WARTA

Hendriawan Sie, Pahlawan Reformasi Berdarah Dayak dari Balikpapan

person access_time 2 months ago remove_red_eyeDikunjungi 1869 Kali
Hendriawan Sie, Pahlawan Reformasi Berdarah Dayak dari Balikpapan

Ilustrasi: Fel GM

Pemuda yang penuh cita-cita
Satu-satunya harapan keluarga
Berkorban nyawa demi nusa dan bangsa

Ditulis Oleh: Fel GM
12 Mei 2019

kaltimkece.id Nyonya Karsiah gembira sekali tatkala petugas pos berseragam oranye tiba di depan pintu rumahnya di kawasan Gunung Sari, Balikpapan. Sudah pasti, pikirnya, yang datang adalah surat dari anak semata wayangnya bernama Hendriawan Sie. 

Senin, 11 Mei 1998, perempuan berdarah Dayak Kenyah itu membaca seluruh isi surat dengan teliti. Sesekali ia tersenyum mendengar cerita putranya. Maklum, dua tahun sudah Hendri --panggilan pendek sang anak-- menuntut ilmu di Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti, Jakarta. Karsiah sudah terbelenggu rindu kepada anak satu-satunya itu. 

Tapi tak melulu kabar gembira yang dilukiskan di dalam surat. Hendri mengisahkan situasi ibu kota yang semakin panas. Demonstrasi mahasiswa kian menjadi-jadi. Krisis ekonomi sepanjang tahun membuat harga barang merangkak naik. Karena itulah, uang Hendri ludes lebih cepat dari biasanya. Ketika menulis surat itu, Sabtu, 9 Mei 1998, Hendri bilang duit di kantongnya hanya tersisa Rp 5.000 (Memorial Park in May 1998, Skripsi, Universitas Katolik Semarang, 2006, hlm lampiran). 

Kepada suaminya, Hendrik Sie, Karsiah segera menceritakan isi surat itu. Keesokan harinya, Selasa, 12 Mei 1998, Hendrik segera pergi ke bank. Sebesar Rp 75.000 (kira-kira setara Rp 500 ribu sekarang) ditransfer ke rekening Hendriawan. Hendrik pun pulang. Biasanya, malam-malam pukul sembilan, putranya menelepon ke rumah melalui sambungan interlokal setelah menerima kiriman uang. Namun, itu bukan hari biasanya. Hendri tak menelepon orangtuanya. Tak akan pernah lagi. 

Sejak siang itu, 12 Mei 1998, Hendri sudah bergabung dengan enam ribuan mahasiswa Trisakti. Dari halaman kampus di Jalan Grogol, mereka hendak long march ke gedung MPR/DPR di Senayan. Suara mahasiswa sudah bulat ketika revolusi telah hamil tua. Presiden Soeharto harus turun dari jabatan. Orde Baru mesti bubar. Dwifungsi ABRI dihentikan. Kroni-kroni Soeharto pun patut diadili.

Langkah mahasiswa Trisakti rupanya disambut barikade ketat aparat. Sampai pukul 16.30 WIB, lobi-lobi berjalan alot. Mahasiswa diminta mundur teratur atau mundur dengan paksaan. Di tengah hiruk-pikuk, Dekan Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Andi Andojo, berhasil membujuk mahasiswa kembali ke kampus. Saat itulah, aparat datang mengejar, memukul, dan menembaki mahasiswa dengan peluru karet, gas air mata, dan peluru tajam (Kumpulan Pahlawan Indonesia Lengkap, hlm 304). 

Massa yang terkena gas air mata berhamburan ke dalam kampus untuk mencari tempat berlindung. Senjata masih menyalak dari depan Kantor Wali Kota Jakarta Barat. Sejumlah saksi mata bilang, aparat menghujamkan peluru tajam dari atas jembatan layang. 

Hendriawan Sie bermaksud menutup pintu gerbang kampus ketika peluru berdesing ke sana ke mari. Ia kemudian berdiri di samping pos satpam dekat perbatasan Universitas Trisakti dan Tarumanegara. Di situlah, bagian leher dekat rahangnya tertembus timah panas. Satu peluru lagi menyasar pinggangnya. Darah segar segera mengalir. 

Tertembus dua peluru, Hendri masih sadarkan diri. Kepala UPT Otorita Universitas Trisakti, Arri Gunarsa, segera membopong tubuh mahasiswa yang berlumur darah itu (Menagih Janji Wiranto, artikel Law and Justice, 2018). 

“Aduh panas, Mak. Aduh, Pak. Ini panas. Ini panas peluru,” jerit Hendri. Ia berteriak kesakitan ketika dilarikan ke RS Sumber Waras. Setiba di rumah sakit, Hendriawan meninggal karena kehabisan banyak darah pada 12 Mei 1998, hari ini, tepat 21 tahun yang lalu. 

***

Malam yang gelisah di Balikpapan. Kedua orangtua Hendri masih sabar menunggu di dekat telepon. Baru tengah malam sekali, telepon berdering. Tapi yang di ujung sambungan adalah Paman Hendri. Sang paman sedikit menutupi kabar. Ia menyampaikan bahwa Hendri kecelakaan karena didorong teman. Kedua orangtuanya diminta segera ke Jakarta. 

Hendrik Sie dan Karsiah terbang keesokan harinya. Di Bandara Soekarno-Hatta, mereka melihat saluran berita di televisi. Empat mahasiswa Trisakti dikabarkan tewas, salah satunya, Hendriawan Sie, putra tunggal mereka. Petir benar-benarnya menyambar di siang bolong. Dengan kesedihan luar biasa, Hendri dan Karsiah mengantar putra mereka ke peristirahatan terakhir di Pemakaman Al Kamal, Kebon Jeruk Jakarta, pada 13 Mei 1998. Hari yang sama ketika kerusuhan rasial dan pemerkosaan massal berlangsung di ibu kota. 

Kehidupan di Balikpapan

Hendriawan Sie dilahirkan di rumahnya di Balikpapan pada 3 Maret 1978. Ketika pertama kali ia melihat dunia, ayahnya sedang bertugas di luar kota. Ayah Hendri bernama Hendrik Sie. Seorang lelaki yang bekerja sebagai pegawai swasta. Ibunya bernama Karsiah, yang dilahirkan dari perempuan Dayak Kenyah. Tidak bersekolah dan menikah saat berusia 15 tahun. Karsiah memeluk Islam, demikian halnya Hendriawan Sie. 

Memasuki usia sekolah, Hendriawan terdaftar sebagai murid TK, SD, dan SMP Nasional KPS Balikpapan. Dia kemudian masuk SMA 5 yang waktu itu masih di kawasan Gunung Pasir. Kegemarannya adalah bermain musik, sepatu roda, dan basket. 

Hendriawan tumbuh sebagai pemuda bertubuh jangkung. Kulitnya bersih. Rambutnya lurus, hitam berkilau. Meskipun matanya sedikit layu, wajahnya cukup rupawan. Makanya, ketika SMA, Hendriawan gemar menekuni dunia modeling. Ia pernah masuk sepuluh besar kontes peragawan yang diadakan Matahari Department Store di Balikpapan (Memorial Park in May 1998, Skripsi, Universitas Katolik Semarang, 2006, hlm lampiran).

Setelah lulus SMA pada 1996, Hendri sebenarnya disarankan orangtuanya untuk kuliah di Balikpapan saja. Namun, ia bersikeras ingin melanjutkan ke Universitas Trisakti. Hendri pun pergi ke Jakarta bersama pamannya yang bernama Subanning. Kebetulan, pamannya itu alumnus Trisakti. 

Pada saat harus berpisah dari orangtuanya, Hendri berjanji segera pulang dan menjadi tulang punggung keluarga. “Kalau saya lulus dan sudah bekerja, bapak bisa berhenti bekerja. Biar saya saja yang cari uang,” janjinya.  

Pahlawan Reformasi

Karsiah tahu anak tunggalnya itu tak sempat menunaikan janji. Ia pun didera kesedihan yang teramat dalam. Karsiah mengalami gangguan kesehatan fisik dan mental. Perceraiannya dengan Hendrik Sie kian menambah bebannya. Karsiah yang hidup sebatang kara seperti kehilangan kewarasan. 

“Saya sampai melempar-lempar nasi di pinggir jalan di Balikpapan,” tutur Karsiah ketika diwawancarai Amnesty International pada 2018 silam. 

Dua tahun selepas kepergian Hendriawan Sie atau pada 2000, Rektor Universitas Trisakti, Thoby Mutis, menawari Karsiah tinggal di Jakarta. Alasannya, Karsiah tidak perlu bolak balik Jakarta-Balikpapan bila harus mengurusi berbagai hal. Termasuk undangan-undangan yang terkait dengan kematian anaknya. Setelah beberapa kali dibujuk, hati Karsiah luluh. Ia tinggal di sebuah kamar indekos milik Universitas Trisakti sampai sekarang.

Kampus juga memberikan pekerjaan kepadanya sebagai staf bagian umum di koperasi Universitas Trisakti. Untuk pekerjaan ini, Karsiah menerima gaji Rp 800 ribu dan tunjangan dari kampus sebesar Rp 1 juta dari kompensasi beasiswa Hendriawan. Pekerjaannya inilah yang kemudian kian mendekatkan dirinya dengan orang-orang kampus. Kesibukannya di koperasi diakui perlahan-lahan membuatnya dapat mengobati luka.  

Baca juga:
 

Sementara atas pengorbanan Hendriawan Sie, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi gelar Pahlawan Reformasi pada 2005. Hendriawan juga menerima Bintang Jasa Pratama, penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang berjasa terhadap nusa dan bangsa dalam bidang atau peristiwa tertentu. 

Di Balikpapan, Hendriawan Sie sang pahlawan reformasi juga abadi. Namanya disematkan di sebuah jalan di Kelurahan Karang Jati, Kecamatan Balikpapan Tengah. Di jalan itulah dulu Hendriawan Sie lahir dan tumbuh besar. Tempat tinggal seorang pahlawan reformasi yang mengorbankan nyawanya demi menumbangkan rezim otoriter Orde Baru. (*)

Senarai Kepustakaan
  • Andrew, Teguh Vicky, dan Alum, Reko. 2018. Menagih Janji Wiranto, artikel, Law and Justice.
  • Mirnawati, 2012. Kumpulan Pahlawan Indonesia Lengkap, Depok: CIF (Penebar Swadaya Grup). 
  • Soetanto, Johan. 2006. Memorial Park in May 1998, Skripsi, Universitas Katolik Semarang. 

 

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar