Cerpen

Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-37): Pertemuan dengan Calon Investor

person access_time 1 week ago remove_red_eyeDikunjungi 115 Kali
Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-37): Pertemuan dengan Calon Investor

Ilustrasi: Nurmaya Liwang (kaltimkece.id)

Sebuah pertemuan. Penuh dengan kejutan.
(Ingin membaca cerita bersambung ini dari awal? Ketuk di sini). 
 

Ditulis Oleh: Es Pernyata
07 November 2019

SAAT amarah bergemuruh di dalam dada, sulit untuk mengontrol pikiran. Amarah adalah perasaan bukan pikiran. Cinta dan benci adalah perasaan. Benar dan salah adalah pikiran.

Amarah, sebagaimana cinta dan benci, adalah perasaan. Perasaan berbeda dengan pikiran tetapi perasaan bisa mempengaruhi pikiran. Jika perasaan damai, tenang dan lapang, pikiran bisa bertugas dengan baik. Sebaliknya, jika dada sesak, gundah gulana menyeruak, resah dan gelisah berdesah-desah, maka pikiran terbawa-bawa.

Jadi, jika pikiran tidak bisa bekerja dengan baik, periksa dulu perasaan. Pastikan bahwa perasaan sedang sehat wal afiat. Tidak sakit. Kalau sakit, niscaya pikiran pun terganggu. Ya kalau terganggu sementara. Kalau seterusnya?

Amarah Ratih sudah mereda. Ia sudah kembali ke dunianya. Dunia yang dipenuhi tebaran cita-cita. Tebaran bakti. Tebaran pengabdian. Tebaran untuk berbuat kebajikan untuk ayah dan bunda. Juga untuk banyak orang.

Cita-cita tidak boleh terhalang oleh persoalan pribadi. Apalagi persoalan pribadi itu sebenarnya abstrak. Tak kasat mata. Tak terdengar telinga. Persoalan pribadi itu lebih karena perasaan Ratih sendiri. Kesimpulan sendiri. Akhirnya sakit sendiri. Itu sudah berlalu. Hari ini dan hari depan, diharapkan Ratih lebih bermakna. Lebih berjaya. Langkah tidak boleh surut. Hanya air yang surut. Cita-cita harus pasang dan terus-menerus karena cita-cita bukanlah air pasang surut.

Pantai Bahagia, bagi Ratih, adalah infrastruktur untuk mencapai bahagia. Orang-orang boleh menyepelekan, tidak menganggap bahkan memustahilkan. Tapi tidak bagi Ratih. Ratih percaya bahwa hasil tidak mendustakan usaha. Hasil adalah kesungguhan. Sebab, siapa yang bersungguh-sungguh niscaya akan mendapatkan. Hasil itu bisa berwujud tersedianya lapangan kerja, lapangan usaha sehingga warga Muara Badak tidak lagi bertumpu jadi petani. Ada pilihan lain.

Kebahagiaan adalah puncak segala usaha dan doa. Bahagia yang sejati. Bahagia di lahir tapi juga di batin. Itulah doa semua orang. Doa Ratih juga. Itu pula yang melandasi mengapa destinasi wisata ini dinamakan Pantai Bahagia.

Hari ini adalah hari kebahagiaan. Setelah terempas oleh kesalahannya sendiri, yaitu berharap mendapat perhatian, kepedulian dan kesayangan serta kecintaan dari Yusuf Kertanegara, namun tak berbalas dan itu menyakitkan. Kini Ratih sudah bangkit kembali. Ia telah lepas dari buhul yang memenjarakan hatinya. Ia sudah bebas dan merdeka.

Usahanya mengembangkan Pantai Bahagia dengan membangun hotel bintang dua semakin terbuka. Pembangunan hotel itu ditawarkan dengan pola bekerja sama antara pemilik lahan yang diwakili Ratih dan pihak investor. Saat ini tahapannya adalah mencari investor. Diharapkan, investor itu datang dari pengusaha perhotelan. Mengapa? Karena mereka lebih jeli, lebih cermat, atas dasar pengetahuan dan pengalaman.

"Investor bukan sekadar pemilik uang karena investor begini hanya tahu untung dan tidak peduli caranya meraih keuntungan."

Ratih berdoa pertemuannya dengan owner hotel bintang empat ini yang akan mencari calon investor sesuai harapan. Mudah-mudahan tidak aral. Lancar dan semakin membuka jalan.

Pagi tadi, Ratih menerima undangan untuk bertemu. Pertemuan ini tidak serta-merta karena sudah lama dimohonkan Ratih. Awalnya melalui Bayu, kakak tingkatnya saat kuliah, yang kini sudah bekerja di hotel, yang diharapkan Ratih bisa melebarkan sayap usahanya dengan bekerja sama.

Bayulah yang mempertemukan Ratih dengan Pak Suparno Ghofar Abdul Akbar, manajer hotel ini. Pak Suparno berjanji untuk membicarakan usulannya kepada owner. Ia yakin, owner hotel mau mempertimbangkan kerja sama karena Muara Badak memiliki keunggulan daya tarik wisata. Keunggulan itu adalah mudahnya akses, tersedianya amenitas meski jauh dari sempurna. Namun yang lebih penting adalah karena Muara Badak memiliki banyak magnet dibanding destinasi serupa di Kaltim.

Muara Badak memiliki hamparan pantai landai berpasir putih, teluk yang eksotik dengan hutan mangrove-nya, hewan endemik Kalimantan bernama Bekantan yang gampang ditemukan dan lautnya yang menyimpan terumbu karang di dasarnya. Sangat disukai penghobi snorkeling dan diving.

Magnet Muara Badak memberikan harapan menjanjikan sebagai destinasi wisata baik untuk pelancong nusantara maupun mancanegara. Magnet inilah yang dibaca Ratih sehingga ia optimistis usulan kerja sama pembangunan hotel itu adalah usulan realistik dan prospektif.

Pertemuan dengan calon investor ini bukanlah pertemuan tiba-tiba. Ini adalah tindak lanjut pembicaraan sebelumnya. Pertemuan ini adalah berkat pertemanan. Banyak teman banyak rejeki. Bayu telah berjasa mempertemukannya dengan Pak Suparno. Hari ini Pak Suparno akan mempertemukannya dengan owner hotel bintang empat yang diharapkan Ratih mau menjadi investor pembangunan hotel bintang dua di Muara Badak sebagaimana harapannya.

Memang, Ratih nyaris mengubur cita-citanya membangun hotel di Muara Badak. Tepatnya di area lahan yang dimiliki Haji Acok, pemilik usaha wisata Pantai Bahagia. Bukan hanya cita-cita membangun hotel, meneruskan yang sudah ada dan sudah dipanen hasilnya pun mulai redup.

Cita-cita yang nyaris terkubur. Semangatnya pun redup. Redupnya semangat kerja dipicu oleh ketiadaan perhatian, kepedulian dan penghargaan Yusuf Kertanegara. Ketidakpedulian itu menyisakan luka di hati Ratih. Luka itu kemudian diperparah dengan bakteri yang amat mematikan, kabar rencana pernikahan lelaki yang diidamkannya. Padahal, lelaki itulah yang diam-diam telah memompa semangat Ratih dalam bekerja dan menjadi penghias tidur lelapnya.

Yusuf telah menikamkan pisau belati itu tepat mengenai ulu hati Ratih. Tidak cukup puas rupanya. Pisau itu ditarik ke kanan dan ke kiri. Pisau itu adalah kabar yang dinyatakan Yusuf sendiri melalui pesan WhatsApp-nya.

Ratih telah membenamkan nama Yusuf Kertanegara di Sungai Mahakam. Mungkin aneh tapi itu nyata. Ratih menulis 100 nama Yusuf Kertanegara di atas kertas putih ukuran folio. Di atas kertas itu kemudian diletakkan batu gunung seukuran genggam balita. Batu itu dikemas dengan kertas bertulis nama Yusuf. Dilak. Diikat gelang karet.

Di tepian Sungai Mahakam, di belakang sebuah hotel dekat Jembatan Mahakam, dilemparkanlah kertas berpemberat batu oleh Ratih itu ke sungai. Lama Ratih memperhatikan. Kertas itu tidak muncul ke permukaan. Tamatlah nama Yusuf Kertanegara.

Lapang perasaan Ratih. Manis senyumnya. Aura wajahnya pun tampak bergairah dan memancarkan perasaan bahagia. Ia disambut general manager hotel Suparno Ghofar Abdul Akbar. Mereka berbincang sejenak di lobi.

"Saya sudah komunikasikan dengan owner. Saya berikan gambaran masa depan Pantai Bahagia sebagaimana presentasimu kepada saya beberapa waktu yang lalu. Saya juga sudah memberikan beberapa pertimbangan."

"Tanggapannya?"

"Beliau kurang sependapat dengan ide membangun hotel. Beliau lebih setuju jika yang dibangun resor. Mengapa? Karena itu kawasan wisata. Bukan kawasan bisnis."

"Benar juga, sih."

"Saat ini memang banyak resor yang dibangun di kawasan wisata. Resor akan menguntungkan bila dibangun dengan mempertimbangkan lokasi dan konsepnya," kata Suparno mengutip diskusinya dengan pemilik hotel ini.

"Tapi semua akan disampaikan Beliau sendiri kepada Ratih. Ayo kita ke sana."

Suparno mengajak Ratih menemui owner di lantai tiga hotel bintang empat ini. Pak Suparno mengetuk pintu lalu membukanya. Ratih terkesiap. Darahnya berdesir. Di ruang kerja yang luas dan mewah itu, duduk Yusuf Kertanegara. Lelaki yang namanya telah dikuburnya di sungai Mahakam. Lelaki yang telah ditolaknya untuk bertemu. Lelaki yang ia biarkan duduk di ruang tamu menunggu dan.... Ratih sekuat hati bersembunyi di dalam kamarnya.

Ratih menyesal, mengapa dia tidak tahu bahwa Yusuf Kertanegara itu adalah pemilik hotel ini. Pakaian dan mobilnya tidak menunjukkan kelasnya sebagai pengusaha besar. Hari ini, pakaian yang dikenakannya pun tetap sama. Kasual. General managernya malah lebih keren dengan jas dan dasi orange berpadu dengan kotak-kotak gradasi warna merah.

Yusuf tersenyum dan mempersilakan Ratih duduk di kursi tamu bersama GM. Yusuf menekan tombol dan tak lama Eka Sari Fila Noraina masuk. Yusuf berbisik. Setelah itu, Yusuf bergabung dengan mereka.

Ratih bimbang. Apakah ia menuruti ajakan untuk duduk ataukah ia harus balik kanan. Sama sekali tak pernah terlintas di pikirannya bahwa Yusuf Kertanegara adalah pemilik usaha hotel bintang empat ini. Ia seperti di sebuah tempat asing.

Sekuat hati Ratih memaksa tubuhnya untuk duduk di sofa yang mewah ini. Sekuat hati pula ia menerima ukuran tangan Yusuf untuk berjabat tangan.

"Apa kabar, Ratih?"

Ratih diam. Mulutnya terkunci walaupun sekedar untuk mengatakan kata, "baik." Pak Suparno yang mendengar pertanyaan bosnya terheran-heran.

"Kemarin aku datang ke rumah. Katanya kamu sakit. Alhamdulillah, ternyata kamu sehat dan kita bisa bertemu di sini."

Ratih gelisah. Ia merasa dipermalukan. Dipermainkan. Betapa susahnya menghubungi lelaki di depannya ini. Sampai akhirnya ia menerima pesan bahwa lelaki ini tidak bisa dihubungi dan tidak membalas pesan karena harus bolak-balik mengurus ibunya yang sakit.

Ratih sangat memaklumi. Sangat-sangat paham. Ibu adalah segala-galanya. Menjaga, mendampingi, menguatkan ibu yang sedang sakit adalah kewajiban. Tapi, alasan bahwa tak mengangkat telepon atau sekadar membalas pesan karena mempersiapkan pernikahan adalah tikaman mematikan. Itu adalah tindakan kejam bagi Ratih yang sudah terlanjur jatuh cinta.

Memang, tidak ada kata pun kalimat tersurat selama mereka bergaul bahwa Yusuf mencintainya. Akan tetapi, apalah artinya kata-kata. Bukankah isyarat, perhatian dan kepedulian Yusuf selama ini jauh lebih bermakna daripada kata-kata?

Ratih tidak mempedulikan apa saja yang dikatakan Yusuf kepadanya. Pikirannya kacau-balau. Hatinya porak-poranda. Bergemuruh. Bagai lautan tenang tiba-tiba diamuk badai.

"Bang Yusuf tentu tidak tahu bahwa aku harus dirawat di rumah sakit. Sakit jiwa!" Ratih berkata dalam hati. Maka, ia pun menguatkan hatinya. Menjaga agar tubuhnya tidak oleng. Ia pun akhirnya membuka mulut. Begini kata-katanya.

"Saya berterima kasih kepada Pak Suparno yang telah membantu saya untuk bertemu dengan Pak Yusuf," Ratih sengaja menyapa Yusuf yang biasa ia sapa dengan "Bang" kali ini dengan "Pak".

"Saya minta maaf karena menyita waktu Pak Yusuf untuk bertemu. Saya tahu bapak sibuk. Saya hanya ingin menyampaikan permohonan maaf karena rencana pembangunan hotel di Muara Badak itu dibatalkan."

Tampak benar wajah Yusuf berubah. Ia tak menyangka usulan Ratih itu dibatalkan. Apakah ini hanya canda?

"Dibatalkan atau ada pihak lain yang sudah lebih dulu bersedia diajak kerja sama?" Yusuf bertanya. Ia tahu bahwa Ratih masih marah dan menjaga jarak dengannya. Tapi ia lelaki dewasa. Ia biasa menghadapi hambatan dan rintangan dalam berusaha.

"Saya tahu Pak Yusuf Kertanegara sibuk. Waktu Bapak sangat berharga. Karena itu, saya permisi. Terima kasih telah bersedia menerima saya," kata Ratih. Ia tak menjawab pertanyaan Yusuf Kertanegara.

Ratih berdiri. Yusuf membujuk Ratih untuk tidak terburu-buru pergi. Ia pun menyatakan bahwa ia tak sibuk. Ia siap bekerja sama. Ia mengingatkan Ratih bahwa mereka sudah pernah ke Muara Badak. Sudah melihat Pantai Bahagia. Ia sudah mempelajarinya.

Suparno Ghofar Abdul Akbar terheran-heran. Bagaimana mungkin ia harus menjadi penghubung antara Ratih dengan bosnya sementara penuturan bosnya menjelaskan bahwa mereka bukan saja kenal tapi sudah biasa jalan bersama?

Ratih mengucapkan salam. Ia membuka pintu sendiri. Saat bersamaan, Eka Sari Fila Noraina diiringi seorang karyawan yang memegang nampan penuh minuman dan makanan. Eka Sari Fila Noraina melongo saat Ratih tersenyum keluar ruangan seraya berkata, "Terima kasih." (bersambung)

Serial selanjutnya, ketuk 
 
Tentang penulis 
Syafruddin Pernyata atau Es Pernyata, lahir Loa Tebu (Tenggarong), 28 Agustus 1958. Alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Mulawarman serta Program Studi Linguistik (Magister) Universitas Padjadjaran Bandung. Pernah bekerja sebagai guru,  dosen,  wartawan, dan birokrat. Tugas sebagai birokrat ialah Karo Humas, Kepala Dinas Pendidikan, Kaban Perpustakaan, Kepala Diklat, dan Kepala Dinas Pariwisata Kaltim.
Karya yang diterbitkan: Harga Diri (kumpulan cerpen),  Aku Mencintaimu Shanyuan (novel),  Nanang Tangguh dan Galuh Intan (novel), Belajar dari Universitas Kehidupan (kisah motivasi), Ujar Mentor Jilid 1 dan 2 (buku motivasi), Zulaiha (novel), Aku Bulan Kamu Senja (novel), Awan (novel).
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar