Cerpen

Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-33): Hotel Bintang Dua

person access_time 1 year ago remove_red_eyeDikunjungi 931 Kali
Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-33): Hotel Bintang Dua

Ilustrasi: Nurmaya Liwang (kaltimkece.id)

Sebuah rencana, berjuta cita-cita.
(Ingin membaca cerita bersambung ini dari awal? Ketuk di sini). 

Ditulis Oleh: Es Pernyata
03 November 2019

PANTAI Bahagia sudah menjadi buah bibir. Setiap akhir pekan, mobil-mobil berjejer dengan rapi di lapangan parkir seluas dua kali lapangan bola. Popularitas Pantai Bahagia telah merasuk ke benak penyuka wisata bahari.

Tak pernah dibayangkan bahwa Pantai Bahagia kini kerap dikunjungi wisatawan dari Sulawesi dan Pulau Jawa. Ratih paham benar memanfaatkan media elektronik terutama media televisi. Secara tak sengaja, ia berkenalan dengan seorang pewarta televisi bernama Amir Hamzah. Di media sosial, dia menggunakan Smda Ham. Ham itu adalah singkatan dari Hamzah. Dia juga ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Kalimantan Timur.

Amir Hamzah adalah pewarta SCTV sekaligus Indosiar. Istrinya, Syahriah, juga pewarta Rajawali TV. Ratih mengenalnya saat ia diundang sosialisasi sadar wisata di sebuah hotel. Usai acara, semua peserta diajak berwisata di atas kapal wisata di seputaran perairan kota Samarinda. Di saat itulah Amir Hamzah menghampirinya dan meminta pendapat Ratih soal kesannya berwisata naik kapal.

Peristiwa itu menjadi awal perkenalan Ratih dengan awak media terutama awak media televisi. Kawan-kawan ini kemudian membantu memberitakan keunikan dan keindahan Pantai Bahagia. Berita itu secara tidak langsung membantu mempromosikan objek wisata ini.

Perkembangan pesat destinasi Pantai Bahagia membuat Ratih seperti kecanduan untuk terus mengembangkan objek ini. Keleluasaan yang diberikan oleh Haji Acok selaku pemilik lahan membuat Ratih bebas berkreasi. Ini yang disenangi Ratih. Selama ini, kebebasan berkreasi dan berimajinasi menjadi barang mahal terutama di kalangan insan pemerintah. Itulah sebabnya, tak sedikit pun ada keinginan Ratih bekerja sebagai pegawai negeri.

Di lembaga pemerintah, menurut penilaian Ratih, setiap karyawan lebih senang cari aman. Caranya, kerjakan apa yang diperintahkan. Jangan coba-coba berinisiatif karena inisiatif bisa membawa kaki di penjara. Birokrasi ketat dan kakunya anggaran membuat kreativitas mandek karena semua sudah diatur, ditata, diprogramkan. Tidak elastis. Tidak lentur. Tidak mudah beradaptasi. Tidak bisa menyesuaikan kebutuhan dan memanfaatkan peluang.

Ratih melihat, peluang wisatawan untuk menikmati Pantai Bahagia mestinya jangan pergi-pulang saja seperti yang terjadi selama ini. Pengelola usaha hanya dapat dari biaya parkir, transportasi, dan kuliner. Yang terakhir ini pun jikalau mereka tidak membawa bekal sendiri.

"Harusnya kita bisa mendapatkan pendapatan lebih dari kuliner dan akomodasi. Untuk itu, kita perlu membangun hotel. Jangan ecek-ecek. Minimal hotel bintang dua."

"Benar juga, Ratih. Itu sangat mungkin. Kalau sekarang belum ada yang menginap karena penginapannya yang tidak ada," kata Haji Acok merespons keinginan Ratih.

"Bukan penginapan, Ji. Hotel. Kita harus bangun hotel."

"Ya, maksudku begitu."

"Tiket pesawat mahal. Bagasi berbayar. Orang harus diberi pilihan untuk tidak ke Jawa. Orang Balikpapan, Samarinda, Tenggarong, Sendawar, banyak yang punya duit. Ke mana mereka libur kalau liburnya hanya tiga hari. Ke Jawa? Rugi besar. Main di kota? Sudah sering. Orang-orang ini yang akan kita jadikan prospek," kata Ratih dengan tekanan suara yang menunjukkan semangat luar biasa.

"Kita tidak perlu membangun 60 kamar. Cukup 30 kamar dulu. Yang perlu kita pikirkan adalah hotel itu harus punya beranda. Sebanyak 15 kamar menghadap laut dan matahari terbenam sehingga tamu yang ingin menikmati sunset bisa memilih kamar itu. Sebanyak 15 kami lagi menghadap taman dan pepohonan kelapa," kata Ratih lagi dan seperti biasa, Haji Acok lebih banyak mengiyakan dengan anggukan daripada berbicara.

Bagi Haji Acok, setiap orang harus bekerja sesuai keterampilan dan kemampuannya. Dirinya merasa tak memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengembangkan destinasi ini menjadi seterkenal sekarang. Semua karena ide-ide kreatif yang berkelebatan di kepala Ratih kemudian diekspresikannya.

Tidak ada alasan untuk mendebat apalagi tidak menyetujui ide Ratih karena telah terbukti hasilnya. Uang bisa mengalir karena kekuatan pikiran dan semangat. Itu pulalah yang selalu disampaikan dan ditanamkan Ratih kepada semua karyawan.

"Mengapa pemerintah selalu dinilai lamban dan ketinggalan zaman dan tidak bisa menghasilkan terobosan-terobosan baru? Jawabnya karena tidak memaksimalkan pikiran dan hilangnya semangat untuk berprestasi. Semua cari aman. Apalagi sekarang."

Ratih bukan manajer. Manajer usaha ini sementara dipegang oleh keluarga Haji Acok. Yuli Agustin Rizani Hidayat. Dia lulusan sekolah guru dari Bulukumba, Sulawesi Selatan. Setelah lulus, tidak mau jadi guru. Nama ini yang disorong oleh Haji Acok kepada Ratih. Ratih tertawa geli saat diminta Haji Acok persetujuannya karena itu bukan wewenangnya. Tapi Haji Acok memang begitu. Ratih dianggap kamus. Serba tahu dan serba bisa.

Yuli Agustin Rizani Hidayat sudah menikah dengan lelaki Banjar. Mirip nama belakang Yuli Agustin yaitu Hadi Rizani. Karena Yuli menjadikan Ratih sebagai "kamus" sebagaimana omnya, Haji Acok, maka Ratih-lah yang selalu menjadi tempat Yuli Agustin Rizani Hidayat bertanya, mengadu, curhat, termasuk soal susu anak yang paling bagus.

"Aneh, kamu Yuli. Aku ini belum punya anak. Menikah saja belum. Pacar saja tak punya."

Yuli Agustin tak peduli. Baginya, Ratih adalah kamus yang mengerti semua persoalan. Ratih mencoba memahami Yuli Agustin karena wanita langsing asal ujung Sulawesi bagian Selatan ini harusnya di depan murid bukan berhadapan dengan hal-hal yang berkaitan pelayanan hotel.

Bulat tekad semangat Ratih untuk mewujudkan impiannya. Hotel bintang dua. Maka, ia akan mulai langkahnya menemui Bayu yang sudah bekerja di hotel. Dari Bayu, Ratih ingin bisa diperkenalkan bertemu dengan general manager. Minimal ia ingin menyampaikan idenya dan mendapat masukan, apapun masukan itu. Kalau dia tertarik, Ratih ingin bisa berjumpa dengan owner atau pemilik hotel itu untuk menjajaki kerja sama.

Ratih sudah semakin tahu bahwa banyak usaha besar-besar dihasilkan melalui kerja sama. Bukan sendirian. Yang sendirian itu film. Rambo namanya. Itu bohong. Yang benar, kemenangan itu selalu hasil kerja bersama. Sama seperti membuat filmnya. Film itu produk kerja sama. Untuk bisa sampai ke penonton pun juga kerjasama.

"Kalau ada orang sukses karena dia sendiri yang bekerja, itu bohong besar. Hati-hati bergaul dengan orang itu. Orang seperti itu tak lebih dari kerbau. Menurut kerbau, kerbaulah yang menghasilkan padi dan manusia bisa makan karena dia yang membajak sawahnya. Tapi, kerbau pula yang menyebabkan orang tak bersalah kena musibah. Kerbau yang berkubang, semua orang kena lumpurnya," kata Ratih semangat. Karena semangat, ia sembrono memberi perumpamaan orang yang sok hebat karena semua yang hebat adalah karyanya. Semua yang jelek, itu karya orang lain.

"Duduklah di sini. Aku coba menyampaikannya dulu ke manajer. Mudah-mudahan dia bisa ditemui," kata Bayu saat Ratih menemuinya.

Manajer hotel bintang empat itu menerima Ratih dengan baik. Ia ramah. Necis. Jasnya rapi. Serasi dengan warna dasinya. Sepatunya mengkilat. Muda. Murah senyum. Kalau tertawa, giginya yang rapi, putih, sangat cocok untuk iklan pasta gigi.

Ratih diterima di restoran hotel itu sambil menyeruput minuman jus apel.

"Idemu bagus. Masuk akal. Prospektif. Saya kira peluangnya cukup besar. Apalagi ribuan orang yang turun-naik di bandara APT Pranoto sekarang. Sebagian di antaranya adalah orang luar. Sepanjang destinasi wisatanya memiliki magnet kuat, bisa saja orang-orang luar yang berurusan di Samarinda itu menyisihkan waktunya berwisata dan bermalam di Muara Badak," kata Suparno Ghofar Abdul Akbar, manajer hotel bintang 4 lulusan jurusan pariwisata program studi perhotelan Universitas Brawijaya.

Ratih tersanjung. Angin surga dari Mas Suparno Ghofar Abdul Akbar itu membuat hatinya berbunga-bunga. Impian Ratih akan hadirnya hotel bintang dua di Muara Badak semakin terbuka.

"Tapi Anda harus mengerti, saya adalah orang gajian di perusahaan ini. Bukan owner. Bukan pemilik. Hanya saja, sebagai sarjana perhotelan, saya melihat ide Anda ini memiliki peluang besar. Saya coba komunikasikan kepada owner kalau Beliau ke Samarinda."

Ratih paham itu. Ia tidak berkecil hati. Bagi dia, respons positif saja sudah membuatnya berada di separuh jalan untuk meraih cita-citanya. Bagi Ratih, kalau ingin mendapatkan imbalan kerja lebih besar, besarkanlah lebih dulu usaha itu.

"Mungkin perlu juga aku mendiskusikan hal ini dengan Bang Yusuf. Duh, kemana sih orang satu ini? Sudah sebulan tak ada kabar beritanya? Semudah itu melupakan? Memang aku bukan pacarnya. Tapi anggap saja teman. Lalu mengapa Bang Yusuf melupakan temannya? Apakah aku punya salah? Salahku apa?"

Pokoknya besok aku harus beli telepon. Tidak bisa tidak. Harus. Wajib. Akan kutelepon Bang Yusuf, kalau perlu aku pura-pura marah. Eh, sebentar, apa hakku memarahi dia?" Galau hati Ratih. Galau yang tak bermuara. Tak berujung. Sumbat. Hati dan pikiran sumbat itu sungguh sangat menyiksa. (bersambung)

Serial selanjutnya, ketuk:
Tentang penulis 
Syafruddin Pernyata atau Es Pernyata, lahir Loa Tebu (Tenggarong), 28 Agustus 1958. Alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Mulawarman serta Program Studi Linguistik (Magister) Universitas Padjadjaran Bandung. Pernah bekerja sebagai guru,  dosen,  wartawan, dan birokrat. Tugas sebagai birokrat ialah Karo Humas, Kepala Dinas Pendidikan, Kaban Perpustakaan, Kepala Diklat, dan Kepala Dinas Pariwisata Kaltim.
Karya yang diterbitkan: Harga Diri (kumpulan cerpen),  Aku Mencintaimu Shanyuan (novel),  Nanang Tangguh dan Galuh Intan (novel), Belajar dari Universitas Kehidupan (kisah motivasi), Ujar Mentor Jilid 1 dan 2 (buku motivasi), Zulaiha (novel), Aku Bulan Kamu Senja (novel), Awan (novel).
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar