Cerpen

Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-29): Sepuluh Truk Kelapa Muda

person access_time 1 year ago remove_red_eyeDikunjungi 882 Kali
Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-29): Sepuluh Truk Kelapa Muda

Ilustrasi: Nurmaya Liwang (kaltimkece.id)

Berkelahi dengan perasaan. Harus mengambil keputusan. 
(Ingin membaca cerita bersambung ini dari awal? Ketuk di sini). 

Ditulis Oleh: Es Pernyata
30 Oktober 2019

 

MAHAKAM Lampion Garden (MLG) berdiri di Jalan Slamet Riyadi, sebelah hulu dari Masjid Islamic Centre atau sebelah hilir dari Jembatan Mahakam --sekarang bersampingan dengan jembatan jembatan kembar. MLG adalah sebuah tempat hiburan yang mengandalkan lampu lampion. Karena daya tariknya adalah lampion yang dibangun menyerupai bangunan dan aneka hewan, tempat ini baru terasa indah pada malam hari. Pagi hingga sore terlihat sepi.

Lampion itu ada yang berbentuk tugu monas, istana, juga binatang seperti orangutan, dinosaurus, harimau, dan sebagainya. Selain banyak spot foto di MLG, tersedia kedai-kedai makan-minum dengan harga terjangkau.

Di sinilah Burhan Magenta meminta kesediaan Ratih untuk bertemu saat mereka berjumpa di kampus tadi pagi. Ratih sebenarnya enggan memenuhi ajakan itu. Akan tetapi, ia ingat kebaikan Burhan saat mengantarnya pulang dengan angkot. Burhan menggratiskan.

Bukan soal gratis itu yang menyebabkan dia simpati kepada Burhan melainkan kesederhanaan dan kecerdasan serta semangat hidupnya. Justru karena Burhan adalah lelaki yang pantang menyerah, tulus, berjerih payah, berjibaku, dan bersimbah peluh itulah yang menyebabkan Ratih mengaguminya. Baginya, hanya lelaki yang kenyang hidup pahit, puas ditempa kesulitan dan tantangan, yang akan sukses pada masa depan.

Selain pertimbangan itu, Ratih juga mau bertemu karena dia mengenal baik Ibu Dian Rosita, manajer MLG. Siapa tahu, manajer itu ada di MLG sehingga Ratih bisa ngobrol dengannya. Dari segi jarak, MLG juga satu jurusan dengan rumah Ratih di Loa Bakung.

Burhan Magenta sudah lebih dulu tiba. Ia duduk sendirian di ruang terbuka. Di situ berderet kursi dan meja untuk pengunjung. Para pengunjung bisa menyantap makanan dan minuman di meja-meja yang telah tersedia ini sambil menikmati kesejukan udara di tepi Sungai Mahakam. Kedai makan di belakang deretan meja-meja jika memandangnya dari arah tepian Mahakam. Dari sini pengunjung bisa melihat panorama Sungai Mahakam dengan tongkang-tongkang batu baranya.

"Sudah lama?" Ratih bertanya.

"Sekitar tiga jam."

"Kalau bohong jangan dengan aku. Dengan orang lain saja."

"Hahahaha.... Baru juga. Sepuluh menit, lah."

Ratih meminta Burhan untuk langsung mengatakan perihal Anita yang pulang ke Bandung, yang disebut-sebut Burhan saat bertemu di kampus saat mereka bertemu tadi siang.

"Ada apa dengan Anita?"

"Dia pulang ke Bandung."

"Itu sudah kamu katakan di kampus tadi."

"Dia mungkin tidak kembali."

"Lha, ujian juga belum. Apalagi wisuda. Memang ada apa?"

"Itulah masalahnya. Dia kecewa karena aku tak kunjung menyatakan cinta kepadanya."

"Sesulit apa, sih, mengatakannya?" Ratih bertanya. Sebenarnya mulut Ratih enggan bertanya atas alasan Anita. Ia sudah lama mendengar sahabat kentalnya itu menyenangi Burhan. Ia dengar sendiri. Bukan dari orang lain. Yang dia ragu adalah alasan Burhan.

"Tak ada kesulitan untuk menyatakannya, Ratih. Tapi kamu tahu, ‘kan aku ini seperti apa. Maksudku, aku tahu diri. Kalau kemudian kunyatakan cintaku dan aku diajak menikah, terus ibuku bagaimana, adikku bagaimana?"

"Sebentar sebentar. Memang Anita akan mengajakmu segera menikah?"

"Misalnya begitu."

"Kamu tinggal sampaikan saja alasanmu. Apa susahnya. Anita pasti memahami."

"Masalahnya bukan itu saja. Penghalang paling berat itu adalah perasaanku sendiri."

"Kamu suka tidak pada Anita? Jawab yang jujur."

"Bagaimana, ya. Siapa, sih, yang tidak suka kepada Anita. Cantik. Baik. Suka menolong. Setia kawan."

"Lalu, apalagi?"

"Ratih, dengar, ya, mengapa aku membujukmu untuk bertemu sore ini di sini?" Ratih menggeleng. Batinnya bisa menebak tapi biarlah Burhan yang mengatakannya.

"Keberitahu ya, alasan utama mengapa aku tak menyatakan cinta padanya karena sesungguhnya aku itu mencintaimu."

"Aku tidak!" Ratih menjawab tegas.

"Boleh aku tahu alasannya?"

"Aku tidak ingin merusak hubunganku dengan Anita yang sudah seperti saudara. Aku juga tidak ingin mengubah perasaanku selama ini yang menganggapmu kawan baik, layaknya saudara juga, menjadi pendamping hidupmu. Aku tidak ingin menduakanmu karena aku sudah punya pilihan lain. Jelas ya?"

Wajah Burhan Magenta berubah. Semula tampak semangat. Kini kuyu bagai tak berdarah. Ia tak segera merespons kalimat Ratih. Ia menghela napas panjang. Wajahnya terasa panas. Ia palingkan wajahnya ke arah hulu. Sayup-sayup terlihat sepeda motor dan mobil melintas di Jembatan Mahakam. Di jembatan itulah Burhan setiap hari melintas hampir tiga tahun ini.

"Sudah kuduga. Aku saja yang tidak percaya," kata Burhan akhirnya seraya menarik napas panjang.

"Maafkan aku, kalau begitu," kata Burhan lagi. Lirih suaranya.

"Tidak ada yang salah, Burhan. Kamu benar. Akan lebih benar kalau segera kau nyatakan cintamu kepada Anita. Bukankah barusan juga kamu mengatakan menyukai Anita?"

Burhan tak menjawab. Ia memandangi Ratih. Ia mencari-cari siapa tahu Ratih tidak berkata jujur. Siapa tahu Ratih sebenarnya juga mencintainya. Ratih hanya tidak sampai hati kepada Anita yang sudah dianggapnya seperti saudara sendiri.

"Kamu tidak akan salah pilih, Burhan. Segeralah beritahu Anita bahwa kamu mencintainya. Biar dia segera kembali kuliah. Sebentar lagi kita ujian akhir. Kita masuk kuliah bersama. Lulus bersama."

Burhan masih termenung. Ratih menghabiskan es jeruk di depannya. Ia minta maaf kepada Burhan. Dia harus pulang duluan.

"Aku minta maaf. Jangan benci aku," kata Burhan kepada Ratih. Gadis itu hanya tersenyum. Tidak jelas apa makna senyumnya.

***

Ratih tidak segera pulang. Dilihatnya sinar matahari masih benderang. "Masih ada waktu," bisiknya kepada diri sendiri.

Ia menyusuri jalan ke hilir. Sebenarnya, jauh di lubuk hatinya yang dalam, ia menyukai Burhan Magenta. Akan tetapi, ia wanita yang tidak bisa mengabaikan begitu saja perasaan orang lain. Perasaan Anita. Ia tidak bisa membayangkan seandainya ia menerima cinta Burhan. Anita tidak tahu bahwa sesungguhnya bukan hanya Anita yang menyukai Burhan tapi juga dirinya. Bedanya, Anita terbuka termasuk kepada dirinya. Sementara Ratih tidak.

Kalau Anita kemudian tahu bahwa lelaki yang dicintainya itu adalah kekasih sahabatnya, betapa berat Anita menanggung malu karena perasaan cinta itu pernah diutarakan Anita kepada Ratih sendiri.

"Mencintai tidak berarti harus memiliki, kata banyak orang. Mungkin itulah yang kurasakan sekarang. Aku yakin, lambat laun, perasaan kecewa ini juga akan hilang. Yang penting, aku tidak kehilangan persahabatan," bisik Ratih untuk menenangkan hatinya.

Ratih tahu, Bayu pasti baru menyelesaikan tugasnya. Ini jam dia pulang. Ratih tahu ke mana mencari Bayu yang sudah bekerja di sebuah hotel bintang empat itu.

Benar, Bayu dengan santainya 'ngopi' di warung kopi yang tidak jauh dari hotel tempatnya bekerja. Sama sekali tak diduganya, adik tingkat itu tiba-tiba ada di depannya.

"Kusut sekali wajahmu. Baru diputus pacar, ya? Bayu bertanya saat Ratih baru saja duduk di depannya.

"Ya, putus cinta dengan bule Muara Muntai," jawab Ratih sekenanya. Bayu tertawa geli.

Entah, Ratih selalu suka dengan gaya canda Bayu, kakak tingkat yang lulus dengan predikat cum laude itu.

Mereka pun ngobrol ke sana ke mari. Soal pekerjaan Bayu. Soal ibu Bayu yang mulai sehat dan tidak berkursi roda lagi. Soal lelaki bernama Burhan Magenta.

"Lupakan saja dia. Banyak lelaki yang lebih baik bagimu."

"Pasti kamu mau mengatakan lelaki yang baik itu adalah dirimu, ya, kan?"

"Ya. Aku tidak keberatan menjadi kekasihmu. Kalau perlu, kulamar minggu depan."

"Boleh. Boleh asal memenuhi persyaratan yang tidak boleh kau tawar."

"Katakan saja."

"Siapkan satu kapal wisata, satu rumah di Villa Tamara lengkap dengan isinya. Satu mobil Fortuner terbaru biar aku gampang ke Muara Badak dan ini ni yang penting, siapkan pula 10 truk kelapa muda," kata Ratih tertawa seraya memamerkan barisan giginya yang putih.

Bayu tertawa. Terbahak. Ratih senang. Ia bisa melupakan peristiwa yang melukai perasaannya barusan. Ratih menolak diajak minum karena hari sudah senja. Ratih pamit pulang.

"Oke, oke. Jangan ke lain hati, ya. Akan kupenuhi semua permintaanmu dua puluh tahun lagi," kata Bayu dengan suara nyaring karena Ratih sudah di atas sepeda motornya.

"Kalau bisa, yang Fortuner itu, besok kuterima karena aku mau ke Muara Badak. Untuk kerja," balas Ratih seraya menghidupkan mesin sepeda motornya.

Kata Muara Badak yang diucapkan Ratih membelenggu dirinya sendiri. Muara Badak? Besok ke Muara Badak? Dengan siapa? Dengan Yusuf lagi? Apa dia bisa?

Ratih mencoba melupakan Yusuf. Pemuda yang belum dikenalnya lebih dekat itu. Ia khawatir, nasihat ayahnya benar. Yusuf itu orang jauh. Orang Jakarta. Atau sesungguhnya orang Makassar karena pernah mengaku kerja di sana? Atau itu pengakuan saja agar terlihat bahwa dia orang penting.

Jangan-jangan nasihat ayah itu benar. Jangan mudah percaya kepada orang yang belum dikenal baik apalagi orang luar. Ingat nasihat itu, Ratih jadi rindu berat kepada ayahnya. Sudah tiga hari ayahnya tak pulang. Katanya, ia harus keluar kota sesuai perintah bosnya.

"Apa, sih, pekerjaan ayah itu?" Ratih membatin. (bersambung)

Artikel selanjutnya, ketuk
 
Tentang penulis 
Syafruddin Pernyata atau Es Pernyata, lahir Loa Tebu (Tenggarong), 28 Agustus 1958. Alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Mulawarman serta Program Studi Linguistik (Magister) Universitas Padjadjaran Bandung. Pernah bekerja sebagai guru,  dosen,  wartawan, dan birokrat. Tugas sebagai birokrat ialah Karo Humas, Kepala Dinas Pendidikan, Kaban Perpustakaan, Kepala Diklat, dan Kepala Dinas Pariwisata Kaltim.
Karya yang diterbitkan: Harga Diri (kumpulan cerpen),  Aku Mencintaimu Shanyuan (novel),  Nanang Tangguh dan Galuh Intan (novel), Belajar dari Universitas Kehidupan (kisah motivasi), Ujar Mentor Jilid 1 dan 2 (buku motivasi), Zulaiha (novel), Aku Bulan Kamu Senja (novel), Awan (novel).
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar