Cerpen

Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-31): Ayah Pembohong

person access_time 1 year ago remove_red_eyeDikunjungi 1028 Kali
Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-31): Ayah Pembohong

Ilustrasi: Nurmaya Liwang (kaltimkece.id)

Kenyataan yang sebenarnya. Harus diterima.
(Ingin membaca cerita bersambung ini dari awal? Ketuk di sini). 

Ditulis Oleh: Es Pernyata
01 November 2019

RATIH tidak tahu pukul berapa dia baru tertidur tadi malam. Ia baru terbangun pukul 05.15. Itupun karena dibangunkan ibunya. Yusuf sudah duduk di ruang tamu bersama seorang lelaki. Pak Jauhari namanya. Ia adalah sopir yang menjemput Yusuf di bandara Balikpapan, Sultan Aji Muhammad Sulaiman.

Tepat pukul enam pagi, kendaraan mereka sudah meluncur menyusuri trans Kalimantan, Samarinda-Bontang-Sangatta. Pak Jauhari rupanya sopir berpengalaman. Ia adalah sopir di kantor tempat Yusuf bekerja. Usianya jauh lebih tua dari Yusuf. Beda 10 tahun. Jauhari menyapa Yusuf dengan "Pak,” sementara Ratih dan ibunya menyapa Yusuf dengan "Bang" dan "Nak." Orang yang sama disapa dengan tiga varian, Pak, Bang, Nak.

Ratih sempat bertanya ke dirinya  mengapa kendaraan yang mereka tumpangi berbeda dengan kendaraan saat ia ke Muara Badak. "Mungkin waktu ke Muara Badak adalah mobil milik pribadi Bang Yusuf sendiri sedang ini mobil kantor," simpul Ratih. Mobil CRV terbaru produk 2018 ini nyaman ditumpangi. Joknya empuk. Bersih dan harum.

Saat tiba di rumah Ratih, Yusuf sempat bertanya beberapa hal. Ratih tidak bisa menjawab semuanya karena informasi yang disampaikan Pak Hery, rekan kerja ayah Ratih, sangat terbatas. Kecelakaan tapi tidak mengkhawatirkan. Itu saja informasinya.

"Kami menginap di Balikpapan karena baru bisa check in hotel pukul 23.00. Bapak bilang, berangkat ke Samarinda pukul tiga saja. Jadi sempat istirahat. Sepertinya Bapak tidak tidur sebab saya bangun pukul tiga, Bapak sudah ganti baju. Dia yang menunggu saya. Saya, sih, tidur. Kamarnya enak. Di rumah saya tidak pakai AC. Saya tidur di sofa," cerita Pak Jauhari kepada Ratih yang duduk di belakang Yusuf.

Mungkin karena tidak bisa tidur semalaman, Yusuf yang duduk di samping kiri Pak Jauhari sudah lelap sejak melewati Bukit Tanah Merah. Ibu Ratih yang duduk di belakang Pak Jauhari tampaknya juga terlelap.

Pukul sembilan lewat tiga puluh menit barulah Ratih dan ibunya tiba di rumah sakit Sangatta. Yusuf dan Ratih berurusan dan ibunya diminta agar menunggu di mobil. Alasannya, mereka ingin mengecek dulu keberadaan ayahnya. Khawatir ayahnya di ruang ICU dan belum boleh dikunjungi.

Ruang ICU (intensive care unit) adalah suatu bagian dari rumah sakit yang mandiri (instalasi di bawah direktur pelayanan). Ada staf khusus dan perlengkapan khusus yang ditujukan untuk observasi, perawatan, dan terapi pasien. Pasien yang menderita penyakit, cedera, atau penyulit yang mengancam nyawa. Ruang ICU tidak bisa dimasuki kecuali ada izin dari dokter atau kepala ruangan.

Perwira, ayah Ratih, tidak ada di ruang ICU. Yusuf, tanpa sadar memegang tangan Ratih untuk segera ke ruang UGD. Ia baru sadar, biasanya pasien dadakan karena kecelakaan misalnya, diarahkan ke UGD terlebih dahulu, baru ditentukan diarahkan kemudian.

Unit Gawat Darurat (UGD) adalah salah satu bagian di rumah sakit yang menyediakan penanganan awal bagi pasien yang menderita sakit dan cedera, yang dapat mengancam kelangsungan hidupnya. Kepala ruangan mengakui bahwa nama Perwira tercatat sempat diperiksa dan mendapat penanganan di ruang tersebut. Sekarang sudah dipindah ke ruang rawat inap setelah mendapat penanganan dokter.

"Ada beberapa luka. Luka lecet saja. Tapi sudah ditangani dokter," kata kepala ruangan yang mempersilakan Yusuf dan Ratih untuk menjenguk ayahnya di Ruang Cempaka.

"Alhamdulillah," serentak keduanya mengucap syukur setelah mendengar pernyataan itu. Mereka pun dengan langkah cepat menuju ruang perawatan dimaksud. Ratih segera memeluk ayahnya saat tiba di ruang perawatan. Ia sempat menangis tapi sebentar karena ia kemudian tersadar untuk segera menjemput ibunya yang masih di mobil. Yusuf menyalami ayah Ratih sambil memperkenalkan diri.

"Oh, kamu. Ya, ya, aku ingat. Yusuf kan namamu. Ya, ada ibunya Ratih bercerita saat kamu datang ke rumah tempo hari. Terima kasih sudah membantu."

Yusuf berdiri di samping ranjang. Ibu Ratih datang. Ia langsung melihat-lihat luka lecet di betis dan tangan suaminya. Air matanya mengalir.

"Syukurlah, Pak. Aku khawatir lukanya parah."

"Tidak apa-apa. Kalau dokter mengizinkan, hari ini bisa pulang."

Tak lama kemudian dokter datang dan melihat perkembangan pasiennya. Setiba giliran pada Pak Perwira, Yusuf memberanikan diri untuk bertanya apakah Pak Perwira bisa pulang hari ini.

Dokter membolehkan karena ayah Ratih hanya mengalami luka lecet. Luka lecet itu terjadi ketika kulit bergesekan dengan permukaan yang kasar, sehingga mengelupas lapisan atas kulit. Meski tergolong luka ringan, luka ini juga memerlukan perawatan.

"Gelegar jembatan ulinnya sudah tua. Pas giliran saya lewat, gelegarnya patah. Kaki saya terperosok dan bergesekan dengan papan ulin di depannya. Tangan saya pun tergesek balok di samping saya. Harusnya jembatan ke gudang itu sudah lama diperbaiki," cerita Pak Perwira menyesali.

Pak dokter mengangguk-angguk. Ia kemudian memberikan petunjuk bagaimana merawat luka itu di rumah.

"Nanti kalau ganti penutup lukanya, cuci tangan dengan air dan sabun hingga bersih sebelum membersihkan. Baru bersihkan luka. Setelah itu oleskan antibiotik untuk membuat luka tetap lembab agar cepat sembuh serta mencegah infeksi. Tutup luka dengan kasa steril yang lembut dan ganti setiap hari, " kata dokter.

"Oh ya, kalau ada rasa sakit karena memar, kompres dengan es. Jangan diurut, ya?"

Yusuf mengurus semua pembiayaan di rumah sakit tersebut. Ia kemudian meminjam kursi roda rumah sakit. Perawat rumah sakit tidak mengizinkannya. Perawat itu sendiri yang mendorong kursi roda. Yusuf hanya membantu memapah Pak Perwira ke dalam mobil. Pak Perwira duduk di tengah, diapit istri dan anaknya.

"Ayah kerja apa, sih, sampai jatuh di jembatan gudang itu?" Ratih bertanya tak sabar saat mobil sudah meluncur ke arah Samarinda.

Ayahnya tak segera menjawab. Ia merasa bersalah karena selama ini ia menyembunyikan pekerjaannya. Ia tak mau berterus terang terutama kepada Ratih karena khawatir mengganggu konsentrasi belajarnya. Ia tahu anaknya sangat peduli kepada dirinya tapi justru karena itu pula ia hanya mengatakan bahwa ia bekerja di perusahaan dan tak menjelaskan jenis pekerjaannya.

Selama ini ia sudah berusaha mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya sebagai sarjana muda ekonomi. Ia berharap bisa bekerja di bidang pembukuan secara manual. Masalahnya, sistem pencatatan keuangan dan barang sudah berbasis komputer. Tak ada lagi manual. Perwira tidak mengerti komputer. Mengoperasikan komputer saja bingung apalagi menggunakan aplikasinya.

Tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga untuk mencari rezeki tidak bisa menghalanginya bekerja. Akhirnya, ia mau bekerja apa saja asal halal. Maka, ketika lowongan yang tersedia hanyalah sebagai 'kuli semen' dari truk ke gudang atau sebaliknya, ia pun menerimanya.

Perusahaan tempatnya bekerja kemudian dapat pesanan semen dalam jumlah banyak di Kecamatan Bengalon, Kutai Timur. Demi efisiensi, semen diangkut kapal tongkang. Kemudian dipindahkan ke gudang dengan tenaga manusia. Perwira menerimanya. Ia tidak sendirian. Ia berenam bersama rekan kerjanya. Ia mau, karena upahnya sistem borongan. Bukan harian seperti selama ini yang dikerjakannya di kota.

"Masya Allah, Yah. Mulai sekarang, Ayah tidak boleh kerja lagi," kata Ratih mendengar cerita ayahnya. Ia tidak menduga, ayahnya yang selalu pergi berangkat kerja dengan baju rapi itu ternyata bukanlah bekerja di bagian administrasi seperti yang dibayangkan selama ini. Maryati, ibu Ratih, yang mendengar penuturan suaminya tak tahan menahan kesedihannya. Ia pun terisak. Tangis Ratih pun pecah juga.

Ayah, bagi Ratih adalah orang yang paling ia cintai selain ibunya. Sebagai anak, ayah baginya adalah penghibur dan penyemangat. Ayah juga adalah pelindung. Ratih tidak menduga ayahnya menyembunyikan pekerjaannya yang amat berat itu. Ayahnya selalu berkata bahwa pekerjaannya seperti orang lain yang berkerja di kantor. Tidak ada bedanya.

"Ayah pembohong. Ayah tega," tiba-tiba tangis Ratih pecah lagi.

"Kalau tahu ayah jadi kuli, lebih baik Ratih berhenti kuliah. Biar Ratih bekerja."

"Makanya ayah tidak mau mengatakan sejujurnya. Ibumu saja tidak ayah kasih tahu."

"Pokoknya Ayah tidak boleh bekerja lagi. Ayah di rumah saja "

"Ya. Selama sakit ayah akan istirahat di rumah."

"Walaupun nanti sudah sembuh. Sudah sehat. Tetap tidak boleh bekerja. Gaji Ratih cukup."

"Kalau di rumah, ayah nanti stres."

"Ayah berkebun saja. Merapikan taman saja," kata Ratih membujuk ayahnya.

"Ayah ngantuk. Ayah tidur dulu ya. Enak mobilnya."

Ratih tak menggangu ayahnya lagi. Ia tahu, ayahnya tak suka bila tidurnya terganggu. Ayahnya sering mengatakan, tidur adalah kemerdekaan. Biasanya, Ratih memijat-mijat betis ayahnya jika sepulang kerja dan dilihatnya ayahnya lelah. Kali ini tidak. Ratih takut pijatannya mengenai luka pada betis ayahnya.

Yusuf mendengar semua percakapan Ratih dan ayahnya. Ia semakin terenyuh mendengar kisah-kasih anak dan ayah itu. Ia pun teringat ayah dan ibunya di Jakarta. Baru dua hari ia meninggalkan Jakarta. Ia sempat ke rumah tapi hanya sebentar. Tak sempat bermalam karena kesibukan kerja.

Tiba-tiba Yusuf menyesal. Ia merasa berdosa. Sesungguhnya, ia bisa menunda kembali ke Samarinda. Bukankah orang tua adalah di atas segala-galanya. “Apakah karena pekerjaan aku harus melupakan kewajibanku pada orang tua?” tanya Yusuf pada dirinya sendiri.

Ibunya sempat membujuk Yusuf menunda pulangnya. "Ibu masih kangen sama kamu, Nak," kata ibunya saat ia pulang sore itu menuju bandara.

"Allah semua mengatur perjalanan hidupku ini. Kalau kutunda kepulanganku, seperti apakah kalang kabutnya Ratih mendengar ayahnya mendapat musibah dan sedang dirawat di rumah sakit?" Yusuf bertanya dalam hati.

Yusuf tahu, saat ia memeluk ibunya pada waktu dia pamit, ibunya meneteskan air mata. Tapi itu selalu. Yusuf sudah sering melihat hal itu. Sekarang, bersama Ratih dan ayah-ibunya dalam perjalanan menuju Samarinda, Yusuf pun teringat ayah bundanya. Ia sangat merindukan mereka. (bersambung)

Serial selanjutnya, ketuk
Tentang penulis 
Syafruddin Pernyata atau Es Pernyata, lahir Loa Tebu (Tenggarong), 28 Agustus 1958. Alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Mulawarman serta Program Studi Linguistik (Magister) Universitas Padjadjaran Bandung. Pernah bekerja sebagai guru,  dosen,  wartawan, dan birokrat. Tugas sebagai birokrat ialah Karo Humas, Kepala Dinas Pendidikan, Kaban Perpustakaan, Kepala Diklat, dan Kepala Dinas Pariwisata Kaltim.
Karya yang diterbitkan: Harga Diri (kumpulan cerpen),  Aku Mencintaimu Shanyuan (novel),  Nanang Tangguh dan Galuh Intan (novel), Belajar dari Universitas Kehidupan (kisah motivasi), Ujar Mentor Jilid 1 dan 2 (buku motivasi), Zulaiha (novel), Aku Bulan Kamu Senja (novel), Awan (novel).
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar