Cerpen

Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-30): Sabar Menunggu

person access_time 1 year ago remove_red_eyeDikunjungi 967 Kali
Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-30): Sabar Menunggu

Ilustrasi: Nurmaya Liwang (kaltimkece.id)

Menunggu selalu saja sebuah pekerjaan yang membosankan.
(Ingin membaca cerita bersambung ini dari awal? Ketuk di sini). 

Ditulis Oleh: Es Pernyata
31 Oktober 2019

BIASANYA ayah Ratih baru berangkat kerja pukul tujuh pagi. Akan tetapi, tiga hari lalu, lebih awal. Selepas subuh, dia sudah pergi. Alasannya, pekerjaan beberapa hari ke depan di luar kota. Itu sebabnya, ia membawa beberapa lembar pakaian, sarung --yang selama ini tidak pernah dilakukan, dan peralatan mandi.

Melihat ayahnya membawa perlengkapan seperti itu, Ratih jadi ingat saat ayahnya hidup dalam penjara. Ratih meminta ayahnya mengurungkan niat bekerja dan meminta kebijaksanaan kantor agar ayahnya bekerja di kota saja. Perwira, ayah Ratih, tidak mengabulkan permintaan tersebut. Seorang pekerja, ia harus loyal kepada perintah atasan selama itu murni pekerjaan dan tidak melanggar norma pun aturan.

"Bekerja itu ibadah, Ratih. Bekerja itu perintah Allah. Jadi, bekerja itu sama dengan berjihad. Di mana pun kita ditugaskan bekerja, ya, laksanakan saja," kata ayahnya.

Ratih tak dapat menahan sedihnya saat ayahnya berangkat kerja dari rumah pada waktu yang tidak biasa. Hari masih gelap ketika ayahnya keluar dari pintu pagar sambil mengingatkan Ratih agar menjaga diri dan menjaga ibunya.

Ini adalah hari ketiga. Belum juga ayahnya pulang kerja dari luar kota. Ratih tahu ibunya juga resah. Ibunya pandai menyimpan perasaan. Tidak bagi Ratih. Kebiasaan ayahnya pulang senja atau selepas magrib membuatnya rindu karena sudah tiga hari tidak melihat ayahnya.

Bagi Ratih, ayah adalah pejuang dan tempat berlindung. Jika kemudian ayahnya tidak ada di rumah, itu sama saja tidak ada perlindungan. Rumah memang tempat berlindung. Tapi rumah tidak punya jiwa. Rumah tidak bisa bicara dan diajak diskusi.

Ayah, bagi Ratih, adalah kamus berjalan. Tempatnya biasa bertanya hal ihwal kehidupan. Ayahnya selalu dengan sabar menjelaskan sepanjang ia tahu persoalannya. Kadang-kadang, semangat ayahnya menyala-nyala, naik-turun suaranya jika sudah bercerita masa lalu. Masalahnya sekarang, sosok yang selalu dibanggakan Ratih itu tidak ada di rumah. Bantal yang biasa digunakannya untuk menyandarkan tubuh dinding, tergolek sepi karena tak bertuan. Padahal, bila ayahnya sudah menyandarkan tubuhnya di dinding dan kakinya berselonjor, itulah pertanda bahwa Ratih harus memijat-mijat betis ayahnya.

Saat-saat seperti itulah yang dirindukan Ratih. Ia bisa bertanya apa saja tentang pengalaman ayahnya yang sudah lama makan asam garam kehidupan. Kadang-kadang Ratih geli sendiri. Jawaban ayahnya tidak nyambung dengan pertanyaan Ratih. Itu pertanda bahwa sebentar lagi ayahnya mendengkur.

Pintu depan diketuk. Ratih berdiri dari tempat duduknya dan berharap yang datang itu adalah ayahnya. Saat pintu dibuka, seorang lelaki paruh baya yang ada. Ia memperkenalkan diri sebagai Hery Susanto, rekan sekerja ayahnya.

Jantung Ratih nyaris berhenti berdegup saat Pak Hery memberitahu bahwa ayahnya sedang di rumah sakit Sangatta. Ia mengalami kecelakaan kerja. Ratih segera memberi tahu ibunya. Wanita itu segera berkemas-kemas karena mereka harus berangkat sore ini juga. Ratih menyabarkan ibunya.

"Kita harus cari kendaraan dulu, Bu. Sangatta itu jauh."

"Sebaiknya besok saja. Kondisinya tidak terlalu mengkhawatirkan. Saya hanya dipesani kalau Pak Perwira belum bisa pulang karena harus dirawat. Jadi, beliau titip kabar ini kepada saya. Kami sudah pulang semua. Beliau saja yang tinggal. Beliau bilang kalau dokter membolehkan, biar dirawat di Samarinda saja."

Ratih dan ibunya masih tak karuan rasa saat Pak Hery Susanto, rekan kerja ayahnya, pamit pulang. Karena gugupnya, mereka tidak sempat menanyakan rumah sakit yang dimaksud rumah sakit apa? Apakah di Sangatta hanya ada satu rumah sakit?

Ratih juga tidak sempat bertanya, kecelakaan yang menimpa ayahnya itu seperti apa? Kisahnya bagaimana? Apa, sih, yang dikerjakan ayahnya? Yang bisa dipastikan, kondisinya tidak mengkhawatirkan, kata Pak Hery. Ukuran tidak mengkhawatirkan itu apa?

Ratih belum pernah ke Sangatta. Hari menjelang sore. Sebentar lagi malam. Kendaraan ke Sangatta belum jelas. Ratih tahu ada kendaraan carteran di Terminal Lempake. Tapi ia masygul berangkat malam-malam ke Sangatta. Berduaan saja dengan ibunya.

Maryati, ibu Ratih, menunggu dengan sabar ikhtiar anaknya mencari kendaraan. Sesekali ia menyeka air matanya. Ratih mengaduk-aduk tasnya. Ia mencari kartu nama yang diberikan Yusuf saat mereka bertemu di pusat perbelanjaan keperluan rumah tangga dan bangunan di mal terbesar di Samarinda. Ratih menyesali diri mengapa kartu nama itu tidak disimpannya baik-baik.

Hanya Yusuf yang dikenalnya, yang dia ketahui memiliki kendaraan roda empat. Kepada Yusuflah ia ingin minta tolong. Tapi kartu nama yang ada teleponnya itu di mana?

Ada beberapa kartu nama di dompet panjangnya. Tapi tidak ada nama Yusuf Kertanegara. Yang ada hanya Eka Sari Fila Noraina. "Ini kartu nama siapa?" Rasanya ia tidak punya kenalan nama Eka Sari Fila Noraina. Panjang betul namanya. Siapa yang kukenal tinggal di perumahan Citra Garden ini?

"Ini dia. Masya Allah aku lupa," kata Ratih tak sadar sehingga suaranya didengar oleh ibunya.

Ratih pun menjelaskan bahwa saat bertemu Yusuf dulu ia diberi kartu nama. Karena merasa tidak penting kartu nama itupun ia simpan di dompet dan tidak pernah dilihatnya. Rupanya bukan nama Yusuf yang tertera melainkan nama Eka Sari Fila Noraina. Mungkin ini rekan kerja Yusuf atau malah stafnya.

Akan tetapi Ratih tidak memiliki telepon. Bagaimana menghubungi perempuan itu? Padahal, kata Yusuf waktu itu, jika perlu apa-apa hubungi saja nomor yang tertera. Ratih menyesali sikapnya yang selama ini tidak mau membeli smartphone ternyata menyulitkan dirinya sendiri.

Semula, pertimbangannya adalah uang. Ratih harus menghemat uang. Baginya, orang harus bisa hidup normal tanpa telepon. "Ayah kita, ibu kita, hidup tidak pakai telepon, baik-baik saja," kata Ratih. Sekarang, terasa benar perlunya telepon itu.

Setelah uangnya cukup, Ratih tetap tak jua menyisihkan uang tersebut untuk membeli telepon. Alasannya, banyak orang susah karena telepon. Dapat kiriman SMS palsu, gambar porno, video porno, ajakan maksiat, dan sebagainya.

Ratih bersama ibunya akhirnya meminjam telepon dari tetangga. Ratih bingung, telepon itu terhubung tapi tidak diangkat. Yunus, anak tetangga sebelah yang masih duduk di kelas 11 SMA mencoba membantu. Betul, telepon itu tidak diangkat.

"Begini saja, Mbak Ratih. Kita kirim pesan pendek saja ke nomor ini, mbak perlunya apa? Nanti saya tuliskan."

Ratih menyetujui. Ia pun mendiktekan pesannya. "Mohon bantuan Ibu Eka Sari Fila Noraina untuk menyampaikan pesan kepada Bang Yusuf Kertanegara bahwa saya mohon bantuan kendaraan dan sopir menjenguk ayah saya di rumah sakit Sangatta."

Yunus mengirimkan pesan itu lewat pesan WhatsApp karena dilihatnya nomor itu juga digunakan untuk aplikasi dimaksud. Pesan itu juga disampaikannya melalui SMS.

Ratih dan ibunya pulang ke rumah dan bertekad besok pagi ke Sangatta menggunakan kendaraan carter dari Terminal Lempake. Malam ini Ratih tidur di kamar ibunya. Ratih tidak tahu, apakah ibunya bisa terlelap atau tidak. Ia sendiri belum bisa memejamkan matanya, padahal waktu telah menunjukkan pukul 22.19.

Sayup-sayup ia mendengar pintu pagarnya dibuka. Setengah berlari ia menuju pintu. Dilihatnya Yunus berdiri dengan telepon di tangannya.

"Baru masuk balasannya," kata Yunus. Ratih membaca balasan itu. Begini bunyinya

"Pak Yusuf baru mendarat dari Jakarta. Ia segera akan ke rumah."

"Terima kasih, ya. Maaf kakak merepotkan," kata Ratih kepada Yunus, tetangga yang baik budi itu.

Ratih menunggu dengan sabar. (bersambung)

Serial selanjutnya, ketuk:
Tentang penulis 
Syafruddin Pernyata atau Es Pernyata, lahir Loa Tebu (Tenggarong), 28 Agustus 1958. Alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Mulawarman serta Program Studi Linguistik (Magister) Universitas Padjadjaran Bandung. Pernah bekerja sebagai guru,  dosen,  wartawan, dan birokrat. Tugas sebagai birokrat ialah Karo Humas, Kepala Dinas Pendidikan, Kaban Perpustakaan, Kepala Diklat, dan Kepala Dinas Pariwisata Kaltim.
Karya yang diterbitkan: Harga Diri (kumpulan cerpen),  Aku Mencintaimu Shanyuan (novel),  Nanang Tangguh dan Galuh Intan (novel), Belajar dari Universitas Kehidupan (kisah motivasi), Ujar Mentor Jilid 1 dan 2 (buku motivasi), Zulaiha (novel), Aku Bulan Kamu Senja (novel), Awan (novel).
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar