Cerpen

Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-36): Suruh Pulang Saja

person access_time 1 week ago remove_red_eyeDikunjungi 112 Kali
Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-36): Suruh Pulang Saja

Ilustrasi: Nurmaya Liwang (kaltimkece.id)

Kebencian yang abstrak. Antara benci dan rindu. 
(Ingin membaca cerita bersambung ini dari awal? Ketuk di sini). 

Ditulis Oleh: Es Pernyata
06 November 2019

DOKTER hanya menyatakan bahwa Ratih kurang istirahat dan kurang asupan gizi. Ayah dan ibu Ratih bingung atas penjelasan dokter. Dokter tidak secara tegas menyatakan sakit yang diderita Ratih. Biasanya jelas. Demam, batuk, flu, jantung, ginjal, demam berdarah, leukimia, kanker, migrain, dan entah penyakit lainnya.

Tentu kebingungan itu disertai rasa syukur. Obatnya gampang. Banyak-banyaklah beristirahat. Jangan dulu bolak-balik Pangempang. Perbanyak makan. "Nanti kukerahkan sayur labu merah bersantan dan udang galah goreng," kata Ibu Ratih pada suaminya. Suaminya langsung mengangkat tangannya, memperlihatkan jempolnya dan menyorongkan ke wajah Maryati, istrinya tercinta.

"Bukan untukmu. Untuk Ratih." bisik bininya.

Berita Ratih dirawat sampai kepada teman-temannya. Mereka menjenguk Ratih dengan perasaan khawatir. Mereka takut kehilangan Ratih, sahabat yang mereka sayangi.

Akan tetapi kawan-kawan Ratih itu sama terkejutnya dengan ibu dan ayah Ratih. Tidak jelas penyakitnya. Hanya perlu banyak istirahat dan banyak makan. Ratih hanya diberi obat penenang dan penambah nafsu makan.

"Jangan-jangan sakit hati. Cerita, dong, sakit hati dengan siapa sih? Biar kugampar," celetuk Ulis Harat. Tubuh anak ini memang gempal. Tinggi dan memang pemain silat. Tapi, wajahnya tak serius. Kata-katanya sekadar untuk menghibur Ratih. Ulis Harat tidak tahu, kata-katanya benar. Ratih sakit hati. Hanya Ratih yang tahu sakitnya.

"Kukira, selain kurang gizi dan kurang istirahat, Ratih juga kurang perawatan. Kamu perlu perawat. Sudah saatnya, ada pemuda yang merawat hatimu," ledek Anita yang ditemani Burhan Magenta.

Ratih mencoba tertawa. Tak bisa. Hanya tersenyum. Itu pun matanya memperlihatkan bahwa senyum itu tidak lepas. Tidak leluasa. Masih tertahan karena batinnya tidak turut serta.

"Kukira kita harus memanggil Iyan Banjar. Kita patungan mengongkosinya dari Kandangan. Suruh dia bawa kacang atom. Cukup tiga biji," kata Murni Murai. Ucapannya mengundang Ulis Harat ngakak. Semua tertawa. Burhan Magenta di samping Anita meletakkan telunjuknya di tengah bibir.

"Ini bukan di kantin, Saudara-saudara. Ini rumah sakit. Tapi, kalau kacang atom jadi obatnya, bisa kita coba. Di luar banyak pedagang cemilan," ujar Burhan.

Ratih mengepalkan tinjunya. Disorongkan kepada Burhan. Lagi-lagi tawa mereka pecah. Seorang perawat masuk. Membawa kudapan sore untuk Ratih.

"Ada kacang atom, Dik?" Ulis Harat bertanya. Perawat cantik itu terbelalak matanya. Ia lalu menggeleng.

"Jangan makan yang keras-keras dulu," kata perawat itu polos.

"Misalnya roti balok, batu akik. Ya, kan?" Murni Murai bercanda. Perawat itu tertawa. Ia berlalu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Tapi jujur, aku sependapat dengan kalian. Ratih ini sesungguhnya sedang menderita gangguan perasaan. Karena itu kusarankan agar Ratih menuliskan daftar penyebab gangguan perasaan itu. Maksudku begini. Biar jelas. Ratih ini sedang sakit hati. Siapa penyebabnya, hanya Ratih yang tahu. Sekarang, buatlah daftar apa penyebabnya dan lupakan siapa yang menyebabkan."

"Lalu daftar penyebab itu diapakan? Dibawa ke pasar loak?" Ulis masih bercanda."

"Jangan. Larutkan saja daftar itu ke Sungai Mahakam. Kalau mujur, dia bisa larut sampai Kandangan." Canda Burhan lagi. Ingat Kandangan, ingat Iyan Banjar, si pelempar kacang atom ke mulut Rahman.

"Ini serius, Ratih. Untuk sementara jangan memeriksa sosial media, terutama WhatsApp. Yang dibuka hanya grup kita. Kalau kamu buka yang lain, apalagi membuka media sosial yang menyakitimu, itu hanya memperkuat ingatanmu kepada dia dan hanya akan membuatmu lebih sulit untuk berhenti berfantasi tentang hubunganmu dengannya."

"Kamu ngomong apa sih?" Ratih pura-pura bingung.

"Kedua, hindari menebak-nebak mengapa masalah tersebut terjadi. Ini akan membuatmu terus-menerus memikirkan dia. Terimalah keadaan tersebut dan jaga harga dirimu dengan sugesti pikiran bahwa dia adalah orang yang tak mampu berkomitmen. Yakinkan diri bahwa dia memang bukan orang yang terbaik untukmu," ceramah Burhan serius. Burhan Magenta memang dikenal cerdas. Kecerdasannya itu menjadi magnet bagi banyak gadis di kampus saat mereka sama-sama kuliah. Tak terkecuali Ratih.

Burhan Magenta pembaca buku yang kritis. Wawasannya luas. Cara berpikirnya logis dan sistematis. Kadang, ia seperti juru ramal. Membicarakan yang belum terjadi tapi akhirnya terbukti. Ia menolak disebut juru ramal apalagi dukun saat kawan-kawannya memberi julukan juru ramal dan dukun untuk dirinya.

"Kalau yang kunyatakan Minggu lalu atau bulan lalu terbukti kemudian, itu bukan ramalan. Itu perkiraan atas fenomena-fenomena yang bisa kita rasakan bahkan kita lihat dengan kasat mata," kata Burhan.

Itulah sebabnya, jika Burhan sudah memperlihatkan kesungguhannya menyatakan sesuatu, semua mendengarkan dengan baik karena biasanya apa yang dikatakan Burhan nyata adanya.

"Aku berani mengatakan hal ini atas dasar penjelasan Ratih juga yang mengutip kata-kata dokter bahwa dia hanya perlu istirahat dan memenuhi kebutuhan gizinya. Ini artinya apa? Artinya, fisik Ratih tidak sakit. Yang sakit adalah hatinya. Sederhana. Simpel."

Semua melongo.

"Karena itu, aku menyarankan agar Ratih mengingat dan melakukan hal-hal yang bisa membawanya kepada kesenangan dan ketertarikan meski saat ini sepertinya tidak menarik. Keinginan untuk terus maju adalah cara penting untuk memberi sinyal kepada diri sendiri bahwa hidup terus berjalan."

Tak ada yang menyela. Termasuk Ratih. Ia mengakui dalam hatinya, apa yang dikatakan Burhan benar adanya.

"Delete, maksudku, hapus semua hal yang mengingatkan pada hubunganmu yang menyakitkan itu karena semua hal tersebut hanya akan membuat perasaanmu makin tertekan saja. Kami tidak ingin kamu tertekan dan sakit. Bukankah kita menyayangi Ratih?" Burhan bertanya kepada Ratih dan kawan-kawannya.

"Kami mendukungmu agar segera sehat. Sehat lahir batin. Jikalau reuni ke Muara Badak bisa membahagiakanmu dan melupakan hal-hal yang telah menekan dan menyakiti perasaanmu, ayo kita kumpul-kumpul lagi. Aku siap kok menyanyi lagu dangdut sekaligus menari."

Semua tertawa. Apalagi Ulis Harat. Dia tahu, Burhan tidak bisa menyanyi. Kalau dia menyumbangkan suaranya, pastilah suara sesumbang-sumbangnya.

Waktu besuk berakhir. Semua menyalami Ratih dan mendoakan agar ia segera sehat. Ratih terharu. Ia beruntung punya sahabat-sahabat yang baik, menghibur dan lucu-lucu.

***

Ratih sudah pulang ke rumah. Ia hanya dua hari di rumah sakit. Tak ada penyakit serius kecuali kelelahan dan kurang asupan gizi. Ratih tahu bahwa kelelahan sesungguhnya adalah kelelahan batin. Bukan raga. Ia sudah biasa bolak-balik Samarinda-Muara Badak. Ia biasa tidur larut malam. Ia kuat untuk itu. Ia hanya tidak kuat melarikan diri dari sergapan Yusuf Kertanegara.

Tapi ia harus percaya pada nasihat Burhan. Bukan karena suami Anita itu pernah disukainya melainkan karena apa yang dikatakan Burhan itu adalah hal yang sebenarnya.

"Tidak ada lagi tempat untuk Yusuf di sini!" Ratih berbisik dan tak sadar ia menunjuk dadanya karena di situlah tempat hatinya.

***

Sore Sabtu yang cerah. Ratih duduk-duduk di Beranda. Bougenville tiga warna di dalam pot sedang mekar-mekarnya. Udara sejuk selepas hujan siang tadi menambah nikmat kopi hitam yang diseruputnya.

Sejak bolak-balik ke Muara Badak, Ratih berkenalan dengan kopi. Ia biasa menyeruput kopi di dermaga. Di pantai. Pantai Bahagia. Tiba-tiba Ratih melihat mobil parkir di depan rumahnya. Ratih berlari masuk kamar tidurnya. Ia tahu siapa yang datang. Ia tidak sudi menemuinya.

Ratih mendengar suara ketukan pintu dan salam yang diucapkan. Ia sudah membalas salam itu dengan suara sangat pelan dan mustahil di dengar tamunya. Ratih tahu ada langkah-langkah kaki ke arah pintu. Ia mendengar dengan seksama dari balik pintu kamar tidurnya yang terkunci. Ia tahu yang membukakan pintu adalah ibunya.

"Ratih, ada Yusuf di ruang tamu."

Ratih tak menjawab. Ia melihat gagang pintu bergerak. Ia tahu ibunya mencoba membuka pintu kamarnya.

"Bu, bilang pada bang Yusuf, Ratih sakit kepala. Tak bisa bangun. Suruh dia pulang saja!"

Ibunya tahu. Ratih tidak jujur. Pasti ada masalah antarkeduanya. Sebagai orang tua, dia tahu sifat anaknya. Dia pun pernah muda. Ia juga tidak ingin memaksa. Apalagi Ratih adalah anaknya. Anak satu-satunya dan sangat disayanginya. Ratih sudah dewasa. Biarlah dia yang menjalani hidupnya dengan keyakinannya.

Ratih mendengar percakapan di ruang tamu itu sayup-sayup. Tak jelas. Tapi dia pun tidak peduli. Ia beranjak ke tempat tidurnya dan menutup kepalanya dengan bantal, hingga tak sekalimat pun percakapan di ruang tamu itu yang sampai ke telinganya.

"Jika aku tahu bahwa Bang Yusuf adalah sumber penyakit, pantas kan aku menghindarinya? Jika Bang Yusuf tak lebih dari pisau yang bisa melukai, salahkah aku jika menolaknya? Aku tidak mau terluka. Luka kedua kalinya," bisik Ratih untuk menguatkan hatinya.

Sesuai saran Burhan Magenta, "Alihkan perhatianmu kepada hal-hal yang menyenangkan." Ratih pun mengalihkan perhatiannya kepada kopi, pantai, kelapa, mangrove, terumbu karang, cabe rawit, mangga muda, pisau. Mangga muda itu enaknya dicincang-cincang, diulek dengan sambal cabe rawit. “Huh, enaknya," pikir Ratih.

Pisau, mana pisau? Sudah pulang? Biarlah. Bagus saja. Jangan ke rumah ini lagi. Nanti luka semua. Apalagi kamu adalah pisau berbisa! (bersambung)

Serial selanjutnya, ketuk:
 
 
Tentang penulis 
Syafruddin Pernyata atau Es Pernyata, lahir Loa Tebu (Tenggarong), 28 Agustus 1958. Alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Mulawarman serta Program Studi Linguistik (Magister) Universitas Padjadjaran Bandung. Pernah bekerja sebagai guru,  dosen,  wartawan, dan birokrat. Tugas sebagai birokrat ialah Karo Humas, Kepala Dinas Pendidikan, Kaban Perpustakaan, Kepala Diklat, dan Kepala Dinas Pariwisata Kaltim.
Karya yang diterbitkan: Harga Diri (kumpulan cerpen),  Aku Mencintaimu Shanyuan (novel),  Nanang Tangguh dan Galuh Intan (novel), Belajar dari Universitas Kehidupan (kisah motivasi), Ujar Mentor Jilid 1 dan 2 (buku motivasi), Zulaiha (novel), Aku Bulan Kamu Senja (novel), Awan (novel).

 

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar