Cerpen

Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-27): Burhan Magenta Pembualan

person access_time 1 year ago remove_red_eyeDikunjungi 844 Kali
Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-27): Burhan Magenta Pembualan

Ilustrasi: Nurmaya Liwang (kaltimkece.id)

Sekelebat bayang-bayang. Cermin dari angan-angan. 
(Ingin membaca cerita bersambung ini dari awal? Ketuk di sini). 

Ditulis Oleh: Es Pernyata
28 Oktober 2019

MATAHARI terus beredar sebagaimana bulan. Kehidupan terus berjalan dengan segala kisahnya. Setiap orang punya kisah masing-masing. Kisah yang kadang memberikan harapan, mendatangkan kebahagiaan, tapi kadang pula mengecewakan, menyedihkan, dan menyengsarakan.

Ratih menjalani hari-harinya dengan semangat yang tak pernah luntur. Tak pernah kendur. Tidak ada pilihan baginya untuk keluar dari perangkap kemiskinan kecuali menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Ia meraih ilmu yang sedalam-dalamnya baik di kampus pun di kehidupan.

Ratih menyadari benar bahwa karunia Allah kepada dirinya tidak boleh disia-siakan. Karunia raga yang sehat. Karunia orang tua yang menyayangi. Karunia akal pikiran. Karunia yang terakhir inilah yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Otak adalah karunia yang maha-dahsyat bagi seorang manusia.

Otaklah yang membedakan manusia dengan binatang. Dengan otaklah, kreativitas manusia terus bergerak dan membuat hidupnya lebih dinamis. Otak itu pula yang menyebabkan kehidupan terus berubah dan standar hidup pun ikut berubah.

Perubahan adalah keniscayaan. Perubahan demi perubahan itu sejatinya berasal dari kemampuan berpikir manusia yang terus-menerus berkembang. Itulah sebabnya, kehidupan manusia juga terus berubah. Tidak seperti binatang.

Hidup manusia berjangka panjang karena kehidupan di dunia hanyalah terminal. Manusia akan terus bepergian hingga ke hari kemudian. Ia harus mencari bekal untuk hari kemudian itu. Bekal itu ialah kebermaknaan.

Itulah sebabnya mengapa Sastrawan Hamka mengatakan, kalau sekedar hidup, babi hutan juga hidup. Kalau sekedar bekerja, kera juga bekerja --jika tak bekerja tentu ia kelaparan dan mati.

Bekal untuk meraih kebermaknaan itu adalah pengabdian. Pengabdian kepada orang tua, kepada sesama, kepada bangsa dan negara, dan kepada Maha Pencipta.

Ratih sangat menyadari betapa besarnya karunia Allah bernama otak itu. Kedigdayaan otak sangat luar biasa. Kecepatannya melebihi prosesor komputer manapun. Daya tampungnya melebih cakram keras (hard disk) mutakhir. Daya tampung itu dihubungkan dengan sel-sel saraf yang rumit. Hebatnya, sel-sel saraf itu tidak pernah menolak untuk terus ditempa. Otak itu tidak pernah penuh bila diisi. Ia bukan USB (flashdisk) 2 tera, yang jika sampai batas kapasitasnya, tak bisa diisi lagi.

"Maka, apakah otak itu sekedar untuk menerima informasi nama-nama artis dan kisah hidupnya? Ataukah ia harus diasah dan digunakan untuk menjelajahi kemungkinan-kemungkinan yang tak terpikirkan sebelumnya? Aku harus memanfaatkan kedigdayaan otak, menebalkan selubung sarafnya, mengasah jiwanya, untuk lahir sebuah karya yang mencengangkan?" Demikianlah semangat Ratih yang terus berkobar-kobar. Semangat itulah yang menguatkan lahir batinnya untuk mengembangkan destinasi wisata pantai Bahagia di Muara Badak.

Ratih memegang dengan kuat mimpi itu. Dia tahu, di destinasi wisata inilah rezekinya dihamparkan Allah. Buahnya telah ia rasakan. Buah itu telah dinikmatinya dan dinikmati pula oleh ayah dan ibunya.

Hubungan baik dan kepercayaan yang telah diberikan Haji Acok kepadanya adalah sebuah modal besar untuk pencapaian yang lebih besar. Pencapaian itu hanya lahir dari orang-orang yang bebas dari penjara kemalasan.

Ratih tahu, dia hanyalah anak bau kencur dalam berbisnis. Anak kampung. Belum banyak makan garam kehidipan. Tapi Ratih tak mau disepelekan.

"Manusia pada dasarnya sama. Sama berhak untuk berkembang. Berhak untuk sukses. Bahkan berhak untuk kaya. Mau anak kota, anak desa, anak kaya, anak miskin, anak hulu Mahakam, anak pulau Jawa, anak Jepang, anak Korea, juga anak Loa Bakung, sama peluangnya. Sama haknya," kata Ratih menyemangati dirinya sendiri.

Perbedaannya hanyalah seberapa jauh jiwa raga dan otak yang paling digdaya itu dimanfaatkan semaksimal mungkin. Banyak orang punya modal tapi tak pandai memutar uangnya. Banyak orang punya lahan tapi tak semua punya kemampuan mendayagunakannya.

Di sisi inilah maka kolaborasi dan kerja sama harus dikembangkan. Di sisi inilah maka pertemanan dan jaringan dibangun. Di sisi ini pula mengapa Ratih bersuka cita menemani Yusuf Kertanegara ke Muara Badak. "Siapa tahu, pemuda ini bisa memberi jalan bagi perluasan pengembangan usaha ini," harap Ratih.

Jadi, jika sejak pagi-pagi sekali Ratih sudah berdandan, itu tidak lain karena dia sudah berjanji untuk bersama-sama Yusuf Kertanegara ke Muara Badak hari ini. Seharian. Pulang pergi.

Hari baru terang tanah. Terang tanah adalah istilah yang digunakan orang Kutai untuk menyatakan bahwa matahari belum terlihat tapi tanah sudah tampak samar-samar. Yusuf Kertanegara tiba di rumah Ratih dengan mengendarai mobil Avanza buatan enam tahun lalu. Mobil itu tampak terawat dengan baik. Warnanya putih. Warna keabadian.

Ratih sudah menunggu di pintu beranda. Ia mempersilakan Yusuf Kertanegara masuk dulu ke rumahnya. Izin kepada ayahnya. Seperti rencana, mereka ke Muara Badak melihat proyek pengembangan Pantai Bahagia milik Haji Acok. Setelah memperkenalkan diri dan mengutarakan niatnya, Yusuf pun meminta izin kepada ayah Ratih. Tak ada kecanggungan Yusuf menyampaikan permintaan itu. Seperti seorang profesional yang sudah biasa berbicara dengan siapa saja, kapan saja, dan dalam situasi apapun juga.

"Berapa usiamu, Nak?"

"Dua puluh tujuh tahun, Pak. Kurang sebulan."

"Itu usia dewasa. Jadi berkendaraanlah secara dewasa. Jangan ngebut. Ratih ini anak kami satu-satunya." Demikian kata Perwira, ayah Ratih, menasihati Yusuf. Kalimat yang tak biasa. Tegas. Jelas sekali maksudnya.

"Baik, Pak," kata Yusuf sambil mencium kedua tangan orang tua itu. Ayah Ratih menarik tangannya. Ia merasa belum biasa. Ia hanya menepuk-nepuk pundak Yusuf.

"Hati-hati. Jangan terlalu sore pulangnya," kata ayah Ratih mengingatkan lagi.

Yusuf dan Ratih sudah berada di bagian utara kota. Bagai seorang guide, Ratih menjelaskan bahwa mereka akan memasuki kawasan kota yang memiliki banyak tempat wisata.

"Itu Buddhist Centre. Ini juga sudah menjadi tempat wisata religius terutama bagi penganut agama Buddha. Banyak tamu luar kota yang datang untuk melihat bangunan megah ini," kata Ratih.

"Ini simpang jalan Mugirejo. Kalau kita masuk ke jalan ini, lurus saja, sekira 4 kilometer, kita akan bertemu dengan sebuah destinasi wisata bernama Taman Salma Shofa."

"Seperti Taman Bunga Nusantara?"

"Maksud Abang?"

"Di Cianjur Jawa Barat, ada destinasi wisata namanya Taman Bunga Nusantara. Lebih dari sepuluh hektare luasnya. Penuh dengan macam-macam bunga."

"Saya belum pernah ke sana. Kalau suatu saat diajak, aku mau," komentar Ratih.

"Hahahaha. Bisa dipikirkan."

"Asyik."

"Ingat, dipikirkan, kataku."

"Oalah."

"Ada apa di taman, taman apa namanya?"

"Taman Salma Shofa, Bang."

"Ya, ya, ya. Ada apa di sana?"

"Ada kolam renang untuk anak-anak dan dewasa. Ada bangunan namanya Beranda. Di situ kita bisa melihat benda-benda antik. Foto-foto Samarinda tempo dulu. Kalau mau pakai busana Korea, bisa menyewanya di tempat ini."

"Kalau nanti ada waktu, temani aku ke sana."

"Kalau nanti ada waktu, temani juga aku ke Taman Nusantara."

"Taman Bunga Nusantara. Tapi kok tidak imbang permintaannya. Yang satu bisa pakai sepeda motor. Yang satu harus naik pesawat."

Jalan kemudian menanjak. Yusuf memindah persneling ke gigi dua. Lumayan tinggi tanjakan itu. Namun tak berapa lama, jalan menurun dan menanjak lagi.

"Di sebelah kanan itu Taman Borneo, Bang. Dulu namanya Kebun Raya Unmul-Samarinda."

"Seperti Kebun Raya Bogor?"

"Saya belum pernah ke Bogor. Belum pernah naik pesawat. Kasihannya saya."

"Hahahaha. Bisa dipikirkan."

"Hahahaha. Sekarang lagi dibenahi. Banyak spot foto di situ, Bang. Ada juga kuda, buaya, ular, elang jinak."

"Oh, ya?"

Yusuf mengaku tidak banyak tahu tentang pariwisata kota Samarinda. Ratih pun bersemangat menjelaskan beberapa objek wisata lagi, seperti kolam renang Serayu, Air terjun Tanah Merah, Lapangan Golf Tanah Merah, dan Desa Budaya Pampang.

"Kalau mau lihat kehidupan suku Dayak, budayanya, keseniannya, Abang bisa ke desa budaya ini."

"Wow. Sangat mau. Sekarang?"

"Waktu kita terbatas, Bang. Gampang diatur. Nanti setelah dari Taman Bunga Nusantara."

"Bah. Aku pergi sendiri saja. Aku sudah tahu."

"Nyesal ngomong."

Ratih pun memejamkan matanya. Ia tak tergoda saat Yusuf menyebut ada gajah di tengah jalan. Pasti itu canda Yusuf saja.

"Hati-hati kalau tertidur. Jaga air liur."

"Yang tidur siapa?"

"Oh, bangun, ya? Jangan tidur. Jangan melamun. Biar ada temanku ngobrol."

Ratih diam. Matanya tetap terpejam.

"Bangun atau melamun?"

"Melamun."

"Melamunkan siapa?"

"Burhan Magenta Pembualan!"

"Siapa itu? Pacarmu?"

"Pacarku. Eh pacar temanku. Pacar Anita Kok Tega."

"Namanya aneh. Anita Kok Tega."

Ratih tersenyum. Senyum yang tak jelas maknanya. Yusuf tak bertanya lagi. Ia hanya mencuri pandang Ratih dari balik spion di atas kepalanya. Gadis itu masih terpejam. Tampaknya tidur sungguhan. Ratih sebenarnya tetap terjaga. Di pikirannya terlintas bayang-bayang Burhan Magenta.

"Andaikata di sebelahku ini Burhan Magenta, bagaimana, ya? Ah tidak. Tidak. Kasihan Anita," lamun Ratih dengan tetap berpejam mata. (bersambung)

Serial selanjutnya, ketuk:
Tentang penulis 
Syafruddin Pernyata atau Es Pernyata, lahir Loa Tebu (Tenggarong), 28 Agustus 1958. Alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Mulawarman serta Program Studi Linguistik (Magister) Universitas Padjadjaran Bandung. Pernah bekerja sebagai guru,  dosen,  wartawan, dan birokrat. Tugas sebagai birokrat ialah Karo Humas, Kepala Dinas Pendidikan, Kaban Perpustakaan, Kepala Diklat, dan Kepala Dinas Pariwisata Kaltim.
Karya yang diterbitkan: Harga Diri (kumpulan cerpen),  Aku Mencintaimu Shanyuan (novel),  Nanang Tangguh dan Galuh Intan (novel), Belajar dari Universitas Kehidupan (kisah motivasi), Ujar Mentor Jilid 1 dan 2 (buku motivasi), Zulaiha (novel), Aku Bulan Kamu Senja (novel), Awan (novel).
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar