? Oh, ya, suka menolong. Setia berteman."

"Masa depannya?"

"Insya Allah baik. Kita harus mendoakan sahabat kita, bahkan siapapun juga, agar hidupnya baik. Ya, kan? Kukira dia cocok menjadi pendamping hidupmu!"

"Misalnya aku mau menjadi pendamping hidupnya, mau jadi istrinya, bagaimana caranya?"

"Hahahaha....Benar, kan?"

"Maksudmu?"

"Ya, aku mengerti. Okay, okay. Nanti kusampaikan kepada Rudi agar ia menyatakan cintanya kepadamu."

"Tidak perlu."

"Jadi, kau akan menyampaikan sendiri?"

"Sudah ada yang urus."

"Lalu, bantuan apa yang kau perlukan dariku?"

"Burhan, tidak ada atau setidaknya hampir tidak ada perempuan yang akan menyatakan cintanya secara langsung meskipun dia sangat mencintai lelaki pujaannya."

"Betul. Aku setuju. Makanya, aku bersedia membantumu untuk menyampaikan perasaanmu kepada Rudi Perdana."

"Bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah apa yang kurasakan juga dirasakan oleh Anita."

Burhan Magenta lalu mencoba menafsirkan kata-kata Murni Murai. Apa maksud sahabatnya ini? Apa hubungan dengan dirinya? Burhan mencari-cari. Mencari hubungan apakah Murni Murai adalah pembawa pesan Anita untuknya.

"Engkau mengerti maksudku?"

"Tidak," jawab Burhan ragu. Ia tidak boleh mendahului pikirannya. Tebakannya. Akan tetapi ia menjadi ingat kepada Anita yang selalu meminta bantuannya. Minta ditemani ke pasar. Ke perpustakaan. Ada-ada saja caranya agar bisa dekat dengannya.

Burhan mencoba memahami apakah perlakuannya pada Anita berlebihan. Memberi harapan? Tidak! Biasa saja. Normal. Tidak selalu juga kehendak Anita ia turuti. Memang, dibanding yang lain, ia lebih banyak bersama Anita daripada Ratih, misalnya.

Akan tetapi, semua yang dilakukannya lebih banyak karena permintaan Anita sendiri. Ajakan bahkan bujukan. "Kalau aku terlihat lebih banyak membantu Anita, itu karena permintaan Anita sendiri. Sepanjang bisa, tidak selayaknya aku menolak, kan?" Burhan bertanya dalam hati.

Apakah karena itu Anita mengutus Murni Murai menemuinya?

"Anita itu sahabat kita yang sangat perhatian. Ia selalu menjadi juru selamat setiap kali kita punya persoalan terutama bila menyangkut iuran. Tidakkah itu engkau perhatikan?" Murni Murai bertanya kepada Burhan Magenta.

"Betul."

"Apakah kamu tahu bahwa Anita juga sangat perhatian kepadamu?"

"Dia perhatian kepada semua orang, kepada kawan kita. Tentu juga kepadaku. Dia kan sahabat kita."

"Tidakkah kebaikan-kebaikan itu bisa Burhan pertimbangkan? Maksudku, tidakkah itu menarik perhatianmu?"

"Maksudmu?"

"Anita itu menyukaimu. Itu intinya. Dia wanita, sebagaimana juga aku. Tidak mungkin dia menyatakannya terus terang kepadamu."

“Ternyata benar dugaanku,” bisik batin Burhan Magenta. Murni Murai menemuinya bukan soal ketertarikannya kepada Rudi Perdana. Ini persoalan antara Anita dan aku.

"Memilih itu harus melalui pertimbangan. Memilih itu harus didasarkan pada pengetahuan, pemahaman, dan perasaan. Aku, kawan-kawan, juga dirimu, sudah lama kenal, tahu, siapa Anita. Jika engkau ingin membahagiakannya, nyatakanlah cintamu kepadanya. Ini tujuanku menemuimu, Burhan. Ini bukan sekedar perasaan Anita tapi suara kawan-kawan."

Burhan tahu apa yang dinyatakan Murni bukan canda. Akan tetapi, bagaimana ia menyikapi hal ini? Tidakkah separuh jiwanya sudah terperangkap kepada Ratih. Masalahnya, sikap Ratih yang tak pernah menunjukkan isyarat punya perhatian khusus kepadanya telah menjadi penghalang bagi Burhan untuk menyatakan cinta.

Burhan tahu siapa dirinya. Anak kampung yang merantau ke kota demi meraih cita-cita kuliah di perguruan tinggi. Tak ada kesiapannya membangun rumah tangga sekarang. Sementara pernyataan cinta adalah sebuah komitmen membangun mahligai rumah tangga. Itu tidak gampang.

"Jadi, bagaimana pendapatmu, Burhan? Aku harus melaporkan hasilnya?"

"Apa?"

"Ya, aku akan bercerita kepada Anita dan kawan-kawan atas misiku ini."

"Jadi kamu ini broker, ya? Mak comblang," kata Burhan seraya tertawa kecil. Kentara dipaksakan.

"Apapun katamu. Tak masalah bagiku. Aku hanya meyakini apa yang kulakukan tidak melanggar norma apalagi hukum. Ya, kan?"

"Segitu seriusnya kamu?"

"Ya, dong. Aku berharap persahabatan kita di kampus akan abadi. Kelak, ketika kita sudah tua, kita tetap heboh, akrab, karena kita mengenal baik dengan setiap pasangan hidup masing-masing. Aku tak bisa membayangkan Anita yang cantik dan baik hati itu hilang harapannya, patah semangatnya, musnah cintanya, dan dia tinggalkan kota yang sudah dicintainya, pulang ke Bandung, karena kamu tak mencintainya."

"Memang Anita itu orang Bandung? Bukannya orang sini?"

"Dia itu sejak kecil ikut omnya. Omnya tidak punya anak. Anita keponakannya. Tapi seperti anak sendiri karena sejak kecil diasuh mereka. Anita tahu itu. Ia juga sudah menganggap om dan istri beliau sebagai ayah dan ibunya sendiri. Ia pun sudah diberitahu keadaan yang sebenarnya. Ayah dan ibu kandungnya ada di Bandung. Anita beruntung punya dua ayah dan dua ibu."

"Soal ini, aku baru tahu."

"Sudahlah, kita kembali ke persoalan utama. Jadi bagaimana?"

Burhan menarik napas dalam-dalam. Dahinya berkerut. Ia bimbang. Tak ada alasan sesungguhnya untuk menolak cinta Anita. Tak ada pula yang menjadi perintang untuk menyatakannya kecuali penjara batinnya yang terperangkap pada pesona Ratih.

Tidak juga ada alasan khusus dan spesial mengapa ia lebih tertarik pada Ratih kecuali anak itu cerdas, ramah, kuat, dan semangat menghadapi hidup. Tapi, Anita pun begitu. Dia juga cerdas meski tidak secerdas Ratih. Dia ramah bahkan sangat ramah. Dia juga semangat bahkan kadangkala tampil menjadi penyemangat.

Anita memang belum teruji hidup susah, terutama dalam finansial. Ia berpunya karena orang tuanya, yang kemudian diketahui Burhan adalah om dan tantenya, adalah pengusaha perkebunan yang berhasil. Hidup Anita berkecukupan. Tidak sombong apalagi angkuh. Burhan banyak menemukan orang kaya tapi angkuh, sombong, dan menjaga jarak kepada orang-orang yang tidak sepadan.

"Murni, Anita itu baik dan memang sangat baik. Masalahnya, aku sadar siapa diriku. Tak ada kesiapanku."

"Dia tidak meminta kamu melamar, lho. Dia hanya bilang, dia suka kamu. Tapi dia tidak tahu apakah kamu juga suka padanya."

"Nah ini yang perlu kamu ketahui. Aku mungkin kolot. Aku beranggapan bahwa pernyataan cinta adalah pernyataan kesiapan berumah tangga."

"Betul. Aku setuju. Soal waktu, itu soal lain. Yang penting kamu oke. Jadi, kuharap janganlah hari-hari Anita berisi kegelisahan sehingga wajahnya muram dan tak bersemangat. Nyatakanlah cintamu kepadanya. Biar dia semangat. Biar dia tetap di sini. Tidak pindah ke Bandung."

"Memang dia akan pindah ke Bandung kalau aku tak menyatakan cintaku padanya?"

"Itu dikatakannya. Aku sedih banget. Apalagi Iyan Banjar dan Ulis Harat. Kawan kita berdua itu merasa, Anita adalah pahlawan. Karena jika mereka kekurangan uang untuk bayar kuliah, tempat meminjam pasti kepada Anita. Iyan atau Ulis belum ada menemuimu?"

Burhan Magenta menggeleng. Batinnya teraduk-aduk antara persahabatan dan impian pribadinya. Padahal, dia tahu bahwa kepentingan pribadi harus dikalahkan jika itu bisa mengganggu persahabatan. Padahal, persahabatan dengan kawan-kawannya sudah sekental jelly yang sukar diurai apalagi dipisahkan.

Apakah Burhan harus mendahulukan kehendak pribadi lalu mengalahkan indahnya persaudaraan yang selama ini sudah terbina? "Belum tentu juga kehendakku; harapanku sesuai dengan kenyataan. Belum tentu juga harapanku diterima Ratih. Bukankah tak ada tanda-tanda Ratih memberikan sinyal-sinyal khusus padaku?" Burhan Magenta bertanya kepada dirinya sendiri.

"Katakanlah kepada Anita, jika dia bertanya bagaimana sikapku padanya, bahwa aku sangat menghormatinya. Aku tersanjung oleh kejujurannya menyatakan perasaannya meskipun hanya melalui dirimu. Jelaskanlah bahwa aku meminta waktu untuk berpikir karena sementara ini aku masih fokus kuliah dan nasib keluargaku. Anita belum tahu banyak siapa aku. Sekarang biarkan kujelaskan kepadamu bahwa aku adalah sahabatmu yang berjibaku setiap hari sepulang kuliah jadi sopir angkot. Aku harus memikirkan ibu dan kedua adikku di kampung. Ya urusan hidup, ya, urusan pendidikan mereka."

"Jadi kesimpulannya apa? Aku bingung."

"Ya katakan saja apa yang aku jelaskan padamu. Supaya dia tahu. Dia ‘kan tidak menjalani hidup sebagaimana aku menjalaninya."

Murni Murai sebenarnya belum puas dengan pernyataan Burhan. Ia belum bisa menarik kesimpulan, apakah ya atau tidak. Apakah Burhan mencintai Anita atau hanya menganggap teman biasa.

"Ya, aku akan jelaskan seperti apa yang kamu jelaskan. Tapi aku juga berharap kamu sungguh-sungguh memperhatikan hal ini. Sulit menemukan ada wanita yang berani menyatakan perasaannya meskipun lewat orang lain. Apalagi wanita itu adalah sahabat kita sendiri yang kita kenal baik. Amat baik."

Burhan mengangguk-angguk. Ia memberi isyarat pada Murni bahwa dosen sudah menuju ruang kuliah. Sambil berjalan ia meneguhkan jiwanya akan menemui Ratih untuk menyatakan cintanya. Keputusan Ratih akan menentukan apakah Anita sebagai kekasihnya atau hanya teman baik saja.

***

Rudi Perdana membelalakkan matanya saat Anita menyampaikan padanya bahwa Murni Murai naksir berat padanya.

"Bah, coba tahu dari dulu, sudah kudeklarasikan Murni Murai adalah pacarku. Biar semua orang tahu dan jangan coba-coba ada yang mengganggu."

"Jadi kau mau sama dia?" Tanya Anita.

"Ya, dong. Orang macam aku ini sulit cari jodoh. Kurus, otak pas-pasan, hidup juga pas-pasan. Mana ada wanita mau sama aku. Kamu tenang aja, nanti kunyatakan cintaku pada Murni Murai saat kita berkumpul. Atau kau buat acaranya? Tentu hanya untuk sahabat kental kita. Tapi, ya, kau tahulah, aku siap memberitahu kawan-kawan tapi aku tak siap membayar makan minumnya."

"Sip sip. Kuota 10 orang," kata Anita dan mengajak Rudi buru-buru karena dosen sudah lebih dulu masuk ruang kuliah.

Rudi Perdana mengepalkan tangannya. Lalu meninju langit seakan-akan ia baru saja dinobatkan juara tinju. Di kampungnya. Ia tersenyum-senyum sendiri. Tubuhnya yang kurus seperti meliuk-liuk di koridor kampus bagai layang-layang yang menang usai bersitegang. (bersambung)

Serial selanjutnya, ketuk
Tentang penulis 
Syafruddin Pernyata atau Es Pernyata, lahir Loa Tebu (Tenggarong), 28 Agustus 1958. Alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Mulawarman serta Program Studi Linguistik (Magister) Universitas Padjadjaran Bandung. Pernah bekerja sebagai guru,  dosen,  wartawan, dan birokrat. Tugas sebagai birokrat ialah Karo Humas, Kepala Dinas Pendidikan, Kaban Perpustakaan, Kepala Diklat, dan Kepala Dinas Pariwisata Kaltim.
Karya yang diterbitkan: Harga Diri (kumpulan cerpen),  Aku Mencintaimu Shanyuan (novel),  Nanang Tangguh dan Galuh Intan (novel), Belajar dari Universitas Kehidupan (kisah motivasi), Ujar Mentor Jilid 1 dan 2 (buku motivasi), Zulaiha (novel), Aku Bulan Kamu Senja (novel), Awan (novel).
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar