Cerpen

Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-32): Bantal Basah

person access_time 1 year ago remove_red_eyeDikunjungi 858 Kali
Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-32): Bantal Basah

Ilustrasi: Nurmaya Liwang (kaltimkece.id)

Kegalauan yang melebihi resah yang biasanya.
(Ingin membaca cerita bersambung ini dari awal? Ketuk di sini). 

Ditulis Oleh: Es Pernyata
02 November 2019

JEMBATAN Mahakam masih seperti yang dulu. Ponton-ponton batu bara ditarik kapal pemandu berbaris rapi ke hilir. Di atas ponton itu, gundukan hitam bagai bukit-bukit yang memagari Samarinda Seberang, selatan kota Samarinda. Tak ada yang berubah sebagaimana matahari pagi selalu menyembul dari bukit Steleng di sebelah timur. Seperti bulan. Bila purnama, cahayanya menyiram Sungai Mahakam hingga airnya berkilauan.

Kota Samarinda belum berubah banyak selama tiga tahun lebih ini. Kecuali kesibukan warganya makin meningkat. Jalan-jalan tak pernah lengang kecuali di atas pukul 24.00. Apalagi jalan trans Kalimantan, Samarinda-Bontang-Sangata, hingga Malinau di Kalimantan Utara.

Jalan di bagian utara kota semakin padat. Pada jam-jam tertentu, kepadatan itu menimbulkan kemacetan. Sejak Bandara Samarinda yang diberi nama APT Pranoto beroperasi, kesibukan di jalan ini sangat terasa padat. Misalnya Jalan Pangeran M Noor dan Jalan DI Panjaitan. Jalan ini adalah jalan utama dari dan ke pusat kota. Bila hujan turun, air tergenang di seputaran jalan Panjaitan.

Masa yang terus beredar telah menelan kisah suka duka perjalanan Ratih selama menempuh perkuliahan di kampus. Sudah hampir tiga bulan ini, ia tidak pernah menjenguk ruang kuliah yang ikut mengukir romantisme kehidupan sebagai mahasiswa. Manusiawi jika ia sesekali berhasrat kuat untuk menjenguk ruang kuliah, kantin, perpustakaan, dan bangku-bangku taman. Tapi siapa yang akan ditemuinya? Tidak ada Rahman di sana. Tidak ada juga Iyan Banjar, Ulis Harat, dan Murni Murai.

Tidak ada Rudi Perdana, pemilik suara merdu dan pemetik gitar andalan di angkatannya. Ya, apa kabarnya lelaki yang pernah menemaninya menyanyi lagu Mimpi Anggun C Sasmi di Pantai Bahagia itu? Mungkin dia masih menikmati suasana bulan madu.

Ratih tak hadir saat RP melangsungkan resepsi pernikahannya di Gedung Wanita. Ratih tak hadir bukan karena tak diundang. Ia benar-benar lupa karena kesibukannya yang luar biasa dalam mengembangkan destinasi wisata Pantai Bahagia. Tiga hari setelah resepsi, ia baru sadar saat pulang ke rumah dari Muara Badak ketika melihat undangan resepsi itu masih di antara halaman buku novel Awan, karangan Syafruddin Pernyata. Novel itu belum tamat dibaca oleh Ratih karena tak sempat. Ratih bagaikan ekskavator yang bekerja 24 jam mengeruk batu bara.

Lalu, bagaimana pula kisah Anita? Bagaimana hubungan Anita dengan Burhan Magenta? Waktu acara wisuda, Ratih sempat berpelukan dengan sahabat kentalnya itu. Sayangnya, ia tak sempat ngobrol lama karena Anita sibuk berfoto dengan paman dan tantenya yang sudah dianggap ayahnya sendiri.

Usai acara, Anita sudah ditunggu pula oleh ayah dan ibu kandungnya yang tidak masuk ke gedung olahraga -- yang sudah disulap jadi tempat wisuda. Jatah pendamping wisudawan hanya dua orang. Ayah dan ibu kandungnya di tenda. Anita lalu bergabung dengan kedua orang tuanya. Itulah sebabnya, Ratih tidak bisa menumpahkan kerinduan kepada sahabat sejatinya itu.

Oh, ya, Burhan Magenta juga hadir didampingi ibu dan adiknya. Ia terpisah jauh dari Ratih. Sekitar empat deret di belakang Ratih. Saat Ratih datang, pintu akan ditutup. Tak banyak waktu untuk bertegur sapa. Di ruang acara, meskipun prosesi wisuda belum dimulai, wisudawan tidak diizinkan meninggalkan tempat duduknya.

Wisuda yang menyedihkan. Sementara, saat mereka jadi panitia wisuda setahun sebelumnya, justru selalu bersama. Lapar bersama. Kenyamukan bersama. Kadang, bertengkar antar sesama. Memang, setelah wisuda, Ratih sempat ke kampus untuk mengurus ijazah. Tapi tidak pernah bertemu serentak dengan sahabat kentalnya. Selalu selisih. Sekali waktu hanya dengan Ulis Harat. Di waktu yang lain bertemu Rahman dan Iyan Banjar.

Iyan Banjar mengatakan, dia pulang kampung seminggu lagi. Ratih sedih mendengarnya. Meskipun ia tidak punya smartphone, hari itu ia catat nomor telepon sahabatnya yang sukar dilupakan karena jenaka dan polos itu. Iyan mengingatkan Ratih agar jangan pernah mati sebelum pergi ke kotanya, Kandangan. Selain dodolnya, Kandangan terkenal memiliki Air Terjun Haratai dan objek wisata Loksado. Di Loksado, ada rafting menggunakan bambu sehingga dikenal sebagai bamboo rafting atau balanting paring.

Sementara Rahman, anak yang dulu pernah tersedak kacang atom yang dilemparkan Iyan Banjar ke mulutnya, pulang kampung ke Long Kali, Kabupaten Paser. Rahman akan mencari kerja di Tanah Grogot, ibukota kabupaten. Nomor telepon anak ini pun sudah dicatat Ratih.

Ulis Harat ada di Samarinda. Hanya Ulis Harat yang bisa ditemui Ratih karena tinggal sekota. Meskipun demikian, belum juga Ratih berkesempatan menemui Ulis Harat yang sudah bekerja sebagai karyawan di objek wisata Taman Salma Shofa. Temannya yang berayah orang Cianjur dan beribu orang Kutai ini diterima bekerja di Taman Salma Shofa karena pemiliknya adalah kakak dari ibu Ulis Harat.

"Rindu berat aku dengan mereka. Kapan bisa bertemu lagi, ya?" bisik batin Ratih.

Sedari tadi, Ratih hanya termenung di beranda depan rumahnya yang baru direnovasi. Beranda itu direnovasi karena atapnya bocor. Pagar dari kayu telah diganti dengan papan selebar 98 mm. Semua dicat putih. Tidak lagi warna hijau tua seperti sebelumnya.

Beranda itu lebih indah dipandang karena kontras dengan taman depan yang lebih hijau, rapi, dan dihiasi tanaman hias seperti tarambusa putih berpadu dengan difenbacia berdaun lebar. Ada pula asoka berbunga kuning dan merah. Di sudut, dua barang palm ekor tupai berdiri tegak bak pengawal. Taman itu jauh lebih asri karena ayah Ratih sudah tidak bekerja lagi sebagai buruh angkut semen. Ia sangat telaten mengurus taman dan menyapunya setiap pagi dan di ambang petang.

Bulan purnama semakin meninggi. Ratih masih betah duduk di beranda. Ibunya sudah sekali mengingatkan Ratih agar duduk di ruang tamu. Udara sangat dingin selepas hujan sore tadi. Ratih bergeming. Langit tanpa awan, purnama pada malam kelima belas, sayang untuk dilewatkan.

Entah mengapa, saat Ratih memandang bulan purnama itu, ia melihat sosok yang meskipun kabur tapi dikenalnya. Dialah Burhan Magenta. Wajah pemuda itu kuyu sebagaimana yang sempat dilihat Ratih waktu itu. Ya, sewaktu Ratih dengan percaya diri mengatakan, " Aku tidak". Pada waktu itu, Burhan menyatakan bahwa ia mencintai Ratih.

Apakah kemudian Burhan jadi berpacaran dengan Anita? Ataukah Burhan menolak Anita dan membiarkan sahabat kentalnya itu pulang ke Bandung, tinggal bersama ayah dan ibu kandungnya?

"Duh, mengapa aku memikirkan keduanya, ya?" Ratih bertanya kepada dirinya sendiri.

"Andai ada Bang Yusuf, tentu aku tidak seresah ini. Galau mengingat masa lalu."

Sudah sebulan ini Yusuf Kertanegara tidak menampakkan wajahnya di rumah Ratih. Pemuda ini telah mengusik dan mengaduk-aduk perasaan Ratih. Sulit sekali Ratih lari dari bayang-bayang Yusuf yang sangat baik budi. Tidak hanya kepada dirinya namun kepada ayah dan ibunya.

Ibu Ratih malah beberapa kali menyinggung-nyinggung nama Yusuf dan bertanya apa kabarnya. Ratih menjawab apa adanya. Ia tidak tahu karena tidak pernah juga menghubungi pemuda tampan itu. Ibunya pernah menyarankan agar Ratih membeli telepon seluler agar mudah dihubungi dan mudah pula menghubungi siapapun. Ratih sudah meng-iya-kan tapi belum juga melaksanakan.

"Besok, aku akan beli smartphone. Bisa kurus kering tubuhku dimakan rindu berat pada teman-temanku, sementara aku tak berdaya karena terlalu percaya diri bisa hidup nyaman tanpa gangguan telepon."

"Gara-gara tak punya telepon, aku jadi tidak tahu di mana Bang Yusuf. Lagi sibuk kerja atau dapat teman baru? Ya kalau teman baru dan sibuk kerja. Kalau dia dapat pacar? Mati aku!" Ratih menjerit dalam hati.

Ia masuk ke rumahnya. Langsung ke kamar tidurnya. Basah lagi bantalnya oleh air mata. (bersambung)

Serial selanjutnya, ketuk: 
 
 
Tentang penulis 
Syafruddin Pernyata atau Es Pernyata, lahir Loa Tebu (Tenggarong), 28 Agustus 1958. Alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Mulawarman serta Program Studi Linguistik (Magister) Universitas Padjadjaran Bandung. Pernah bekerja sebagai guru,  dosen,  wartawan, dan birokrat. Tugas sebagai birokrat ialah Karo Humas, Kepala Dinas Pendidikan, Kaban Perpustakaan, Kepala Diklat, dan Kepala Dinas Pariwisata Kaltim.
Karya yang diterbitkan: Harga Diri (kumpulan cerpen),  Aku Mencintaimu Shanyuan (novel),  Nanang Tangguh dan Galuh Intan (novel), Belajar dari Universitas Kehidupan (kisah motivasi), Ujar Mentor Jilid 1 dan 2 (buku motivasi), Zulaiha (novel), Aku Bulan Kamu Senja (novel), Awan (novel).
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar