Hukum

Jawaban Lengkap Ibu yang Dituding Menganiaya Anak serta Kejanggalan Bunuh Diri Suaminya

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 6404 Kali
Jawaban Lengkap Ibu yang Dituding Menganiaya Anak serta Kejanggalan Bunuh Diri Suaminya

DS ketika diwawancarai kaltimkece.id, Selasa, 25 Februari 2020 (foto: fel gm/kaltimkece.id)

DS disebut bagian dari kejanggalan ketika suaminya ditemukan meninggal di depan rumah. Ia juga dituding pernah menyiksa anak-anaknya sebagaimana rekaman video yang sempat viral.  

Ditulis Oleh: Fel GM
25 Februari 2020

kaltimkece.id Janji temu pada Selasa, 25 Februari 2020, betul-betul dipenuhi DS. Perempuan 29 tahun itu tiba pukul sembilan malam di sebuah rumah di kompleks Gran Taman Sari, Samarinda Seberang. 

DS datang ditemani seorang kerabatnya. Ia mengenakan jaket biru gelap dengan celana training sepanjang mata kaki. Perempuan yang baru melewati sejumlah tragedi ini memiliki kulit yang bersih. Rambutnya dikuncir ekor kuda. Postur tubuhnya bisa dikatakan ideal. 

Kepada reporter kaltimkece.id, DS mengemukakan latar belakang hingga akhirnya ia bersedia diwawancarai. Ketika dugaan kejanggalan bunuh diri suaminya mengemuka di media, DS memilih untuk diam. Menurutnya, kasus itu pasti diselesaikan oleh pihak yang berwajib. Lagi pula, ia sama sekali tidak ingin masalah keluarganya menjadi konsumsi publik.

Namun demikian, ketika video yang berisi penganiayaan anak diunggah mertuanya ke media sosial, DS tidak bisa menutup mulut lagi. Penghakiman publik yang sedemikian kejam telah dia terima. DS bahkan sampai menghapus akun Facebook-nya demi menjaga keselamatan. Dia mengambil keputusan, tidak selamanya diam itu emas. Secara khusus kepada kaltimkece.id, DS membuka seluruh cerita yang ia simpan rapat-rapat. 

"Saya sebenarnya tidak ingin masalah keluarga ini diketahui orang-orang. Bagaimanapun, tidak elok seorang istri menceritakan masalah keluarga apalagi setelah suaminya meninggal. Saya terpaksa tidak bisa menceritakan beberapa bagian karena alasan tersebut," terang DS memulai cerita. 

"Adapun seluruh keterangan saya ini, tidak bermaksud memojokkan siapapun. Yang jelas, segala yang saya ceritakan adalah yang sebenar-benarnya dan bisa diperiksa satu per satu," imbuhnya.

Sembari memegang telepon pintar merek Samsung, ibu dua anak ini memulai kisah hidupnya. Seluruh pernyataan DS kami tulis dengan lengkap tanpa sedikit pun menambah maupun mengurangi kecuali untuk penyesuaian agar pembaca lebih mudah memahami penuturan. Demi etika jurnalistik pula, kaltimkece.id menginisialkan nama DS dan suaminya, serta tidak menyiarkan identitas kedua anak mereka.

Beginilah penuturan DS selengkapnya: 

Nama saya DS. Seorang perempuan yang tumbuh besar di Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan, Kutai Kartanegara. Saya sangat suka bermain bulutangkis. Boleh dibilang, saya ini atlet amatir. Saya sering bermain bulutangkis di lapangan desa atau di dekat kantor camat di Kilometer 2, Loa Janan.

Suatu malam pada 2012, saya bermain bulutangkis di Batuah. Saat itu, seorang pemain bulutangkis dari Loa Janan juga bermain di sana. Ia seorang pemuda yang sama seperti saya, suka olahraga ini. Namanya RA. Di lapangan itulah, kami bertemu pertama kali. Kami masih sangat muda. Waktu itu saya masih 21 tahun sementara RA berusia 20 tahun.

Kami tentu saja segera akrab. Dari bermain dan menonton bulutangkis bersama, hubungan kami makin rekat. Saya dan RA akhirnya memutuskan untuk serius. Kami menikah pada 2013. Pesta pernikahan itu berlangsung di rumah orangtua saya di Batuah. Orangtua RA, tentu saja, hadir saat itu. 

Semua berjalan baik-baik saja pada awal pernikahan. Kami tinggal di rumah orangtua saya di Batuah. Hampir tiga tahun rasanya karena sejak 2016, kami pindah ke rumah orangtua RA di Bakungan, Kecamatan Loa Janan, Kukar. Waktu itu, kami baru punya seorang anak, yang laki-laki itu.   

Di sinilah RA mulai berubah. Saya tidak bisa menyebutkan penyebab perubahannya karena alasan yang sudah saya kemukakan. Pada awalnya, kami mulai bertengkar karena masalah ekonomi. Memang, saya yang memegang gaji suami. Namun, uang itu selalu habis untuk membayar utang kepada tetangga. Jumlahnya tidak perlu saya sebutkan, yang jelas, cukup besar. Dari pertengkaran inilah, saya mulai menerima kekerasan dari RA. 

Kami hanya tinggal sebentar di rumah orangtua RA. Kami memilih sebuah rumah kontrakan yang masih di wilayah Bakungan sebagai tempat tinggal. Rumah kontrakan ini --kami beberapa kali pindah-- juga tidak jauh dari rumah orangtua RA. 

Ketika tinggal di rumah sendiri, saya dan RA semakin sering cekcok. Puncaknya pada Oktober 2018. Kami sudah memiliki dua anak waktu itu. Pertengkaran kami disebabkan masalah perselingkuhan. Dalam pertengkaran inilah, video pertama yang menyebut saya menyiksa anak direkam. Video ini berisi adegan sebagian wajah anak bungsu saya berdarah. 

Pertengkaran kami bermula ketika saya melihat isi SMS di telepon genggam RA. Dia marah sekali karena saya mendapati bukti dia main serong. Saya juga marah. Kami berkelahi hebat. Dalam pertengkaran itu, saya benar-benar tidak melihat putra bungsu saya. 

Tiba-tiba, kakaknya berteriak, "Ma, Ma, adik, Ma."

Saya lalu melihat mulutnya berdarah. Sepertinya dia terjatuh atau mungkin tersenggol ketika kami berkelahi. Saya tidak tahu pasti tetapi langsung saya angkat ke kasur. Saya lantas berpikir untuk merekamnya. Saya mau memperlihatkan video itu kepada kakak saya. Saya mau beritahu bahwa saya sudah tidak tahan. Makanya, sebagaimana suara yang terekam di video itu, saya berkata, "Lihat ini, nah! Aku enggak tahu lagi di sini. Kayak apa sudah ini?" 

Perkataan itu memang ditujukan kepada kakak saya. Tetapi, saya juga gunakan untuk mengancam RA. Masalahnya, RA tidak mau saya pergi dari rumah itu. 

Waktu itu saya bilang kepada RA, "Jika kamu tidak bukakan pintu, aku akan live di media sosial. Lalu kubilang, kamu yang memukul anakmu." 

Itu hanya ancaman supaya dia mau membuka pintu. Tapi tiba-tiba, RA mengambil handphone saya dan seolah menantang. 

Dia bilang begini, "Ini aku yang rekam. Ngomong sudah!"

Saya tidak tahu lagi harus bagaimana. Setelah itu, dia hentikan rekaman, handphone saya, mereknya Vivo dan sekarang ada di kepolisian, dilempar. Makanya, rekaman itu pendek sekali karena RA merebut telepon itu.

Setelah pertengkaran, saya cepat-cepat memeriksa anak saya. Ada luka di bibirnya. Luka itu mulai sembuh dalam beberapa hari. 

Kami cekcok lagi tiga hari kemudian. Pertengkaran yang ini lebih parah dibanding sebelumnya. Saya telah bertemu dengan orang ketiga itu. Saya diberitahu bahwa ketika suami saya bertemu perempuan itu, dia membawa anak laki-laki kami. Kami bertengkar lebih hebat lagi. Saya sampai dipukul dan ditampar. 

Perempuan mana yang bisa menerima perlakuan begitu? Saya sudah dikhianati, disakiti hatinya, diperlakukan kasar pula tubuhnya. Saya menjadi gelap mata. Saya benar-benar tidak tahu sedang kerasukan apa. Saya mengambil tongkat plastik kemudian mulai memukul anak laki-laki saya. Saya kesal karena anak itu dibawa suami menemui perempuan lain. RA masih ada di situ. Saya rekam semua dan saya kirim ke kakak saya. Kakak saya datang malam itu juga dari Batuah. Itulah video yang kedua.

Setelah kejadian itu, handphone saya dibawa suami ke rumah orangtuanya.

RA datang tiga hari kemudian. Ia mengembalikan telepon. Videonya sudah dihapus. RA berkata bahwa video itu disimpan ibunya di laptop. 

RA kemudian mengancam saya. Katanya, "Tunggu saja kamu. Kalau sampai keluar dari rumah ini, aku viralkan video itu."

Hari-hari berikutnya, hubungan kami semakin buruk. RA semakin sering memukul dan menampar setiap kami bertengkar. Pernah suatu kali, bibir saya sampai pecah karena dipukul. Di waktu yang lain, dia mengancam saya dengan parang. 

Ada beberapa tetangga yang melihat saya ketika disiksa. Mereka bisa dijadikan saksi kalau ada yang tidak percaya keterangan ini. Sampai-sampai, ada tetangga yang saking tidak teganya melihat itu semua, meminta saya untuk pergi dari rumah itu. 

Saya memang sudah tidak tahan. Saya melaporkan ke Polsek Loa Janan karena KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Laporan pertama ini, kira-kira beberapa bulan setelah kejadian video tadi, selesai lewat mediasi. RA menandatangani surat pernyataan bahwa dia tidak akan mengulangi perbuatannya. 

Tidak sampai sebulan, RA kembali berbuat kasar. Mungkin masih disebabkan sesuatu yang tidak bisa saya sebutkan tadi. Saya pun kembali melapor ke polsek. RA sudah melanggar surat pernyataannya. Pada saat itulah, RA mengancam saya dengan video tersebut. Saya pun terpaksa mencabut laporan tersebut karena terdesak. 

Saya sungguh tidak ingin memojokkan siapa-siapa. Orangtua RA, setahu saya, bersikap adil ketika mendengar masalah kami. Suatu kali, mertua saya pernah bilang, "Terserah kalian saja. Mau dipenjara dua-dua, silakan. Yang satu suka menyiksa anak, yang satu suka memukul istri."

Ketika saya ingat ucapan itu, saya merasa agak aneh bila orangtua RA mengatakan, baru mengetahui video (penyiksaan anak) itu sekarang ini. Jika memang tahu saya menyiksa anak, kenapa sejak dulu tidak dilaporkan? Lagi pula, RA sendiri yang mengatakan bahwa video itu disimpan ibunya di laptop. 

Baca juga:
 

Dalam kasus ini, saya sudah berkomunikasi dengan komisi perlindungan perempuan dan anak. Selain anak-anak, keselamatan saya juga diperhatikan. Pada saat video itu direkam, saya juga korban kekerasan. 

Di tengah wawancara, putra sulung DS datang bersama neneknya --ibu DS. Anak laki-laki yang dalam rekaman dipukul dengan tongkat plastik itu bertubuh gempal. Kulitnya cokelat. Ia sedang sibuk menonton film kartun di sebuah handphone. Tidak ada yang aneh dengan anak itu. Kondisinya sehat walafiat. Di tangan dan kakinya, tidak ada yang istimewa. Hanya ada sedikit bintik hitam di kakinya seperti bekas cacar air atau bekas luka karena gigitan serangga.

Tentang Detik-Detik Bunuh Diri

Hubungan kami semakin memburuk setelah dua laporan KDRT itu. Saya akhirnya memutuskan keluar rumah. Saya tinggal di rumah orangtua di Batuah, atau di Perumahan Gran Taman Sari. Sampai Januari 2020, saya dan RA sudah tiga bulan pisah ranjang. 

Malam itu, Sabtu, 25 Januari 2020, saya baru pulang dari tempat hiburan. Saya memang berjanji dengan seorang teman perempuan untuk karaoke bersama. Teman saya itu ingin kami jalan-jalan karena keesokan harinya, orangtuanya datang dari Sulawesi Selatan. Saya menyanggupinya. Anak-anak, saya titipkan kepada ibu saya. 

Ketika kami karaoke, saya meng-upload foto ke WhatsApp story. RA sepertinya melihat story itu dari WA temannya. RA memang tidak punya handphone Android sehingga tidak pakai WA. Saat itu, RA berkali-kali menelepon saya. Saya hanya katakan, saya segera pulang.   

Saya dan teman saya pulang pukul setengah 12 malam ke Gran Taman Sari. Tidak ada yang aneh di rumah. Saya matikan handphone kemudian pergi tidur. Sebelumnya, teman saya yang perempuan keluar bersama seorang temannya, laki-laki. Sahabat saya ini perawakannya amat mirip dengan saya. Tinggi kami sama, 161 sentimeter. Potongan rambut kami pun mirip. Saya hanya lebih kurus dari dia.  

Sahabat saya itu baru kembali ketika subuh, kira-kira pukul lima. Ia diantar teman laki-lakinya tadi dengan sepeda motor. Laki-laki itu kemudian pergi. Mungkin saja, kalau ada yang melihat laki-laki lain datang ke rumah kami, yang dimaksud adalah orang itu.  

Setelah membukakan pintu, saya menyalakan telepon genggam. RA rupanya menelepon lagi. Saya hanya menjawab sedang di kilo (Batuah) supaya dia tidak ke sini (Perumahan GTS). Entah kenapa, dia tahu bahwa saya ada di sini. RA bilang dalam SMS, ada sepeda motor teman saya di situ. 

RA juga mengancam di dalam sambungan telepon. Katanya, "Tunggu, ya. Nanti kupecahkan motor itu. Kuhancurkan!"

Saya jelas panik. Saya khawatir RA berbuat kasar lagi jika kami sampai bertemu. Saya cepat-cepat masukkan sepeda motor ke rumah. Semua pintu saya kunci. Waktu itu sudah pukul enam pagi tapi langit masih gelap.

Tidak sampai 15 menit kemudian, listrik di rumah tiba-tiba padam. Saya sempat berpikir voucher (paket prabayar) listrik di rumah habis. Tapi teman saya, waktu itu dia belum tidur, segera mengingatkan. Jangan-jangan, katanya, ada yang sengaja mematikan listrik. Jangan-jangan, ada RA di luar. 

Selama sekitar 10 menit, kami diam saja. Tahu-tahu, pintu diketuk. Suara RA terdengar. Dia menangis. RA berteriak dan merengek untuk bertemu. Dia bilang, sudah tidak kuat. Saya kira, inilah yang disebut adanya keributan yang dilaporkan kepada satpam. Waktu pintu diketuk, saya memang minta kakak saya di Batuah untuk menelepon satpam perumahan.    

RA masih mengetuk-ngetuk pintu. Saya tidak menjawab. Saya sangat takut untuk bertemu. Tidak lama kemudian, empat orang satpam datang. Saya baru tahu belakangan, satpam itu tidak bertemu RA di luar. Padahal, waktu itu, saya yakin sepeda motor RA masih di luar. 

Satpam kemudian mengetuk pintu. Saya tetap tidak berani membuka. Saya berpikir, RA masih di luar. Kalau seperti itu, RA bisa saja mengusir satpam karena ini urusan suami-istri. Saya bisa dikasari lagi. 

Pikiran saya bahwa RA berada di luar rumah makin kuat. Pada saat satpam masih di depan pintu, RA mengirim SMS. Dia bilang begini, "Bun (bunda), kamu mau kah, Bun, aku dibawa ke pos satpam?"

Pesan itu masih bisa diperiksa di handphone saya yang diamankan polisi. 

Satpam akhirnya pergi. Tidak lama kemudian, aliran listrik kembali terhubung. RA mengirim SMS lagi dengan bahasa yang lebih ramah. Intinya, dia mau berbaikan. Saya jawab, "Ya, kamu pulang dulu. Kamu bikin aku takut. Makin ke sini, kamu seperti meneror aku. Pulanglah sudah dulu." 

Jawaban RA, "Enggak, Bun. Aku enggak bakal menyakiti kamu. Aku enggak akan memukul. Aku mau baik-baik."

Kami sempat lima kali berbalas SMS. Hari sudah terang. Saya kira sekitar pukul 07.15, RA baru berhenti membalas SMS. Saya mulai mengantuk. Saya sempat membuat panggilan video dengan seorang teman. Riwayat aktivitas telepon dan SMS ini, sekali lagi, sudah diperiksa di kepolisian. Di tengah panggilan telepon itu, saya tertidur. Sementara teman perempuan saya tadi, seingat saya, sudah tertidur duluan. Kami tidur sekamar. 

Di dalam tidur, saya seperti mendengar orang mengetuk pintu. Saya sempat berpikir bahwa itu kejadian sebelumnya yang terbawa mimpi. 

Saya kemudian terbangun. Masih pagi dan saya tidak sempat melihat jam karena ada keributan di luar. Saya mengintip dari jendela. Ada mayat yang ditutupi kain. Pikiran saya langsung berkata, mayat siapa lagi ini? Mengapa ada kata 'lagi'? Sebulan sebelumnya, di rumah orangtua saya di Batuah, ada penghuni indekos yang meninggal. Orangtua saya memang punya indekos. 

Saya segera membuka pintu. Ada banyak sekali orang. Ada polisi, tetangga, dan katanya ada wartawan. Saya seperti orang linglung karena baru bangun tidur. Saya tanya sana-sini, mayat siapa itu. Barangkali sampai sepuluh kali saya bertanya. Saya kemudian ditenangkan polisi, diberi air mineral, dan diminta duduk. 

Polisi kemudian berkata untuk menggeledah rumah. Saya jelas tambah bingung. Di rumah, seperti hasil pemeriksaan polisi, memang hanya ada saya dan teman perempuan tadi. Tidak ada laki-laki. Polisi sendiri yang memeriksa seisi rumah.

Ketika saya masih duduk dan ditenangkan, seorang petugas menunjukkan SIM (surat izin mengemudi). "Apakah Mbak kenal orang ini?" Demikian pertanyaan petugas kepada saya. 

Saya kaget setengah mati. Itu SIM suami saya. Barulah saya sadar, jenazah itu adalah RA. Saya langsung menangis. Paman saya yang baru datang dari Batuah, langsung saya peluk. 

Baca juga:
 

Saya juga baru tahu belakangan bahwa jenazah di depan rumah itu meninggal karena gantung diri. Informasi itu saya peroleh ketika memberikan keterangan di kepolisian. Tali tambang yang dipakai itu, menurut kakak saya, memang tergeletak di luar rumah. Tali itu pernah dipakai untuk mengikat lemari pada saat saya pindah ke sini. Itu sudah lama sekali.

Demikianlah ceritanya. Saya sama sekali tidak tahu penyebab RA meninggal. Makanya, saya sangat berharap, hasil autopsi bisa menjelaskan semua fakta-faktanya. Saya terus mengikuti proses hukum. Saya pun patuh kepada hukum. Saya tidak pernah lari dan tetap kooperatif. Kapan saja kepolisian membutuhkan keterangan, saya selalu datang. Tidak ada yang saya tutup-tutupi. Saya yakin seyakin-yakinnya, kebenaran akan terungkap pada waktunya. (*) 

shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar