Hukum

Menelusuri Rekaman Penganiayaan Anak dan Misteri Suami Gantung Diri di Rumah Istri

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 1854 Kali
Menelusuri Rekaman Penganiayaan Anak dan Misteri Suami Gantung Diri di Rumah Istri

Makam RA dibongkar pada Selasa, 18 Februari 2020, untuk kepentingan autopsi.

Dugaan gantung diri seorang suami masih berkalang misteri. Muncul rekaman yang berisi penyiksaan anak. Apakah kedua peristiwa ini berhubungan? 

Ditulis Oleh: Giarti Ibnu Lestari
25 Februari 2020

kaltimkece.id Helviani kaget bukan main ketika putri bungsunya menunjukkan dua rekaman video dari komputer jinjing. Perempuan 43 tahun itu mendapati dua cucunya menerima perlakuan kasar. Di salah satu video bahkan nampak cucunya yang lebih kecil berdarah di bagian mulut. 

Senin, 24 Februari 2020, sang nenek segera mengunggah video tersebut ke media sosial Facebook. Warga dunia maya membanjirinya dengan komentar. Dugaan mengarah kepada orang terdekat dari kedua anak itu sebagai pelaku sekaligus perekam video. Setelah tayang untuk beberapa saat, Helviani menghapus unggahannya. 

Kedua anak laki-laki yang diduga dianiaya itu adalah buah dari pernikahan RA, 28 tahun, dan DS, 29 tahun. RA tidak lain putra Helviani yang sudah tiga bulan pisah ranjang dengan DS. RA ditemukan meninggal tergantung di teras kediaman istrinya di Jalan Kauman, Perumahan Gran Taman Sari, Samarinda Seberang, pada Ahad, 26 Januari 2020. 

Kepada kaltimkece.id, Ajiannur, 49 tahun, ayah mendiang RA sekaligus suami Helviani, membenarkan bahwa kedua anak laki-laki di dalam video adalah cucunya. Video itu ditemukan putri bungsunya dengan tidak sengaja ketika memperbaiki laptop.

“Kami kaget begitu ditunjukkan rekaman itu,” kata Ajiannur, Selasa, 25 Februari 2020.

Ajiannur meneruskan penjelasannya. Laptop tersebut memang sempat dipinjam RA beberapa bulan lalu. Sebelum meninggal dunia, RA mengembalikan komputer jinjing tersebut dalam keadaan rusak. Kepada adiknya, RA berjanji memperbaikinya setelah menerima gaji. Mendiang diketahui bekerja di bidang pertambangan batu bara. 

Setelah mengetahui video tersebut, pada Selasa pagi, Ajiannur didampingi Tim Reaksi Cepat Perlindungan Anak melaporkan dugaan penganiayaan kepada Kepolisian Resor Kutai Kartanegara. 

"Kapan video itu direkam, kami tidak tahu. Apakah setahun atau beberapa saat sebelum anak saya (RA) meninggal dunia. Cucu saya sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya,” jelas Ajiannur. Ia hanya bisa menduga cucunya kini bersama keluarga DS. Sejak kematian RA, sebutnya, tidak ada komunikasi dengan menantu dan kedua cucunya lagi. 

RA dan DS menikah pada 2011. Mereka disebut sempat sebulan tinggal di rumah orangtua RA di Desa Bakungan, Kecamatan Loa Janan, Kukar. Keduanya kemudian tinggal di rumah kontrakan namun tidak jauh dari rumah keluarga RA. 

Tiga hari sebelum meninggal, RA sempat mampir ke rumah orangtuanya. Kamis malam itu, 23 Januari 2020, RA datang untuk mengambil pakaian. RA datang melalui samping rumah dan memanggil ibunya. Adik bungsunya yang kemudian membawakan pakaian. RA kemudian pergi. 

"Minggu pagi, kami dengar dia sudah meninggal dengan cara tergantung,” terang Ajiannur. 

Tunggu Hasil Autopsi

Ajiannur didampingi kuasa hukum, Rubadi, telah mengajukan sejumlah kejanggalan dalam kematian RA. Kasus ini diduga bukan murni gantung diri. 

Baca juga:
 

Kepolisian telah menindaklanjuti laporan tersebut. Pada Selasa, 18 Februari 2020, makam RA di Jalan Tepian Manggis, Desa Bakungan, Kecamatan Loa Janan, Kukar, dibongkar. Jenazah RA diautopsi oleh ahli forensik dari Markas Besar Polri, Komisaris Besar Polisi DR dr Sumy Hastry Purwanti, DFM, SpF. Ada pula dokter forensik dari RSUD Abdul Wahab Sjahranie, Kristina Uli Gultom. 

Kepala Kepolisian Sektor Kota Samarinda Seberang, Komisaris Polisi Suko Widodo, mengatakan bahwa saat ini tengah menunggu hasil autopsi. 

Dugaan Ketidakharmonisan

Sejak pemberitaan tentang dugaan kematian RA yang tidak wajar, kaltimkece.id telah berusaha menghubungi DS. Ia tidak bisa ditemui di kediamannya di Perumahan Gran Taman Sari. kaltimkece.id juga berupaya menghubungi DS melalui aplikasi percakapan Facebook. Setelah pesan dari media ini terkirim, akun yang diduga milik DS dengan nama Al Gebry dihapus. 

Sejumlah jejak pernyataan terlihat sebelum akun ini hilang. Dalam video dugaan penganiayaan, akun bernama Al Gebry menyatakan bahwa video itu terjadi beberapa tahun lalu. Pangkal masalahnya adalah RA disebut main serong. RA juga ada di tempat yang sama pada saat penganiayaan.  

Di bagian yang lain, akun Al Gebry juga mengaku sengaja merekam adegan tersebut untuk dikirim kepada orangtuanya. "Jika (orangtua RA) tak terima, mengapa tak dari dulu lapor ke polisi?" tulisnya. 

Dalam unggahan yang lain, akun Al Gebry juga membantah bertanggung jawab dalam kematian RA. Menurutnya, tidak mungkin dia terlibat. RA, bagaimanapun, adalah ayah dari anak-anaknya. Terselip pula harapan, kerja tim forensik dapat mengungkap fakta sebenarnya dari kematian RA.

Keterangan berikutnya adalah adanya masalah antara DS dengan keluarga RA. Ketidakrukunan ini disebut menjadi pangkal DS keluar dari rumah mertua. 

Ajiannur, mertua DS, tidak menyanggah hal tersebut. "(Memang) hubungan tak harmonis. Kalau harmonis, tidak mungkin terjadi hal yang luar biasa seperti ini,” jelas Ajiannur. (*)

Baca update berita ini:

Editor: Fel GM

shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar