Cerpen

Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-34): Menyerah tapi Tak Mau Dijajah

person access_time 2 weeks ago remove_red_eyeDikunjungi 150 Kali
Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-34): Menyerah tapi Tak Mau Dijajah

Ilustrasi: Nurmaya Liwang (kaltimkece.id)

Mengikuti kemajuan agar tak tergilas zaman.
(Ingin membaca cerita bersambung ini dari awal? Ketuk di sini). 

Ditulis Oleh: Es Pernyata
04 November 2019

MENCARI wanita seusia Ratih yang tidak memiliki smartphone pada zaman sekarang sama dengan mencari jarum di bawah kolong rumah panggung tepi sungai. Sulit. Sulit menemukannya. Andaikan sebuah rumah tangga terdiri lima orang, ada kemungkinan smartphone di rumah itu lebih dari lima. Mungkin saja dari lima orang itu, ada yang punya lebih dari satu. Biasanya, untuk menelepon dan untuk media sosial dan berselancar di dunia maya, gawainya berbeda.

Semula, Ratih tidak memiliki telepon pintar karena tidak punya uang. Ia tidak ingin membebani dirinya dan orangtuanya hanya karena urusan telepon dan pulsanya. Sekarang, alasannya sudah berbeda. Smartphone hanya menimbulkan masalah. Smartphone dianggap lebih banyak digunakan untuk menebar kabar dusta (hoaks) di dunia maya. Kabar dusta itu bukan saja membuat yang membaca rugi waktu tapi juga bisa membawa diri ke penjara.

Kabar dusta biasanya mudah dibagikan ulang oleh yang membaca. Ini berbahaya. Bisa membuat diri berdosa dan masuk penjara. "Jadi untuk apa punya telepon jika akibatnya masuk penjara dan berdosa?"

Ratih juga mendengar bahwa telepon pintar ternyata lebih banyak digunakan untuk hal yang tidak berfaedah; tidak bermakna. Kalau suatu aktivitas tidak ada maknanya sama dengan tidak ada manfaatnya. Kalau tidak ada manfaatnya tapi tetap dilakukan, itulah namanya sia-sia. Lalu untuk apa hidup kalau hanya sia-sia?

"Telepon sekarang canggih dan relatif murah dibanding masa lalu. Lihatlah mengapa warung telepon bubar? Warung internet dan game bubar? Itu semua karena smartphone. Masalahnya, sebagian besar remaja dan orang dewasa memanfaatkan smartphone untuk main game. Apalagi game yang dimainkan sangat menarik. Karena menariknya, banyak orang punya mata tapi tak melihat, punya mulut tak bicara, punya telinga tapi tak mendengar. Saat bermain game, mereka bisa buta-tuli dengan lingkungannya." Kalimat ini Ratih dengar sendiri dari dosennya, Bu Listy Every Literasi. Dosen muda ini bukan anti-smartphone tapi pengguna yang kritis.

Bagi Bu Listy Every Literasi, kalau smartphone hanya digunakan untuk main game, apalagi untuk bersosial media dan ujung-ujungnya jadi playboy cinta dunia maya, lebih baik buang saja smartphone itu ke laut Muara Badak dan jangan dikenang selama-lamanya.

Sikap Bu Listy Every Literasi --oh, ya, sebelum lupa, kata every literasi disematkan di belakang namanya yang cukup pendek itu hanya untuk memudahkan mengenal yang dimaksud Listy itu yang mana. Ada tiga wanita yang memiliki nama yang sama di kampung tempat tinggalnya di Loa Kulu. Mereka tinggal se-kampung dan orang Jawa semua. Satu lagi, semua wanita. Karena Listy adalah aktivis gerakan literasi, mulutnya selalu paling sedikit 11 kali mengucapkan kata literasi setiap hari. Akhirnya disematkanlah di belakang namanya Every Literasi --ternyata punya argumentasi kuat.

Menurut Listy, ada banyak wanita yang menjadi korban 'gombal' pria di dunia maya. Ujung-ujungnya, pria itu ternyata penipu. Yang menyedihkan, wanita itu kehilangan segala-galanya. Kisah-kisah wanita yang sudah bersuami kemudian meninggalkan suaminya karena terpikat pria di dunia maya itu sudah bukan berita baru. Sebaliknya, pria yang tergoda wanita di dunia maya, sampai tega meninggalkan istri dan anak-anaknya sudah dianggap biasa; bukan berita. Itu ketinggalan berita, namanya.

Ratih ngeri membayangkan dampak itu. Dia bersikukuh menghindari smartphone meski sekarang sudah bisa membelinya, bahkan yang harganya di atas rata-rata milik orang. Tapi, sudah beberapa peristiwa yang memojokkan Ratih dan nyaris putus asa untuk menyelesaikannya karena tidak memiliki smartphone. Satu di antaranya adalah saat ayahnya kecelakaan dan dilarikan ke rumah sakit tempo hari. Ia kesulitan mencari keluarga atau sahabat yang bisa menolongnya.

Ratih tidak bisa memesan ojek online. Tidak bisa memesan makanan melalui online. Tidak bisa memanfaatkan jasa titip melalui online. Tidak bisa memperoleh kabar berita teman-teman kuliahnya yang sudah terpisah. Tidak bisa menghubungi bang Yusuf yang diam-diam telah menawan hatinya.

"Aku sudah dicap sebagai gagap digital, gagap smartphone di tengah belantara hutan maya," bisik Ratih dalam batin.

Maka hari ini, Ratih berkorban. Pengorbanan luar biasa. Pertama, mengorbankan sikapnya yang selama ini anti-smartphone. Kedua, mengorbankan dirinya saat harus belajar secara cepat menggunakannya dan ditertawakan banyak orang.

Ratih tahu, karyawan toko penjual smartphone nyaris tak percaya ketika dia tidak tahu menggunakan telepon yang baru dibelinya. Beberapa pasang mata karyawan toko tersenyum-senyum geli melihat jari Ratih tergelincir di permukaan layar. Hanya karena dia tergolong gadis cerdas maka kesulitan itu dapat dia atasi. Hal utama yang dipelajarinya adalah bagaimana cara menelepon dan mengirim pesan dengan aplikasi WhatsApp.

Hari itu juga, sepanjang sore, Ratih mencoba untuk menghubungi kawan-kawannya melalui WhatsApp. Bekalnya tak banyak. Hanya ada tiga nama di kontaknya. Iyan Banjar, Rahman, dan Eka Sari Fila Noraina. Dari situ, Ratih dimasukkan ke grup teman-teman seangkatannya. Bagai anak kecil yang dapat oleh-oleh mainan menarik, Ratih pun tenggelam dalam percakapan maya. Ratih menjadi tahu bahwa Murni Murai sudah hamil empat bulan, buah pernikahannya dengan Rudi Perdana.

Iyan Banjar sudah jadi pegawai tidak tetap di Dinas Pariwisata Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Gajinya hanya cukup untuk beli pulsa, nongkrong di warung kopi setiap malam Minggu bersama teman kampung halamannya. Yang mengejutkan adalah di grup beredar undangan agar semua teman-teman seangkatan menghadiri resepsi pernikahan Burhan Magenta dan Anita. Resepsi berlangsung di sebuah ballroom hotel bintang empat Jalan Bhayangkara, Minggu depan.

Kabar terakhir ini ramai menjadi bahan perbincangan di grup WhatsApp itu. Mulai canda-canda sampai dengan rencana pakaian yang digunakan (dress code) saat menghadiri resepsi. Kabar teman menikah adalah kabar bahagia. Kebahagiaan itu sejatinya bukan milik mereka yang menikah tapi juga milik keluarga dan teman-temannya. Lalu, apakah Ratih bahagia mendengar kabar pernikahan itu?

Ratih tidak mungkin tidak hadir karena dia sudah tahu. Kehadiran Ratih dalam grup WhatsApp itu telah membahagiakan teman-temannya. Selama ini mereka tahu, Ratih tak tergoda untuk menggunakan smartphone sebagaimana mereka. Yang menawarkan jasa untuk menjemput Ratih saat ke resepsi cukup banyak. Tapi tak seorang pun yang disetujui Ratih karena dia akan datang sendiri.

Alasan itu sebenarnya tidak sejati. Alasan sebenarnya adalah Ratih ingin agar pada hari yang ditentukan, ia bisa hadir dengan Bang Yusuf. Akan tetapi, lelaki idaman itu belum juga ada kabarnya.

"Bisakah saya dibantu untuk mendapatkan nomor telepon Bang Yusuf Kertanegara?" tanya Ratih dalam pesan pendek yang ia kirimkan pada Eka Sari Fila Noraina. Hanya nomor Eka Sari yang dipunyai Ratih. Nomor Bang Yusuf tak ada. Pesan itu tidak dibalas oleh Eka Sari Fila Noraina, kawan sekerja Bang Yusuf tersebut. Mungkin karena dianggap pesan misterius karena tidak ada dalam daftar kontak.

"Maaf, saya lupa mengenalkan diri. Nama saya Ratih. Sahabat Bang Yusuf. Kita pernah bertemu di pusat perbelanjaan alat rumah tangga beberapa waktu lalu. Mbak Eka Sari mungkin ingat, Bang Yusuf mengatakan, jika perlu apa-apa dengan bang Yusuf silakan mengirim kabar ke nomor ini."

Tak lama menunggu, Eka Sari membalas pesan Ratih.

"Pesan Ratih sudah saya teruskan dan sudah terkirim tapi belum dibaca."

Hingga malam, tak ada juga telepon atau pesan dari Bang Yusuf. Ratih frustrasi. Kesal dan kecewa.

"Maaf, Mbak Eka. Ini masalahnya cukup penting. Mohon dengan sangat, bisakah Mbak Eka menelepon Bang Yusuf atau bisakah saya mendapatkan nomor bang Yusuf, biar saya yang meneleponnya?"

"Maaf, Mbak Ratih. Saya tidak bisa membantu lebih karena saya tidak diizinkan menelepon jika bukan urusan kantor. Apalagi ini sudah malam. Saya juga tidak diizinkan memberikan nomor telepon Beliau. Maaf ya, Mbak."

Kesal tak terkira. Marah dan kecewa. Ingin Ratih membuang teleponnya tapi dia sayang karena telepon itu ternyata banyak manfaatnya.

"Tapi telepon ini ternyata bikin stress!" gerutu Ratih. Ia off-kan telepon itu. Ia mencoba tidur. Tak bisa. Ia nyalakan lagi. Memeriksa siapa tahu ada telepon tak terjawab atau ada pesan WhatsApp masuk. Tidak ada. Duhhhh.

***

Hari resepsi tiba. Pertempuran batin antara hadir dan tidak telah berhasil diputuskan Ratih. Ia hadir. Sendiri. Ramai sekali. Heboh sekali. Terutama kehebohan teman-teman Ratih sendiri yang juga adalah teman kedua mempelai.

Iyan Banjar tak berhenti mengumbar senyum dan tidak berhenti juga mulutnya dengan cemilan macam-macam yang dihidangkan. Ulis Harat dan Rahman kadang-kadang menonjok-nonjok bahu Iyan Banjar. Mungkin mereka sedang mengingat masa lalu saat Rahman tersedak kacang atom.

Murni Murai dan Rudi Ananta menyumbang lagu. Sebelum menyanyi, Murni Murai berkomentar dulu, bahwa lagu ini untuk menghibur mempelai sekaligus ditujukan kepada Ratih karena lagu ini adalah lagu kesenangannya dan pernah dinyanyikan Ratih diiringi suaminya saat mereka berkemah di Pantai Bahagia.

Mungkin karena bersuami penyuka musik, Murni berhasil membius para undangan. Mereka pun memberi aplaus saat lagu Mimpi itu berakhir dinyanyikan.

Ratih tak karuan rasa. Lagu itu bagai menyindirnya karena hidupnya sekarang tak lebih dari rangkaian mimpi. Selain itu, kehadirannya di resepsi ini lebih banyak sedihnya dari pada sukanya. Kesedihan Ratih itu adalah karena dia disudutkan oleh berbagai pertanyaan. Pertanyaan itu tidak disampaikan oleh seorang, tetapi diajukan beberapa orang dan bertubi-tubi.

"Kok sendiri?"

"Datang sendiri, ya?"

"Belum ada yang memenuhi syarat, ya?"

"Jangan terlalu milih, nanti terpilih langsat busuk, tahu?"

"Ada apa denganmu, Ratih. Kamu itu cantik, cerdas. Kok masih sendiri? Coba konsultasikan ke psikolog."

Ratih memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai, Anita dan Burhan Magenta. Anita memeluk sahabat setianya. Pelukan itu diabadikan juru foto panitia dan diabadikan pula oleh teman-temannya. Entah apa yang dibisikkan Anita di telinga Ratih. Ratih mencoba tersenyum. Saat melepaskan pelukannya, Anita tampak menyeka air matanya. Burhan tersenyum saat menjabat tangan Ratih.

Mereka foto bersama. Foto bertiga. Janggal. Akan tetapi Ratih tetap tersenyum. Senyum terpaksa. (bersambung)

 
Serial selanjutnya, ketuk:
Tentang penulis 
Syafruddin Pernyata atau Es Pernyata, lahir Loa Tebu (Tenggarong), 28 Agustus 1958. Alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Mulawarman serta Program Studi Linguistik (Magister) Universitas Padjadjaran Bandung. Pernah bekerja sebagai guru,  dosen,  wartawan, dan birokrat. Tugas sebagai birokrat ialah Karo Humas, Kepala Dinas Pendidikan, Kaban Perpustakaan, Kepala Diklat, dan Kepala Dinas Pariwisata Kaltim.
Karya yang diterbitkan: Harga Diri (kumpulan cerpen),  Aku Mencintaimu Shanyuan (novel),  Nanang Tangguh dan Galuh Intan (novel), Belajar dari Universitas Kehidupan (kisah motivasi), Ujar Mentor Jilid 1 dan 2 (buku motivasi), Zulaiha (novel), Aku Bulan Kamu Senja (novel), Awan (novel).
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar